Welcome

Selamat datang, di blog Zachor. Di sini saya menyambut orang yang mau membaca dan mau memberi pendapat pada cerita yang sedang saya buat untuk dijadikan komik. Mohon kerja samanya.

Sabtu, 17 April 2010

Bagian 12

PARTY OF MADNESS

Kumamoto masih memanggul batang kayu yang dinaiki oleh Eric, Juki, Santi, dan Lisa. Seiring dengan berjalannya irama musik, Kumamoto mulai memutar ke kanan dengan sudut 360 derajat sebanyak dua kali dengan kedua tangannya. Setelah itu dia memutar berlawanan arah sebesar 90 derajat, kemudian diputar kembali ke kanan dengan sudut 360 derajat. Lalu 90 derajat ke kiri, 360 ke kanan dua kali. Hal itu dilakukan berulang-ulang, pada saat itu Eric sedang break dance dengan posisi berdiri dengan kedua tangannya. Kemudian dia bersalto ke depan, dan mendarat dengan kaki tepat di belakang Santi dan melakukan moon walk. Dia melangkah ke belakang dan sampai ke ujung, kemudian dia berhenti.

“Guys, sorry, but I really need your shoulders.” (sobat, maaf, tapi aku sungguh butuh bahu kalian)
Santi & Lisa: “Hah?”
Eric: “Be quiet and watch carefully.” (diamlah dan lihat baik-baik)

Eric bersalto ke depan, dia mendarat dengan kedua tangan mencengkeram bahu Juki dan Lisa. Dia meloncat dan bersalto ke atas, lalu mendarat di bahu Santi dengan satu tangan. Santi menatap ke atas dan saling bertatap muka dengan Eric.

Eric: “Are you hurt?” (apa kau kesakitan?)
Santi: “Nggak, cuman kaget aja…”
Eric: “Okay, next is…”

Eric meloncat, badannya berputar ke samping, dia mendarat di depan Juki dengan kedua kakinya. Sekarang dia melakukan tap dance kemudian berputar ke samping, mendadak Kumamoto berhenti memutar dan melempar batang kayu ke atas. Teriakan histeris terdengar dari mulut Lisa, Juki, dan Santi; Eric menjatuhkan dirinya ke bawah. Sekarang kedua tangannya memegang batang kayu, posisi batang kayu itu sekarang berada dalam kondisi vertikal. Juki, Santi, dan Lisa membungkukkan badan dan memeluk batang kayu erat-erat, Eric yang berada di sisi lain dari batang kayu melepas kedua tangannya dan mengangkat ke atas tubuhnya dengan kedua kakinya. Sekarang kedua tangan dan kakinya dalam posisi mencengkeram batang kayu, dia memanjat sampai ke puncak. Saat batang kayu itu hampir menyentuh tanah, Kumamoto menangkap bagian bawah dengan satu tangannya. Dia melemparnya lagi ke atas, Eric melompat turun ke bawah. Batang kayu itu sekarang jungkir balik, Kumamoto yang berada di bawah menggunakan kedua tangannya sebagai pijakan mendarat untuk Eric.

Eric: “Average Booster.”

Kumamoto melempar Eric ke atas, dia terbang menuju batang kayu dan memijaknya sehingga putarannya berhenti. Posisinya Juki, Santi, Lisa dan Eric sekarang terbalik, kepala mereka berada di bawah dan kakinya di atas. Kumamoto berhasil menangkapnya kembali, dia lalu memutar batang kayu ke samping. Posisi badan mereka sudah kembali normal, yaitu kepala di atas dan kaki di bawah. Kumamoto menurunkan batang kayu ke tanah, tak terasa lagu yang terdengar dari dalam akan habis. Sebagai penutup, Eric meloncat, berputar ke samping, dan melakukan sebuah pose. Telapak tangannya diletakkan di depan wajahnya, seakan sedang hormat. Tangan satunya memegang pinggang, dan punggungnya mundur ke belakang, kedua kakinya menyilang. Aplaus terdengar dari penonton yang menyaksikan, mereka menghampiri Eric dan melempar tubuhnya ke atas berkali-kali. Sedangkan Juki, Santi, dan Lisa baru saja turun, kaki mereka bergetar. Lisa sampai jatuh berlutut dan tak bisa berdiri, Santi hampir muntah, dan Juki sendiri pusing dan telungkup.

Diana: “Wah, hebat! Gua juga mau dong!”
Yosi: “Kok kamu bisa break dance kayak gitu?! Belajar di mana?”
Juki: “Er… Er…” (berdiri dengan tubuh gemetar)
Deni: “Ulangi lagi dong!”
Budi: “Wah, fantastis!”
Piyu: “Ulang yang tadi dong!”
Yosi dan yang lain: “Ulang, ulang, ulang!”

Eric yang berada di udara saat dilempar, mengubah posisi tubuhnya. Dia bersiap-siap mendarat dengan kakinya, kakinya berpijak ke bahu Oni dan Piyu, lalu dia melompat dan mendarat di tanah. Eric memegang bahu saking pegalnya, dia berjalan menuju karavan.

Yosi: “Lho, mau ke mana?”
Eric: “Sorry, but I must take a rest for a bit.” (maaf, tapi aku harus istirahat sebentar)
Oni: “Yaaah, kita kan mau lihat lagi atraksi tadi.”
Eric: “Dengar, kalian boleh menikmati permainan ini sepuasnya. Tetapi jangan meniru apa yang kulakukan barusan, Kuma-san, yoroshiku.” (kuserahkan padamu)
Kumamoto: “Yokai… hik.”
Eric: “Don’t overdo it.” (jangan berlebihan)

Eric masuk ke dalam karavan, disaksikan oleh Juki yang baru pulih dari pusingnya. Dia, Lisa, dan Santi dibantu berdiri oleh teman-teman, mereka dipapah ke kursi kosong dan duduk di sana.

Lisa: “Gila, gimana bisa dia ngelakuin gituan? Terus gimana mungkin pak Kumamoto, bisa ngangkat kayu segede gitu.”
Juki: “Mungkin aja, lu pernah lihat Ripley nggak? Bukannya ada orang yang bisa narik kereta pake giginya? Terus ada juga orang yang bisa narik truk pakai ‘+$%*@#’ nya.”
Santi: “Hoek! Hoek!” (muntah)
Lisa: “Juk! Jangan ngomong jorok gitu dong!”
Juki: “Sori, sori! Masih pusing nih.”
Santi: “Ngomong-ngomong nih, Eric mana?”
Juki: “Mene ketehek, dodol. Paling dia lagi istirahat sebentar, paling nanti juga balik lagi. Hoi! Jangan minum gituan!” (berteriak pada Dinda)
Dinda: (menjatuhkan gelas) “Ma… maaf!”
Juki: “Itu miras tau kagak, jangan diminum! Itu minumnya Kumamoto-san, aduuh, terlalu.”
Santi dan Lisa: “Iya pak Haji.”
Kumamoto: (memegang kendi) “Hei, Kani-kun. Hik… apa salahnya jika dia minum segelas saja? Mereka kan… hik… sudah besar.”
Juki: “Wis gedhe gundulmu iku, (sudah besar kepalamu itu) menurut aturan Negaraku tetap aja nggak boleh!”
Kumamoto: “Kani-kun, jangan bicara… hik… menggunakan bahasa yang tak kumengerti. Sake ini adalah sumber… hik… tenagaku untuk melakukan hal seperti ini, semakin kuminum, semakin hebat diriku.”
Juki: “Semakin parah lebih tepatnya, udahlah, mendingan Kumamoto-san layanin mereka, jangan berlebihan!”
Kumamoto: “Hai, hai.” (ya, ya)
Lisa: “Tapi sumpah deh, tadi itu bener-bener… gila! Lain kali kita naik lagi ya?”
Santi & Juki: “Ogah!”

Yang berikutnya akan naik adalah Diana, Dinda dan Oni; tetapi sebenarnya Dinda dipaksa naik oleh Diana. Diana memeluk tubuh Dinda dari belakang, sedangkan Oni memegang kakinya. Dinda meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Sementara itu Eric sedang mengawasi mereka dari jendela karavan, dia sedang membuat secangkir kopi dan menghidangkannya di meja. Eric duduk di kursi, di depannya sudah ada Aki Ujang, kakek dari Lisa.

Eric: “Maaf atas segala kekacauan yang terjadi kemarin malam, tidur anda kemarin tak terganggu kan?”
Aki Ujang: (tanpa logat) “Kemarin saya tidak tidur, tapi saya sungguh terkejut nak Eric berhasil mengalahkan mantan guru saya.”
Eric: “Itu bukan apa-apa, lagipula dibandingkan dengan yang saya hadapi selama ini, kekuatannya itu masih rata-rata. Hanya sedikit dari mereka yang pernah saya hadapi.”
Aki Ujang: “Nak Eric pernah menghadapi yang sejenis dengan dia? Memangnya apa yang biasa dilakukan nak Eric selama ini?”
Eric: “Exorcist, semacam pengusiran roh dan setan. Itu sebelum saya pindah ke negeri ini.”
Aki Ujang: “Tapi bagaimana saya bisa berterima kasih?”
Eric: “Ucapkan saja itu setelah kami kembali ke desa, anak-anak itu sudah kembali dengan selamat kan?”
Aki Ujang: “Benar, awalnya saya takut mereka akan menyalahkan saya lagi. Tapi entah kenapa, mereka malah berterima kasih kepada saya.”
Eric: “Anda seharusnya bersyukur karena sudah kembali mendapat kepercayaan dari mereka kembali, kemudian ada satu hal yang ingin saya tanyakan. Jika anda sudah tahu bahwa dia pelakunya, kenapa anda tidak segera bertindak?”
Aki Ujang: “Saya takut… setiap saya mengingatnya, saya dihantui oleh bayangan istri saya… bukan, setan yang telah menjadi istri saya.”
Eric: “Tapi paling tidak, sekarang anda sudah mendapat keberanian bukan?”
Aki Ujang: “Benar, berkat perkataan nak Juki.”
Eric: “Baguslah, jika ini sudah berakhir dengan baik. Kami semua bisa pulang dan beristirahat dengan tenang, jelaskan saja pada penduduk desa apa yang terjadi kemarin, tapi buatlah seakan-akan anda yang menolong kami.”
Aki Ujang: “Tapi bagaimana dengan nak Eric? Bukankah…”
Eric: “Saya tak memerlukan apapun, saya sudah memiliki orang yang dipercaya dan mau percaya saja itu sudah cukup. Cucu anda takkan senang jika kakeknya dijauhi warga lagi bukan? Hiduplah demi kebahagiaan mereka yang mempercayai anda, itu sudah cukup untuk membahagiakan anda.”
Aki Ujang: “Sebenarnya… nak Eric siapa?”
Eric: “Just devil who walks in the God path, better remember it.” (hanya iblis yang melangkahi jalan Tuhan, lebih baik diingat)

Mendadak sebuah getaran yang keras disertai dengan sebuah suara benda jatuh terdengar dari luar, Eric melihat dari jendela dengan tenangnya. Dia mendesah, dan mengeluarkan kertas bergambar lingkaran transformasi. Diletakkannya kertas itu di atas lantai, kemudian dia mengangkat telapak tangannya tinggi-tinggi. Huruf hieroglif bersinar muncul dari seluruh ujung jarinya, kemudian dia menepuk kertas itu dengan keras. Lingkaran itu membesar dan menjadi sebuah lubang yang bercahaya, kemudian dia bersalaman dengan aki Ujang.

Eric: “Rasanya sudah cukup pembicaraan kita untuk hari ini, kita akan bertemu lagi di desa.”
Aki Ujang: “Apa tadi… nak Eric ke rumah saya dengan cara begini?”
Eric: “That’s not important, now get in,” (itu tak penting, sekarang masuk)

Eric mendorong jatuh Aki Ujang ke dalam lingkaran, kemudian lingkaran itu lenyap. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu digedor bersama suara teriakan, Eric hanya garuk-garuk kepala dan berjalan perlahan menuju pintu.

Juki: “Er! Er! Setan, cepet metu!” (cepat keluar!)
Eric: (membuka pintu) “What do you want?” (kau mau apa?)
Juki: “What do you want, what do you want, gundulmu iku!
Eric: “Is there some problem?” (apa ada masalah?)
Lisa: “Lu kok bisa tenang gitu sih? Lu nggak ngerasain atau ngedengerin suara barusan?!”
Santi: “Ada masalah nih! Mendingan lu liat sendiri deh!”

Eric berjalan keluar, dia menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat matanya melotot. Kumamoto, Yosi, Dinda, dan Budi terbaring di tanah, Oni dan Piyu tersangkut di dahan pohon, sedangkan Diana dan Deni mengapung di tengah danau bersama dengan sebuah batang kayu yang besar. Eric menghampiri Kumamoto yang kelihatannya sedang teler, dia melihat ada sebuah kendi pecah di sebelah tubuhnya.

Eric: “It’s not like what I think, right?” (ini tak seperti yang kupikirkan, benar?)
Juki: “Bayangin aja tadi semua yang ada di sini kecuali kami minta naik, kapasitasnya kan cuman bisa empat orang. Nah, mereka tadi berebutan, Kumamoto-san bilang ‘naik saja semuanya, dijamin aman dan menyenangkan’. Terus dia minum abis nih, (memegang pecahan kendi) setelah itu dia muternya nggak karuan, hasilnya seperti yang kamu liat.”
Eric: “What a mess, I think we should clean this up.” (kacau sekali, kurasa kita harus membersihkannya.)

###

Siang hari, jam 11:20. Karavan milik Kumamoto diparkir di depan sebuah rumah, banyak kerumunan warga yang berkumpul di rumah tersebut. Di teras rumah itu, duduk Eric, Juki, Yosi dan yang lain. Di sana juga duduk kepala desa serta Aki Ujang yang sudah memakai peci, kaos dan celana panjang.

Juki: “Jadi dengan kata lainnya, kami dislametin sama Aki Ujang kemarin malam. Dia juga sudah ngebasmi itu setan, sama ngebebasin anak-anak.”
Santi: “Iya, kemarin dia juga bakar rumah itu sampai jadi abu. Biar setan itu nggak lagi ngeganggu kita.”
Warga pria 1: “Oh, jadi ledakan yang waktu itu aki Ujang yang…”
Warga pria 2: “Tapi bagaimana kalau itu adalah ulahnya aki Ujang buat nyiapin tumbal?”
Juki: (memakai pengeras suara) “Su’udzon lagi?”
Semua warga: (menutup telinga) “Tidak, tidak.”
Warga wanita 1: “Tapi syukurlah anak-anak kembali selamat.”
Warga Wanita 2: “Iya, Acil sama Neneng sudah pulang ke rumah saya dalam keadaan sehat wal afiat.”
Warga pria 1: “Kita semua bersyukur kalau mereka sudah kembali. Anak-anak bilang sendiri kalau mereka diculik sama setan yang nggak punya kepala, waktu sudah sadar mereka semua ditolong sama diantar aki Ujang pulang.”
Warga pria 2: “Terus gimana dengan rumahnya itu setan?”
Aki Ujang: (logat Sunda) “Jangan khawatir saudara-saudara, rumah tersebut sudah tidak ada lagi, terbakar habis. Tapi kita bisa bersyukur saudara-saudara, sebab sebagai gantinya, di sana sudah disediakan lahan kosong untuk pemakaman. Di sana juga sudah ada beberapa yang dikuburkan.”
Pak Kades: “Sebentar, memang ada yang meninggal?”
Aki Ujang: “Bukan, mereka korban dari Cahyapraga berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mungkin sebagian dari kita yang tahu tentang kejadian itu, sekarang mereka semua tinggal tulang dan sudah dikuburkan.”

Warga berdebat setelah mendengar penjelasan dari Aki Ujang, beberapa ada yang menangis histeris, sebagian juga pingsan. Mereka mulai mempertanyakan keadaan korban yang tidak selamat dari Cahyapraga.

Warga pria 2: “Aki Ujang nguburin mereka sendirian?”
Aki Ujang: “Nggak juga, ada yang ngebantuin.”
Warga pria 1: “Dimandiin nggak?”
Aki Ujang: “Waduh lupa.”
Pak Kades: (warga ribut dan mencemooh) “Tenang saudara-saudara, nanti kita bisa bongkar lagi dan mandikan mereka.”
Warga wanita 2: “Tapi kita kan jadi repot kalau bawa air buat mandiinnya ke sana.”
Aki Ujang: “Kalian lupa ya? Bukankah ada sungai di belakang rumah tersebut? Airnya bersih, saya yang akan bertanggung jawab untuk semua itu.”
Pak Kades: “Wah, hebat juga. Saudara-saudara sekalian dengar sendiri kan? Ternyata Aki Ujang sama sekali nggak ada hubungannya dengan hilangnya anak-anak di kampung kita.”
Juki: “Itu benar, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, maka dari itulah kita tak berhak untuk menuduh orang lain tanpa bukti tertentu. Su’udzon adalah salah satu sifat orang yang munafik, tak disukai Allah, dan juga ke-ter-la-lu-an.” (logat Rhoma Irama)
Semua warga: “Iya pak Haji.”

Seluruh warga tertawa terbahak-bahak, dengan disaksikan oleh Eric beserta Kumamoto yang masih pusing dan baru saja bangun dari tidurnya dari dalam karavan.

###

Keesokan harinya, di rumah aki Ujang, Juki dan yang lain sudah bersiap-siap untuk pulang. Tapi ada sedikit masalah, kebanyakan berebut untuk naik karavan. Deni yang sudah duduk di kursi pengemudi, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat mereka.

Dinda: “Aku ikut sama Eric naik karavan, pokoknya aku nggak mau naik truk.”
Piyu: “Iya, nggak ada ac-nya.”
Deni: “Hoi, kalau cuman ac ada di depan sini kok.”
Oni: “Tapi kan lebih sejuk di sini.”
Deni: “Tapi paling tidak ada radionya.”
Budi: “Itu sih sudah ketinggalan jaman, yang di sini lebih canggih!”
Yosi: “Iya ada TV-nya lagi.”
Lisa: “Lagian kalau kita naik gituan paling juga cepat bobrok.”
Deni: (keluar dengan kesal) “Hoi, jangan kurang ajar kau. Ini mobil sudah aku rawat baik-baik sebelum kalian lahir.”
Juki: “Memang umurmu berapa sebelum kita lahir?”
Deni: “Eh… maksudku ayahku yang merawatnya.”
Kumamoto: “Anu… sebentar lagi kita berangkat, sudah diputuskan siapa yang mau naik?”
Semua (kecuali Deni): “Saya!” (mengangkat tangan)
Kumamamoto: “Ah, mendo se.” (merepotkan)
Aki Ujang: “Lho, sudah mau pulang?”
Lisa: “Iya kek, kemarin malam kan udah dibilangin.”
Aki Ujang: “Wah, kakek jadi kesepian nih.”
Lisa: “Ngomong apa sih kek? Kakek kan sekarang sudah ada yang nemenin.”
Aki Ujang: “Iya, tapi kalau cucu kakek yang manis ini di sini kan jadi nggak sepi.”
Lisa: “Ah, kakek bisa aja deh. Kalau gitu kita semua pulang dulu ya kek.”
Aki Ujang: “Tunggu dulu, sebelum itu mana temanmu yang bule itu?”
Lisa: “Eric? Ada apa sama dia?”
Aki Ujang: “Kakek ada urusan sebentar.”
Eric: “I’m here.”

Eric berada di atap karavan, dia meloncat ke bawah dan mendarat tepat di hadapan Aki Ujang. Hal itu membuat Dinda dan Budi kaget setengah mati, ternyata mereka latah, mereka mengucapkan kalimat yang sama berkali-kali.

Dinda & Budi: “Eh copot, copot!”
Eric: “Ada perlu apa?”

***

Aki Ujang sedang berjalan bersama Eric di puing-puing rumah milik Cahyapraga, di sana berkumpul warga yang sedang menggali kuburan dan memandikan mayat, ada juga yang membersihkan puing-puing.

Aki Ujang: “Saya merasa sangat berterima kasih karena semuanya sudah kembali dengan selamat.”
Eric: “Jangan hanya kepada saya, anda seharusnya juga berterima kasih kepada -‘Nya’.” (menunjuk ke atas)
Aki Ujang: “Tentu saja saya sudah melakukannya, saya juga merasa bersyukur karena sekarang kampung ini sudah memiliki kuburan baru.”
Eric: “Dan terlebih lagi anda juga mendapat pekerjaan sebagai penjaganya.”
Warga pria: “Eh, Aki Ujang, mau ngebantuin?”
Aki Ujang: “Nanti saja, kalau udah siang. Terus nak Eric mau ngapain setelah ini?”
Eric: “Mungkin saya akan berkeliling sekitar negeri ini, lagipula masih banyak yang harus dikerjakan.”
Aki Ujang: “Emang nggak bosan kerja gituan?”
Eric: “Yah, sebut saja hobi. By the way…”
Aki Ujang: “Maaf, maksudnya apa?”
Eric: “Oh, maaf. Itu artinya ngomong-ngomong, saya punya pemberian untuk anda di rumah. Mungkin saya akan berkunjung lagi ke sini, saya harap gaya hidup anda juga berubah.”
Aki Ujang: “Insya Allah, kalau Allah menghendaki. Silahkan saja kapan-kapan mampir ke sini.”
Warga pria: “Aki Ujang, ke sini sebentar.”
Aki Ujang: (melangkah menuju warga) “Ada apa?”
Warga pria: “Aki kan yang ngebuat makam buat mereka, tapi aki kok bisa tahu siapa nama mereka? Padahal kan sudah jadi tulang.”
Aki Ujang: “Eh, itu…”

Bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh warga, aki Ujang menoleh ke tempat Eric. Tapi dia sudah tak ada di tempatnya, lenyap dari pandangan mata.

###

Di tengah jalan pada siang hari, sebuah truk melaju bersama dengan sebuah karavan di belakangnya. Di belakang truk ada Juki, Santi, Yosi, dan Oni yang sedang tidur, di bangku pengemudi ada Deni dan Diana.

Yosi: “Sialan, kenapa gua yang naik di belakang?”
Diana: “Soalnya lu udah kalah taruhan, jangan protes, mau gua jitak?”
Yosi: “Nggak, nggak usah.” (takut)
Juki: “Aduh panas banget, coba ada kipas angin. Ngapain juga kamu ngikut aku?”
Santi: “Masih ada yang mau gua tanyain, katanya lu bakal jelasin sisanya. Terus kenapa dia tinggal sama lu sekarang? Orang tuanya di mana?”
Juki: “Ada di sana.” (Menunjuk ke atas)
Santi: “Hah?!” (Menutup mulut dengan tangan)
Juki: “Hah, heh, hah, heh aja dari tadi.”
Santi: “Kenapa…”
Juki: “Mereka dibunuh… tepat saat ultahnya yang ke-10.”
Santi: “Kasihan banget, gua turut berduka cita.”
Juki: “Ngomong gituan sama dia aja.”

Sementara itu Dinda, Budi, dan Piyu sedang berkaraoke di karavan, Eric dan Kumamoto duduk di bangku depan. Mereka menyanyikan lagu ‘American Idiot’ dari ‘Green Day’.

Dinda: “Wah, nggak nyangka ya kita bisa nikmatin fasilitas begini? Lain kali kta kemping, naik ini aja ya?
Budi: “Iya, setuju!”
Eric: “Hey, it’s limited, you know?” (Hei, ini terbatas, mengerti)
Kumamoto: “Hahaha, ternyata orang Indonesia itu sungguh enerjik ya?”
Eric: “Yah, kau belum melihat semuanya, Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa. Walau mereka berbeda kulit, agama, dan bahasa, tapi mereka tak pernah membedakan satu sama lain.”
Kumamoto: “Apa tidak apa-apa kau memberikannya kepada kakek itu?”
Eric: “Why not? At least, he can change his lifestyle from now on.” (kenapa tidak? Paling tidak, dia bisa mengubah gaya hidupnya mulai sekarang.)
Kumamoto: “Jadi apa yang mau kau lakukan setelah ini, lain kali berkunjunglah ke rumahku. Istri dan anakku penasaran kapan kau akan kembali.”
Eric: “Di negara ini masih banyak Jin, iblis, maupun siluman yang lebih kuat dariku. Aku datang ke Negara ini untuk mengetahui sejauh mana kemampuanku, juga sebagai latihan untuk menghadapi ‘dia’. Ini baru 0,2% dari yang aku hadapi sampai sekarang, mana mungkin aku meninggalkan negeri yang belum ‘bersih’ sepebuhnya ini.”
Kumamoto: “Hmm, kalau begitu sampai kau menyelesaikan 100% latihanmu di negeri ini, mungkin aku akan membawakan oleh-oleh. Ah, mungkin tidak jika aku mengajak beberapa keluargaku?”
Eric: (wajah kaget) “Are you kidding?” (Kau bercanda?)

###

Sementara itu di rumah Aki Ujang, dia baru saja pulang dan masuk ke dalam. Saking capeknya, dia berbaring di atas kursi. Pada saat itulah dia menyadari sebuah koper di atas meja.

Aki Ujang: “Eleh-eleh, temannya Lisa sampai kelupaan barang. Ng? Ada kertasnya pisan?”

Mohon diterima, semoga anda menggunakannya untuk hal yang baik. Jangan dihamburkan untuk yang tak perlu, bersyukurlah, mungkin ini hari baik anda.

Aki Ujang: “Hari baik? Memang isinya apa?”

Aki Ujang membuka koper perlahan-lahan, saat sudah terbuka sepenuhnya, dia kaget sampai jatuh terduduk. Isi koper itu adalah uang tunai, mungkin bernilai sekitar sepuluh juta, dalam pecahan seratus ribuan. Saking tidak percaya pada apa yang dia lihat, banyak keringat menetes dari tubuhnya. Dia melihat tulisan lagi di balik koper yang dia buka.

Lebih baik pakailah untuk renovasi rumah dulu, anda pasti tak ingin tamu yang datang ke rumah anda tak merasakan kenyamanan bukan?

Aki Ujang berusaha untuk menenangkan dirinya, dia duduk di kursinya kembali. Sambil mengusap keringat di wajahnya, dia tertawa kecil.

Aki Ujang: “Dasar… nak Eric ini… penuh kejutan juga.”

Rabu, 17 Maret 2010

Bagian 11

CAMP DINNER

Satu jam kemudian, di dalam karavan, Dinda dibaringkan di sebuah tempat tidur. Eric baru saja ganti pakaian dan keluar dari dalam tenda, di depan karavan sudah ada Budi, Piyu, Oni dan Deni.

Eric: “Kalian tak masuk ke dalam?”
Deni: “Ruangannya terlalu sempit buat kita, jadi kita tunggu saja di luar.”
Eric: “Ah, kalian pastilah teman dari Yosi. Aku sudah diberitahu Juki, Eric Pietersburgh, panggilan Eric.” (bersalaman pada masing-masing anak)
Oni: “Syahroni, panggilan Oni.”
Piyu: “Palupi Yunus, panggilan singkat Piyu.”
Eric: “Jadi, kalian pastilah sudah mendapat pengalaman menyenangkan.”
Oni: “Ah, nggak juga. Nggak begitu nyenengin kok, iya nggak?”
Piyu: “Iya, lagian sebagian pengalaman yang kami alami itu terpaksa kami lakukan.”
Eric: “Tapi kalian merasa bersyukur karena masih bisa selamat bukan?”
Oni & Piyu: “Iya.”
Eric: “Oh, is she awoke already?” (apa dia sudah terbangun?)
Budi: “Belum mungkin, kayaknya dia bakal bangun agak lamaan lagi.”
Eric: “Yeah, I admit that it’s my fault.” (ya, kuakui itu adalah kesalahanku)
Deni: “Jangan nyalahin diri kau, yang tadi kan tak disengaja bukan? (suara hati) Cewek mana yang tidak pingsan melihat bodi seperti itu.”
Eric: “Maybe I will see her to make sure she didn’t die.” (mungkin akan kulihat dia untuk meyakinkan bahwa dia tidak mati.)
Deni: “Eh, lebih baik jangan, nanti…”
Eric: “Tenanglah.” (mengetuk pintu)

Pintu karavan terbuka, yang membukanya adalah Juki dengan wajah jengkel begitu melihat Eric. Dia keluar dengan menggerutu, Eric sendiri masuk ke dalam. Bagian dalamnya terlihat modern, ada sebuah tv plasma di dekat kursi pengemudi, dapur di bagian belakang lengkap dengan kompor dan oven, di depannya ada sebuah ranjang. Dinda yang tak berkacamata, berbaring di sana, ditunggu oleh Santi, Yosi, Lisa, dan Diana. Santi menundukkan kepala dengan wajah merah, Diana hanya cengar-cengir melihat Eric, Lisa menutup kedua matanya dengan tangan, sedangkan Yosi sendiri berdeham.

Eric: “Bagaimana keadaannya?”
Yosi: “Nggak bagus, kayaknya dia sekarang dapat mimpi buruk.”
Eric: “Jadi kau menyalahkanku?”
Yosi: “Nggak, nggak. Bayangin aja, dia kan baru kali ini liat… (memperhatikan tubuh Eric) bodi yang kayak gitu. Menurut lu cewek nggak bakalan pingsan?”
Eric: “You know? She’s lucky to see half of my body, not the entire body. But luckily, she didn’t see my ‘balls’.” (kau tahu? Dia beruntung melihat setengah dari tubuhku, bukan seluruhnya. Tapi lebih beruntung, dia tak melihat ‘bola’ ku”

Yosi langsung terbayang dan muntah-muntah, sedangkan cewek-cewek, kecuali Diana, memuncratkan ludah saking kagetnya.

Yosi: “Hoek… hoek… udah, pembicaraannya malah jadi ngeres! Nggak enak nih!”
Eric: “My bad, sorry. (salahku, maaf) Jadi siapa namanya?”
Diana: “Dinda, dia adik gue. Tapi lu macho abis tau gak? Dapat dari mana bodi kayak begitu?”
Eric: “Lot’s of work, of course. Eric Pietersburgh, nice to meet you.” (banyak olahraga, tentu saja. Eric Pietersburgh, senang berkenalan denganmu)
Diana: “Diana Hapsari, orang Indonesia asli. Hobi gue juga olahraga, lain kali kita panjat tebing sama-sama ya?”
Eric: “I’ll look forward for that.” (akan kutunggu saat itu.)
Yosi: “Eh, Dinda sudah sadar nih!”

Dinda terbangun dari tidurnya, dia bangkit perlahan. Matanya menyipit, kemudian dia meraba-raba sekitarnya, berusaha mencari kacamatanya. Akhirnya dia merasakan sesuatu, dia tak sadar jika yang dia raba-raba sekarang adalah dada Eric.

Dinda: “Yos, apa ini lu?”
Yosi: “Bu… mmph!” (dibungkam Diana)
Diana: “ Bukan, ini gue. Yang lu elus sekarang, punggung gue.”
Dinda: “Oh, mana kacamata gue?”
Lisa: (diberi isyarat oleh Diana dengan gerakan kepala) “I… ini.”
Dinda: “Terima kasih. Aduh, bayangin deh, gua mimpi liat cowok bule telanjang, aneh ya? Bodinya mantep banget.”
Diana: “Terus kalau lu liat lagi mau diapain?”
Dinda: “Ng… gimana ya? Gua pingin sih liat lagi tapi gue nggak mau kalau dia musti telanjang lagi.”

Dinda memakai kacamatanya, dalam sekejap dia sudah melihat dan mengenal orang-orang di sekelilingnya. Tetapi dia terdiam sejenak saat melihat Eric, kontak mata terjadi di antara mereka. Dinda baru menyadari kalau tangannya masih memegang dada Eric, matanya kemudian menatap Eric kembali. Dia hanya diam dan mengatakan ‘yo’, akibatnya Dinda pingsan lagi.

Eric: “Oops.”

###

Sementara itu, Kumamoto baru saja kembali dengan dua ember penuh ikan yang dipegang di kedua tangannya dan tumpukan kayu yang diikat di punggungnya. Dia melihat beberapa orang sudah duduk di depan karavan, dia mengenali salah seorang di antaranya dan langsung memanggilnya.

Kumamoto: “Oi, Kani-kun!”
Juki: (menoleh dan kaget) “Waduh.”
Budi: “Wah, itu kan om Kumamoto.”
Oni: “Siapa itu orang?”
Budi: “Itu om Kumamoto, dia pengacaranya Eric waktu sidang masalahnya si Beni.”
Piyu: “Darimana asalnya?”
Juki: “Ya dari Jepanglah! Masa dari Sidoarjo? Waduh orangnya datang.”
Kumamoto: “Kani-kun, hisasiburi.” (lama tak jumpa, kepiting)
Juki: “Ha… hai. Oh ya, ini Kumamoto-san, perkenalkan.”
Oni, Budi, Piyu: (bingung ingin berkata apa) “Ah… domo arigato gozaimasu.” (terima kash banyak)
Kumamoto: “Tak perlu berterimakasih padaku, bukan aku yang menolong kalian.”
Piyu: “Wah, ternyata bisa bahasa Indonesia.”
Kumamoto: “Tentu, di setiap Negara lebih sopan jika kita berbicara dengan bahasa Negara tersebut. Jadi kau benar-benar ke sini, bagaimana kabarmu?”
Juki: “Baik, sepertinya anda juga terlihat sehat.”
Kumamoto: “Terima kasih banyak, lalu mana Eric? (melihat ekspresi masing-masing anak berubah drastis) Ada apa? Apa sesuatu terjadi?”
Juki: “Sebenarnya…”

***

Malam hari, sekitar jam 07:00, api unggun yang besar menyala di pinggir danau. Beberapa buah kursi, sebuah meja makan dan sebuah alat pemanggang telah diletakkan di depan karavan, terlihat Eric sedang membakar ikan dan membumbuinya bersama dengan Kumamoto. Juki dan yang lain sedang menikmati iringan lagu reggae dari sebuah sound system yang berbunyi di karavan, mereka menari dengan riangnya.

Kumamoto: “Ahahaha! Jadi anak itu pingsan saat melihat kau telanjang?”
Eric: “Setengah telanjang lebih tepatnya.”
Kumamoto: “Sepertinya anak itu sudah mendapatkan pengalaman yang tak bisa dilupakan seumur hidupnya. Tolong kecapnya, terima kasih.”
Eric: “Lalu Kuma-san, kenapa kau masih ada di sini?”
Kumamoto: “Kau tahu kan? Aku masih ada urusan di negeri ini, urusan illegal logging di Sumatra itu belum tuntas sama sekali. Setelah urusan ini, aku akan pergi ke sana.”
Eric: “Begitukah? Mana mericanya?”
Kumamoto: “Ini dia, terlebih lagi aku sangat suka hutan. Mana mungkin aku diam saja melihat penebangan liar itu dibiarkan begitu saja, lagipula alam itu adalah awal dari sebuah kehidupan.”

Eric hanya mengangguk, mereka kemudian menghidangkan dua ekor ikan pada masing-masing piring. Juki yang baru saja selesai menari, juga ikut membantu menghidangkannya. Kemudian dia mengajak Yosi dan yang lain untuk makan, mereka semua sudah duduk di tempat masing-masing. Saat Dinda duduk, betapa terkejutnya dia saat bertatap muka dengan Eric. Dengan terburu-buru, akhirnya dia bertukar tempat duduk dengan Diana yang jauh dari Eric. Dia duduk sambil menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat memerah karena malu.

Kumamoto: “Sepertinya dia menyukaimu.”
Juki: “Dia cuman trauma aja soal yang tadi, gara-gara itu setan.”
Eric: “So you blame me now?” (jadi sekarang kau menyalahkanku?)
Juki: “Sudah jelas, lu bikin gue basah kuyup dan bau darah. Ditambah lagi gue tadi nggak mandi, cuman ganti baju doang. Buat nutupin baunya aja, gua mesti pakai parfum sebotol penuh.”
Eric: “Then why you don’t take cover in the tent?” (lalu kenapa kau tak berteduh di tenda?)
Juki: “Lagian lu tumpuk mereka kayak karung begitu, gua jadi nggak bisa masuk buat berteduh!”
Eric: “Then why you don’t ask me to give you an umbrella?” (lalu kenapa kau tak memintaku untuk memberimu payung?)
Juki: “Emang lu punya payung?”
Eric: “This.” (mengeluarkan payung dari bawah meja)
Juki: (jengkel) “Ngomong dari tadi dong.”
Kumamoto: “Kani-kun, kau sudah coba ikannya?”
Juki: “Eh, be… belum.”
Kumamoto: “Cobalah, (memberikan sepiring ikan) kau baru kali ini kan makan masakan buatanku? Jangan malu-malu.”
Yosi: “Anu… pak Kumamoto.”
Kumamoto: “Panggil pakai san saja.”
Yosi: “Ng… Kumamoto-san, kenapa Juki dipanggil Kani?”
Deni: “Kani itu apaan sih?”
Kumamoto: “Dalam bahasaku, itu artinya kepiting.”
Yosi: “Kok dia bisa dipanggil begitu?”
Kumamoto: “Saat aku di Indonesia, aku pernah bermain football dengan dia, ia yang menjadi penjaga gawangnya. Pada saat aku mau mencetak gol, dia berkali-kali berjalan ke samping kiri dan kanan, karena itulah aku menyebutnya begitu.”
Juki: (suara hati) “Gimana gua nggak kayak begitu? Lu kan lagi mabuk pas mau nendang, jalannya aja udah sempoyongan, jadinya bingung deh dia mau nendang ke kiri apa kanan.”
Lisa: “Pft… hahaha, om Kumamoto, dia bukan cuman jalannya aja kayak kepiting. Liat mukanya aja mirip kepiting!”
Juki: “Sialan lu.”
Kumamoto: “Tolong panggil dengan akhiran san.”
Deni: “Terus pak Kumamoto-san sekarang ngapain di sini?”
Kumamoto: “Tolong panggil Kumamoto-san saja, jangan tambahkan apa-apa. Seperti yang kalian lihat tentu saja, aku sedang bersantai. Setelah itu juga, aku masih ada urusan dan harus meninggalkan pulau ini.”
Budi: “Teman-teman, pak Kumamoto ini lho yang pernah jadi pengacaranya Eric pas ngehajar Beni.”
Diana: “Jadi bener yang ngehajar Beni lu?”
Eric: “A bit of him. Actually I just broke his teeth.” (sedikit. Sebenarnya aku hanya menghancurkan giginya saja)
Oni: “Terus beneran dia sekarang dipenjara sama bapaknya?”
Juki: “Nggak, beda lapas kok.”
Piyu: “Terus gimana ceritanya lu bisa ngeringkus pak Hutomo sama anak buahnya sendirian?”
Eric: “It’s a long story.” (ceritanya panjang)
Deni: “Lah, kalian belum tahu ya? Dia ini lulusan sekolah militer!”
Diana: “Beneran? Pantesan lu punya bodi macho begitu.”

Para gadis tersedak begitu mendengar apa yang dikatakan Diana, terlebih lagi Dinda, dia sampai jatuh bersama dengan kursi yang dia duduki. Yosi dan Deni yang duduk di sebelahnya segera membantunya berdiri, baju Dinda basah karena terkena air jeruk yang dia minum.

Eric: “Oh, how unlucky. (betapa sial) Santi, bisa kau ambilkan beberapa tisu di dalam bersama Juki?”
Santi: “Eh tapi…”
Eric: “Please.” (kumohon)

Akhirnya Santi segera pergi bersama Juki, mereka berdua masuk ke dalam karavan. Juki menutup pintu rapat-rapat, kemudian dia membuka beberapa laci di lemari dapur.

Juki: “Kemarin malam kamu lihat semuanya?”
Santi: “Gua nggak bisa ngelupain hal itu, terus waktu lihat… Eric itu manusia apa bukan sih?”
Juki: “Ah, jadi kamu masih ingat, dari tadi aku liat kamu jarang bicara. Ternyata masih kepikiran ya?”
Santi: “Sebenarnya dia itu apa?”
Juki: “Kalo aku ceritain kamu nggak bakalan percaya deh.”
Santi: “Setelah yang terjadi kemarin? Gua bakal percaya kok.”
Juki: “Iya juga ya, kalau kamu cerita sama mereka, mana ada yang mau percaya… baiklah, biar kuceritain. Sebelum dia ada di dunia ini, dia hampir mati dan sekarat.”
Santi: “Jadi… dia sudah mati?!”
Juki: “Dengerin dulu ampe habis! Waktu masih dalam kandungan dulu, dia itu kena penyakit, katanya kemungkinan dia bisa meninggal setelah dia dilahirkan.”
Santi: “Hah?!” (menutup mulut dengan tangan)
Juki: “Bokapnya yang ilmuwan berusaha untuk mencegah hal itu terjadi, dia berusaha mencari cara untuk menyembuhkannya. Akhirnya dia berhasil menemukan solusinya, saat dia sedang meneliti mumi.”
Santi: “Mumi? Maksud lo yang di piramida Mesir itu?”
Juki: “Nggak di Jember, ya iyalah di Mesir! Waktu itu bokapnya sedang meneliti itu mumi, tubuhnya masih segar di dalam, terus di dalamnya tak ditemukan pernah ada virus penyakit sama sekali. Lebih anehnya lagi, yang jadi mumi itu bukan manusia.”
Santi: “Hah?! (menutup mulut dengan tangan) Tahu dari mana?!”
Juki: “Setelah dironsen dan dibedah, dia punya tiga jantung, terus ususnya itu berduri. Dari bentuk tubuhnya, kelihatan mirip
Santi: “Huek, ngebayangin aja sudah menjijikkan.”
Juki: “Akhirnya dia selamat, dia berhasil dilahirkan ke dunia. Tapi pada saat masa pertumbuhannya, dia juga mendapatkan sesuatu yang tak dimiliki manusia biasa. Kamu tahu itu apa.”
Santi: “Dia bisa ngerasain keberadaan makhluk halus di sekitarnya bukan?”
Juki: “Seratus buat lu, mendingan kita cepat keluar. Mungkin mereka sudah kelamaan nunggu, lain kali kita lanjutin bicaranya.”

Santi teringat kembali pada saat kejadian di mana setelah dia tersadar dari pingsan di bekas kediaman Cahyapraga, dia terbangun dalam keadaan tertindih tubuh Lisa. Dia berusaha bangkit dan memindahkan Lisa ke sebelah Deni, akhirnya Lisa berhasil dipindahkan tetapi malah terbaring dalam keadaan menindih Deni. Santi keluar dari tenda dan mendapat pemandangan yang mengejutkan. Dia melihat rumah besar yang ada di depannya sudah lenyap, yang tersisa hanyalah puing-puing yang sudah terbakar habis. Santi lalu melihat sekeliling dan masuk kembali ke dalam tenda, dia memeriksa mereka yang sedang tidur satu persatu. Dia sadar bahwa Juki tak ada di situ, dia segera berlari keluar dan mencari ke segala penjuru. Santi melihat dua siluet bayangan dari kejauhan, tepat di belakang puing-puing kediaman Cahyapraga. Dia segera berlari ke sana, dua siluet itu makin jelas makin dekat dia berlari ke tujuan. Akhirnya dia berhenti di belakang sebuah tiang rumah yang besar sambil terengah-engah, dia melihat Eric sedang menggali tanah. Sedangkan Juki baru saja keluar dari sungai, sepertinya dia baru selesai mandi.

Juki: “Ah, segere, matur nuwun. Saiki kaline dadi resik.” (ah, segarnya, terima kasih. Sekarang sungainya jadi bersih)
Eric: “Is that so? Then please help me bury this person.” (begitukah? Kalau begitu tolong aku mengubur orang ini.)
Juki: “Dasar, kenapa aku jadi ngebantuin lu?”
Eric: “Because this is a payback after I give you change clothes. Beside that, you must say your ‘thanks’ to Kuma-san for purifying the river.” (karena ini adalah balasan setelah aku memberimu baju ganti. Selain itu, kau harus berterimakasih pada Kuma-san karena telah memurnikan sungai ini.”
Juki: “Yah, tapi ujung-ujungnya aku kan jadi kotor lagi.”
Eric: “Kalau begitu setelah ini kau harus mandi lagi di sungai.”
Juki: “Capek deh, cuman satu itu saja kan?”
Eric: “Sure, now help me.” (tentu, sekarang bantu aku)

Eric meletakkan sekop, bersama dengan Juki dia menggotong sesuatu dan memasukkannya ke dalam lubang. Santi melihat dengan seksama, itu adalah kerangka manusia yang sudah dikafani. Dia kaget begitu melihatnya, sampai menutup mulutnya dengan tangan. Dia segera berlari kembali ke tenda dengan terburu-buru, sementara mereka sedang menguburkan jenasah.

Juki: “Kenapa sih kita harus nguburin mereka semua di sini?”
Eric: “Karena aku sudah tahu bahwa kuburan mereka sudah tak lagi memiliki ruang untuk mereka, maka aku buatkan saja yang baru.”
Juki: “Tapi bukan berarti aku yang mesti lakuin kan? Penduduk desa kan nanti juga bisa ngubur mereka, lagian ini beda waktu Beni ngasihin lu bangkai tikus.”
Eric: “Because it’s a living being (karena itu makhluk hidup) Semua makhluk di dunia ini memiliki kehidupan, pada akhirnya mereka akan kembali ke tanah. Manusia saja bisa masuk surga, kenapa hewan tidak?”
Juki: “Alah, lantas bagaimana dengan ikan, daging sapi dan ayam yang kita makan? Tulangnya kan masih bisa dibuat makan.”
Eric: “That’s different; at least I have permit from the God.” (itu berbeda; paling tidak aku mendapatkan ijin dari Tuhan.)
Juki: “Gimana cara dapat ijinnya?”
Eric: “By praying, idiot. If I didn’t do that, it will be bad omen for me.” (dengan berdoa, bodoh. Jika aku tak melakukan itu, akan jadi pertanda buruk bagiku)
Juki: “Mereka memang sudah pergi ke akhirat, tapi jangan protes kalau nanti kuburan ini dibongkar lagi ya? Soalnya cara penyucian dan penguburannya nggak dilakuin pakai cara biasa, terima kasih buat nyusunin lagi tulang mayat yang sudah tercerai berai.”

Kembali ke masa sekarang, saat ini Kumamoto terlihat sedang mabuk. Dia memanggul sebuah batang kayu yang besar dengan posisi berlutut, dengan disaksikan oleh Yosi dan yang lain. Di atas batang kayu tersebut ada Juki yang sedang duduk dan Eric yang sedang berdiri, dia baru saja mengajak Lisa dan Santi untuk naik ke atas.

Santi: “Sebenarnya ada apa sih?”
Lisa: “Kita mau diapain?”
Eric: “I just want you two to enjoy an attraction, I heard you already have experience like this in amusement park.” (aku hanya ingin kalian berdua untuk menikmati sebuah atraksi, kudengar kalian sudah punya pengalaman seperti ini di taman ria.)
Juki: “Kita bakal ngerasain wahana yang pernah lu naikin di Dufan, percaya deh ini asyik lho.”
Santi: “Gimana caranya?”
Juki: “Lu duduk aja deh, jangan lupa pakai ini.” (menyerahkan sabuk berujung paku)
Lisa: “Apaan nih?”
Juki: “Safety belt.” (sabuk keselamatan)
Lisa: “Emang kita mau naik mobil apa? Terus gimana cara pakainya?”
Juki: “Pertama pasang pakunya di sini, terus lingkarkan di perut, yang terakhir pasang paku satunya lagi di ujung sini. Lihat, kayak gua nih.”
Santi: (sudah memasang sabuk) “Begini?”
Lisa: “Tapi kita mau diapain kalau cuman duduk di sini doang?”
Juki: “Ya bener, sudah kenceng semuanya?”
Santi & Lisa: “Iya.” (menganggukkan kepala)
Lisa: “Lho, Eric, kamu nggak pakai?”
Eric: “Don’t worry, I can handle this. Okay, Kuma-san, let’s begin the ‘Tornado Chair’.”
Kumamoto: “Hik… hai.” (baiklah)

Kumamoto bangkit berdiri dengan memanggul batang kayu tersebut, Santi dan Lisa yang duduk di atas merasa terkejut melihatnya. Dia mulai melakukan stretching pada kakinya, dia jongkok dan berdiri berulang kali. Kemudian dia menyeringai dan mulai memutar tubuhnya bersama dengan batang kayu yang dia panggul, Eric masih tegap berdiri dalam keadaan tersebut. Putaran yang dilakukan Kumamoto sebesar 180 derajat, diputar kembali dengan menggunakan kedua tangannya sebesar 360 derajat. Dia mengulang-ulang cara yang sama, semakin dia memutar, kecepatannya semakin bertambah. Eric yang masih berdiri di depan Santi dan Lisa, membuat mereka yang menonton berdecak kagum. Mendadak Eric menjatuhkan dirinya, hampir semua yang menonton berteriak histeris. Tapi beruntung, Eric menjepit batang kayu dengan kedua kakinya sehingga posisi batang kayu berada di tengah selangkangannya. Para penonton bernafas lega, Eric pun turun dari batang kayu. Dia berjalan dan menendang sebuah kerikil, kerikil itu masuk ke dalam karavan dan mengenai sebuah tombol di sound system. Mendadak suara musik rap terdengar dari dalam, Eric bersalto ke belakang tiga kali dan mendarat di batang kayu.

Eric: “Kuma-san, ready for ‘Grizzly Hurricane’.”
Kumamoto: “Yokai shimasta.” (sesuai permintaanmu)

Sabtu, 27 Februari 2010

Bagian 10

SURVIVOR

Juki dan Santi melihat pemandangan di mana Cahyapraga dan makhluk berwajah putih akan bertempur, mereka menyaksikan dari dalam tenda. Makhluk tersebut memasang kuda-kuda dengan memegang pedang dengan satu tangan, tangan kirinya memegang gagang pedang, bilahan pedangnya dia letakkan di ketiak. Tangan kanannya digerakkan ke depan, telapak tangannya terbuka lebar. Kedua kakinya membentuk sudut 45 derajat, kaki kanan diletakkan di belakang, lututnya menekuk, sedangkan kaki kiri di depan lurus. Pada saat bulan tertutup awan, seekor dari singa itu menyerang langsung, singa itu hampir menyentuh dia. Makhluk itu membungkuk dan memutar kakinya 360 derajat, dia menjegal singa tersebut hingga terjungkal. Saat singa itu berada di udara, makhluk itu menebas kepalanya hingga lepas. Pada saat bersamaan, seekor lagi menerkamnya. Mulutnya ditahan dengan pedang, mereka berguling-guling di tanah. Ketika makhluk tersebut menindih singa itu, dia menarik pedang itu. Singa itu tak mau melepas gigitannya, tetapi makhluk tersebut mengangkatnya bersama dengan pedangnya. Tiba-tiba pedang itu berubah menjadi selentur karet, makhluk itu menarik ujung pedang dan melilitkannya di sekitar leher singa tersebut.

?: “I think it’s time for rodeo.”

Singa tanpa kepala yang ditebas makhluk itu masih bisa bergerak, dia mulai mencoba menerjangnya. Makhluk itu menarik kepala singa yang dia tunggangi, membuatnya berlari kemanapun makhluk itu mau. Dia mulai berlari menuju pepohonan, diikuti singa tanpa kepala. Sementara itu, Cahyapraga yang kehilangan dua tangannya, menumbuhkan lagi tangannya dalam bentuk tulang. Dia juga turut serta dengan membuat kepalanya lepas dan mengikuti makhluk itu, kejar-kejaran seru terjadi. Singa tanpa kepala itu berada di belakang sang makhluk, sementara kepala Cahyapraga terbang di atasnya. Kepala itu menyemburkan api pada makhluk itu, dia berlindung di balik sebuah pohon yang tumbuh miring dan memanjatnya. Pohon itu mulai terbakar dari bawah dan naik ke atas dengan cepatnya, makhluk itu melompati pohon. Dia meloncat dari singa yang dia tunggangi, menarik pedang yang masih digigit dan membuat badan singa itu menubruk singa tanpa kepala yang berada di belakangnya sampai hancur berkeping-keping. Pedang milik makhluk itu kembali menjadi keras, kali ini di depannya sudah ada kepala Cahyapraga yang terbang berputar melesat untuk menusuknya. Dia mencegahnya dengan tebasan pedang, sehingga membuat wajahnya terluka. Makhluk itu mendarat mulus dengan kakinya di tanah, kepala Cahyapraga terbang terhuyung-huyung menuju tubuhnya sambil berteriak kesakitan. Dia menutupi wajahnya saking sakitnya, luka sabetan vertikal itu terlihat jelas di wajahnya.

Cahyapraga: “AAARRRGGH, BERANINYA KAU BERBUAT SEPERTI INI PADAKU! AKU ADALAH ORANG YANG AKAN MENJADI ABADI!”
?: “Immortal? But you’re already expired.” (abadi? Tapi kau sudah kadaluwarsa.)
Cahyapraga: “KURANG AJAR KAU!”

Cahyapraga masuk ke dalam tanah dengan cepatnya, dari tanah yang makhluk itu injak muncul benda putih yang panjang dan tajam. Tapi makhluk itu berhasil menghindar, benda itu masuk kembali ke dalam tanah. Benda itu terus muncul dan menyerangnya berturut-turut, makhluk itu melompat ke udara.

?: “It’s fishing time.”

Dia menekan bagian bawah gagang pedang, bersamaan dengan itu, huruf hieroglif di pedang bersinar. Bilah pedang itu mulai berubah bentuk, warnanya berubah merah dan muncul beberapa kaki. Bilah pedang itu berubah menjadi seekor kelabang, dia menyabet dan menusukkannya ke tanah. Suara gemuruh terdengar dari dalam tanah, diikuti dengan ledakan. Dari dalamnya, darah menyembur keluar. Makhluk itu menarik pedangnya, bersamaan dengan ditariknya pedang, muncul Cahyapraga yang terbelit oleh pedang kelabang. Lehernya digigit, kelabang itu telah menusuk menembus dadanya. Cahyapraga ditarik oleh makhluk tersebut, makhluk itu lalu memasang kuda-kuda dengan menarik tangan ke belakang, bersiap-siap untuk mencengkeram. Dalam sekejap, makhluk itu menusuk perut Cahyapraga. Tapi yang keluar dari perutnya bukan darah, tetapi cahaya berwarna hijau.

Cahyapraga: “Uhuk… siapa kau… sesungguh… uhuk… nya?”
?: (menyeringai)“The demon who walk in God path.” (iblis yang melangkah di jalan Tuhan)

Makhluk itu menarik keluar sesuatu dari dalam perut Cahyapraga, sebuah bola berwarna hijau yang bersinar. Kemudian dia membanting Cahyapraga ke tanah dengan pedangnya, dia mendarat tepat di depan rumahnya. Makhluk itu menyarungkan kembali pedangnya, dia lalu melompat ke sebuah puncak pohon. Pada saat itu, dia berdiri menutup bulan sabit yang bersinar terang. Cahyapraga berdiri kembali, dia membuka mulutnya, bersiap untuk menyerang. Tetapi hal tersebut dicegah oleh makhluk itu, dia melempar sepatu ke mulutnya dengan kakinya untuk membungkam mulutnya. Makhluk yang seharusnya tak bermulut itu kini mempunyai mulut, dia menyeringai sambil memperlihatkan gigi taringnya, asap hitam keluar dari mulutnya. Makhluk itu melakukan kuda-kuda, bersiap untuk meloncat. Bersamaan dengan itu, di kaki makhluk tersebut muncul beberapa huruf hieroglif bersinar, huruf itu perlahan bergerak dan meresap ke dalam telapak kakinya. Cahyapraga sendiri melihat makhluk itu dengan mulut terbungkam oleh sepatu, kepalanya menggembung seakan mau meledak. Makhluk itu mulai meloncat, dia melakukan tendangan terbang menuju Cahyapraga. Dia meluncur dengan kecepatan penuh, tendangan itu mengenai kepalanya. Kepala itu langsung lepas dari tubuhnya dan masuk ke dalam rumah, Cahyapraga yang hanya kepala itu berguling-guling dan berhenti. Di kepalanya ada lambang yang membekas, dia mengatakan sesuatu dengan mulut terbungkam.

Cahyapraga: “Agh… klh.” (aku… kalah)

Dalam sekejap, rumah itu langsung meledak disertai dengan semburan api biru. Makhluk itu berdiri membelakangi rumah, tubuh Cahyapraga sendiri jatuh dan meleleh.

?: “Your sin has been erased.” (dosamu telah dihapus)

Santi tidak percaya dengan apa yang dia lihat, matanya terbelalak dan mulutnya menganga. Juki berdiri dan melangkah maju, begitu juga makhluk tersebut. Kakinya yang tidak memakai sepatu meninggalkan jejak dengan sebuah lambang, Juki sendiri sudah berdiri berhadapan dengan makhluk tersebut.

Juki: “Kenapa kamu mesti datang pada saat yang begitu?”
?: “Jauh lebih baik jika sebuah pesta dengan teriakan, daripada sebuah pesta tanpa teriakan.”
Juki: “Er, Er, kamu ini…”
?: “Yang penting adalah melepaskan mereka dari sini dulu, pegang.”
Juki: (merasa jijik) “Yeeek, nggilani!” (menjijikkan!)
?: “Jangan dijatuhkan, kau bisa membunuh mereka.”

Makhluk itu mulai memasang kuda-kuda, kedua telapak tangannya saling ditepukkan. Kemudian masing-masing diputar berlawanan, jari telunjuk diacungkan, kemudian dijauhkan. Bola hijau itu sekarang berada di tengah kedua jari telunjuk makhluk tersebut, di tangannya terjadi fenomena yang sama dengan saat dia akan melakukan tendangan. Huruf-huruf yang bersinar bergerak dan meresap ke dalam jarinya, kedua jari tersebut menusuk bola tersebut secara bersamaan. Sekarang cahaya yang ada di jari itu meresap masuk ke dalam bola, warna cahaya pada bola berubah menjadi kuning. Makhluk itu kemudian mengambil bola itu dan melempar ke atas, bola itu terbang ke atas hingga tak terlihat. Di langit yang gelap muncul kembang api, bersamaan itu pula, ada beberapa cahaya putih seperti kunang-kunang turun dari langit. Cahaya itu perlahan mendarat di tanah, perlahan cahaya itu mulai menampakkan wujud sebenarnya. Ternyata itu adalah beberapa anak dari desa bersama dengan Yosi dan yang lain, mereka semua pingsan.

?: “Nah, kita tinggal memasukkan mereka ke tenda.”
Juki: “Entar dulu, entar dulu. Mana muat segini banyak, lagian ini cuman cukup sama Yosi cs.”
?: “Mengenai hal itu sudah aku antisipasi, aku akan kembalikan mereka dulu.” (menunjuk anak-anak desa)
Juki: “Gimana caranya? Digendong terus terbang? Gila lu Er!”
?: “Aku tak sebodoh itu Juki!” (menjitak kepala Juki)
Juki: “ADDAAW!”
Santi: “E… er…? Eric?”
?: “What?”
Santi: “I… ini Eric?”
Juki & Eric: “Lha pikirmu apa?” (Kau kira apa?)
Eric: “Ah benar, kau tak mengenaliku jika aku seperti ini.”

Eric menutup matanya sejenak, perlahan-lahan kulit yang hitam dan wajah yang putih itu memudar dan berubah menjadi putih bersih. Rambut pirang tumbuh di kepalanya, kuping lancipnya menjadi normal, tanduknya masuk ke dalam kepalanya. Eric mendongak lalu menarik nafas dan membuka matanya yang sudah berubah menjadi biru pada saat bersamaan, dia menunduk dengan cepat dan menghembuskan asap putih dari mulutnya. Santi yang kaget dengan perubahannya langsung pingsan.

Eric: “Oops. Looks like I overdid it.” (sepertinya aku terlalu berlebihan)
Juki: “Bagus, terus gimana gue bisa bawa mereka semua ke dalam?”
Eric: “Easy.”

Dia mengeluarkan pedangnya lagi dan mengubahnya lagi menjadi kelabang, kali ini pedang kelabang itu membelit Yosi dan yang lain menjadi satu dan memasukkan mereka semua ke dalam tenda. Tenda tersebut menjadi penuh sesak, Eric mengembalikan pedang itu kembali seperti semula.

Juki: “Lu kira mereka karung?! Kok ditumpuk?!”
Eric: “Kau lebih baik juga cepat masuk, hujan akan turun, biar kubawa anak-anak ini secepatnya ke desa.”

Dia mengeluarkan selembar kertas dan melemparkannya ke atas, kertas itu berubah menjadi sebuah lingkaran transformasi. Lingkaran itu mengitari Eric dan anak-anak, mereka lenyap bersamaan dengan lingkaran tersebut dalam hitungan detik.

Juki: “Dasar, apa maksudnya? Cuacanya kelihatan ce… rah?”

Juki baru sadar maksud perkataan Eric, dia segera lari ke tenda, tetapi tendanya penuh. Kemudian dia lari ke pepohonan, setetes darah turun mengenai daun. Bersamaan dengan itu, beberapa tulang manusia juga jatuh di sekeliling Juki disertai dengan cipratan besar darah. Setelah hujan tulang dan darah itu berhenti, Juki nampak berwajah jengkel. Ternyata darah yang menetes dari udara mengenai sekujur tubuh dan bajunya, kemudian dia berjalan keluar dari pepohonan. Tak disangka sebuah tengkorak jatuh mengenai kepalanya, dia menahan sakit sambil jongkok dan memegang kepalanya.

Juki: (berdiri) “Bau lagi nih, sialan! Masa aku ganti baju lagi?!”

Dia tak sadar bahwa aki Ujang mengawasi dari pepohonan, dia berbalik dengan tubuh bergetar. Dia lari tergesa-gesa, wajahnya terlihat berkeringat.

###

Pagi hari, jam 07:30. Di hutan, terlihat sekumpulan anak remaja berjalan menyusuri sungai. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Juki beserta Yosi cs, beserta orang-orang baru. Dua gadis dan dua orang pemuda, penampilan mereka terlihat kumuh. Piyu, pemuda berambut gondrong ala rocker, berkulit hitam, bermata sipit, dan hidung pesek. Oni, berkepala botak, berkumis tipis dan agak gendut. Diana, gadis berambut pendek sampai ke leher, dengan sebelah mata yang tertutup rambut, memakai tindik di hidungnya, dan punya tato mawar di lengan kirinya. Dinda, gadis dengan rambut dikepang dua di kiri dan kanan, giginya memakai behel, ada sedikit jerawat di pipinya, dan berkacamata.

Yosi: “Gue senang kalian bisa selamat, tapi main begituan itu idenya siapa?”
Oni: “Maaf, yang ngajakin waktu itu si Diana. Kamu tahu kan dia itu gimana?”
Yosi: “Ini juga, lagian lu kok nekat amat sih?”
Diana: “Aku cuman penasaran aja apa gue bisa bicara ama itu setan, siapa tau gua bisa ngehajar itu setan.”
Deni: “Heh, emang bisa? Terus kenapa kau bisa dimakan ama itu setan?”
Diana: “Cuman sedikit kecelakaan.”
Oni: “Yang segitu dibilang kecelakaan? Jelas itu disengaja, aku tidak terima!”
Piyu: “On, udah deh. Sudah beruntung kita masih hidup, berapa lama kita ada dalam perut itu setan?”
Lisa: “Sekitar satu setengah tahun.”
Dinda: “Wah lama banget! Terus gimana kita bisa selamat?”
Santi: “Anu… tadi kakek Ujang yang nyelametin kita tadi.”
Lisa: “Kakek? Beneran?”
Santi: “I… iya, waktu itu dia datang sambil bawa botol air sama tasbih. Dia siramin airnya ke itu setan, terus kalian keluar deh.”
Diana: “Ah, masa. Kalau cuman disiram doang, kenapa rumahnya bisa sampai hancur lebur?”
Santi: “Eh… i… itu…”
Juki: “Karena rumah itu dibakar oleh aki Ujang beserta dengan setan itu. Hal itu dilakuin buat ngecegah supaya itu setan nggak bisa ngeganggu penduduk lagi.”
Diana: “Siapa lo?”
Juki: “…jadi dari tadi aku tak dianggap sama sekali?!”
Yosi: “Sabar, Juk, sabar. Maaf, dia baru pertama kali ini ikut.”
Deni: “Masa kalian lupa, ini si Juki. Teman kuliah kita.”
Diana: “Teman kuliah yang mana?”
Lisa: “Juki yang kadang ngomong bahasa Jawa itu lho.”
Diana: “Orang Jawa mana?”
Juki: (jengkel) “HEH, WONG EDAN!! MASA LALI KARO KANCAMU DHEWE?!”
Diana: “Oh lu, ngomong dari tadi.”
Juki: “DARI TADI GUA NGOMONG!”
Budi: “Ng… teman-teman…”
Yosi: “Ada apa?”
Budi: “Aku… mau minta maaf.”
Deni: “Soal apa?”
Budi: “Karena aku… kalian yang ikut menyelidiki hilangnya teman kita sampai kena musibah.”
Lisa: “Tak usah dipermasalahkan, kita semua kan baik-baik saja.”
Budi: “Tapi aku yang ngusulin buat nyari teman kita! Lagian itu atas perintah setan itu! Terus… ADUUH!!” (dijitak Juki)
Santi: “Juki!”
Juki: “Bisa diam nggak?! Lu ini udah culun, rada bego, jelek lagi! Bisanya cuman nyalahin diri sendiri, manusia macam apa lu?!”
Budi: “Maaf…”
Juki: “Maaf, maaf, bisanya minta maaf saja.”
Budi: (menangis) “……”
Juki: “Tapi ada satu yang gue paling seneng dari lu. (memegang pundak Budi) Lu mau ngorbanin apa saja buat nyelametin temen lu, nggak pernah ngekhianatin temen, terus ketawamu itu… hal yang paling bagus yang pingin gua liat.”
Budi: “Be… bener?”
Juki: “Dari lubuk hati gua yang paling dalam, sebego-begonya lu, gua salut karena lu mau ngelakuin apa aja buat temen.”
Budi: “Hik… te… terima kasih!” (memeluk Juki)
Juki: “Ya, ya, cup, cup. Hoi lepas, lepasin, udah. Hoi!”

Deni, Dinda, Santi, dan Lisa menangis tersedu-sedu melihat peristiwa itu. Semua anak bertepuk tangan dan berpelukan bersama-sama dengan Juki, dia sendiri merasa tidak enak.

Juki: “Oi… aduh, sesak, se… sak. Lepas…” (pingsan)

###

Akhirnya rombongan tersebut sampai di sebuah danau, airnya bersih dan pemandangannya sangat indah. Di pinggir danau tersbut, mereka melihat sebuah tenda yang cukup besar, dan mobil caravan diparkir di sebelahnya.

Yosi: “Juk, beneran Eric di sana?”
Juki: “Nggak salah lagi, soalnya setiap dia ke hutan, mobil itu selalu ada.”
Deni: “Tapi kenapa dia pakai truk ya?”
Juki: “Ngawur, iku jenenge caravan. (ngawur, itu namanya caravan) Dasar Nagabonar katrok.”
Lisa: “Itu kan mobil yang biasa dipakai buat bepergian jauh, di dalamnya ada kamar mandi, tempat tidur, sama dapur. Di film aku liat yang kayak begituan.”
Yosi: “Wah, komplit dong. Mungkin nggak ya kalau ada tv di dalam?”
Juki: “Jangan harap, yang punya mobil itu bukan Eric.”
Budi: “Te… terus siapa?”
Juki: “Waktu di pengadilan, kalian ingat sama pengacaranya Eric? Nah itu pemiliknya.”
Yosi: “Oh, pak Kumamoto?”
Diana: “Entar dulu, sebenarnya ada apa sih? Pengadilan? Terus siapa pak Kumamoto sama Eric itu?”
Santi: “Anu, sebenarnya saat kalian nggak ada di kampus, kalian masih ingat Beni kan?”
Diana: “Siapa yang gak ingat? Dia kan yang suka pinjam I-podku tapi nggak dikembaliin.”
Piyu: “Dia sama begundalnya sering ngutang di kantin.”
Oni: “Tambah lagi, dia suka banget bolos kuliah.”
Dinda: “Gimana nggak, mereka sering ngelemparin gue pakai kodok.”
Lisa: “Waktu Eric masuk ke kampus, dia ngehajar mereka lho.”
Yosi: “Coba aja bayangin… (berbisik) ‘itu’nya diancurin ama dia.”
Diana, Dinda, Oni, dan Piyu: “Haaah?!” (menutup mulut)
Oni: “Pasti sakit ya? Uuh.”
Piyu: “Ngebayangin aja sudah bikin gue sakit.” (menutupi alat vital)
Juki: “Ah, perasaan nggak begitu-begitu amat deh.”
Deni: “Terus dia juga membuat pak Hutomo itu jadi gila.”
Piyu: “Haaah?! Masa sih?”
Diana: “Gimana ceritanya?”
Juki: “Udah, udah, mendingan kita cepat ketemu dia. Di sini juga ada yang terluka kan? Bisa infeksi lho.”
Dinda: “Kalau begitu gue duluan ya, gua kebelet pipis dari tadi.” (lari meninggalkan rombongan)
Juki: “Hoi, hoi! Hoooi!”

Dinda lari dengan kencangnya menuju karavan dan langsung menggedor pintunya, tapi sama sekali tak ada jawaban. Dia lalu masuk ke dalam tenda besar di sebelahnya, mendadak suara jeritan Dinda terdengar dari dalam. Mereka segera berlari begitu mendengar jeritan tersebut, tetapi begitu masuk ke dalam, sebuah pemandangan yang tak biasa membuat para gadis menutup mata dan para pria terbelalak tak percaya. Dinda pingsan dan sekarang dipegang oleh Eric yang saat ini tak memakai baju, kecuali selembar handuk. Tubuhnya yang terlihat atletis membuat wajah para gadis memerah, ngiler, dan seolah-olah mimisan.

Eric: “Are you just standing there and watching or wanna help me take her to bedroom?” (apa kalian hanya bisa berdiri di sana dan melihat atau menolongku membawanya ke kamar tidur?)

Rabu, 10 Februari 2010

Character's eye


Ini gambar mata untuk karakter tokoh utama yang sedang saya buat, masih bingung mau pilih mana. Kalau menurut pembaca, mana yang bagus?

Bagian 9

THE APPEARANCE

Di sebuah rumah tua di pedalaman di daerah Jawa Barat, pernah tinggal seorang kaya yang bernama Cahyapraga, tapi siapa yang menyangka jika bagian dalam dari dirinya adalah seorang dukun. Awalnya dia membantu penduduk desa dengan kekayaan yang dia miliki, tetapi tujuan sebenarnya adalah membuat seluruh penduduk desa tunduk padanya dan menjadi penganut ilmu hitam. Karena desa yang ditinggali penduduk tersebut sedikit kurang paham agama, maka sebagian besar dari mereka menjadi orang-orang musyrik. Cahyapraga sendiri tertarik pada anak kecil dan remaja, sehingga meminta para penduduk untuk menyediakan mereka sebagai tumbal. Beberapa penduduk yang tak terpengaruh dan sudah beragama mencoba untuk menyadarkan mereka, tetapi kesesatan yang menular sudah terlampau jauh. Meski mereka mencoba untuk menjatuhkan Cahyapraga, mereka menjadi tak berdaya di hadapan seseorang yang memiliki ilmu hitam yang sangat kuat. Akhirnya datanglah seorang ulama yang mendatangi desa tersebut, dia menyadarkan beberapa penduduk yang sudah terkena hasutan sang juragan. Sedikit demi sedikit, para penduduk mulai bertobat dan mulai melakukan perlawanan terhadap Cahyapraga. Pada akhirnya, terjadilah pertempuran di dalam desa antara pihak Cahyapraga dengan para muslim. Cahyapraga berusaha untuk mengembalikan penduduk kembali sesat dengan ilmunya, dengan mengguna-guna mereka. Korban mulai banyak berjatuhan, tetapi saat dia berusaha membunuh sang ulama, usahanya gagal. Akhirnya pada saat Cahyapraga dan pengikutnya terdesak, dia berhasil dijatuhkan. Sang juragan yang terluka parah dan merasa dipermalukan, memutuskan untuk mengurung diri di dalam rumahnya. Saat masuk ke dalam rumah, mendadak pohon-pohon besar mulai tumbuh di sekitar rumahnya. Sejak kejadian itu, mereka mulai menjauhi rumah tersebut dan membangun desa yang baru jauh dari kediamannya. Pengikut Cahyapraga akhirnya kembali lagi ke jalan yang benar, tapi penduduk desa meragukan orang yang bernama Ujang. Ujang sekarang adalah kakek dari seorang mahasiswi bernama Lisa, sekarang cucunya bersama kawan Lisa sedang menyelidiki keberadaan temannya yang hilang di kediaman Cahyapraga. Pada saat ini mereka telah melakukan ritual jelangkung di sebuah ruangan untuk mengetahui keberadaan mereka, sekarang ruangan tersebut disinari cahaya merah menyala. Lisa dan kawan-kawannya melihat ke atas dengan pandangan tak percaya, sebuah tengkorak yang mata dan mulutnya mengeluarkan cahaya merah terbang di atas mereka.

Cahyapraga: “Siapa yang memanggil diriku ini?”
Yosi: (mengucek-ngucek matanya) “Be… beneran nih? Gua nggak mimpi kan?”
Juki: “Aku ngelihat dengan jelas juga kok, ini bukan mimpi.”
Yosi: “Ma… masa sih, coba cubit pipi gue. (dijewer Deni) ADDDAAAW! SAKIT!”
Deni: “Katanya kau minta dicubit?”
Yosi: “TAPI JANGAN KERAS-KERAS NARIKNYA! Aduh, gua jadi sariawan nih.”
Cahyapraga: “Siapa yang memanggilku?”
Budi: “Ka… kami yang memanggil.”
Cahyapraga: “Siapa kalian?”
Lisa: (sedikit gemetar) “Kami… kami ke sini untuk mencari teman kami yang hilang.”
Santi: “Usianya sebaya dengan kami, mereka waktu itu ke sini.”
Cahyapraga: “Mereka? Maksud kalian siapa?”
Budi: “Mereka… yang mencabut kepala anda.”
Cahyapraga: “Mereka? Kepala? …benar, sekarang ini aku hanyalah sebuah kepala. Jika mereka yang kalian bicarakan, mereka memang ke tempat ini.”
Lisa: “Lalu bagaimana keadaan mereka? Di mana…”
Juki: “Maaf mbah, apa baru-baru ini ada anak kecil yang datang ke sini?”
Cahyapraga: “Memangnya siapa dirimu sehingga berani memanggil diriku mbah? Aku adalah orang yang hidup abadi.”
Juki: “Maaf mbah, bukannya saya mencela, tetapi mbah sendiri sudah mati dulu sekali.”
Cahyapraga: “BERANI SEKALI KALAU KAU MENGATAKAN AKU INI SUDAH MATI! KALAU AKU SUDAH MATI, BAGAIMANA MUNGKIN AKU MASIH BISA BICARA SEPERT INI?!”
Budi: “Ju… Juki… jangan buat marah dia dong!”
Cahyapraga: “Baiklah, aku memang sudah sangat tua. Kau langsung bicara pada hal yang penting, memang benar, bahwa aku mengundang anak-anak itu ke kediamanku ini sampai sekarang.”
Juki: “Benarkah kalau kau mengumpulkan anak-anak dan remaja untuk tumbal?”
Yosi: “Juk, coba gua yang bicara.”
Deni: “Jangan, biarkan saja dia yang bicara, kelihatannya dia ahli.”
Cahyapraga: “Bukan tumbal, lebih tepatnya bisa kusebut makanan.”
Juki: “Makanan?”
Cahyapraga: “Mereka semua kutelan hidup-hidup ke dalam tubuhku, yang kutelan sampai sekarang ini berjumlah dua puluh.”
Lisa: “Berarti teman-teman…”
Juki: “Mereka sudah mati ya?”
Cahyapraga: “Tidak, beberapa dari mereka masih hidup karena aku baru menelan mereka.”
Yosi: “Kenapa… kenapa lu telan mereka!”
Deni: “Yos, tenang!”
Cahypraga: “Agar aku bisa hidup abadi, sebenarnya untuk hal seperti itu, aku harus menelan dua puluh lima anak. Tapi… aku sangat berterima kasih pada kau (melihat Budi) karena telah membawakan makanan untukku.”
Budi: (gemetar) “A… apa… tapi kamu janji bakal memberitahu di mana teman aku.”
Cahyapraga: “Memang benar, aku sudah memberitahukan di mana mereka. Karena kau sudah melaksanakan tugas, maka… biarkan aku menelanmu.”

Mendadak tubuh Budi dipeluk dari belakang oleh sesuatu, dia berteriak dan meronta-ronta. Juki dan yang lain kaget begitu melihat apa yang memegang Budi, yaitu tubuh Cahyapraga yang tak berkepala. Kepala Cahyapraga meluncur menuju tubuhnya, sehingga tubuhnya utuh kembali. Mendadak darah dalam kepala Cahyapraga turun ke dalam dan memenuhi tubuhnya, sehingga seluruh badannya bersinar kemerahan, kemudian tubuh tersebut menyedot Budi masuk ke dalam. Isi perut Cahyapraga terlihat sangat jelas, ada Budi yang baru saja masuk, beberapa kerangka manusia yang masih bayi dan yang sudah besar, juga beberapa anak kecil dan remaja yang belum menjadi kerangka.

Yosi: “BUDI!”
Juki: “Memang bener mereka ditelan, beberapa dari mereka masih hidup. Lisa, bener itu temanmu?”
Lisa: “Bener, itu Desi, Diana, Piyu dan Oni.”
Deni: “Coba lihat yang lain, pasti mereka anak-anak dari desa itu!”
Cahyapraga: “Sekarang aku akan menelan kalian semua sekaligus.”
Juki: “Lalu kalau sudah abadi, mau apa kau?”
Cahyapraga: “Pertama, aku akan membuat para penduduk desa kembali menjadi pengikutku, akan kuhabisi mereka yang melawan, begitu juga dia yang telah mengalahkan dan mempermalukanku!”
Santi: “Para penduduk desa… termasuk kek Ujang?!”
Cahyapraga: “Siapa kau? Kenapa kau mengenalnya?”
Lisa: “Gue cucunya, Ujang itu nama kakek gue!”
Cahyapraga: “Oh, jadi kau putri dari anaknya yang dia akan berikan padaku dulu?”
Lisa: “Mami… maksud lu mami gue?!”
Cahyapraga: “Jadi Ujang masih hidup dengan anaknya, waktu sudah berlalu cukup lama. Kalau begitu, aku takkan lagi bisa menelannya. Baiklah, kau yang akan kutelan sebagai gantinya.”

Seluruh tubuh Cahyapraga mulai berisi dengan daging, mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tetapi tubuhnya sama sekali tak berkulit, hanya memperlihatkan urat nadinya saja. Yosi dan yang lain berusaha untuk membuka pintu yang tertutup rapat, tapi sia-sia. Cahyapraga mulai berjalan maju, selangkah demi selangkah, dia hampir mendekati Lisa. Santi berusaha untuk mengusirnya dengan menyemprotkan obat nyamuk ke wajahnya, taktik itu berhasil.

Santi: “Pergi sana! Pintunya sudah bisa dibuka belum Yos?!”
Yosi: “Nggak bisa! Percuma, nggak mau kebuka!”
Juki: “Kalau begini, gua cuman bisa pakai ini. Semuanya menyingkir dari pintu!”

Mereka semua menyingkir, Juki mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan dari dalam tasnya, lalu membuka botolnya. Dia mengambil sedikit dengan cotton buds, menutup kembali botolnya, kemudian dia meneteskan setetes ke gagang pintu. Pintu itu meledak, serpihannya tercecer keluar, Juki terlempar ke belakang menubruk Cahyapraga. Cahyapraga langsung terlempar ke dinding, semuanya hanya bisa diam dan menatap dengan pandangan tak percaya setelah Juki meledakkan pintu tersebut.

Juki: “Ngapain kalian!! Pintunya udah terbuka, cepet keluar!”
Santi: “Hah! Iya bener, cepet kita keluar!”
Deni: “Bagaimana bisa dia melakukan itu?”
Yosi: “Den! Cepetan keluar!” (menarik tangan Deni)

Juki segera beranjak keluar, Cahyapraga bangkit dan mulai berteriak. Kepala dan badannya sekarang terpisah, dia menggandakan kepalanya sampai berjumlah empat buah. Kepala-kepala itu mulai terbang keluar pintu dengan cepatnya, sementara Juki dan yang lain berlari terpencar-pencar di dalam rumah. Yosi yang berlari menuju dapur tersandung sebuah kuali, dia merangkak dengan cepat, tetapi dia keburu diserang salah satu kepala tersebut. Kepala itu meluncur dan menusuk punggung Yosi, dia berteriak kesakitan. Teriakan itu terdengar oleh semua anak, kini kepala itu mulai menyedot seluruh tubuh Yosi sampai tak tersisa. Lisa dan Deni berlari bersama-sama, mereka hampir keluar dari rumah. Tapi mereka begitu kaget saat membuka pintu, dua kepala terbang sudah menyambut mereka. Kepala itu mencoba untuk menusuk Lisa, Deni mencoba untuk melindunginya, akhirnya dia tertusuk dan terhisap ke dalam kepala itu. Kepala itu sekarang mulai berisi lagi dengan otot dan sepasang mata, Lisa mulai berjalan mundur, dia sudah terkepung di antara dua buah kepala.

Cahyapraga: “Aku sudah menghisap tiga orang, sekarang giliranmu untuk aku telan.”
Lisa: “Aku nggak rela ditelan lu! Lagipula kakek nggak bakal ngebiarin hal ini!”
Cahyapraga: “Katakan apa saja yang kau mau sebelum kau mati, lagipula dia akan kembali menjadi pengikutku lagi, dan akan kukabulkan kembali keinginannya untuk membangkitkan istrinya kembali.”

Kepala di depan Lisa meluncur menuju dirinya, dia bertindak cepat dengan mengayunkan tas ranselnya dan membuat kepala tersebut terpental. Kepala di belakang Lisa mulai menyerang, tapi serangan tersebut berhasil dipatahkan dengan ayunan ransel. Lisa mulai berlari keluar, tapi bahunya tertusuk oleh kepala dari belakang. Dia tersedot ke dalam kepala, kepala itu mulai tumbuh rambut, disertai dengan kulit di wajahnya. Keadaan kepala itu sekarang tidak memiliki hidung, pipi kanannya belum memiliki daging dan kulit sehingga hanya memperlihatkan giginya.

Cahyapraga: “Tinggal dua orang lagi.”

###

Juki dan Santi berada di lorong yang penuh lukisan, mereka sangat kecapaian dan bernafas terengah-engah. Mereka pun berhenti sejenak, dan duduk bersandar ke dinding.

Juki: “Kita istirahat dulu, capek nih.”
Santi: “Juk, pintu tadi lu apain sih? Kok bisa meledak begitu?”
Juki: “Cuman sedikit bom.”
Santi: “Entar dulu, lu bilang bom? Dapat dari mana bahannya?! Kok lu punya yang kayak begitu?!”
Juki: “Ini pinjam dari si kebo bule, sebenarnya bahannya cuman atu aja.” (mengeluarkan botol berisi cairan)
Santi: “Apaan tuh?”
Juki: “Kamu tau nitroglycerin? Setetes ini saja, ledakannya bisa melebihi petasan.” (menunjukkan pada Santi)
Santi: “Kok dia bisa dapat yang beginian?”
Juki: “Ceritanya panjang, dia dapat beginian waktu dapat tugas dari sekolah militer. (Santi mencoba memegang)Hati-hati, kalau kamu jatuhkan, rumah ini bisa hancur seisinya.”
Santi: (menjauhkan tangan) “Tapi gimana nih, Budi sudah dimakan ama itu setan, bagaimana dengan yang lain ya?”
Juki: “Nggak usah khawatirkan mereka dulu, yang penting sekarang cepat keluar dari sini dan minta bantuan!”
Santi: “Tapi butuh waktu lama buat lari ke desa.”
Juki: “Tenang aja, bantuan pasti datang cepat atau lambat., yang penting jangan lupa berdoa pada Tuhan.”

###

Sesosok makhluk berbentuk manusia berdiri di puncak pohon yang tinggi, menutupi bulan sabit, ia adalah pemilik mata yang bercorak yang tadi mengawasi Juki dan yang lain. Sambil melipat tangan di dadanya, dia menengadah ke atas dan memutar kepalanya. Sosoknya tak terlalu kelihatan karena tertutup bayangan, dia melihat jam tangan yang dia pakai menunjukkan sudah hampir jam 00:00.

?: “Looks like the party has begun.” (sepertinya pestanya sudah dimulai)
Kumamoto (dalam bayangan): “Kau yakin tak perlu bantuan?”
?: “Tentu saja, lagipula ini pertama kali… tidak… yang ketiga kali sejak aku menghajar Hantu, Siluman, Setan dan Arwah. Aku banyak menghajar Oni, Yure, Ghost dan Devil di luar sana, tapi aku ke Negara ini karena aku jarang menghajar mereka.”
Kumamoto: “Kau tak cukup puas dengan kekuatanmu sekarang?”
?: “Bukan tak puas, aku anggap ini sebagai latihan untuk menghadapi ‘dia’.”

###

Juki dan Santi sekarang terpojok di ruang tamu, dikelilingi tiga kepala Cahyapraga. Juki mengeluarkan sebuah kain putih dan melilitkannya di kedua telapak tangannya, satu kepala mulai menyerang. Sambil berteriak Allahuakbar, Juki menangkisnya dengan telapak tangannya. Kepala itu langsung jatuh dan menguap menjadi asap, ternyata kain putih itu bertuliskan ayat suci dari Al-Qur’an. Satu kepala menyusul menyerangnya dan ditangkis kembali oleh Juki, yang tersisa hanyalah satu kepala dari Cahyapraga.

Juki: “Jangan harap bakal nelan kami berdua sekaligus.”
Cahyapraga: “Kau memakai sesuatu yang sungguh mengganggu, sama dengan dia.”
Juki: “Maksudmu ulama yang mengalahkan lu? Jangan kira kamu bisa membunuhnya pada saat ini.”
Cahyapraga: “Diam! Jika aku menelan kalian berdua, aku akan lebih kuat dari dirinya!”
Juki: “Dengar ya, lu nggak bakal bisa membunuhnya, karena dia sudah tidak ada di desa ini lagi.”
Cahyapraga: “Apa?”
Juki: “Orang yang lu maksud sudah meninggal, tidak ada lagi di dunia ini.”
Cahyapraga: “Jika begitu… baguslah, maka aku akan bisa mendapatkan lagi pengikutku yang setia tanpa gangguan.”

Mendadak ada yang menyergap Juki dari depan dan memegang kedua tangannya, tubuh Cahyapraga yang tidak berkepala sudah berada di depan Juki dan membuatnya tak berkutik.

Cahyapraga: “Sekarang kau tak bisa apa-apa lagi, agar kau tak menghalangi, kau akan kutelan lebih dulu.”
Juki: “Asal tau aja, mereka nggak bakal lagi terpengaruh sama ilmu hitam, karena mereka semua sudah percaya kepada Tuhan.”
Cahyapraga: “Tuhan... jika begitu aku akan menggantikannya!”
Juki: “...kagak bakalan bisa.”

Kepala Cahyapraga bersiap untuk menusuk Juki, Santi berusaha melepaskan cengkeraman tangan tubuh Cahyapraga dengan kaki meja yang sudah rusak. Dia memukulkan kayu itu ke sekujur tubuh dan tangannya, tapi tak ada hasilnya. Kepala Cahyapraga langsung meluncur menuju Juki, pada saat bersamaan Santi melangkah melindungi Juki, sehingga kepala itu akan menusuk Santi. Tiba-tiba sebuah tempat lilin melayang menghantam kepala itu, Santi selamat dari tusukan Cahyapraga.

Cahyapraga: “Siapa itu?”

Dari sebuah ruangan yang gelap, terdengar suara langkah kaki. Santi, Juki, dan Cahyapraga melihat ke ruangan tersebut; muncullah sepasang mata bercorak dalam kegelapan, Santi kaget saat melihatnya.

Santi: “Se… setannya ada dua?!”
Juki: “Lu telat, bego.”
?: “What do you expect? I break this house wall for a cool entrance?” (apa yang kau harap? Aku menjebol tembok rumah ini sebagai cara masuk yang keren?)
Juki: “Yang penting sekarang, bisa cepat lepasin gue?”
?: “Sure.” (Tentu)

Dari dalam kegelapan, muncul sesuatu yang panjang dan langsung memotong kedua tangan yang mencengkeram Juki. Juki jatuh terduduk, dia langsung mengambil tasnya dan menarik tangan Santi, membawanya keluar rumah secepatnya. Kepala Cahyapraga kembali bersatu dengan tubuhnya, sementara makhluk dalam kegelapan itu mulai menampakkan dirinya sedikit demi sedikit. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup bayangan, dia memakai sepatu sneakers biru, celana jeans dan sebuah rompi warna hitam. Dia membawa sebuah pedang di punggungnya, kedua tangannya hitam dan bercakar, di kedua lengannya ada garis putih sampai ke ujung jari-jari tangannya.

Cahyapraga: “Siapa kau?”
?: “Who am I? Then who are you?” (siapa aku? Maka siapa dirimu?)
Cahyapraga: “Apa yang kau bicarakan?”
?: “Then what are you doing here? Having party?” (lalu kau sedang apa di sini? Mengadakan pesta?)
Cahyapraga: “Aku tak begitu paham, tapi sepertinya engkau mengejekku. Sepertinya kau semacam genderuwo, jika begitu akan kubuat kau tunduk padaku.”
? : “I don’t think so.” (kurasa tidak)

Mulut Cahyapraga mengeluarkan api dan membakar makhluk itu, makhluk itu tak bergeming sedikitpun. Dia malah maju menerobos api itu, dan melocat menendangnya. Sementara itu Juki dan Santi berhasil keluar dengan selamat, mereka berada di depan tenda. Juki minum air sebotol penuh, Santi sendiri berusaha menelpon.

Santi: “Percuma, nggak ada sinyalnya!”
Juki: “Kalau begitu kita nunggu aja di sini, daripada capek-capek lari ke desa.”
Santi: “Tapi setannya bakal nyantap kita semua!”
Juki: “Tenang ajalah, kalau setan yang satu ini nggak bakal makan kita.”

Mendadak dinding rumah tersebut jebol, Cahyapraga yang berbadan utuh terpental keluar dan terguling-guling. Sepertinya dia merintih kesakitan, di sekujur tubuhnya ada beberapa simbol bersinar. Dari dalam rumah, makhluk tersebut muncul. Kali ini wajahnya terlihat jelas, wajah rata berwarna putih, tanpa mulut dan hidung, hanya ada sepasang mata, bertelinga lancip, dan dia bertanduk, dua pendek, satu panjang di tengah.

?: “My, my, my. I think you must change your menu today.” (wah, wah, wah. Rasanya kau harus mengganti menumu hari ini.)
Cahyapraga: “Apa… apa yang baru saja kau lakukan?!”
?: “That’s my greetings when I met someone… no, something that have some bad behavior and have unforgiven sins.” (itu sambutanku saat aku bertemu seseorang… bukan, sesuatu yang punya kelakuan buruk dan punya dosa yang tak termaafkan.)
Cahyapraga: “Kurang ajar, beraninya genderuwo seperti kau melawanku!”
?: “Hey, I’m not like that thing… I have a name, and in afterlife, you must remember it.” (Hei, aku bukan makhluk seperti itu... aku punya nama, dan setelah mati, kau harus mengingatnya)

Cahyapraga mengeluarkan asap hijau dari mulutnya, dan menghembuskannya ke patung singa di depan rumah. Asap itu meresap masuk ke dalam patung, mendadak patung-patung itu hidup dan mengaum seperti aslinya, mereka berjalan dan berdiri membelakangi Cahyapraga.

Santi: “Ke… kenapa setan itu nolongin kita? Dia ngomong pakai bahasa Inggris juga.”
Juki: “Emang dia sudah dari dulu begitu.”
Santi: “Eh? Kamu kenal sama dia?”
Juki: “Dari dulu. Dia itu suka manasin lawan pakai bahasa Inggris.”
Santi: “Emang… dia siapa sih?”
Juki: “Setan, tapi dia juga punya sisi manusia.”
?: “I see, so you wanna play circus? Then…” (aku mengerti, jadi kau ingin main sirkus? Maka…)

Dia mengeluarkan pedang di punggungya dari sarungnya, pedang itu memiliki ukiran hieroglif di bagian punggung pedangnya, gagangnya bertahtakan emas, berbentuk sayap kelelawar dan di tengahnya ada sebuah lambang. Dia memutar-mutar dan menyabetkan ke kanan dan kiri, kemudian dia memasang kuda-kuda.

?: “…I will crash this party A.S.A.P.” (akan kuhancurkan pesta ini sesegera mungkin)

Senin, 08 Februari 2010

Bagian 8

THE ANALYSIS

Sebuah mobil karavan sudah diparkir di depan rumah kakek Ujang, di dalam rumah, ada seseorang sedang berbicara dengannya. Mereka duduk berdua, ditemani dengan dua gelas kopi di meja.

? : “Jadi mereka sudah berangkat ke tempat itu?”
Aki Ujang: (tanpa logat) “Betul, mereka pergi ke tempat di mana kawan-kawan Lisa lenyap. Sebenarnya saya sudah berusaha untuk melarang mereka ke sana, tapi seorang dari teman Lisa yang kalau tak salah bernama…”
? : “Juki?”
Aki Ujang: “Betul, mengatakan pada saya untuk tetap di rumah. Tapi saya tetap khawatir dengan keadaan mereka.”
? : “Apakah memang benar, anda dulunya adalah murid dari paranormal itu?”
Aki Ujang: “Tiga puluh lima tahun yang lalu, saya adalah murid dari Cahyapraga, sebelumnya saya bekerja menjadi pelayan untuknya. Tetapi setelah saya kehilangan istri saya…”
? : “Memang kenapa dengan istri anda?”
Kakek Ujang: “Dia meninggal, saat melahirkan anak saya, ibu dari Lisa. Kemudian saya baru mengetahui rahasia sang Raden, dia menganut ilmu hitam. Saat melihat dia bisa menghidupkan orang mati, saya menjadi terpengaruh untuk menjadi pengikutnya.”
? : (bicara pelan) “Bullshit.” (omong kosong)
Aki Ujang: “Setelah istri saya dihidupkan kembali, kami pun hidup bersama dengan anak kami. Setelah itu kami mendapatkan tempat tinggal dari guru saya, lalu kekayaan. Tetapi itu tak berlangsung lama, sejak seorang ulama datang kemari.”
? : “Ulama?”
Aki Ujang: “Sebelumnya desa kami adalah desa yang penduduknya hanya sedikit mengenal agama, sebagian besar warga desa bergabung dengan Raden Cahyapraga karena kekuatannya tersebut. Kemudian beberapa warga menjadi resah, karena beberapa remaja dan dan anak-anak menghilang. Akhirnya saya mengetahui… bahwa mereka semua dijadikan makanan untuk Raden Cahyapraga. Warga pernah mendatangi kediamannya dan menuntut atas anak-anak mereka, tapi percuma…, tidak sedikit dari mereka menjadi korban kesaktiannya. Saya juga saat itu ingin berhenti menjadi pengikutnya, setelah mengetahui…”
? : “Mengetahui?”
Aki Ujang: “…mengetahui saat istri saya sebenarnya bukanlah istri saya. Ternyata istri saya sebenarnya adalah setan yang dimasukkan ke dalam tubuh istri saya. Meski begitu, saya tetap tak bisa keluar, karena terbelenggu oleh ilmu darinya. Akhirnya ada seorang warga yang belum terpengaruh ajaran Cahyapraga memanggil seorang ulama untuk menyelesaikan masalah tersebut, dialah kemudian yang mengajarkan agama Islam pada kami. Akhirnya Raden Cahyapraga berhasil disingkirkan dan kalah oleh sang ulama, setelah kekalahannya, dia mengurung dirinya di kediamannya. Akhirnya dia dibiarkan tinggal di dalam sana, entah sekarang dia sudah mati atau masih hidup, rumahnya sekarang terbengkalai.”
? : “Aku mengerti… berarti kemungkinan dia masih hidup di dalam rumah itu, walaupun tak sepenuhnya disebut ‘hidup’. (berdiri dari tempat duduk) Mungkin sekarang sudah saatnya saya pergi menjemput mereka.” (berjalan keluar pintu)
Aki Ujang: “Kalau begitu bawalah saya, sebab saya tahu cara untuk melawannya.”
? : (berhenti) “Cara seperti apa yang anda maksud?”
Aki Ujang: “Dengan ini.”

Dari dalam bajunya, kakek Ujang mengeluarkan sebuah botol yang berisi semacam serbuk. Botol itu diikat dengan tali yang diuntai menjadi sebuah kalung.

Aki Ujang: “Ini adalah abu telunjuk dari guru saya yang diberikan oleh dia, saya biasa menggunakannya untuk mengobati orang sakit. Saya yakin pasti dia takkan pernah mengganggu warga desa lagi, setelah saya mengembalikan ini padanya.”
?: (berbalik) “Apa anda beragama?”
Aki Ujang: “Ya, saya Islam.”
?: “Maka anda tak memerlukannya.” (merebut botol)
Aki Ujang: “Tunggu! Mau diapakan botol itu?!”
?: “Anda mengatakan bahwa anda sudah beragama, tapi tetap saja memakai benda yang menyesatkan. Manusia itu berusaha dengan usaha sendiri, bukan dengan kekuatan kegelapan, apakah anda ingin dibenci oleh Tuhan?”
Aki Ujang: “Tapi… bagaimana jika dia tak bisa dihentikan?”
?: “Maka serahkan urusan itu kepadaku.”

Botol kecil itu diremas dengan tangan kosong sampai hancur, mendadak asap hitam muncul dari tangannya. Botol yang digenggamnya sudah menghilang tanpa bekas, matanya mulai berubah menjadi bercorak dan berpendar. Kakek Ujang mundur selangkah karena kaget melihat perubahan di matanya, orang tersebut ternyata Eric.

Aki Ujang: “Matamu… apa kau setan?”
Eric: “Mungkin bisa dibilang begitu, tapi jangan samakan aku dengan mereka. Aku masih percaya pada Tuhan.”
Aki Ujang: “Siapa sebenarnya dirimu?”
Eric: “The demon who walk in God path. (iblis yang melangkah di jalan Tuhan) Tapi tak perlu anda ingat.”

###

Kembali ke rumah tua tempat di mana Yosi dan kawan-kawan berkumpul, Yosi, Lisa, dan Deni masih berada di depan pintu yang mereka buka dengan wajah yang masih terperangah. Ternyata di dalam ruangan itu menyala sebuah api unggun yang berwarna kemerahan, tengkorak-tengkorak sapi dan kambing digantung di langit-langit. Di dinding terdapat gambaran dan tulisan yang ditulis dengan darah, juga sebuah meja di depan api unggun yang di atasnya terletak baskom batu. Yosi memberanikan diri untuk masuk, diikuti oleh Lisa dan Deni.

Yosi: “Jadi ini tempat di mana dukun ilmu hitam itu ngadain ritual?”
Deni: “Kok sama nyereminnya kayak di film ya?”
Lisa: “Coba lihat, isi baskomnya.”
Deni: (mendekati baskom) “Warnanya merah, ini jelas bukan saus tomat.”
Yosi: (mengendus) “Hoeek! Hoeek!”
Lisa: (tubuh bergetar) “Ya ampun, ini kan darah.”
Yosi: “Hoeek! Aduh, mendingan… kita keluar saja! Aku nggak… kuat! Ng…? Lis, Den, apa ini?”

Yosi merasa memegang sesuatu di bawah meja, karena penasaran dia menariknya. Ternyata kerangka manusia, tapi kepalanya tidak ada. Mendadak Lisa berteriak sangat keras sampai terdengar dari luar rumah. Juki, Budi, dan Santi masih berada di belakang sungai.

Budi: “I… itu suaranya Lisa, se… setannya udah keluar!”
Santi: (HP berdering) “Ah, ini Yosi. Halo?”
Yosi: “Halo Santi! Gawat nih, Lisa pingsan! Cepetan ke sini!”
Santi: “Kamu di mana sekarang?!”
Yosi: “Di tempat ritualnya dukun setan itu, kamu cari lorong yang penuh lukisan, nanti kamu lihat ada pintu masuk ke sini!”
Santi: “Ya udah, gua ke sana. Juk, Bud, cepetan! Kita ke tempatnya Yosi sekarang!”
Budi: “I… iya.”
Juki: (menjulurkan kepala) “Hoi! Tunggu! Belum kelar nih! Kalian duluan aja! Nanti gua nyusul!”
Santi: “Cepetan makannya!”
Juki: “Gak sabaran amat sih, masih pakai celana nih!”

Saat Juki hendak berdiri, mendadak lantai jamban itu jebol sehingga kaki kiri Juki terperosok ke dalam sungai. Tapi sialnya, saat Juki mencoba mengeluarkan kakinya, seluruh lantai jamban ikut rusak dan membuat Juki tercebur ke sungai.

***

Beberapa saat kemudian, semua anak terkecuali Juki sudah berada di ruangan ritual di mana ditemukannya sebuah kerangka manusia. Lisa masih pingsan dan sekarang duduk bersandar di dinding, Santi berusaha untuk menyadarkannya dengan membuat dia mencium aroma minyak kayu putih. Sementara itu, Yosi, Budi, dan Deni mengamati mayat yang sudah menjadi kerangka. Kerangka itu berpakaian serba hitam, jari-jarinya menggunakan cincin opal. Tubuh Budi bergetar, mulutnya tak bisa berkata apapun ketika melihatnya.

Yosi: “Nggak nyangka… gua… ugh!”
Deni: “Kalau kau nggak kuat lebih baik jangan dilihat.”
Yosi: “Gua bukan… hoek…”
Deni: “Aduh, kau muntahkan saja di sini.” (memberikan kantung plastik)
Yosi: “Gua cuman nggak kuat ama bau darahnya.”
Deni: “Kalau tau begini, mending kau tak usah ikut. Santi, bagaimana Lisa?”
Santi: “Dia masih belum bangun.”

Terdengar suara tetes air dari balik pintu, pintu menjeblak terbuka. Ternyata Juki yang sekarang seluruh badannya basah kuyup, wajahnya kesal bukan main. Dia melangkah menuju Yosi, Budi, dan Deni.

Yosi: “Dari mana aja… ng? (mengendus) HOOOEEK! Bau amat lu! Lebih parah dari bau darah!”
Deni: “Ah, bau sekali kau, kau habis ngapain?!”
Juki: (melihat semua anak menutup hidung) “Haaah, dasar, gara-gara aku disuruh cepat, begini deh jadinya. Coba bayangin, gua baru selesai berak, mendadak lu telpon sambil teriak-teriak. Akibatnya Santi ama Budi pergi ninggalin gue, gue baru mau pakai celana terus mau lari keluar. Coba tebak, gua jatuh ke sungai yang baunya minta ampun itu.”
Budi: “Pft… hahaha… maaf, kok bisa sih?”
Juki: “Bisa aja lagi, masa aku harus jelasin sedetilnya?”
Lisa: (mendadak sadar) “Hooek! Bau apa nih?!”
Deni: “Yah, tapi paling tidak, baumu cukup berguna juga.”
Juki: “Sialan lu.”
Santi: “Ya sudah, maafin gue. Mending lu ganti baju dulu deh, terus lu ambil terus pakai parfum di tas gue.”
Juki: “Kalau lain kali pergi seperti ini lagi, mendingan gua bawa toilet sendiri.”

***

Lima belas menit kemudian, Juki sudah berganti pakaian dan sudah berkumpul kembali bersama Yosi dan yang lain. Juki sekarang duduk berlutut di hadapan kerangka manusia tersebut, dia memeriksa kerangka tersebut dengan seksama. Dia meraba-raba seluruh tubuhnya, menggeledah bajunya, tapi yang ditemukan hanyalah beberapa kecoa yang sudah mati. Dia mengeluarkan meteran dari dalam tasnya dan mengukur tinggi kerangka tersebut, meteran itu diletakkan di sebelahnya.

Juki: “Dia jelas nggak bunuh diri, dia mati kehabisan darah.”
Budi: “Ta… tau dari mana?”
Juki: “Tadi ini ditemukan di bawah meja kan? Coba lihat, ada sedikit bercak darah dari baskom ke tempat dia duduk. Kayaknya dia nusuk perutnya sendiri terus darahnya…” (melihat ke baskom)
Yosi: “Hooek!”
Juki: “Nggak usah dibayangin kalau nggak kuat! Tapi yang aneh adalah kepala ama jarinya.”
Santi: “Emangnya kenapa?”
Juki: “Coba liat, kepala sama satu jarinya nggak ada. Menurut kalian apa mungkin dia bisa motong kepala ama jarinya sendiri? Alat pemotongnya juga nggak ada sama sekali.”
Lisa: “Iya juga sih.”
Juki: “Ngapain kau?”
Lisa: “Ngelihat.”
Juki: “Kenapa saat melihat mayat tadi kau teriak-teriak? Setelah kamu bangun kok nggak teriak lagi?”
Lisa: “Soalnya… ini baru pertama kali gue lihat mayat… jadi…”
Santi: “Lisa itu sampai sekarang belum pernah lihat mayat betulan, jadi wajar kalau dia kaget dan pingsan.”
Juki: “Ngemeng-ngemeng nih, ini kayaknya beneran gurunya kakek lu Lis. Kalau dilihat dari tulang panggulnya, dia itu laki-laki.”
Deni: “Emangnya dia sudah tak punya ‘terong’?”
Juki: “Ya nggak lah! Coba lihat! Kalau udah jadi tulang mana punya yang begituan.”

Juki membuka celana mayat, para gadis serentak menutup matanya. Sedangkan para lelaki memperhatikan ‘bagian’ yang diperlihatkan Juki.

Juki: “Nah, sekarang ada yang bisa bantuin aku nggak?”
Yosi: “Mau minta tolong apa?”
Juki: “Bisa nggak kau berdirikan ini?” (menunjuk kerangka)
Yosi: “Eh… tapi…”
Juki: “Aku agak susah ngukur tingginya, kalau ini nggak berdiri.”
Deni: “Biar aku saja.”
Juki: “Terima kasih.”

Deni mencengkeram bagian ketiak kerangka, begitu diberdirikan, Juki memperhatikan lalu menggeleng. Ternyata kerangka tak berkepala itu sedikit tinggi dari Deni, kemudian Juki merogoh kembali tasnya dan mengeluarkan bola basket.

Juki: “Yos, ke sini sebentar. Tolong pegang ini.”
Yosi: “Ini buat apa?”
Juki: “Kamu berdiri di sini, pegang ini dengan kedua tangan di atas, seperti ini.” (mengatur posisi Yosi)
Yosi: “Sebenarnya buat… waaa!” (tangan kerangka menjulur di sebelah wajah Yosi)
Deni: “Hahahaha! Katanya nggak kuat darah, tapi kok sama yang seperti ini takut?”
Yosi: “Bukannya takut, gue jijik! Jangan begitu-begitu ah! Parno gua!”
Juki: “Hoi, Nagabonar! Ini lagi serius, jangan bercanda gitu! Yos, kembali ke tempat semula!”
Yosi: “Tapi buat apa sih ini?”
Juki: “Buat ganti kepalanya yang hilang, kepala manusia kira-kira ukurannya kan segitu.”
Yosi: “I… iya, (bicara pada Deni) awas lho jangan begitu lagi.”
Deni: “Iya.”

Juki mulai mengukur dengan meterannya mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala, dia lalu mencatatnya di hp yang dia bawa. Juki memberikan isyarat pada Deni untuk meletakkan kembali kerangka tersebut, dan menyuruh Yosi mengembalikan bola basket ke tempatnya.

Juki: “Hmm, 194 cm.”
Deni: “Perlu diukur beratnya juga nggak?”
Juki: “Kalau sudah jadi tulang gini, gimana tahu beratnya geblek? Yang jadi pertanyaan untuk ini adalah ke mana kepalanya? Lebih aneh lagi, ternyata lehernya tak dipotong, tapi dicabut secara paksa.”
Santi: “Dicabut?”
Juki: “Ngemeng-ngemeng nih, siapa yang pertama kali nemukan tas teman kalian yang hilang?”
Yosi: “Waktu itu aku sama Budi yang nemuin.”
Juki: “Ada barang yang waktu itu ada di luar tas nggak, atau mungkin ada sedikit noda di sekitar tempat kalian nemuin?”
Yosi: “Yah, ada sih. Sedikit bercak darah di tengah ruangan, posisi tasnya saat itu melingkar.”
Juki: “Hmm, ini baru kemungkinan. Tapi sepertinya teman kalian ini baru melakukan hal yang buruk.”
Deni: “Hal buruk macam apa itu?”
Lisa: “Emang mereka ngapain di sini?”
Juki: “Ini tak salah lagi… Jelangkung.”

Angin bertiup dari pintu keluar, beberapa anak memeluk tubuhnya sendiri untuk menghangatkan diri. Juki kemudian memegang dahinya, dan bersandar di dinding.

Yosi: “Sebentar, sebentar. Jelangkung?”
Juki: “Ya, permainan untuk berkomunikasi dengan roh. Cara memainkannya dengan menggunakan objek yang menjadi perantara, kadang harus menggunakan selembar kertas.”
Lisa: “Itu sudah tahu.”
Juki: “Dengan kata lain, teman kalian pasti menggunakan tengkorak dari mayat ini sebagai perantara untuk bermain Jelangkung. Untuk memulai permainan, biasanya selalu dimulai dengan sebuah mantra. Tapi karena perantaranya adalah tubuh manusia, kita harus persembahkan sedikit dari bagian tubuh kita juga. Dalam kasus ini, teman-teman kalian memakai darah mereka untuk memulai permainan tersebut.”
Yosi: “Bentar, itu kayaknya gak masuk akal deh. Jelangkung? Memanggil roh? Mana ada yang begituan.”
Juki: “Yos, (menepuk bahu) kalau kau tak percaya pada hantu dan semacamnya, berarti kau sudah tak percaya lagi kepada Tuhan.”
Santi dll: “Setuju, setuju.” (bertepuk tangan)
Juki: “Tapi anehnya, tengkorak itu tak ditemukan di ruangan ini. Mungkin dimasukkan ke tas oleh teman kalian yang menghilang saat itu, atau mungkin juga ada hewan yang mengambil kepalanya. Tadi kamu bilang kalau lorong yang tadi tertutup oleh lukisan?”
Yosi: “Waktu kita lihat bertiga, mulanya kita nggak sadar. Tapi begitu kelelawar itu muncul, lukisannya jadi bergeser dan memperlihatkan celah.”
Juki: “Kalau begitu mustahil untuk kemungkinan kedua.”
Lisa: “Kenapa?”
Juki: “Soalnya tengkorak itu sudah keluar dari ruangan ini saat teman kalian hilang, apa ada hewan yang bisa mengambil tengkorak dan mengangkat lukisan yang besar itu? Kecuali itu seekor gorila yang bisa mengangkatnya dengan dua tangan, hewan juga nggak mungkin nutup lubang yang dia sudah buka. Kemungkinan besar ini adalah perbuatan manusia, atau paling tidak arwah.”
Santi: “Kok kamu bisa pinter kayak gitu?”
Juki: “Cuman niru perkataan setan yang gua temui, ya sudah, bagaimana kalau kita semua cari kepala orang ini di seluruh rumah?”
Budi: “Ng… nggak perlu, (semua melihat Budi) sebenarnya…”

Budi mengambil tas ransel miliknya, membawanya ke hadapan mereka, kemudian mengambil sesuatu dari dalamnya. Perlahan-lahan, Budi mengeluarkan sesuatu, semua anak terkejut begitu melihat apa yang dia keluarkan. Sebuah tengkorak yang diikat dengan kain pada sebuah kayu yang berujung runcing, di ujung kayu tersebut terdapat noda darah yang sudah mengering. Juki menggaruk kepalanya, sedangkan Yosi jatuh terduduk dan menutup wajahnya.

Deni: “Sejak kapan kau bawa itu?”
Budi: “Se… sejak hari temen kita menghilang, mulanya gua lihat ini tertutup sama ransel.”
Yosi: “Kenapa lu ambil dan bawa pulang?!”
Budi: “Soalnya waktu kita nyari mereka, mereka tak ditemukan sama sekali. Jadi gua pikir…”
Juki: “Kau kira mereka ditangkap sama dia bukan?”
Budi: “I… iya, terus gua bawa ini pulang buat ngedapat informasi lebih dalam lagi. Te… terus…, dia bilang ke gua ka… kalau mau tahu soal mereka… gue harus kembaliin dia.”
Yosi: “Baru kali ini gue tahu kalau teman kita pecinta hal mistis.”
Budi: “Jadi begini… teman-teman, bisa nggak kalau… kita ngelakuin hal yang sama seperti teman kita dulu.”
Lisa: “Jelas tak bisa, kita memang nyari teman kita ke sini, tapi bukan dengan cara begini! Kamu tahu kan dia siapa?! Dia nggak mungkin bakal ngasih tahu kita!”
Budi: “Ta… tapi…”
Lisa: “Letakkan itu kembali ke tempatnya! Kita nggak mau kehilangan teman lagi!”
Santi: “Lis, sabar Lis. Jangan begitu, coba lihat, Budi sampai nangis.”
Juki: (mendesah) “Aduh, kalau begini jadinya. Iya deh, aku mau ngikut kamu.”
Lisa: “Juki!”
Juki: “Ini hanya untuk percobaan, kalau memang jelangkung ini tidak sesuai dengan yang diperkirakan alias tak berhasil, mari kita pulang dan hentikan pencarian.”
Santi: “Gue… gue juga ngikut.”
Deni: “Aduh, mau nggak mau aku juga ikut. Kalo kau Yos?”
Yosi: “Jujur ya, gua belum pernah lihat setan, tapi cuman kali ini aja gua mau ikut. Kalau nanti setannya nggak ada, harus ada yang ngegantiin pekerjaan buat beres-beres tenda.”
Juki: “Setuju, sekarang, bagaimana dengan lu, Lisa?”
Lisa: “Aku nggak…”
Juki: “Hanya untuk hari ini saja, kalo nanti pergi ke suatu tempat yang ada hal seperti ini lagi, kita nggak bakal ngelakuin.”
Lisa: “…ya sudah, cuman buat hari ini, usahakan jangan sampai mati.”
Juki: “Insya Allah, nggak bakal. Sebelum itu, mari kita minta ijin dan mohon ampun pada Allah karena telah melakukan hal ini. Berdoa, mulai.”

***

Beberapa saat kemudian, tetap di ruangan yang sama. Para remaja duduk melingkar, tengkorak itu diletakkan di tengah ruangan. Satu persatu dari mereka menusuk ujung jari telunjuk masing-masing, kemudian meletakkan kembali tengkorak itu di tengah. Budi meringis kesakitan sambil mengisap telunjuknya.

Juki: “Kenapa lu?”
Yosi: “Dia itu nggak tahan kalau ditusuk sedikit saja, dia pernah trauma sama jarum suntik.”
Deni: “Dasar, kenapa cuman ditusuk sedikit saja kau merasa tanganmu seperti habis ditusuk pisau?”
Budi: “Ini sakit banget deh, beneran!”
Juki: “Sudah, mendingan kita cepat mulai saja ritualnya terus langsung tidur.”

Akhirnya mereka mulai merapalkan mantra untuk memanggil sang arwah yang berbunyi sebagai berikut, ‘Jelangkung, datang tak dijemput, pulang tak diantar’ sebanyak tiga kali. Satu menit setelah mantra itu digumamkan dari mulut mereka, tak ada yang terjadi sama sekali. Yosi merasa telah dipermainkan, dia langsung berdiri dan pergi menuju pintu. Mendadak pintu menutup dengan kerasnya di hadapan Yosi, dia jatuh terduduk. Suasana di dalam ruangan mendadak dingin, cahaya dalam ruangan mulai redup dan membuat bayangan seolah-olah sedang menari. Api unggun itu padam perlahan-lahan, beberapa anak menyalakan senter. Semua berteriak saat melihat wajah Juki yang disinari lampu dari bawah.

Juki: “Ini aku, aku Juki! Yang diteriaki itu setannya, bukannya aku!”
Deni: “Kau ini ngaget-ngagetin saja, Yosi di mana?”
Yosi: “Di sini!” (berteriak dalam gelap)
Deni: (menyenteri dinding) “Di mana kau?”
Yosi: “Di depan lu!”
Santi: (menyenteri dinding yang lain) “Di mana? Kok nggak kelihatan?”
Juki: “Itu apa?” (menyenteri lantai)
Yosi: (posisi tiarap) “……”
Juki: “Kamu kira ini perang apa? Pakai tiarap segala.”
Lisa: “San… Santi…”
Santi: “Ada apa?”
Lisa: “Tolongin gua.”
Santi: “Kenapa sih?” (menyinari Santi)
Lisa: (dipeluk Budi) “Tolong lepasin gue dari pelukannya!”

Sekarang cahaya merah menyala dari dalam baskom yang berisi darah, darah di dalamnya mengeluarkan uap dan mendidih. Terdengar suara bergetar di tengah ruangan, Juki, Santi, dan Deni menyinari sumber suara tersebut. Mereka terbelalak, tengkorak itu berguling-guling dan berputar-putar, kemudian meloncat ke atas. Tengkorak itu sekarang terbang di langit, darah yang ada dalam baskom terbang seolah-olah disedot dan masuk ke dalam lubang mulut dan matanya. Sekarang tengkorak itu mengeluarkan cahaya merah dari mata dan mulutnya, mendadak dia berbicara.

?: “Siapa yang memanggil Raden Cahyapraga ini?”