Welcome

Selamat datang, di blog Zachor. Di sini saya menyambut orang yang mau membaca dan mau memberi pendapat pada cerita yang sedang saya buat untuk dijadikan komik. Mohon kerja samanya.

Rabu, 17 Maret 2010

Bagian 11

CAMP DINNER

Satu jam kemudian, di dalam karavan, Dinda dibaringkan di sebuah tempat tidur. Eric baru saja ganti pakaian dan keluar dari dalam tenda, di depan karavan sudah ada Budi, Piyu, Oni dan Deni.

Eric: “Kalian tak masuk ke dalam?”
Deni: “Ruangannya terlalu sempit buat kita, jadi kita tunggu saja di luar.”
Eric: “Ah, kalian pastilah teman dari Yosi. Aku sudah diberitahu Juki, Eric Pietersburgh, panggilan Eric.” (bersalaman pada masing-masing anak)
Oni: “Syahroni, panggilan Oni.”
Piyu: “Palupi Yunus, panggilan singkat Piyu.”
Eric: “Jadi, kalian pastilah sudah mendapat pengalaman menyenangkan.”
Oni: “Ah, nggak juga. Nggak begitu nyenengin kok, iya nggak?”
Piyu: “Iya, lagian sebagian pengalaman yang kami alami itu terpaksa kami lakukan.”
Eric: “Tapi kalian merasa bersyukur karena masih bisa selamat bukan?”
Oni & Piyu: “Iya.”
Eric: “Oh, is she awoke already?” (apa dia sudah terbangun?)
Budi: “Belum mungkin, kayaknya dia bakal bangun agak lamaan lagi.”
Eric: “Yeah, I admit that it’s my fault.” (ya, kuakui itu adalah kesalahanku)
Deni: “Jangan nyalahin diri kau, yang tadi kan tak disengaja bukan? (suara hati) Cewek mana yang tidak pingsan melihat bodi seperti itu.”
Eric: “Maybe I will see her to make sure she didn’t die.” (mungkin akan kulihat dia untuk meyakinkan bahwa dia tidak mati.)
Deni: “Eh, lebih baik jangan, nanti…”
Eric: “Tenanglah.” (mengetuk pintu)

Pintu karavan terbuka, yang membukanya adalah Juki dengan wajah jengkel begitu melihat Eric. Dia keluar dengan menggerutu, Eric sendiri masuk ke dalam. Bagian dalamnya terlihat modern, ada sebuah tv plasma di dekat kursi pengemudi, dapur di bagian belakang lengkap dengan kompor dan oven, di depannya ada sebuah ranjang. Dinda yang tak berkacamata, berbaring di sana, ditunggu oleh Santi, Yosi, Lisa, dan Diana. Santi menundukkan kepala dengan wajah merah, Diana hanya cengar-cengir melihat Eric, Lisa menutup kedua matanya dengan tangan, sedangkan Yosi sendiri berdeham.

Eric: “Bagaimana keadaannya?”
Yosi: “Nggak bagus, kayaknya dia sekarang dapat mimpi buruk.”
Eric: “Jadi kau menyalahkanku?”
Yosi: “Nggak, nggak. Bayangin aja, dia kan baru kali ini liat… (memperhatikan tubuh Eric) bodi yang kayak gitu. Menurut lu cewek nggak bakalan pingsan?”
Eric: “You know? She’s lucky to see half of my body, not the entire body. But luckily, she didn’t see my ‘balls’.” (kau tahu? Dia beruntung melihat setengah dari tubuhku, bukan seluruhnya. Tapi lebih beruntung, dia tak melihat ‘bola’ ku”

Yosi langsung terbayang dan muntah-muntah, sedangkan cewek-cewek, kecuali Diana, memuncratkan ludah saking kagetnya.

Yosi: “Hoek… hoek… udah, pembicaraannya malah jadi ngeres! Nggak enak nih!”
Eric: “My bad, sorry. (salahku, maaf) Jadi siapa namanya?”
Diana: “Dinda, dia adik gue. Tapi lu macho abis tau gak? Dapat dari mana bodi kayak begitu?”
Eric: “Lot’s of work, of course. Eric Pietersburgh, nice to meet you.” (banyak olahraga, tentu saja. Eric Pietersburgh, senang berkenalan denganmu)
Diana: “Diana Hapsari, orang Indonesia asli. Hobi gue juga olahraga, lain kali kita panjat tebing sama-sama ya?”
Eric: “I’ll look forward for that.” (akan kutunggu saat itu.)
Yosi: “Eh, Dinda sudah sadar nih!”

Dinda terbangun dari tidurnya, dia bangkit perlahan. Matanya menyipit, kemudian dia meraba-raba sekitarnya, berusaha mencari kacamatanya. Akhirnya dia merasakan sesuatu, dia tak sadar jika yang dia raba-raba sekarang adalah dada Eric.

Dinda: “Yos, apa ini lu?”
Yosi: “Bu… mmph!” (dibungkam Diana)
Diana: “ Bukan, ini gue. Yang lu elus sekarang, punggung gue.”
Dinda: “Oh, mana kacamata gue?”
Lisa: (diberi isyarat oleh Diana dengan gerakan kepala) “I… ini.”
Dinda: “Terima kasih. Aduh, bayangin deh, gua mimpi liat cowok bule telanjang, aneh ya? Bodinya mantep banget.”
Diana: “Terus kalau lu liat lagi mau diapain?”
Dinda: “Ng… gimana ya? Gua pingin sih liat lagi tapi gue nggak mau kalau dia musti telanjang lagi.”

Dinda memakai kacamatanya, dalam sekejap dia sudah melihat dan mengenal orang-orang di sekelilingnya. Tetapi dia terdiam sejenak saat melihat Eric, kontak mata terjadi di antara mereka. Dinda baru menyadari kalau tangannya masih memegang dada Eric, matanya kemudian menatap Eric kembali. Dia hanya diam dan mengatakan ‘yo’, akibatnya Dinda pingsan lagi.

Eric: “Oops.”

###

Sementara itu, Kumamoto baru saja kembali dengan dua ember penuh ikan yang dipegang di kedua tangannya dan tumpukan kayu yang diikat di punggungnya. Dia melihat beberapa orang sudah duduk di depan karavan, dia mengenali salah seorang di antaranya dan langsung memanggilnya.

Kumamoto: “Oi, Kani-kun!”
Juki: (menoleh dan kaget) “Waduh.”
Budi: “Wah, itu kan om Kumamoto.”
Oni: “Siapa itu orang?”
Budi: “Itu om Kumamoto, dia pengacaranya Eric waktu sidang masalahnya si Beni.”
Piyu: “Darimana asalnya?”
Juki: “Ya dari Jepanglah! Masa dari Sidoarjo? Waduh orangnya datang.”
Kumamoto: “Kani-kun, hisasiburi.” (lama tak jumpa, kepiting)
Juki: “Ha… hai. Oh ya, ini Kumamoto-san, perkenalkan.”
Oni, Budi, Piyu: (bingung ingin berkata apa) “Ah… domo arigato gozaimasu.” (terima kash banyak)
Kumamoto: “Tak perlu berterimakasih padaku, bukan aku yang menolong kalian.”
Piyu: “Wah, ternyata bisa bahasa Indonesia.”
Kumamoto: “Tentu, di setiap Negara lebih sopan jika kita berbicara dengan bahasa Negara tersebut. Jadi kau benar-benar ke sini, bagaimana kabarmu?”
Juki: “Baik, sepertinya anda juga terlihat sehat.”
Kumamoto: “Terima kasih banyak, lalu mana Eric? (melihat ekspresi masing-masing anak berubah drastis) Ada apa? Apa sesuatu terjadi?”
Juki: “Sebenarnya…”

***

Malam hari, sekitar jam 07:00, api unggun yang besar menyala di pinggir danau. Beberapa buah kursi, sebuah meja makan dan sebuah alat pemanggang telah diletakkan di depan karavan, terlihat Eric sedang membakar ikan dan membumbuinya bersama dengan Kumamoto. Juki dan yang lain sedang menikmati iringan lagu reggae dari sebuah sound system yang berbunyi di karavan, mereka menari dengan riangnya.

Kumamoto: “Ahahaha! Jadi anak itu pingsan saat melihat kau telanjang?”
Eric: “Setengah telanjang lebih tepatnya.”
Kumamoto: “Sepertinya anak itu sudah mendapatkan pengalaman yang tak bisa dilupakan seumur hidupnya. Tolong kecapnya, terima kasih.”
Eric: “Lalu Kuma-san, kenapa kau masih ada di sini?”
Kumamoto: “Kau tahu kan? Aku masih ada urusan di negeri ini, urusan illegal logging di Sumatra itu belum tuntas sama sekali. Setelah urusan ini, aku akan pergi ke sana.”
Eric: “Begitukah? Mana mericanya?”
Kumamoto: “Ini dia, terlebih lagi aku sangat suka hutan. Mana mungkin aku diam saja melihat penebangan liar itu dibiarkan begitu saja, lagipula alam itu adalah awal dari sebuah kehidupan.”

Eric hanya mengangguk, mereka kemudian menghidangkan dua ekor ikan pada masing-masing piring. Juki yang baru saja selesai menari, juga ikut membantu menghidangkannya. Kemudian dia mengajak Yosi dan yang lain untuk makan, mereka semua sudah duduk di tempat masing-masing. Saat Dinda duduk, betapa terkejutnya dia saat bertatap muka dengan Eric. Dengan terburu-buru, akhirnya dia bertukar tempat duduk dengan Diana yang jauh dari Eric. Dia duduk sambil menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat memerah karena malu.

Kumamoto: “Sepertinya dia menyukaimu.”
Juki: “Dia cuman trauma aja soal yang tadi, gara-gara itu setan.”
Eric: “So you blame me now?” (jadi sekarang kau menyalahkanku?)
Juki: “Sudah jelas, lu bikin gue basah kuyup dan bau darah. Ditambah lagi gue tadi nggak mandi, cuman ganti baju doang. Buat nutupin baunya aja, gua mesti pakai parfum sebotol penuh.”
Eric: “Then why you don’t take cover in the tent?” (lalu kenapa kau tak berteduh di tenda?)
Juki: “Lagian lu tumpuk mereka kayak karung begitu, gua jadi nggak bisa masuk buat berteduh!”
Eric: “Then why you don’t ask me to give you an umbrella?” (lalu kenapa kau tak memintaku untuk memberimu payung?)
Juki: “Emang lu punya payung?”
Eric: “This.” (mengeluarkan payung dari bawah meja)
Juki: (jengkel) “Ngomong dari tadi dong.”
Kumamoto: “Kani-kun, kau sudah coba ikannya?”
Juki: “Eh, be… belum.”
Kumamoto: “Cobalah, (memberikan sepiring ikan) kau baru kali ini kan makan masakan buatanku? Jangan malu-malu.”
Yosi: “Anu… pak Kumamoto.”
Kumamoto: “Panggil pakai san saja.”
Yosi: “Ng… Kumamoto-san, kenapa Juki dipanggil Kani?”
Deni: “Kani itu apaan sih?”
Kumamoto: “Dalam bahasaku, itu artinya kepiting.”
Yosi: “Kok dia bisa dipanggil begitu?”
Kumamoto: “Saat aku di Indonesia, aku pernah bermain football dengan dia, ia yang menjadi penjaga gawangnya. Pada saat aku mau mencetak gol, dia berkali-kali berjalan ke samping kiri dan kanan, karena itulah aku menyebutnya begitu.”
Juki: (suara hati) “Gimana gua nggak kayak begitu? Lu kan lagi mabuk pas mau nendang, jalannya aja udah sempoyongan, jadinya bingung deh dia mau nendang ke kiri apa kanan.”
Lisa: “Pft… hahaha, om Kumamoto, dia bukan cuman jalannya aja kayak kepiting. Liat mukanya aja mirip kepiting!”
Juki: “Sialan lu.”
Kumamoto: “Tolong panggil dengan akhiran san.”
Deni: “Terus pak Kumamoto-san sekarang ngapain di sini?”
Kumamoto: “Tolong panggil Kumamoto-san saja, jangan tambahkan apa-apa. Seperti yang kalian lihat tentu saja, aku sedang bersantai. Setelah itu juga, aku masih ada urusan dan harus meninggalkan pulau ini.”
Budi: “Teman-teman, pak Kumamoto ini lho yang pernah jadi pengacaranya Eric pas ngehajar Beni.”
Diana: “Jadi bener yang ngehajar Beni lu?”
Eric: “A bit of him. Actually I just broke his teeth.” (sedikit. Sebenarnya aku hanya menghancurkan giginya saja)
Oni: “Terus beneran dia sekarang dipenjara sama bapaknya?”
Juki: “Nggak, beda lapas kok.”
Piyu: “Terus gimana ceritanya lu bisa ngeringkus pak Hutomo sama anak buahnya sendirian?”
Eric: “It’s a long story.” (ceritanya panjang)
Deni: “Lah, kalian belum tahu ya? Dia ini lulusan sekolah militer!”
Diana: “Beneran? Pantesan lu punya bodi macho begitu.”

Para gadis tersedak begitu mendengar apa yang dikatakan Diana, terlebih lagi Dinda, dia sampai jatuh bersama dengan kursi yang dia duduki. Yosi dan Deni yang duduk di sebelahnya segera membantunya berdiri, baju Dinda basah karena terkena air jeruk yang dia minum.

Eric: “Oh, how unlucky. (betapa sial) Santi, bisa kau ambilkan beberapa tisu di dalam bersama Juki?”
Santi: “Eh tapi…”
Eric: “Please.” (kumohon)

Akhirnya Santi segera pergi bersama Juki, mereka berdua masuk ke dalam karavan. Juki menutup pintu rapat-rapat, kemudian dia membuka beberapa laci di lemari dapur.

Juki: “Kemarin malam kamu lihat semuanya?”
Santi: “Gua nggak bisa ngelupain hal itu, terus waktu lihat… Eric itu manusia apa bukan sih?”
Juki: “Ah, jadi kamu masih ingat, dari tadi aku liat kamu jarang bicara. Ternyata masih kepikiran ya?”
Santi: “Sebenarnya dia itu apa?”
Juki: “Kalo aku ceritain kamu nggak bakalan percaya deh.”
Santi: “Setelah yang terjadi kemarin? Gua bakal percaya kok.”
Juki: “Iya juga ya, kalau kamu cerita sama mereka, mana ada yang mau percaya… baiklah, biar kuceritain. Sebelum dia ada di dunia ini, dia hampir mati dan sekarat.”
Santi: “Jadi… dia sudah mati?!”
Juki: “Dengerin dulu ampe habis! Waktu masih dalam kandungan dulu, dia itu kena penyakit, katanya kemungkinan dia bisa meninggal setelah dia dilahirkan.”
Santi: “Hah?!” (menutup mulut dengan tangan)
Juki: “Bokapnya yang ilmuwan berusaha untuk mencegah hal itu terjadi, dia berusaha mencari cara untuk menyembuhkannya. Akhirnya dia berhasil menemukan solusinya, saat dia sedang meneliti mumi.”
Santi: “Mumi? Maksud lo yang di piramida Mesir itu?”
Juki: “Nggak di Jember, ya iyalah di Mesir! Waktu itu bokapnya sedang meneliti itu mumi, tubuhnya masih segar di dalam, terus di dalamnya tak ditemukan pernah ada virus penyakit sama sekali. Lebih anehnya lagi, yang jadi mumi itu bukan manusia.”
Santi: “Hah?! (menutup mulut dengan tangan) Tahu dari mana?!”
Juki: “Setelah dironsen dan dibedah, dia punya tiga jantung, terus ususnya itu berduri. Dari bentuk tubuhnya, kelihatan mirip
Santi: “Huek, ngebayangin aja sudah menjijikkan.”
Juki: “Akhirnya dia selamat, dia berhasil dilahirkan ke dunia. Tapi pada saat masa pertumbuhannya, dia juga mendapatkan sesuatu yang tak dimiliki manusia biasa. Kamu tahu itu apa.”
Santi: “Dia bisa ngerasain keberadaan makhluk halus di sekitarnya bukan?”
Juki: “Seratus buat lu, mendingan kita cepat keluar. Mungkin mereka sudah kelamaan nunggu, lain kali kita lanjutin bicaranya.”

Santi teringat kembali pada saat kejadian di mana setelah dia tersadar dari pingsan di bekas kediaman Cahyapraga, dia terbangun dalam keadaan tertindih tubuh Lisa. Dia berusaha bangkit dan memindahkan Lisa ke sebelah Deni, akhirnya Lisa berhasil dipindahkan tetapi malah terbaring dalam keadaan menindih Deni. Santi keluar dari tenda dan mendapat pemandangan yang mengejutkan. Dia melihat rumah besar yang ada di depannya sudah lenyap, yang tersisa hanyalah puing-puing yang sudah terbakar habis. Santi lalu melihat sekeliling dan masuk kembali ke dalam tenda, dia memeriksa mereka yang sedang tidur satu persatu. Dia sadar bahwa Juki tak ada di situ, dia segera berlari keluar dan mencari ke segala penjuru. Santi melihat dua siluet bayangan dari kejauhan, tepat di belakang puing-puing kediaman Cahyapraga. Dia segera berlari ke sana, dua siluet itu makin jelas makin dekat dia berlari ke tujuan. Akhirnya dia berhenti di belakang sebuah tiang rumah yang besar sambil terengah-engah, dia melihat Eric sedang menggali tanah. Sedangkan Juki baru saja keluar dari sungai, sepertinya dia baru selesai mandi.

Juki: “Ah, segere, matur nuwun. Saiki kaline dadi resik.” (ah, segarnya, terima kasih. Sekarang sungainya jadi bersih)
Eric: “Is that so? Then please help me bury this person.” (begitukah? Kalau begitu tolong aku mengubur orang ini.)
Juki: “Dasar, kenapa aku jadi ngebantuin lu?”
Eric: “Because this is a payback after I give you change clothes. Beside that, you must say your ‘thanks’ to Kuma-san for purifying the river.” (karena ini adalah balasan setelah aku memberimu baju ganti. Selain itu, kau harus berterimakasih pada Kuma-san karena telah memurnikan sungai ini.”
Juki: “Yah, tapi ujung-ujungnya aku kan jadi kotor lagi.”
Eric: “Kalau begitu setelah ini kau harus mandi lagi di sungai.”
Juki: “Capek deh, cuman satu itu saja kan?”
Eric: “Sure, now help me.” (tentu, sekarang bantu aku)

Eric meletakkan sekop, bersama dengan Juki dia menggotong sesuatu dan memasukkannya ke dalam lubang. Santi melihat dengan seksama, itu adalah kerangka manusia yang sudah dikafani. Dia kaget begitu melihatnya, sampai menutup mulutnya dengan tangan. Dia segera berlari kembali ke tenda dengan terburu-buru, sementara mereka sedang menguburkan jenasah.

Juki: “Kenapa sih kita harus nguburin mereka semua di sini?”
Eric: “Karena aku sudah tahu bahwa kuburan mereka sudah tak lagi memiliki ruang untuk mereka, maka aku buatkan saja yang baru.”
Juki: “Tapi bukan berarti aku yang mesti lakuin kan? Penduduk desa kan nanti juga bisa ngubur mereka, lagian ini beda waktu Beni ngasihin lu bangkai tikus.”
Eric: “Because it’s a living being (karena itu makhluk hidup) Semua makhluk di dunia ini memiliki kehidupan, pada akhirnya mereka akan kembali ke tanah. Manusia saja bisa masuk surga, kenapa hewan tidak?”
Juki: “Alah, lantas bagaimana dengan ikan, daging sapi dan ayam yang kita makan? Tulangnya kan masih bisa dibuat makan.”
Eric: “That’s different; at least I have permit from the God.” (itu berbeda; paling tidak aku mendapatkan ijin dari Tuhan.)
Juki: “Gimana cara dapat ijinnya?”
Eric: “By praying, idiot. If I didn’t do that, it will be bad omen for me.” (dengan berdoa, bodoh. Jika aku tak melakukan itu, akan jadi pertanda buruk bagiku)
Juki: “Mereka memang sudah pergi ke akhirat, tapi jangan protes kalau nanti kuburan ini dibongkar lagi ya? Soalnya cara penyucian dan penguburannya nggak dilakuin pakai cara biasa, terima kasih buat nyusunin lagi tulang mayat yang sudah tercerai berai.”

Kembali ke masa sekarang, saat ini Kumamoto terlihat sedang mabuk. Dia memanggul sebuah batang kayu yang besar dengan posisi berlutut, dengan disaksikan oleh Yosi dan yang lain. Di atas batang kayu tersebut ada Juki yang sedang duduk dan Eric yang sedang berdiri, dia baru saja mengajak Lisa dan Santi untuk naik ke atas.

Santi: “Sebenarnya ada apa sih?”
Lisa: “Kita mau diapain?”
Eric: “I just want you two to enjoy an attraction, I heard you already have experience like this in amusement park.” (aku hanya ingin kalian berdua untuk menikmati sebuah atraksi, kudengar kalian sudah punya pengalaman seperti ini di taman ria.)
Juki: “Kita bakal ngerasain wahana yang pernah lu naikin di Dufan, percaya deh ini asyik lho.”
Santi: “Gimana caranya?”
Juki: “Lu duduk aja deh, jangan lupa pakai ini.” (menyerahkan sabuk berujung paku)
Lisa: “Apaan nih?”
Juki: “Safety belt.” (sabuk keselamatan)
Lisa: “Emang kita mau naik mobil apa? Terus gimana cara pakainya?”
Juki: “Pertama pasang pakunya di sini, terus lingkarkan di perut, yang terakhir pasang paku satunya lagi di ujung sini. Lihat, kayak gua nih.”
Santi: (sudah memasang sabuk) “Begini?”
Lisa: “Tapi kita mau diapain kalau cuman duduk di sini doang?”
Juki: “Ya bener, sudah kenceng semuanya?”
Santi & Lisa: “Iya.” (menganggukkan kepala)
Lisa: “Lho, Eric, kamu nggak pakai?”
Eric: “Don’t worry, I can handle this. Okay, Kuma-san, let’s begin the ‘Tornado Chair’.”
Kumamoto: “Hik… hai.” (baiklah)

Kumamoto bangkit berdiri dengan memanggul batang kayu tersebut, Santi dan Lisa yang duduk di atas merasa terkejut melihatnya. Dia mulai melakukan stretching pada kakinya, dia jongkok dan berdiri berulang kali. Kemudian dia menyeringai dan mulai memutar tubuhnya bersama dengan batang kayu yang dia panggul, Eric masih tegap berdiri dalam keadaan tersebut. Putaran yang dilakukan Kumamoto sebesar 180 derajat, diputar kembali dengan menggunakan kedua tangannya sebesar 360 derajat. Dia mengulang-ulang cara yang sama, semakin dia memutar, kecepatannya semakin bertambah. Eric yang masih berdiri di depan Santi dan Lisa, membuat mereka yang menonton berdecak kagum. Mendadak Eric menjatuhkan dirinya, hampir semua yang menonton berteriak histeris. Tapi beruntung, Eric menjepit batang kayu dengan kedua kakinya sehingga posisi batang kayu berada di tengah selangkangannya. Para penonton bernafas lega, Eric pun turun dari batang kayu. Dia berjalan dan menendang sebuah kerikil, kerikil itu masuk ke dalam karavan dan mengenai sebuah tombol di sound system. Mendadak suara musik rap terdengar dari dalam, Eric bersalto ke belakang tiga kali dan mendarat di batang kayu.

Eric: “Kuma-san, ready for ‘Grizzly Hurricane’.”
Kumamoto: “Yokai shimasta.” (sesuai permintaanmu)