Welcome

Selamat datang, di blog Zachor. Di sini saya menyambut orang yang mau membaca dan mau memberi pendapat pada cerita yang sedang saya buat untuk dijadikan komik. Mohon kerja samanya.

Sabtu, 27 Februari 2010

Bagian 10

SURVIVOR

Juki dan Santi melihat pemandangan di mana Cahyapraga dan makhluk berwajah putih akan bertempur, mereka menyaksikan dari dalam tenda. Makhluk tersebut memasang kuda-kuda dengan memegang pedang dengan satu tangan, tangan kirinya memegang gagang pedang, bilahan pedangnya dia letakkan di ketiak. Tangan kanannya digerakkan ke depan, telapak tangannya terbuka lebar. Kedua kakinya membentuk sudut 45 derajat, kaki kanan diletakkan di belakang, lututnya menekuk, sedangkan kaki kiri di depan lurus. Pada saat bulan tertutup awan, seekor dari singa itu menyerang langsung, singa itu hampir menyentuh dia. Makhluk itu membungkuk dan memutar kakinya 360 derajat, dia menjegal singa tersebut hingga terjungkal. Saat singa itu berada di udara, makhluk itu menebas kepalanya hingga lepas. Pada saat bersamaan, seekor lagi menerkamnya. Mulutnya ditahan dengan pedang, mereka berguling-guling di tanah. Ketika makhluk tersebut menindih singa itu, dia menarik pedang itu. Singa itu tak mau melepas gigitannya, tetapi makhluk tersebut mengangkatnya bersama dengan pedangnya. Tiba-tiba pedang itu berubah menjadi selentur karet, makhluk itu menarik ujung pedang dan melilitkannya di sekitar leher singa tersebut.

?: “I think it’s time for rodeo.”

Singa tanpa kepala yang ditebas makhluk itu masih bisa bergerak, dia mulai mencoba menerjangnya. Makhluk itu menarik kepala singa yang dia tunggangi, membuatnya berlari kemanapun makhluk itu mau. Dia mulai berlari menuju pepohonan, diikuti singa tanpa kepala. Sementara itu, Cahyapraga yang kehilangan dua tangannya, menumbuhkan lagi tangannya dalam bentuk tulang. Dia juga turut serta dengan membuat kepalanya lepas dan mengikuti makhluk itu, kejar-kejaran seru terjadi. Singa tanpa kepala itu berada di belakang sang makhluk, sementara kepala Cahyapraga terbang di atasnya. Kepala itu menyemburkan api pada makhluk itu, dia berlindung di balik sebuah pohon yang tumbuh miring dan memanjatnya. Pohon itu mulai terbakar dari bawah dan naik ke atas dengan cepatnya, makhluk itu melompati pohon. Dia meloncat dari singa yang dia tunggangi, menarik pedang yang masih digigit dan membuat badan singa itu menubruk singa tanpa kepala yang berada di belakangnya sampai hancur berkeping-keping. Pedang milik makhluk itu kembali menjadi keras, kali ini di depannya sudah ada kepala Cahyapraga yang terbang berputar melesat untuk menusuknya. Dia mencegahnya dengan tebasan pedang, sehingga membuat wajahnya terluka. Makhluk itu mendarat mulus dengan kakinya di tanah, kepala Cahyapraga terbang terhuyung-huyung menuju tubuhnya sambil berteriak kesakitan. Dia menutupi wajahnya saking sakitnya, luka sabetan vertikal itu terlihat jelas di wajahnya.

Cahyapraga: “AAARRRGGH, BERANINYA KAU BERBUAT SEPERTI INI PADAKU! AKU ADALAH ORANG YANG AKAN MENJADI ABADI!”
?: “Immortal? But you’re already expired.” (abadi? Tapi kau sudah kadaluwarsa.)
Cahyapraga: “KURANG AJAR KAU!”

Cahyapraga masuk ke dalam tanah dengan cepatnya, dari tanah yang makhluk itu injak muncul benda putih yang panjang dan tajam. Tapi makhluk itu berhasil menghindar, benda itu masuk kembali ke dalam tanah. Benda itu terus muncul dan menyerangnya berturut-turut, makhluk itu melompat ke udara.

?: “It’s fishing time.”

Dia menekan bagian bawah gagang pedang, bersamaan dengan itu, huruf hieroglif di pedang bersinar. Bilah pedang itu mulai berubah bentuk, warnanya berubah merah dan muncul beberapa kaki. Bilah pedang itu berubah menjadi seekor kelabang, dia menyabet dan menusukkannya ke tanah. Suara gemuruh terdengar dari dalam tanah, diikuti dengan ledakan. Dari dalamnya, darah menyembur keluar. Makhluk itu menarik pedangnya, bersamaan dengan ditariknya pedang, muncul Cahyapraga yang terbelit oleh pedang kelabang. Lehernya digigit, kelabang itu telah menusuk menembus dadanya. Cahyapraga ditarik oleh makhluk tersebut, makhluk itu lalu memasang kuda-kuda dengan menarik tangan ke belakang, bersiap-siap untuk mencengkeram. Dalam sekejap, makhluk itu menusuk perut Cahyapraga. Tapi yang keluar dari perutnya bukan darah, tetapi cahaya berwarna hijau.

Cahyapraga: “Uhuk… siapa kau… sesungguh… uhuk… nya?”
?: (menyeringai)“The demon who walk in God path.” (iblis yang melangkah di jalan Tuhan)

Makhluk itu menarik keluar sesuatu dari dalam perut Cahyapraga, sebuah bola berwarna hijau yang bersinar. Kemudian dia membanting Cahyapraga ke tanah dengan pedangnya, dia mendarat tepat di depan rumahnya. Makhluk itu menyarungkan kembali pedangnya, dia lalu melompat ke sebuah puncak pohon. Pada saat itu, dia berdiri menutup bulan sabit yang bersinar terang. Cahyapraga berdiri kembali, dia membuka mulutnya, bersiap untuk menyerang. Tetapi hal tersebut dicegah oleh makhluk itu, dia melempar sepatu ke mulutnya dengan kakinya untuk membungkam mulutnya. Makhluk yang seharusnya tak bermulut itu kini mempunyai mulut, dia menyeringai sambil memperlihatkan gigi taringnya, asap hitam keluar dari mulutnya. Makhluk itu melakukan kuda-kuda, bersiap untuk meloncat. Bersamaan dengan itu, di kaki makhluk tersebut muncul beberapa huruf hieroglif bersinar, huruf itu perlahan bergerak dan meresap ke dalam telapak kakinya. Cahyapraga sendiri melihat makhluk itu dengan mulut terbungkam oleh sepatu, kepalanya menggembung seakan mau meledak. Makhluk itu mulai meloncat, dia melakukan tendangan terbang menuju Cahyapraga. Dia meluncur dengan kecepatan penuh, tendangan itu mengenai kepalanya. Kepala itu langsung lepas dari tubuhnya dan masuk ke dalam rumah, Cahyapraga yang hanya kepala itu berguling-guling dan berhenti. Di kepalanya ada lambang yang membekas, dia mengatakan sesuatu dengan mulut terbungkam.

Cahyapraga: “Agh… klh.” (aku… kalah)

Dalam sekejap, rumah itu langsung meledak disertai dengan semburan api biru. Makhluk itu berdiri membelakangi rumah, tubuh Cahyapraga sendiri jatuh dan meleleh.

?: “Your sin has been erased.” (dosamu telah dihapus)

Santi tidak percaya dengan apa yang dia lihat, matanya terbelalak dan mulutnya menganga. Juki berdiri dan melangkah maju, begitu juga makhluk tersebut. Kakinya yang tidak memakai sepatu meninggalkan jejak dengan sebuah lambang, Juki sendiri sudah berdiri berhadapan dengan makhluk tersebut.

Juki: “Kenapa kamu mesti datang pada saat yang begitu?”
?: “Jauh lebih baik jika sebuah pesta dengan teriakan, daripada sebuah pesta tanpa teriakan.”
Juki: “Er, Er, kamu ini…”
?: “Yang penting adalah melepaskan mereka dari sini dulu, pegang.”
Juki: (merasa jijik) “Yeeek, nggilani!” (menjijikkan!)
?: “Jangan dijatuhkan, kau bisa membunuh mereka.”

Makhluk itu mulai memasang kuda-kuda, kedua telapak tangannya saling ditepukkan. Kemudian masing-masing diputar berlawanan, jari telunjuk diacungkan, kemudian dijauhkan. Bola hijau itu sekarang berada di tengah kedua jari telunjuk makhluk tersebut, di tangannya terjadi fenomena yang sama dengan saat dia akan melakukan tendangan. Huruf-huruf yang bersinar bergerak dan meresap ke dalam jarinya, kedua jari tersebut menusuk bola tersebut secara bersamaan. Sekarang cahaya yang ada di jari itu meresap masuk ke dalam bola, warna cahaya pada bola berubah menjadi kuning. Makhluk itu kemudian mengambil bola itu dan melempar ke atas, bola itu terbang ke atas hingga tak terlihat. Di langit yang gelap muncul kembang api, bersamaan itu pula, ada beberapa cahaya putih seperti kunang-kunang turun dari langit. Cahaya itu perlahan mendarat di tanah, perlahan cahaya itu mulai menampakkan wujud sebenarnya. Ternyata itu adalah beberapa anak dari desa bersama dengan Yosi dan yang lain, mereka semua pingsan.

?: “Nah, kita tinggal memasukkan mereka ke tenda.”
Juki: “Entar dulu, entar dulu. Mana muat segini banyak, lagian ini cuman cukup sama Yosi cs.”
?: “Mengenai hal itu sudah aku antisipasi, aku akan kembalikan mereka dulu.” (menunjuk anak-anak desa)
Juki: “Gimana caranya? Digendong terus terbang? Gila lu Er!”
?: “Aku tak sebodoh itu Juki!” (menjitak kepala Juki)
Juki: “ADDAAW!”
Santi: “E… er…? Eric?”
?: “What?”
Santi: “I… ini Eric?”
Juki & Eric: “Lha pikirmu apa?” (Kau kira apa?)
Eric: “Ah benar, kau tak mengenaliku jika aku seperti ini.”

Eric menutup matanya sejenak, perlahan-lahan kulit yang hitam dan wajah yang putih itu memudar dan berubah menjadi putih bersih. Rambut pirang tumbuh di kepalanya, kuping lancipnya menjadi normal, tanduknya masuk ke dalam kepalanya. Eric mendongak lalu menarik nafas dan membuka matanya yang sudah berubah menjadi biru pada saat bersamaan, dia menunduk dengan cepat dan menghembuskan asap putih dari mulutnya. Santi yang kaget dengan perubahannya langsung pingsan.

Eric: “Oops. Looks like I overdid it.” (sepertinya aku terlalu berlebihan)
Juki: “Bagus, terus gimana gue bisa bawa mereka semua ke dalam?”
Eric: “Easy.”

Dia mengeluarkan pedangnya lagi dan mengubahnya lagi menjadi kelabang, kali ini pedang kelabang itu membelit Yosi dan yang lain menjadi satu dan memasukkan mereka semua ke dalam tenda. Tenda tersebut menjadi penuh sesak, Eric mengembalikan pedang itu kembali seperti semula.

Juki: “Lu kira mereka karung?! Kok ditumpuk?!”
Eric: “Kau lebih baik juga cepat masuk, hujan akan turun, biar kubawa anak-anak ini secepatnya ke desa.”

Dia mengeluarkan selembar kertas dan melemparkannya ke atas, kertas itu berubah menjadi sebuah lingkaran transformasi. Lingkaran itu mengitari Eric dan anak-anak, mereka lenyap bersamaan dengan lingkaran tersebut dalam hitungan detik.

Juki: “Dasar, apa maksudnya? Cuacanya kelihatan ce… rah?”

Juki baru sadar maksud perkataan Eric, dia segera lari ke tenda, tetapi tendanya penuh. Kemudian dia lari ke pepohonan, setetes darah turun mengenai daun. Bersamaan dengan itu, beberapa tulang manusia juga jatuh di sekeliling Juki disertai dengan cipratan besar darah. Setelah hujan tulang dan darah itu berhenti, Juki nampak berwajah jengkel. Ternyata darah yang menetes dari udara mengenai sekujur tubuh dan bajunya, kemudian dia berjalan keluar dari pepohonan. Tak disangka sebuah tengkorak jatuh mengenai kepalanya, dia menahan sakit sambil jongkok dan memegang kepalanya.

Juki: (berdiri) “Bau lagi nih, sialan! Masa aku ganti baju lagi?!”

Dia tak sadar bahwa aki Ujang mengawasi dari pepohonan, dia berbalik dengan tubuh bergetar. Dia lari tergesa-gesa, wajahnya terlihat berkeringat.

###

Pagi hari, jam 07:30. Di hutan, terlihat sekumpulan anak remaja berjalan menyusuri sungai. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Juki beserta Yosi cs, beserta orang-orang baru. Dua gadis dan dua orang pemuda, penampilan mereka terlihat kumuh. Piyu, pemuda berambut gondrong ala rocker, berkulit hitam, bermata sipit, dan hidung pesek. Oni, berkepala botak, berkumis tipis dan agak gendut. Diana, gadis berambut pendek sampai ke leher, dengan sebelah mata yang tertutup rambut, memakai tindik di hidungnya, dan punya tato mawar di lengan kirinya. Dinda, gadis dengan rambut dikepang dua di kiri dan kanan, giginya memakai behel, ada sedikit jerawat di pipinya, dan berkacamata.

Yosi: “Gue senang kalian bisa selamat, tapi main begituan itu idenya siapa?”
Oni: “Maaf, yang ngajakin waktu itu si Diana. Kamu tahu kan dia itu gimana?”
Yosi: “Ini juga, lagian lu kok nekat amat sih?”
Diana: “Aku cuman penasaran aja apa gue bisa bicara ama itu setan, siapa tau gua bisa ngehajar itu setan.”
Deni: “Heh, emang bisa? Terus kenapa kau bisa dimakan ama itu setan?”
Diana: “Cuman sedikit kecelakaan.”
Oni: “Yang segitu dibilang kecelakaan? Jelas itu disengaja, aku tidak terima!”
Piyu: “On, udah deh. Sudah beruntung kita masih hidup, berapa lama kita ada dalam perut itu setan?”
Lisa: “Sekitar satu setengah tahun.”
Dinda: “Wah lama banget! Terus gimana kita bisa selamat?”
Santi: “Anu… tadi kakek Ujang yang nyelametin kita tadi.”
Lisa: “Kakek? Beneran?”
Santi: “I… iya, waktu itu dia datang sambil bawa botol air sama tasbih. Dia siramin airnya ke itu setan, terus kalian keluar deh.”
Diana: “Ah, masa. Kalau cuman disiram doang, kenapa rumahnya bisa sampai hancur lebur?”
Santi: “Eh… i… itu…”
Juki: “Karena rumah itu dibakar oleh aki Ujang beserta dengan setan itu. Hal itu dilakuin buat ngecegah supaya itu setan nggak bisa ngeganggu penduduk lagi.”
Diana: “Siapa lo?”
Juki: “…jadi dari tadi aku tak dianggap sama sekali?!”
Yosi: “Sabar, Juk, sabar. Maaf, dia baru pertama kali ini ikut.”
Deni: “Masa kalian lupa, ini si Juki. Teman kuliah kita.”
Diana: “Teman kuliah yang mana?”
Lisa: “Juki yang kadang ngomong bahasa Jawa itu lho.”
Diana: “Orang Jawa mana?”
Juki: (jengkel) “HEH, WONG EDAN!! MASA LALI KARO KANCAMU DHEWE?!”
Diana: “Oh lu, ngomong dari tadi.”
Juki: “DARI TADI GUA NGOMONG!”
Budi: “Ng… teman-teman…”
Yosi: “Ada apa?”
Budi: “Aku… mau minta maaf.”
Deni: “Soal apa?”
Budi: “Karena aku… kalian yang ikut menyelidiki hilangnya teman kita sampai kena musibah.”
Lisa: “Tak usah dipermasalahkan, kita semua kan baik-baik saja.”
Budi: “Tapi aku yang ngusulin buat nyari teman kita! Lagian itu atas perintah setan itu! Terus… ADUUH!!” (dijitak Juki)
Santi: “Juki!”
Juki: “Bisa diam nggak?! Lu ini udah culun, rada bego, jelek lagi! Bisanya cuman nyalahin diri sendiri, manusia macam apa lu?!”
Budi: “Maaf…”
Juki: “Maaf, maaf, bisanya minta maaf saja.”
Budi: (menangis) “……”
Juki: “Tapi ada satu yang gue paling seneng dari lu. (memegang pundak Budi) Lu mau ngorbanin apa saja buat nyelametin temen lu, nggak pernah ngekhianatin temen, terus ketawamu itu… hal yang paling bagus yang pingin gua liat.”
Budi: “Be… bener?”
Juki: “Dari lubuk hati gua yang paling dalam, sebego-begonya lu, gua salut karena lu mau ngelakuin apa aja buat temen.”
Budi: “Hik… te… terima kasih!” (memeluk Juki)
Juki: “Ya, ya, cup, cup. Hoi lepas, lepasin, udah. Hoi!”

Deni, Dinda, Santi, dan Lisa menangis tersedu-sedu melihat peristiwa itu. Semua anak bertepuk tangan dan berpelukan bersama-sama dengan Juki, dia sendiri merasa tidak enak.

Juki: “Oi… aduh, sesak, se… sak. Lepas…” (pingsan)

###

Akhirnya rombongan tersebut sampai di sebuah danau, airnya bersih dan pemandangannya sangat indah. Di pinggir danau tersbut, mereka melihat sebuah tenda yang cukup besar, dan mobil caravan diparkir di sebelahnya.

Yosi: “Juk, beneran Eric di sana?”
Juki: “Nggak salah lagi, soalnya setiap dia ke hutan, mobil itu selalu ada.”
Deni: “Tapi kenapa dia pakai truk ya?”
Juki: “Ngawur, iku jenenge caravan. (ngawur, itu namanya caravan) Dasar Nagabonar katrok.”
Lisa: “Itu kan mobil yang biasa dipakai buat bepergian jauh, di dalamnya ada kamar mandi, tempat tidur, sama dapur. Di film aku liat yang kayak begituan.”
Yosi: “Wah, komplit dong. Mungkin nggak ya kalau ada tv di dalam?”
Juki: “Jangan harap, yang punya mobil itu bukan Eric.”
Budi: “Te… terus siapa?”
Juki: “Waktu di pengadilan, kalian ingat sama pengacaranya Eric? Nah itu pemiliknya.”
Yosi: “Oh, pak Kumamoto?”
Diana: “Entar dulu, sebenarnya ada apa sih? Pengadilan? Terus siapa pak Kumamoto sama Eric itu?”
Santi: “Anu, sebenarnya saat kalian nggak ada di kampus, kalian masih ingat Beni kan?”
Diana: “Siapa yang gak ingat? Dia kan yang suka pinjam I-podku tapi nggak dikembaliin.”
Piyu: “Dia sama begundalnya sering ngutang di kantin.”
Oni: “Tambah lagi, dia suka banget bolos kuliah.”
Dinda: “Gimana nggak, mereka sering ngelemparin gue pakai kodok.”
Lisa: “Waktu Eric masuk ke kampus, dia ngehajar mereka lho.”
Yosi: “Coba aja bayangin… (berbisik) ‘itu’nya diancurin ama dia.”
Diana, Dinda, Oni, dan Piyu: “Haaah?!” (menutup mulut)
Oni: “Pasti sakit ya? Uuh.”
Piyu: “Ngebayangin aja sudah bikin gue sakit.” (menutupi alat vital)
Juki: “Ah, perasaan nggak begitu-begitu amat deh.”
Deni: “Terus dia juga membuat pak Hutomo itu jadi gila.”
Piyu: “Haaah?! Masa sih?”
Diana: “Gimana ceritanya?”
Juki: “Udah, udah, mendingan kita cepat ketemu dia. Di sini juga ada yang terluka kan? Bisa infeksi lho.”
Dinda: “Kalau begitu gue duluan ya, gua kebelet pipis dari tadi.” (lari meninggalkan rombongan)
Juki: “Hoi, hoi! Hoooi!”

Dinda lari dengan kencangnya menuju karavan dan langsung menggedor pintunya, tapi sama sekali tak ada jawaban. Dia lalu masuk ke dalam tenda besar di sebelahnya, mendadak suara jeritan Dinda terdengar dari dalam. Mereka segera berlari begitu mendengar jeritan tersebut, tetapi begitu masuk ke dalam, sebuah pemandangan yang tak biasa membuat para gadis menutup mata dan para pria terbelalak tak percaya. Dinda pingsan dan sekarang dipegang oleh Eric yang saat ini tak memakai baju, kecuali selembar handuk. Tubuhnya yang terlihat atletis membuat wajah para gadis memerah, ngiler, dan seolah-olah mimisan.

Eric: “Are you just standing there and watching or wanna help me take her to bedroom?” (apa kalian hanya bisa berdiri di sana dan melihat atau menolongku membawanya ke kamar tidur?)

Rabu, 10 Februari 2010

Character's eye


Ini gambar mata untuk karakter tokoh utama yang sedang saya buat, masih bingung mau pilih mana. Kalau menurut pembaca, mana yang bagus?

Bagian 9

THE APPEARANCE

Di sebuah rumah tua di pedalaman di daerah Jawa Barat, pernah tinggal seorang kaya yang bernama Cahyapraga, tapi siapa yang menyangka jika bagian dalam dari dirinya adalah seorang dukun. Awalnya dia membantu penduduk desa dengan kekayaan yang dia miliki, tetapi tujuan sebenarnya adalah membuat seluruh penduduk desa tunduk padanya dan menjadi penganut ilmu hitam. Karena desa yang ditinggali penduduk tersebut sedikit kurang paham agama, maka sebagian besar dari mereka menjadi orang-orang musyrik. Cahyapraga sendiri tertarik pada anak kecil dan remaja, sehingga meminta para penduduk untuk menyediakan mereka sebagai tumbal. Beberapa penduduk yang tak terpengaruh dan sudah beragama mencoba untuk menyadarkan mereka, tetapi kesesatan yang menular sudah terlampau jauh. Meski mereka mencoba untuk menjatuhkan Cahyapraga, mereka menjadi tak berdaya di hadapan seseorang yang memiliki ilmu hitam yang sangat kuat. Akhirnya datanglah seorang ulama yang mendatangi desa tersebut, dia menyadarkan beberapa penduduk yang sudah terkena hasutan sang juragan. Sedikit demi sedikit, para penduduk mulai bertobat dan mulai melakukan perlawanan terhadap Cahyapraga. Pada akhirnya, terjadilah pertempuran di dalam desa antara pihak Cahyapraga dengan para muslim. Cahyapraga berusaha untuk mengembalikan penduduk kembali sesat dengan ilmunya, dengan mengguna-guna mereka. Korban mulai banyak berjatuhan, tetapi saat dia berusaha membunuh sang ulama, usahanya gagal. Akhirnya pada saat Cahyapraga dan pengikutnya terdesak, dia berhasil dijatuhkan. Sang juragan yang terluka parah dan merasa dipermalukan, memutuskan untuk mengurung diri di dalam rumahnya. Saat masuk ke dalam rumah, mendadak pohon-pohon besar mulai tumbuh di sekitar rumahnya. Sejak kejadian itu, mereka mulai menjauhi rumah tersebut dan membangun desa yang baru jauh dari kediamannya. Pengikut Cahyapraga akhirnya kembali lagi ke jalan yang benar, tapi penduduk desa meragukan orang yang bernama Ujang. Ujang sekarang adalah kakek dari seorang mahasiswi bernama Lisa, sekarang cucunya bersama kawan Lisa sedang menyelidiki keberadaan temannya yang hilang di kediaman Cahyapraga. Pada saat ini mereka telah melakukan ritual jelangkung di sebuah ruangan untuk mengetahui keberadaan mereka, sekarang ruangan tersebut disinari cahaya merah menyala. Lisa dan kawan-kawannya melihat ke atas dengan pandangan tak percaya, sebuah tengkorak yang mata dan mulutnya mengeluarkan cahaya merah terbang di atas mereka.

Cahyapraga: “Siapa yang memanggil diriku ini?”
Yosi: (mengucek-ngucek matanya) “Be… beneran nih? Gua nggak mimpi kan?”
Juki: “Aku ngelihat dengan jelas juga kok, ini bukan mimpi.”
Yosi: “Ma… masa sih, coba cubit pipi gue. (dijewer Deni) ADDDAAAW! SAKIT!”
Deni: “Katanya kau minta dicubit?”
Yosi: “TAPI JANGAN KERAS-KERAS NARIKNYA! Aduh, gua jadi sariawan nih.”
Cahyapraga: “Siapa yang memanggilku?”
Budi: “Ka… kami yang memanggil.”
Cahyapraga: “Siapa kalian?”
Lisa: (sedikit gemetar) “Kami… kami ke sini untuk mencari teman kami yang hilang.”
Santi: “Usianya sebaya dengan kami, mereka waktu itu ke sini.”
Cahyapraga: “Mereka? Maksud kalian siapa?”
Budi: “Mereka… yang mencabut kepala anda.”
Cahyapraga: “Mereka? Kepala? …benar, sekarang ini aku hanyalah sebuah kepala. Jika mereka yang kalian bicarakan, mereka memang ke tempat ini.”
Lisa: “Lalu bagaimana keadaan mereka? Di mana…”
Juki: “Maaf mbah, apa baru-baru ini ada anak kecil yang datang ke sini?”
Cahyapraga: “Memangnya siapa dirimu sehingga berani memanggil diriku mbah? Aku adalah orang yang hidup abadi.”
Juki: “Maaf mbah, bukannya saya mencela, tetapi mbah sendiri sudah mati dulu sekali.”
Cahyapraga: “BERANI SEKALI KALAU KAU MENGATAKAN AKU INI SUDAH MATI! KALAU AKU SUDAH MATI, BAGAIMANA MUNGKIN AKU MASIH BISA BICARA SEPERT INI?!”
Budi: “Ju… Juki… jangan buat marah dia dong!”
Cahyapraga: “Baiklah, aku memang sudah sangat tua. Kau langsung bicara pada hal yang penting, memang benar, bahwa aku mengundang anak-anak itu ke kediamanku ini sampai sekarang.”
Juki: “Benarkah kalau kau mengumpulkan anak-anak dan remaja untuk tumbal?”
Yosi: “Juk, coba gua yang bicara.”
Deni: “Jangan, biarkan saja dia yang bicara, kelihatannya dia ahli.”
Cahyapraga: “Bukan tumbal, lebih tepatnya bisa kusebut makanan.”
Juki: “Makanan?”
Cahyapraga: “Mereka semua kutelan hidup-hidup ke dalam tubuhku, yang kutelan sampai sekarang ini berjumlah dua puluh.”
Lisa: “Berarti teman-teman…”
Juki: “Mereka sudah mati ya?”
Cahyapraga: “Tidak, beberapa dari mereka masih hidup karena aku baru menelan mereka.”
Yosi: “Kenapa… kenapa lu telan mereka!”
Deni: “Yos, tenang!”
Cahypraga: “Agar aku bisa hidup abadi, sebenarnya untuk hal seperti itu, aku harus menelan dua puluh lima anak. Tapi… aku sangat berterima kasih pada kau (melihat Budi) karena telah membawakan makanan untukku.”
Budi: (gemetar) “A… apa… tapi kamu janji bakal memberitahu di mana teman aku.”
Cahyapraga: “Memang benar, aku sudah memberitahukan di mana mereka. Karena kau sudah melaksanakan tugas, maka… biarkan aku menelanmu.”

Mendadak tubuh Budi dipeluk dari belakang oleh sesuatu, dia berteriak dan meronta-ronta. Juki dan yang lain kaget begitu melihat apa yang memegang Budi, yaitu tubuh Cahyapraga yang tak berkepala. Kepala Cahyapraga meluncur menuju tubuhnya, sehingga tubuhnya utuh kembali. Mendadak darah dalam kepala Cahyapraga turun ke dalam dan memenuhi tubuhnya, sehingga seluruh badannya bersinar kemerahan, kemudian tubuh tersebut menyedot Budi masuk ke dalam. Isi perut Cahyapraga terlihat sangat jelas, ada Budi yang baru saja masuk, beberapa kerangka manusia yang masih bayi dan yang sudah besar, juga beberapa anak kecil dan remaja yang belum menjadi kerangka.

Yosi: “BUDI!”
Juki: “Memang bener mereka ditelan, beberapa dari mereka masih hidup. Lisa, bener itu temanmu?”
Lisa: “Bener, itu Desi, Diana, Piyu dan Oni.”
Deni: “Coba lihat yang lain, pasti mereka anak-anak dari desa itu!”
Cahyapraga: “Sekarang aku akan menelan kalian semua sekaligus.”
Juki: “Lalu kalau sudah abadi, mau apa kau?”
Cahyapraga: “Pertama, aku akan membuat para penduduk desa kembali menjadi pengikutku, akan kuhabisi mereka yang melawan, begitu juga dia yang telah mengalahkan dan mempermalukanku!”
Santi: “Para penduduk desa… termasuk kek Ujang?!”
Cahyapraga: “Siapa kau? Kenapa kau mengenalnya?”
Lisa: “Gue cucunya, Ujang itu nama kakek gue!”
Cahyapraga: “Oh, jadi kau putri dari anaknya yang dia akan berikan padaku dulu?”
Lisa: “Mami… maksud lu mami gue?!”
Cahyapraga: “Jadi Ujang masih hidup dengan anaknya, waktu sudah berlalu cukup lama. Kalau begitu, aku takkan lagi bisa menelannya. Baiklah, kau yang akan kutelan sebagai gantinya.”

Seluruh tubuh Cahyapraga mulai berisi dengan daging, mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tetapi tubuhnya sama sekali tak berkulit, hanya memperlihatkan urat nadinya saja. Yosi dan yang lain berusaha untuk membuka pintu yang tertutup rapat, tapi sia-sia. Cahyapraga mulai berjalan maju, selangkah demi selangkah, dia hampir mendekati Lisa. Santi berusaha untuk mengusirnya dengan menyemprotkan obat nyamuk ke wajahnya, taktik itu berhasil.

Santi: “Pergi sana! Pintunya sudah bisa dibuka belum Yos?!”
Yosi: “Nggak bisa! Percuma, nggak mau kebuka!”
Juki: “Kalau begini, gua cuman bisa pakai ini. Semuanya menyingkir dari pintu!”

Mereka semua menyingkir, Juki mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan dari dalam tasnya, lalu membuka botolnya. Dia mengambil sedikit dengan cotton buds, menutup kembali botolnya, kemudian dia meneteskan setetes ke gagang pintu. Pintu itu meledak, serpihannya tercecer keluar, Juki terlempar ke belakang menubruk Cahyapraga. Cahyapraga langsung terlempar ke dinding, semuanya hanya bisa diam dan menatap dengan pandangan tak percaya setelah Juki meledakkan pintu tersebut.

Juki: “Ngapain kalian!! Pintunya udah terbuka, cepet keluar!”
Santi: “Hah! Iya bener, cepet kita keluar!”
Deni: “Bagaimana bisa dia melakukan itu?”
Yosi: “Den! Cepetan keluar!” (menarik tangan Deni)

Juki segera beranjak keluar, Cahyapraga bangkit dan mulai berteriak. Kepala dan badannya sekarang terpisah, dia menggandakan kepalanya sampai berjumlah empat buah. Kepala-kepala itu mulai terbang keluar pintu dengan cepatnya, sementara Juki dan yang lain berlari terpencar-pencar di dalam rumah. Yosi yang berlari menuju dapur tersandung sebuah kuali, dia merangkak dengan cepat, tetapi dia keburu diserang salah satu kepala tersebut. Kepala itu meluncur dan menusuk punggung Yosi, dia berteriak kesakitan. Teriakan itu terdengar oleh semua anak, kini kepala itu mulai menyedot seluruh tubuh Yosi sampai tak tersisa. Lisa dan Deni berlari bersama-sama, mereka hampir keluar dari rumah. Tapi mereka begitu kaget saat membuka pintu, dua kepala terbang sudah menyambut mereka. Kepala itu mencoba untuk menusuk Lisa, Deni mencoba untuk melindunginya, akhirnya dia tertusuk dan terhisap ke dalam kepala itu. Kepala itu sekarang mulai berisi lagi dengan otot dan sepasang mata, Lisa mulai berjalan mundur, dia sudah terkepung di antara dua buah kepala.

Cahyapraga: “Aku sudah menghisap tiga orang, sekarang giliranmu untuk aku telan.”
Lisa: “Aku nggak rela ditelan lu! Lagipula kakek nggak bakal ngebiarin hal ini!”
Cahyapraga: “Katakan apa saja yang kau mau sebelum kau mati, lagipula dia akan kembali menjadi pengikutku lagi, dan akan kukabulkan kembali keinginannya untuk membangkitkan istrinya kembali.”

Kepala di depan Lisa meluncur menuju dirinya, dia bertindak cepat dengan mengayunkan tas ranselnya dan membuat kepala tersebut terpental. Kepala di belakang Lisa mulai menyerang, tapi serangan tersebut berhasil dipatahkan dengan ayunan ransel. Lisa mulai berlari keluar, tapi bahunya tertusuk oleh kepala dari belakang. Dia tersedot ke dalam kepala, kepala itu mulai tumbuh rambut, disertai dengan kulit di wajahnya. Keadaan kepala itu sekarang tidak memiliki hidung, pipi kanannya belum memiliki daging dan kulit sehingga hanya memperlihatkan giginya.

Cahyapraga: “Tinggal dua orang lagi.”

###

Juki dan Santi berada di lorong yang penuh lukisan, mereka sangat kecapaian dan bernafas terengah-engah. Mereka pun berhenti sejenak, dan duduk bersandar ke dinding.

Juki: “Kita istirahat dulu, capek nih.”
Santi: “Juk, pintu tadi lu apain sih? Kok bisa meledak begitu?”
Juki: “Cuman sedikit bom.”
Santi: “Entar dulu, lu bilang bom? Dapat dari mana bahannya?! Kok lu punya yang kayak begitu?!”
Juki: “Ini pinjam dari si kebo bule, sebenarnya bahannya cuman atu aja.” (mengeluarkan botol berisi cairan)
Santi: “Apaan tuh?”
Juki: “Kamu tau nitroglycerin? Setetes ini saja, ledakannya bisa melebihi petasan.” (menunjukkan pada Santi)
Santi: “Kok dia bisa dapat yang beginian?”
Juki: “Ceritanya panjang, dia dapat beginian waktu dapat tugas dari sekolah militer. (Santi mencoba memegang)Hati-hati, kalau kamu jatuhkan, rumah ini bisa hancur seisinya.”
Santi: (menjauhkan tangan) “Tapi gimana nih, Budi sudah dimakan ama itu setan, bagaimana dengan yang lain ya?”
Juki: “Nggak usah khawatirkan mereka dulu, yang penting sekarang cepat keluar dari sini dan minta bantuan!”
Santi: “Tapi butuh waktu lama buat lari ke desa.”
Juki: “Tenang aja, bantuan pasti datang cepat atau lambat., yang penting jangan lupa berdoa pada Tuhan.”

###

Sesosok makhluk berbentuk manusia berdiri di puncak pohon yang tinggi, menutupi bulan sabit, ia adalah pemilik mata yang bercorak yang tadi mengawasi Juki dan yang lain. Sambil melipat tangan di dadanya, dia menengadah ke atas dan memutar kepalanya. Sosoknya tak terlalu kelihatan karena tertutup bayangan, dia melihat jam tangan yang dia pakai menunjukkan sudah hampir jam 00:00.

?: “Looks like the party has begun.” (sepertinya pestanya sudah dimulai)
Kumamoto (dalam bayangan): “Kau yakin tak perlu bantuan?”
?: “Tentu saja, lagipula ini pertama kali… tidak… yang ketiga kali sejak aku menghajar Hantu, Siluman, Setan dan Arwah. Aku banyak menghajar Oni, Yure, Ghost dan Devil di luar sana, tapi aku ke Negara ini karena aku jarang menghajar mereka.”
Kumamoto: “Kau tak cukup puas dengan kekuatanmu sekarang?”
?: “Bukan tak puas, aku anggap ini sebagai latihan untuk menghadapi ‘dia’.”

###

Juki dan Santi sekarang terpojok di ruang tamu, dikelilingi tiga kepala Cahyapraga. Juki mengeluarkan sebuah kain putih dan melilitkannya di kedua telapak tangannya, satu kepala mulai menyerang. Sambil berteriak Allahuakbar, Juki menangkisnya dengan telapak tangannya. Kepala itu langsung jatuh dan menguap menjadi asap, ternyata kain putih itu bertuliskan ayat suci dari Al-Qur’an. Satu kepala menyusul menyerangnya dan ditangkis kembali oleh Juki, yang tersisa hanyalah satu kepala dari Cahyapraga.

Juki: “Jangan harap bakal nelan kami berdua sekaligus.”
Cahyapraga: “Kau memakai sesuatu yang sungguh mengganggu, sama dengan dia.”
Juki: “Maksudmu ulama yang mengalahkan lu? Jangan kira kamu bisa membunuhnya pada saat ini.”
Cahyapraga: “Diam! Jika aku menelan kalian berdua, aku akan lebih kuat dari dirinya!”
Juki: “Dengar ya, lu nggak bakal bisa membunuhnya, karena dia sudah tidak ada di desa ini lagi.”
Cahyapraga: “Apa?”
Juki: “Orang yang lu maksud sudah meninggal, tidak ada lagi di dunia ini.”
Cahyapraga: “Jika begitu… baguslah, maka aku akan bisa mendapatkan lagi pengikutku yang setia tanpa gangguan.”

Mendadak ada yang menyergap Juki dari depan dan memegang kedua tangannya, tubuh Cahyapraga yang tidak berkepala sudah berada di depan Juki dan membuatnya tak berkutik.

Cahyapraga: “Sekarang kau tak bisa apa-apa lagi, agar kau tak menghalangi, kau akan kutelan lebih dulu.”
Juki: “Asal tau aja, mereka nggak bakal lagi terpengaruh sama ilmu hitam, karena mereka semua sudah percaya kepada Tuhan.”
Cahyapraga: “Tuhan... jika begitu aku akan menggantikannya!”
Juki: “...kagak bakalan bisa.”

Kepala Cahyapraga bersiap untuk menusuk Juki, Santi berusaha melepaskan cengkeraman tangan tubuh Cahyapraga dengan kaki meja yang sudah rusak. Dia memukulkan kayu itu ke sekujur tubuh dan tangannya, tapi tak ada hasilnya. Kepala Cahyapraga langsung meluncur menuju Juki, pada saat bersamaan Santi melangkah melindungi Juki, sehingga kepala itu akan menusuk Santi. Tiba-tiba sebuah tempat lilin melayang menghantam kepala itu, Santi selamat dari tusukan Cahyapraga.

Cahyapraga: “Siapa itu?”

Dari sebuah ruangan yang gelap, terdengar suara langkah kaki. Santi, Juki, dan Cahyapraga melihat ke ruangan tersebut; muncullah sepasang mata bercorak dalam kegelapan, Santi kaget saat melihatnya.

Santi: “Se… setannya ada dua?!”
Juki: “Lu telat, bego.”
?: “What do you expect? I break this house wall for a cool entrance?” (apa yang kau harap? Aku menjebol tembok rumah ini sebagai cara masuk yang keren?)
Juki: “Yang penting sekarang, bisa cepat lepasin gue?”
?: “Sure.” (Tentu)

Dari dalam kegelapan, muncul sesuatu yang panjang dan langsung memotong kedua tangan yang mencengkeram Juki. Juki jatuh terduduk, dia langsung mengambil tasnya dan menarik tangan Santi, membawanya keluar rumah secepatnya. Kepala Cahyapraga kembali bersatu dengan tubuhnya, sementara makhluk dalam kegelapan itu mulai menampakkan dirinya sedikit demi sedikit. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup bayangan, dia memakai sepatu sneakers biru, celana jeans dan sebuah rompi warna hitam. Dia membawa sebuah pedang di punggungnya, kedua tangannya hitam dan bercakar, di kedua lengannya ada garis putih sampai ke ujung jari-jari tangannya.

Cahyapraga: “Siapa kau?”
?: “Who am I? Then who are you?” (siapa aku? Maka siapa dirimu?)
Cahyapraga: “Apa yang kau bicarakan?”
?: “Then what are you doing here? Having party?” (lalu kau sedang apa di sini? Mengadakan pesta?)
Cahyapraga: “Aku tak begitu paham, tapi sepertinya engkau mengejekku. Sepertinya kau semacam genderuwo, jika begitu akan kubuat kau tunduk padaku.”
? : “I don’t think so.” (kurasa tidak)

Mulut Cahyapraga mengeluarkan api dan membakar makhluk itu, makhluk itu tak bergeming sedikitpun. Dia malah maju menerobos api itu, dan melocat menendangnya. Sementara itu Juki dan Santi berhasil keluar dengan selamat, mereka berada di depan tenda. Juki minum air sebotol penuh, Santi sendiri berusaha menelpon.

Santi: “Percuma, nggak ada sinyalnya!”
Juki: “Kalau begitu kita nunggu aja di sini, daripada capek-capek lari ke desa.”
Santi: “Tapi setannya bakal nyantap kita semua!”
Juki: “Tenang ajalah, kalau setan yang satu ini nggak bakal makan kita.”

Mendadak dinding rumah tersebut jebol, Cahyapraga yang berbadan utuh terpental keluar dan terguling-guling. Sepertinya dia merintih kesakitan, di sekujur tubuhnya ada beberapa simbol bersinar. Dari dalam rumah, makhluk tersebut muncul. Kali ini wajahnya terlihat jelas, wajah rata berwarna putih, tanpa mulut dan hidung, hanya ada sepasang mata, bertelinga lancip, dan dia bertanduk, dua pendek, satu panjang di tengah.

?: “My, my, my. I think you must change your menu today.” (wah, wah, wah. Rasanya kau harus mengganti menumu hari ini.)
Cahyapraga: “Apa… apa yang baru saja kau lakukan?!”
?: “That’s my greetings when I met someone… no, something that have some bad behavior and have unforgiven sins.” (itu sambutanku saat aku bertemu seseorang… bukan, sesuatu yang punya kelakuan buruk dan punya dosa yang tak termaafkan.)
Cahyapraga: “Kurang ajar, beraninya genderuwo seperti kau melawanku!”
?: “Hey, I’m not like that thing… I have a name, and in afterlife, you must remember it.” (Hei, aku bukan makhluk seperti itu... aku punya nama, dan setelah mati, kau harus mengingatnya)

Cahyapraga mengeluarkan asap hijau dari mulutnya, dan menghembuskannya ke patung singa di depan rumah. Asap itu meresap masuk ke dalam patung, mendadak patung-patung itu hidup dan mengaum seperti aslinya, mereka berjalan dan berdiri membelakangi Cahyapraga.

Santi: “Ke… kenapa setan itu nolongin kita? Dia ngomong pakai bahasa Inggris juga.”
Juki: “Emang dia sudah dari dulu begitu.”
Santi: “Eh? Kamu kenal sama dia?”
Juki: “Dari dulu. Dia itu suka manasin lawan pakai bahasa Inggris.”
Santi: “Emang… dia siapa sih?”
Juki: “Setan, tapi dia juga punya sisi manusia.”
?: “I see, so you wanna play circus? Then…” (aku mengerti, jadi kau ingin main sirkus? Maka…)

Dia mengeluarkan pedang di punggungya dari sarungnya, pedang itu memiliki ukiran hieroglif di bagian punggung pedangnya, gagangnya bertahtakan emas, berbentuk sayap kelelawar dan di tengahnya ada sebuah lambang. Dia memutar-mutar dan menyabetkan ke kanan dan kiri, kemudian dia memasang kuda-kuda.

?: “…I will crash this party A.S.A.P.” (akan kuhancurkan pesta ini sesegera mungkin)

Senin, 08 Februari 2010

Bagian 8

THE ANALYSIS

Sebuah mobil karavan sudah diparkir di depan rumah kakek Ujang, di dalam rumah, ada seseorang sedang berbicara dengannya. Mereka duduk berdua, ditemani dengan dua gelas kopi di meja.

? : “Jadi mereka sudah berangkat ke tempat itu?”
Aki Ujang: (tanpa logat) “Betul, mereka pergi ke tempat di mana kawan-kawan Lisa lenyap. Sebenarnya saya sudah berusaha untuk melarang mereka ke sana, tapi seorang dari teman Lisa yang kalau tak salah bernama…”
? : “Juki?”
Aki Ujang: “Betul, mengatakan pada saya untuk tetap di rumah. Tapi saya tetap khawatir dengan keadaan mereka.”
? : “Apakah memang benar, anda dulunya adalah murid dari paranormal itu?”
Aki Ujang: “Tiga puluh lima tahun yang lalu, saya adalah murid dari Cahyapraga, sebelumnya saya bekerja menjadi pelayan untuknya. Tetapi setelah saya kehilangan istri saya…”
? : “Memang kenapa dengan istri anda?”
Kakek Ujang: “Dia meninggal, saat melahirkan anak saya, ibu dari Lisa. Kemudian saya baru mengetahui rahasia sang Raden, dia menganut ilmu hitam. Saat melihat dia bisa menghidupkan orang mati, saya menjadi terpengaruh untuk menjadi pengikutnya.”
? : (bicara pelan) “Bullshit.” (omong kosong)
Aki Ujang: “Setelah istri saya dihidupkan kembali, kami pun hidup bersama dengan anak kami. Setelah itu kami mendapatkan tempat tinggal dari guru saya, lalu kekayaan. Tetapi itu tak berlangsung lama, sejak seorang ulama datang kemari.”
? : “Ulama?”
Aki Ujang: “Sebelumnya desa kami adalah desa yang penduduknya hanya sedikit mengenal agama, sebagian besar warga desa bergabung dengan Raden Cahyapraga karena kekuatannya tersebut. Kemudian beberapa warga menjadi resah, karena beberapa remaja dan dan anak-anak menghilang. Akhirnya saya mengetahui… bahwa mereka semua dijadikan makanan untuk Raden Cahyapraga. Warga pernah mendatangi kediamannya dan menuntut atas anak-anak mereka, tapi percuma…, tidak sedikit dari mereka menjadi korban kesaktiannya. Saya juga saat itu ingin berhenti menjadi pengikutnya, setelah mengetahui…”
? : “Mengetahui?”
Aki Ujang: “…mengetahui saat istri saya sebenarnya bukanlah istri saya. Ternyata istri saya sebenarnya adalah setan yang dimasukkan ke dalam tubuh istri saya. Meski begitu, saya tetap tak bisa keluar, karena terbelenggu oleh ilmu darinya. Akhirnya ada seorang warga yang belum terpengaruh ajaran Cahyapraga memanggil seorang ulama untuk menyelesaikan masalah tersebut, dialah kemudian yang mengajarkan agama Islam pada kami. Akhirnya Raden Cahyapraga berhasil disingkirkan dan kalah oleh sang ulama, setelah kekalahannya, dia mengurung dirinya di kediamannya. Akhirnya dia dibiarkan tinggal di dalam sana, entah sekarang dia sudah mati atau masih hidup, rumahnya sekarang terbengkalai.”
? : “Aku mengerti… berarti kemungkinan dia masih hidup di dalam rumah itu, walaupun tak sepenuhnya disebut ‘hidup’. (berdiri dari tempat duduk) Mungkin sekarang sudah saatnya saya pergi menjemput mereka.” (berjalan keluar pintu)
Aki Ujang: “Kalau begitu bawalah saya, sebab saya tahu cara untuk melawannya.”
? : (berhenti) “Cara seperti apa yang anda maksud?”
Aki Ujang: “Dengan ini.”

Dari dalam bajunya, kakek Ujang mengeluarkan sebuah botol yang berisi semacam serbuk. Botol itu diikat dengan tali yang diuntai menjadi sebuah kalung.

Aki Ujang: “Ini adalah abu telunjuk dari guru saya yang diberikan oleh dia, saya biasa menggunakannya untuk mengobati orang sakit. Saya yakin pasti dia takkan pernah mengganggu warga desa lagi, setelah saya mengembalikan ini padanya.”
?: (berbalik) “Apa anda beragama?”
Aki Ujang: “Ya, saya Islam.”
?: “Maka anda tak memerlukannya.” (merebut botol)
Aki Ujang: “Tunggu! Mau diapakan botol itu?!”
?: “Anda mengatakan bahwa anda sudah beragama, tapi tetap saja memakai benda yang menyesatkan. Manusia itu berusaha dengan usaha sendiri, bukan dengan kekuatan kegelapan, apakah anda ingin dibenci oleh Tuhan?”
Aki Ujang: “Tapi… bagaimana jika dia tak bisa dihentikan?”
?: “Maka serahkan urusan itu kepadaku.”

Botol kecil itu diremas dengan tangan kosong sampai hancur, mendadak asap hitam muncul dari tangannya. Botol yang digenggamnya sudah menghilang tanpa bekas, matanya mulai berubah menjadi bercorak dan berpendar. Kakek Ujang mundur selangkah karena kaget melihat perubahan di matanya, orang tersebut ternyata Eric.

Aki Ujang: “Matamu… apa kau setan?”
Eric: “Mungkin bisa dibilang begitu, tapi jangan samakan aku dengan mereka. Aku masih percaya pada Tuhan.”
Aki Ujang: “Siapa sebenarnya dirimu?”
Eric: “The demon who walk in God path. (iblis yang melangkah di jalan Tuhan) Tapi tak perlu anda ingat.”

###

Kembali ke rumah tua tempat di mana Yosi dan kawan-kawan berkumpul, Yosi, Lisa, dan Deni masih berada di depan pintu yang mereka buka dengan wajah yang masih terperangah. Ternyata di dalam ruangan itu menyala sebuah api unggun yang berwarna kemerahan, tengkorak-tengkorak sapi dan kambing digantung di langit-langit. Di dinding terdapat gambaran dan tulisan yang ditulis dengan darah, juga sebuah meja di depan api unggun yang di atasnya terletak baskom batu. Yosi memberanikan diri untuk masuk, diikuti oleh Lisa dan Deni.

Yosi: “Jadi ini tempat di mana dukun ilmu hitam itu ngadain ritual?”
Deni: “Kok sama nyereminnya kayak di film ya?”
Lisa: “Coba lihat, isi baskomnya.”
Deni: (mendekati baskom) “Warnanya merah, ini jelas bukan saus tomat.”
Yosi: (mengendus) “Hoeek! Hoeek!”
Lisa: (tubuh bergetar) “Ya ampun, ini kan darah.”
Yosi: “Hoeek! Aduh, mendingan… kita keluar saja! Aku nggak… kuat! Ng…? Lis, Den, apa ini?”

Yosi merasa memegang sesuatu di bawah meja, karena penasaran dia menariknya. Ternyata kerangka manusia, tapi kepalanya tidak ada. Mendadak Lisa berteriak sangat keras sampai terdengar dari luar rumah. Juki, Budi, dan Santi masih berada di belakang sungai.

Budi: “I… itu suaranya Lisa, se… setannya udah keluar!”
Santi: (HP berdering) “Ah, ini Yosi. Halo?”
Yosi: “Halo Santi! Gawat nih, Lisa pingsan! Cepetan ke sini!”
Santi: “Kamu di mana sekarang?!”
Yosi: “Di tempat ritualnya dukun setan itu, kamu cari lorong yang penuh lukisan, nanti kamu lihat ada pintu masuk ke sini!”
Santi: “Ya udah, gua ke sana. Juk, Bud, cepetan! Kita ke tempatnya Yosi sekarang!”
Budi: “I… iya.”
Juki: (menjulurkan kepala) “Hoi! Tunggu! Belum kelar nih! Kalian duluan aja! Nanti gua nyusul!”
Santi: “Cepetan makannya!”
Juki: “Gak sabaran amat sih, masih pakai celana nih!”

Saat Juki hendak berdiri, mendadak lantai jamban itu jebol sehingga kaki kiri Juki terperosok ke dalam sungai. Tapi sialnya, saat Juki mencoba mengeluarkan kakinya, seluruh lantai jamban ikut rusak dan membuat Juki tercebur ke sungai.

***

Beberapa saat kemudian, semua anak terkecuali Juki sudah berada di ruangan ritual di mana ditemukannya sebuah kerangka manusia. Lisa masih pingsan dan sekarang duduk bersandar di dinding, Santi berusaha untuk menyadarkannya dengan membuat dia mencium aroma minyak kayu putih. Sementara itu, Yosi, Budi, dan Deni mengamati mayat yang sudah menjadi kerangka. Kerangka itu berpakaian serba hitam, jari-jarinya menggunakan cincin opal. Tubuh Budi bergetar, mulutnya tak bisa berkata apapun ketika melihatnya.

Yosi: “Nggak nyangka… gua… ugh!”
Deni: “Kalau kau nggak kuat lebih baik jangan dilihat.”
Yosi: “Gua bukan… hoek…”
Deni: “Aduh, kau muntahkan saja di sini.” (memberikan kantung plastik)
Yosi: “Gua cuman nggak kuat ama bau darahnya.”
Deni: “Kalau tau begini, mending kau tak usah ikut. Santi, bagaimana Lisa?”
Santi: “Dia masih belum bangun.”

Terdengar suara tetes air dari balik pintu, pintu menjeblak terbuka. Ternyata Juki yang sekarang seluruh badannya basah kuyup, wajahnya kesal bukan main. Dia melangkah menuju Yosi, Budi, dan Deni.

Yosi: “Dari mana aja… ng? (mengendus) HOOOEEK! Bau amat lu! Lebih parah dari bau darah!”
Deni: “Ah, bau sekali kau, kau habis ngapain?!”
Juki: (melihat semua anak menutup hidung) “Haaah, dasar, gara-gara aku disuruh cepat, begini deh jadinya. Coba bayangin, gua baru selesai berak, mendadak lu telpon sambil teriak-teriak. Akibatnya Santi ama Budi pergi ninggalin gue, gue baru mau pakai celana terus mau lari keluar. Coba tebak, gua jatuh ke sungai yang baunya minta ampun itu.”
Budi: “Pft… hahaha… maaf, kok bisa sih?”
Juki: “Bisa aja lagi, masa aku harus jelasin sedetilnya?”
Lisa: (mendadak sadar) “Hooek! Bau apa nih?!”
Deni: “Yah, tapi paling tidak, baumu cukup berguna juga.”
Juki: “Sialan lu.”
Santi: “Ya sudah, maafin gue. Mending lu ganti baju dulu deh, terus lu ambil terus pakai parfum di tas gue.”
Juki: “Kalau lain kali pergi seperti ini lagi, mendingan gua bawa toilet sendiri.”

***

Lima belas menit kemudian, Juki sudah berganti pakaian dan sudah berkumpul kembali bersama Yosi dan yang lain. Juki sekarang duduk berlutut di hadapan kerangka manusia tersebut, dia memeriksa kerangka tersebut dengan seksama. Dia meraba-raba seluruh tubuhnya, menggeledah bajunya, tapi yang ditemukan hanyalah beberapa kecoa yang sudah mati. Dia mengeluarkan meteran dari dalam tasnya dan mengukur tinggi kerangka tersebut, meteran itu diletakkan di sebelahnya.

Juki: “Dia jelas nggak bunuh diri, dia mati kehabisan darah.”
Budi: “Ta… tau dari mana?”
Juki: “Tadi ini ditemukan di bawah meja kan? Coba lihat, ada sedikit bercak darah dari baskom ke tempat dia duduk. Kayaknya dia nusuk perutnya sendiri terus darahnya…” (melihat ke baskom)
Yosi: “Hooek!”
Juki: “Nggak usah dibayangin kalau nggak kuat! Tapi yang aneh adalah kepala ama jarinya.”
Santi: “Emangnya kenapa?”
Juki: “Coba liat, kepala sama satu jarinya nggak ada. Menurut kalian apa mungkin dia bisa motong kepala ama jarinya sendiri? Alat pemotongnya juga nggak ada sama sekali.”
Lisa: “Iya juga sih.”
Juki: “Ngapain kau?”
Lisa: “Ngelihat.”
Juki: “Kenapa saat melihat mayat tadi kau teriak-teriak? Setelah kamu bangun kok nggak teriak lagi?”
Lisa: “Soalnya… ini baru pertama kali gue lihat mayat… jadi…”
Santi: “Lisa itu sampai sekarang belum pernah lihat mayat betulan, jadi wajar kalau dia kaget dan pingsan.”
Juki: “Ngemeng-ngemeng nih, ini kayaknya beneran gurunya kakek lu Lis. Kalau dilihat dari tulang panggulnya, dia itu laki-laki.”
Deni: “Emangnya dia sudah tak punya ‘terong’?”
Juki: “Ya nggak lah! Coba lihat! Kalau udah jadi tulang mana punya yang begituan.”

Juki membuka celana mayat, para gadis serentak menutup matanya. Sedangkan para lelaki memperhatikan ‘bagian’ yang diperlihatkan Juki.

Juki: “Nah, sekarang ada yang bisa bantuin aku nggak?”
Yosi: “Mau minta tolong apa?”
Juki: “Bisa nggak kau berdirikan ini?” (menunjuk kerangka)
Yosi: “Eh… tapi…”
Juki: “Aku agak susah ngukur tingginya, kalau ini nggak berdiri.”
Deni: “Biar aku saja.”
Juki: “Terima kasih.”

Deni mencengkeram bagian ketiak kerangka, begitu diberdirikan, Juki memperhatikan lalu menggeleng. Ternyata kerangka tak berkepala itu sedikit tinggi dari Deni, kemudian Juki merogoh kembali tasnya dan mengeluarkan bola basket.

Juki: “Yos, ke sini sebentar. Tolong pegang ini.”
Yosi: “Ini buat apa?”
Juki: “Kamu berdiri di sini, pegang ini dengan kedua tangan di atas, seperti ini.” (mengatur posisi Yosi)
Yosi: “Sebenarnya buat… waaa!” (tangan kerangka menjulur di sebelah wajah Yosi)
Deni: “Hahahaha! Katanya nggak kuat darah, tapi kok sama yang seperti ini takut?”
Yosi: “Bukannya takut, gue jijik! Jangan begitu-begitu ah! Parno gua!”
Juki: “Hoi, Nagabonar! Ini lagi serius, jangan bercanda gitu! Yos, kembali ke tempat semula!”
Yosi: “Tapi buat apa sih ini?”
Juki: “Buat ganti kepalanya yang hilang, kepala manusia kira-kira ukurannya kan segitu.”
Yosi: “I… iya, (bicara pada Deni) awas lho jangan begitu lagi.”
Deni: “Iya.”

Juki mulai mengukur dengan meterannya mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala, dia lalu mencatatnya di hp yang dia bawa. Juki memberikan isyarat pada Deni untuk meletakkan kembali kerangka tersebut, dan menyuruh Yosi mengembalikan bola basket ke tempatnya.

Juki: “Hmm, 194 cm.”
Deni: “Perlu diukur beratnya juga nggak?”
Juki: “Kalau sudah jadi tulang gini, gimana tahu beratnya geblek? Yang jadi pertanyaan untuk ini adalah ke mana kepalanya? Lebih aneh lagi, ternyata lehernya tak dipotong, tapi dicabut secara paksa.”
Santi: “Dicabut?”
Juki: “Ngemeng-ngemeng nih, siapa yang pertama kali nemukan tas teman kalian yang hilang?”
Yosi: “Waktu itu aku sama Budi yang nemuin.”
Juki: “Ada barang yang waktu itu ada di luar tas nggak, atau mungkin ada sedikit noda di sekitar tempat kalian nemuin?”
Yosi: “Yah, ada sih. Sedikit bercak darah di tengah ruangan, posisi tasnya saat itu melingkar.”
Juki: “Hmm, ini baru kemungkinan. Tapi sepertinya teman kalian ini baru melakukan hal yang buruk.”
Deni: “Hal buruk macam apa itu?”
Lisa: “Emang mereka ngapain di sini?”
Juki: “Ini tak salah lagi… Jelangkung.”

Angin bertiup dari pintu keluar, beberapa anak memeluk tubuhnya sendiri untuk menghangatkan diri. Juki kemudian memegang dahinya, dan bersandar di dinding.

Yosi: “Sebentar, sebentar. Jelangkung?”
Juki: “Ya, permainan untuk berkomunikasi dengan roh. Cara memainkannya dengan menggunakan objek yang menjadi perantara, kadang harus menggunakan selembar kertas.”
Lisa: “Itu sudah tahu.”
Juki: “Dengan kata lain, teman kalian pasti menggunakan tengkorak dari mayat ini sebagai perantara untuk bermain Jelangkung. Untuk memulai permainan, biasanya selalu dimulai dengan sebuah mantra. Tapi karena perantaranya adalah tubuh manusia, kita harus persembahkan sedikit dari bagian tubuh kita juga. Dalam kasus ini, teman-teman kalian memakai darah mereka untuk memulai permainan tersebut.”
Yosi: “Bentar, itu kayaknya gak masuk akal deh. Jelangkung? Memanggil roh? Mana ada yang begituan.”
Juki: “Yos, (menepuk bahu) kalau kau tak percaya pada hantu dan semacamnya, berarti kau sudah tak percaya lagi kepada Tuhan.”
Santi dll: “Setuju, setuju.” (bertepuk tangan)
Juki: “Tapi anehnya, tengkorak itu tak ditemukan di ruangan ini. Mungkin dimasukkan ke tas oleh teman kalian yang menghilang saat itu, atau mungkin juga ada hewan yang mengambil kepalanya. Tadi kamu bilang kalau lorong yang tadi tertutup oleh lukisan?”
Yosi: “Waktu kita lihat bertiga, mulanya kita nggak sadar. Tapi begitu kelelawar itu muncul, lukisannya jadi bergeser dan memperlihatkan celah.”
Juki: “Kalau begitu mustahil untuk kemungkinan kedua.”
Lisa: “Kenapa?”
Juki: “Soalnya tengkorak itu sudah keluar dari ruangan ini saat teman kalian hilang, apa ada hewan yang bisa mengambil tengkorak dan mengangkat lukisan yang besar itu? Kecuali itu seekor gorila yang bisa mengangkatnya dengan dua tangan, hewan juga nggak mungkin nutup lubang yang dia sudah buka. Kemungkinan besar ini adalah perbuatan manusia, atau paling tidak arwah.”
Santi: “Kok kamu bisa pinter kayak gitu?”
Juki: “Cuman niru perkataan setan yang gua temui, ya sudah, bagaimana kalau kita semua cari kepala orang ini di seluruh rumah?”
Budi: “Ng… nggak perlu, (semua melihat Budi) sebenarnya…”

Budi mengambil tas ransel miliknya, membawanya ke hadapan mereka, kemudian mengambil sesuatu dari dalamnya. Perlahan-lahan, Budi mengeluarkan sesuatu, semua anak terkejut begitu melihat apa yang dia keluarkan. Sebuah tengkorak yang diikat dengan kain pada sebuah kayu yang berujung runcing, di ujung kayu tersebut terdapat noda darah yang sudah mengering. Juki menggaruk kepalanya, sedangkan Yosi jatuh terduduk dan menutup wajahnya.

Deni: “Sejak kapan kau bawa itu?”
Budi: “Se… sejak hari temen kita menghilang, mulanya gua lihat ini tertutup sama ransel.”
Yosi: “Kenapa lu ambil dan bawa pulang?!”
Budi: “Soalnya waktu kita nyari mereka, mereka tak ditemukan sama sekali. Jadi gua pikir…”
Juki: “Kau kira mereka ditangkap sama dia bukan?”
Budi: “I… iya, terus gua bawa ini pulang buat ngedapat informasi lebih dalam lagi. Te… terus…, dia bilang ke gua ka… kalau mau tahu soal mereka… gue harus kembaliin dia.”
Yosi: “Baru kali ini gue tahu kalau teman kita pecinta hal mistis.”
Budi: “Jadi begini… teman-teman, bisa nggak kalau… kita ngelakuin hal yang sama seperti teman kita dulu.”
Lisa: “Jelas tak bisa, kita memang nyari teman kita ke sini, tapi bukan dengan cara begini! Kamu tahu kan dia siapa?! Dia nggak mungkin bakal ngasih tahu kita!”
Budi: “Ta… tapi…”
Lisa: “Letakkan itu kembali ke tempatnya! Kita nggak mau kehilangan teman lagi!”
Santi: “Lis, sabar Lis. Jangan begitu, coba lihat, Budi sampai nangis.”
Juki: (mendesah) “Aduh, kalau begini jadinya. Iya deh, aku mau ngikut kamu.”
Lisa: “Juki!”
Juki: “Ini hanya untuk percobaan, kalau memang jelangkung ini tidak sesuai dengan yang diperkirakan alias tak berhasil, mari kita pulang dan hentikan pencarian.”
Santi: “Gue… gue juga ngikut.”
Deni: “Aduh, mau nggak mau aku juga ikut. Kalo kau Yos?”
Yosi: “Jujur ya, gua belum pernah lihat setan, tapi cuman kali ini aja gua mau ikut. Kalau nanti setannya nggak ada, harus ada yang ngegantiin pekerjaan buat beres-beres tenda.”
Juki: “Setuju, sekarang, bagaimana dengan lu, Lisa?”
Lisa: “Aku nggak…”
Juki: “Hanya untuk hari ini saja, kalo nanti pergi ke suatu tempat yang ada hal seperti ini lagi, kita nggak bakal ngelakuin.”
Lisa: “…ya sudah, cuman buat hari ini, usahakan jangan sampai mati.”
Juki: “Insya Allah, nggak bakal. Sebelum itu, mari kita minta ijin dan mohon ampun pada Allah karena telah melakukan hal ini. Berdoa, mulai.”

***

Beberapa saat kemudian, tetap di ruangan yang sama. Para remaja duduk melingkar, tengkorak itu diletakkan di tengah ruangan. Satu persatu dari mereka menusuk ujung jari telunjuk masing-masing, kemudian meletakkan kembali tengkorak itu di tengah. Budi meringis kesakitan sambil mengisap telunjuknya.

Juki: “Kenapa lu?”
Yosi: “Dia itu nggak tahan kalau ditusuk sedikit saja, dia pernah trauma sama jarum suntik.”
Deni: “Dasar, kenapa cuman ditusuk sedikit saja kau merasa tanganmu seperti habis ditusuk pisau?”
Budi: “Ini sakit banget deh, beneran!”
Juki: “Sudah, mendingan kita cepat mulai saja ritualnya terus langsung tidur.”

Akhirnya mereka mulai merapalkan mantra untuk memanggil sang arwah yang berbunyi sebagai berikut, ‘Jelangkung, datang tak dijemput, pulang tak diantar’ sebanyak tiga kali. Satu menit setelah mantra itu digumamkan dari mulut mereka, tak ada yang terjadi sama sekali. Yosi merasa telah dipermainkan, dia langsung berdiri dan pergi menuju pintu. Mendadak pintu menutup dengan kerasnya di hadapan Yosi, dia jatuh terduduk. Suasana di dalam ruangan mendadak dingin, cahaya dalam ruangan mulai redup dan membuat bayangan seolah-olah sedang menari. Api unggun itu padam perlahan-lahan, beberapa anak menyalakan senter. Semua berteriak saat melihat wajah Juki yang disinari lampu dari bawah.

Juki: “Ini aku, aku Juki! Yang diteriaki itu setannya, bukannya aku!”
Deni: “Kau ini ngaget-ngagetin saja, Yosi di mana?”
Yosi: “Di sini!” (berteriak dalam gelap)
Deni: (menyenteri dinding) “Di mana kau?”
Yosi: “Di depan lu!”
Santi: (menyenteri dinding yang lain) “Di mana? Kok nggak kelihatan?”
Juki: “Itu apa?” (menyenteri lantai)
Yosi: (posisi tiarap) “……”
Juki: “Kamu kira ini perang apa? Pakai tiarap segala.”
Lisa: “San… Santi…”
Santi: “Ada apa?”
Lisa: “Tolongin gua.”
Santi: “Kenapa sih?” (menyinari Santi)
Lisa: (dipeluk Budi) “Tolong lepasin gue dari pelukannya!”

Sekarang cahaya merah menyala dari dalam baskom yang berisi darah, darah di dalamnya mengeluarkan uap dan mendidih. Terdengar suara bergetar di tengah ruangan, Juki, Santi, dan Deni menyinari sumber suara tersebut. Mereka terbelalak, tengkorak itu berguling-guling dan berputar-putar, kemudian meloncat ke atas. Tengkorak itu sekarang terbang di langit, darah yang ada dalam baskom terbang seolah-olah disedot dan masuk ke dalam lubang mulut dan matanya. Sekarang tengkorak itu mengeluarkan cahaya merah dari mata dan mulutnya, mendadak dia berbicara.

?: “Siapa yang memanggil Raden Cahyapraga ini?”

Bagian 7

THE INVESTIGATION

Jam 6.30, Juki dan yang lain sedang makan nasi uduk bersama-sama, ditemani dengan secangkir teh. Mereka makan di depan rumah tua tersebut, Juki melihat rumah itu dengan seksama sambil makan. Dia berdiri kemudian berjalan mendekati sebuah patung singa, masih membawa sepiring nasi uduk dan secangkir teh. Yosi cs melihat Juki dengan heran.

Yosi: “Juki, ngapain lu?”
Juki: “Diam dulu.”
Deni: (berbisik pada Budi) “Pasti dia lagi meriksa ada apa nggaknya setan di sini.”
Juki: “Bukan, aku cuman mau tau apa ini patung bisa gua bawa buat pajangan di rumah.”
Yosi: “Ye, kirain apa.”
Deni: “Kok dia bisa dengar ya?”
Juki: “Jadi ini rumah yang katanya milik seorang dukun setan sekaligus gurunya kakek Ujang?”
Lisa: “Iya, katanya dulu dia sering mencari korban buat dijadikan tumbal, makannya dia menculik anak yang masih muda, yang masih remaja juga.”
Juki: “Oooh.”
Santi: “Konon belum ada yang bisa mengalahkan dukun itu, sampai suatu ketika seorang ulama datang untuk menghentikannya, dan dia menang.”
Budi: “Kemudian kakek Ujang menjadi penganut agama Islam setelah kekalahan gurunya.”
Juki: “Lantas, sejak kamu pertama ke sini sampai sekarang apa kakekmu masih suka pakai baju dukun itu?”
Lisa: “Dia pakai baju koko dan peci pada saat bulan puasa sampai Idul Fitri, pada saat Idul Adha, dan hari besar Islam lainnya dia begitu.”
Juki: (logat Rhoma Irama) “Itu sungguh ter-la-lu… baju seperti itu jangan hanya dikenakan pada saat seperti itu saja. Mestinya, baju itu juga dipakai untuk beribadah.”
Yosi cs: “Iya pak Haji.”
Juki: (sudah selesai makan) “Bicara soal ibadah, gua belum sholat sejak tadi, wah sepuluh menit lagi adzan. Nggak ada sumber air ya di dekat sini?”
Yosi: “Ada sungai di belakang rumah ini, tapi juga dipakai sebagai jamban di situ.”
Juki: “Mendingan gua tayamum saja deh.”

***

Beberapa saat kemudian mereka sholat di depan rumah tersebut, tetapi saat sedang sholat, angin kencang berhembus disertai suara barang berjatuhan di dalam rumah. Budi dan Yosi tak bisa berkonsentrasi dalam sholat, sementara Juki dan yang lain tenang-tenang saja. Setelah sholat Maghrib dan Ishak, akhirnya pencarian mereka dimulai.

Yosi: “Semuanya sudah siap?”
Deni: “Siap, aku bawa salib ama bawang putih.”
Juki: “Lu kate Drakula? Ini hantu tau.”
Deni: “Yee, siapa tahu ini ampuh.”
Juki: “Terserah lu deh, terus yang lain bawa apa?”
Yang lain: “Senter.”
Juki: “Baguslah, soalnya ini tempat kan gelap.”
Yosi: “Den, buka pintunya.”
Deni: “Lho, kenapa aku?”
Yosi: “Terserah gue dong, gua kan atasan.”
Deni: “Atasan sih atasan, kalau nanti ada yang nyerang terus aku mati gimana?”
Juki: “Aaaah, udah deh, daripada ribut mendingan aku yang buka.”
Lisa: “Wah hebat, lu berani juga.”
Juki: “Gitu aja kok takut, emang lu pernah lihat ada hewan buas apa sih di hutan ini?”
Santi: “Yah ada kayak ular, luak, kalong, juga tokek.”
Juki: (menjatuhkan senter) “Tolong jangan sebut kata itu.” (mengambil senter)

Melihat tingkah Juki, Yosi dan kawan-kawan saling pandang dan tersenyum, mereka memikirkan sesuatu yang buruk untuk Juki. Yosi mulai menghitung satu sampai tiga, dan bersama-sama mereka meneriakkan kata ‘tokek’. Juki terkejut setengah mati sehingga dia melempar senternya, kemudian jatuh terjerembab sehingga membuat pintu terbuka. Yosi cs tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Juki. Sadar bahwa dia diusili, Juki berdiri dengan wajah kesal dan mengambil kembali senter yang dia lempar.

Juki: “Ya, bagus, bagus. Sekalian saja kalian bunuh aku.”
Deni: “Coba lihat ternyata dia takut sama tokek!”
Yosi: “Nggak nyangka ya, setan lu nggak takut, tapi sama anak komodo aja takut.”
Juki: “Bukannya takut… cuman jijik.”
Lisa: “Sama aja kali. Emang kenapa sih takut sama gituan?”
Juki: “Aku nggak mau cerita, mengingatnya saja sudah membuatku trauma.”
Santi: “Ya sudah deh, maaf.”
Juki: “Tapi awas ya, lain kali tunggu pembalasan gua.” (wajah seram)
Yosi: “Ooh serem, ya udah kita berpencar. Gua bareng Lisa dan Santi, Juki bareng Deni dan Budi.”
Juki: “Entar dulu, entar dulu, kita ini mau investigasi atau apaan sih?”
Yosi: “Emang kenapa?”
Juki: “Masa lu bareng sama cewek, dua orang lagi. Emangnya lu mau bikin prostitusi?”
Yosi: “Enak aja, gua kan yang paling berani di sini. Cewek kan biasanya lemah, jadi gua wajib ngelindungin mereka.”
Juki: “Ngelindungin sih ngelindungin, tapi jangan bawa dua dong. Paling nggak harus ada satu cewek dan dua cowok dalam kelompok. Semua itu harus seimbang.”
Yosi: (bingung) “…banyak omong lu, gua pusing…”
Juki: “Ya udah, aku aja yang nentuin. Santi sini, Budi ke sono. (logat Rhoma Irama) Oh ya, Yos, nggak semua cewek itu lemah. Mereka itu juga setara dengan kita, mereka mungkin kelihatan lemah, tapi kekuatannya sebagai manusialah yang menjadikan hal itu setara.”
Semua (kecuali para gadis): “Iya pak Haji.”
Lisa dan Santi: (bertepuk tangan) “Setuju, salut, salut!”
Juki: “Jadi mulai dari mana kita mencarinya?”

***

Juki, Santi, dan Budi melakukan penyisiran di sebuah tempat yang sepertinya adalah dapur, di dalamnya terdapat kompor dengan bahan bakar kayu, sebuah kuali, uleg-uleg, dan sebuah kendi.

Juki: “Nggak nyangka ya, ternyata masih ada orang yang katrok begini.”
Santi: “Sudah tentu, bukankah gurunya kek Ujang itu dukun yang tinggal di pedesaan? Ngomong-ngomong kamu suka nonton Empat Mata ya?”
Juki: “Jelas, aku seneng nonton Tukul, dia itu binatang film favoritku.”
Budi: “Hahaha, bisa saja Juk.”
Juki: “Ngemeng-ngemeng nih, aku baru ingat ada sebuah rumah yang isinya lagu dangdut semua.”
Santi: “Rumah apaan tuh?”
Budi: “Pasti rumah karaoke ya?”
Juki: “Bukan.”
Santi: “Rumah yang isinya orang sedang ngerayain ultah?”
Juki: “Kagak.”
Budi: “Rumah penyanyi dangdut?”
Juki: “Dudu, tapi jawabanmu iku meh bener.” (bukan, tapi jawabanmu itu hampir benar.)
Santi: “Nyerah deh, rumah apaan sih?”
Juki: “Gitu aja nggak ngerti, denger ya dari jaman dulu sampai sekarang, rumah ini cukup terkenal. Bahkan rumah ini punya anak dan istri, berambut keriting dan berjenggot.”
Budi (bingung): “Emang ada rumah kayak begitu?”
Juki: “Kata kuncinya adalah ‘santai’ dan ‘terlalu’.”
Santi & Budi: “Rumah Irama!!”
Juki: “Bener!! Kalau begitu kalian mendapat satu kompor tradisionil bersama dengan sebuah kuali cantik!”

Mereka tertawa terbahak-bahak, Budi menahan perutnya yang kesakitan karena tertawa berlebihan. Santi sendiri sampai membungkuk dan menutup mulut untuk menahan tawanya, tapi apa daya, dari mulutnya tawa itu sudah tak bisa ditahan lagi.

Juki: “He, ternyata kau bisa tertawa juga?”
Budi: “Oh ma… maaf.”
Juki: “Nggak papa, lagian manusia juga punya hak buat ketawa. Kamu masih manusia kan?”
Budi: “I… iya.”
Juki: “Hanya saja, ada satu hal yang harus kamu ingat, jangan pernah tertawakan orang baik yang punya impian dan merendahkannya walau impian itu mustahil.” (melihat ke dalam kendi)
Budi: (tersentuh) “Kamu bisa juga bicara keren begitu.”
Juki: “Apa ini?”
Santi: “Kenapa? Lu nemuin sesuatu?”
Juki: (mengangkat kendi) “Ada sesuatu di dalam sini, (memasukkan tangan) hmm, keras. Ada sedikit basah, ada bulunya juga.”

Juki membalikkan kendi dan mengeluarkan isinya, isi kendi tersebut jatuh ke lantai. Ternyata isinya adalah bangkai tikus beserta kecoa hidup, Budi dan Santi kaget dan berteriak sambil meloncat-loncat. Beberapa saat kemudian, suara gaduh yang dibuat Budi dan Santi berhenti. Sekarang mereka berada di luar rumah, Juki sendiri sedang menggali tanah dan mengubur bangkai-bangkai tersebut.

Juki: “Hahahah, kalian ini baru melihat mayat hewan saja sudah takut, bagaimana dengan mayat manusia?”
Santi: “Jangan gitu ah, gua ngelihat aja jijik.”
Budi: “Gua sendiri mau muntah.”
Juki: “Itu tadi balasan lu nertawain gue, sekarang giliran gue yang nertawain lu. Impas, hahahah.”

###

Sementara itu, Lisa, Deni, dan Yosi berada dalam sebuah lorong yang di dindingnya berderet lukisan kuno. Di salah satu lukisan tersebut ada gambar seorang pria paruh baya yang memakai baju adat Jawa Tengah, hanya lukisan itu saja yang memiliki bingkai besar. Gambar lainnya hanyalah pemandangan alam, desa, dan kota kecil.

Deni: “Jadi ini gurunya kakek Ujang? Nggak nyangka, kau tahu tidak namanya siapa?”
Lisa: “Raden Cahyapraga.”
Yosi: “Raden? Berarti dia bukan dari daerah sini?”
Lisa: “Dia orang asli Jawa Tengah, kakek bilang dia pindah ke sini saat kakek umur enam belas tahun.”
Deni: “Memangnya sekarang umur kakekmu berapa?”
Lisa: “Tujuh puluh dua kurang tiga bulan, kalau dihitung…”
Yosi: “Ah nggak usah dihitung, ribet tau nggak?”

Mendadak terdengar suara seperti ada yang beterbangan dari atas, Yosi, Deni dan Lisa melihat ke atas. Di sebuah langit-langit yang berlubang, dari situlah suara tersebut berasal. Deni menyorot lubang tersebut dengan senternya, terlihat sesuatu yang kecil bergerak-gerak dengan cepat, bahkan terdengar suara mencicit dari dalamnya. Yosi baru menyadari sesuatu, mendadak dia tiarap dan menjatuhkan Deni dan Lisa. Lisa jatuh menimpa Deni, senter yang dipegang Deni jatuh ke bawah, mendadak muncul kelelawar yang beterbangan keluar dari atap. Yosi memerintahkan mereka untuk tetap tiarap dengan isyarat tangan. Setelah seluruh kelelawar itu pergi, mereka kemudian berada di dalam kegelapan tanpa bisa melihat apapun.

Yosi: “Den, senternya kamu jatuhkan ya?!”
Deni: “Maaf! Terima kasih untuk yang tadi.”
Yosi: “Ke mana Lisa?”
Deni: “Macam mana pula kau? Mana aku tahu di tengah kegelapan seperti ini, kau jangan jatuh di tubuhku, berat ini.”
Yosi: “Gua sekarang berdiri, mana mungkin gua nindihin lu!” (meraba-raba)
Deni: “Lantas yang menindihku ini…?”
Yosi: “Ini dia senternya. (menyalakan senter) Terus di mana… lu?” (melotot)
Deni: “Oooh.” (tersenyum kecil)
Lisa: “G… GYAAAAH!!”

Suara teriakan Lisa bergaung di lorong. Saat ini Juki, Santi, dan Budi sedang berada di depan rumah, Juki sedang mencangkul tanah, di sebelahnya terdapat kendi yang berisi bangkai tikus, Santi dan Budi duduk di depan tenda sambil mendengarkan radio.

Santi: “Kenapa lu nguburin gituan?”
Juki: “Temenku pernah ngomong, setiap makhluk itu punya nyawa dan makhluk hidup itu adalah sesuatu yang layak untuk dikasihani. Tikus-tikus ini dibiarkan membusuk di tempat itu setelah dibuat entah apa itu, jadi lebih baik kalau mereka hidup tenang juga di akhirat.”
Budi: “Memangnya hewan bisa tinggal di surga?”
Juki: “Aku sampai sekarang nggak tau, tapi begitulah.”
Santi: “Kalau tokek?”
Juki: (menjatuhkan cangkul) “Bisa jangan bicarakan itu? Pokoknya begini deh, aku ini berani megang mayat apapun bentuknya, walau itu hewan yang kutakuti.”
Budi: “Hebat juga Eric ngajarin begitu sama lu.”
Juki: “Siapa bilang Eric yang ngomong?”
Budi: “Eh, bukan ya?”
Juki: “Kau pikir temanku hanya ada satu? Memangnya kalian ini bukan temanku?”
Santi: “Ah maaf deh, kami nggak bakal ngomong lagi.”
Juki: “Budi yang ngomong masa kamu yang minta maaf?”
Budi & Santi: “Oh maaf!”
Juki: “Kalian sungguh aneh.”

Dia teringat kembali saat Eric sedang mengubur tikus yang diletakkan di meja saat kasus Beni. Kembali ke tempat Yosi, sekarang di pipi Deni membekas telapak tangan warna merah. Yosi sendiri sedang menyenteri lukisan yang tadi mereka lihat, sedangkan Lisa hanya bisa melipat tangan di dadanya sambil menggembungkan pipinya.

Deni: “Kan itu tadi kecelakaan.”
Lisa: “Emangnya pakai meluk-meluk itu kecelakaan?”
Deni: “Itu tadi refleks, tak sengaja aku memeluk kau.”
Lisa: “Tak sengaja apanya, kenapa malah senyum-senyum pas tau gue nibanin lu?! Ini pasti sudah dari tadi kamu tau, tapi nggak bilang-bilang!”
Deni: “Lah, macam mana pula kau?! Kalau gelap mana bisa aku melihat tolol!”
Yosi: “Udah-udah, Deni bantuin gue!”
Deni: “Ada apa?”
Yosi: “Coba lihat.”

Di hadapan Yosi dan Deni, lukisan Raden Cahyapraga sedikit miring dan menampakkan sebuah celah. Yosi mencoba mengangkat lukisan tersebut bersama Deni, tetapi karena tidak kuat, akhirnya lukisan tersebut jatuh dan memecahkan jendela, beberapa kelelawar terbang dari dalam dan keluar dari jendela. Pada saat itu Juki, Santi, dan Budi sedang berada di belakang rumah, di sebuah sungai yang terdapat sebuah jamban. Budi jatuh terduduk, Santi sedang berdiri di depan sungai, dan kepala Juki menyembul dari dalam jamban.

Budi: “Itu dia! Itu setannya!”
Santi: “Bego! Itu kan cuman kaca pecah!”
Budi: “Iya kaca pecah itu gara-gara setannya!”
Santi: “Bego, lihat baik-baik itu bukan setan! Cuman kalong!”
Juki: “Ah berisik! Aduh mana perutku sakit lagi, biarin aja! Ada yang bawa tisu nggak?!”

Kembali kepada Yosi dan Deni, ternyata di balik lukisan yang bertengger sudah ada sebuah jalan rahasia yang diterangi dengan obor menuju ke bawah. Yosi, Deni dan Lisa, tampak sedikit ragu untuk memasukinya.

Yosi: “Buset, nggak nyangka gue bisa nemuin jalan ini, rasanya kita harus berterima kasih pada kelelawar tadi.”
Deni & Lisa: “Bener.”
Lisa: “Yang tadi itu perkecualian lho.” (menatap Deni)
Deni: “Sudah kubilang itu nggak sengaja.” (menutup muka)
Yosi: “Kita masuk aja ya? Gue penasaran di ujungnya ada apaan.”
Lisa: “Jangan, siapa tau ada perangkapnya.”
Yosi: “Kebanyakan nonton film lu, ayo masuk!” (langsung masuk)
Lisa: “Dibilangin kagak percaya.” (mengikuti Yosi)
Deni: “Tunggu!”

Mereka berjalan menyusuri lorong tersebut sehingga sampai di sebuah pintu kayu dengan hiasan tengkorak kambing, Yosi ingin membuka pintu tersebut tapi dicegah oleh Lisa dan Deni.

Yosi: “Kenapa lu?”
Lisa: “Jangan masuk dulu, kalau nanti ada yang nyerang gimana?”
Deni: “Iya, barangkali setan itu sudah menunggu di dalam.”
Yosi: (berkacak pinggang) “Lu kebanyakan nonton film, setan itu nggak ada di dunia ini, setan cuman ada di neraka.”
Lisa: “Lu aja kagak pernah lihat.”
Yosi: “Emangnya lu pernah lihat?”
Lisa: “Nggak sih.”
Yosi: “Nggak pernah liat setan aja udah takut, lu ini kebanyakan nonton film horror. Ini pintu jadi dibuka nggak?”
Deni: “Ya udah deh dibuka aja.”
Yosi: “Serius nih? Kalo gitu gua mulai buka ya?”
Lisa: “Kalo lu dilahap ama itu setan, gue nggak tanggung jawab lho.”

Akhirnya pintu itu dibuka oleh Yosi, secercah cahaya merah muncul dari balik pintu. Begitu pintu dibuka, mereka terperangah karena melihat sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Bagian 6

HORROR CAMP

Setelah tumbangnya pemerintahan tangan besi yang dipimpin oleh Beni, seluruh isi kampus bersorak sorai merayakan kemerdekaan mereka. Para mahasiswa dan mahasiswi melakukan pawai keliling universitas, beberapa mobil pick up mengangkut mahasiswa yang menembak dengan pistol air ke atas. Di baris terakhir pawai, sebuah mobil sport yang disetir oleh Juki, dan mengangkut Eric beserta Yosi dan yang lain. (kalian tahu siapa) Mereka melambaikan tangan pada para pelajar, Eric sendiri terlihat sedang menyuapi Juki. Ternyata dia menyetir sambil makan, dia lalu menjitak Eric. Otomatis dia mengambilkan Juki sebuah botol minuman. Eric mencoba membukanya, mendadak botol itu mengeluarkan air dan menyiram wajah Juki. Mendadak Juki sadar bahwa dia sedang bermimpi, dia terbangun dalam kamarnya yang penuh dengan poster pemain bola. Di sebelahnya sudah berdiri Pak Marzuki, sedang memegang ember. Ternyata dia baru disiram oleh ayahnya.

Juki: “Bapak! Bisa bangunin pakai cara normal nggak sih?!”
Pak Marzuki: “Gimana gua nggak mau nyiram lu? Dibangunin biasa, kepala gua malah lu jitak!”
Juki: “Tapi paling nggak biarin aku tidur lagi, mimpi indahnya jadi keputus nih.” (tidur lagi)
Pak Marzuki: “Kagak bisa, lu lupa kalau lu mau kemping sama temen lu? Tuh teman lu nungguin di depan.”
Juki: (diam sebentar) “…waduh…”

Juki keluar dari kamarnya secepat kilat sambil membawa pakaian lengkap dan handuk, dia langsung masuk kamar mandi begitu saja, Pak Marzuki hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Beberapa menit kemudian, Juki keluar terburu-buru sambil membawa tas ransel besar. Dia langsung meloncat ke dalam sebuah mobil pick up, dan duduk sambil terengah-engah.

Juki: “Untung sempat.”
Deni: “Ngapain kau?” (kepalanya keluar dari jendela)
Juki: “Kok ngapain, ya mau pergi kemping.”
Deni: “Turun, turun, yang lain belum datang kok.”
Juki: “Eh? Lho kok?”
Deni: “Kau kan bilang sendiri, kalau ngumpulnya di rumah kau kan?”

Juki melihat sekitar, memang yang ada hanya mobil pick up yang dikendarai oleh Deni. Tak terlihat siapapun di mobil tersebut kecuali Deni.

Juki: “Jadi cuman lu yang baru datang?”
Deni: “Ya iyalah.”
Juki: “Bapak! Bilang dari tadi dong kalau yang datang si Nagabonar saja, sia-sia deh aku mimpi indah!”
Deni: “Nagabonar dia bilang.” (bicara pelan)
Pak Marzuki: (keluar dari rumah) “Salah lu sendiri, main langsung mandi aja. Paling nggak lu sarapan dulu, lu belum sarapan kan?”
Juki: (perut keroncongan) “Iya juga sih.”
Pak Marzuki: “Sekalian ajak temen lu.”
Deni: “Tidak usah pak, saya sudah makan di rumah tadi.”
Juki: “Kalau begitu tunggu sebentar di sini, nanti kalau mereka datang klakson saja.” (masuk ke dalam rumah)
Deni: “Beres.”

###

Dua jam kemudian, Juki bersama Yosi dan yang lain sudah berada dalam pick up yang dikemudikan oleh Deni, Yosi duduk di sebelah Deni. Sedangkan Juki bersama Santi dan yang lain, duduk bersila sambil main kartu. Juki mengambil tempat minum dan langsung meneguk isinya sampai habis. Dia langsung meletakkan kartunya, memakai tudung, kemudian tidur.

Santi: “Kenapa Juk?”
Juki: “Gua udahan deh, capek.”
Lisa: “Baru main lima belas menit kok capek? Olahraga aja nggak.”
Juki: “Bukan capek begituan, tapi panasnya nih.”
Budi: “Iya, panas banget. Mataharinya terik lagi.”
Lisa: “Ya ampun, Juk, yang santai gitu dong. Gua aja nggak papa.”
Juki: (bangun) “Lu enak ngomong gitu, bawa kipas angin sendiri. Lebih enak tuh yang di depan, pakai ac.” (menunjuk ke bangku supir)
Yosi: (menyembulkan kepala) “Jangan ngeluh dong, gue kan ketua jadi wajar kalau di depan, yang tau arahnya kan cuman gua.”
Juki: (menggumam) “Gombal.”
Yosi: “Tapi sayang sekali, Eric nggak ikut.”

Juki teringat pada kejadian lima hari yang lalu, di sebuah taman kota. Eric, Juki, Yosi dan kawan-kawan berkumpul, mereka berkumpul untuk membicarakan sesuatu.

Eric: “Going camp?” (pergi kemping?)
Yosi: “Iya, kita bakal pergi berkemah ke tempat biasanya kita berkemah.”
Eric: “Dalam rangka apa? Bukankah perayaan kemenangan itu sudah dirayakan?”
Lisa: “Kita mau ngajak lu liat-liat, pemandangan, mancing, dan out bond.”
Eric: “Kalian jujur saja, sebenarnya ada apa?”
Yosi: “Eh?”
Eric: “Dari tadi kulihat, Budi gemetaran. Sedangkan kamu, matamu selalu bergerak ke kanan atas. Pasti ada apa-apa kan?”
Budi: “Yos, kita jujur aja deh. Kita nggak bisa bohong ama dia.”
Yosi: “Sebenarnya…”
Santi: “Kami mau minta tolong sama lu.”
Deni: “Iya, soalnya yang bisa dimintai tolong cuma kamu.”
Eric: “Then tell me.” (maka beritahu aku)
Lisa: “Sebenarnya kami ingin melakukan pencarian terhadap teman kami yang hilang saat berkemah.”
Santi: “Kejadiannya sekitar tiga semester yang lalu, teman kami sesama kelompok pecinta alam hilang.”
Yosi: “Mereka hilang di hutan tempat kami berkemah, yang kami temukan dari mereka cuman ransel mereka doang.”
Deni: “Nah, ada kemungkinan mereka dimakan ama binatang buas.”
Budi: “Mungkin juga mereka diculik setan penunggu hutan itu.”
Yosi: “Jangan ngaco ah, mana ada setan.”
Budi: “A… ada kok.”
Juki: “Sudah, sudah, jangan pada ngeributin ada apa nggak itu setan.”
Eric: “I refuse.” (kutolak)
Semua: “Eh?”
Yosi: “Kenapa?”
Eric: “I still have a job that I must do this month.” (aku masih ada pekerjaan yang harus dilakukan bulan ini)
Deni: “Alah lupakan aja, pekerjaan itu.”
Eric: “I must babysit someone this month, if I’m not there, he will cry.” (aku harus menjaga seseorang bulan ini, jika aku tak di sana, dia akan menangis.)
Juki: “Berarti kalau anak yang dijaga itu dibiarkan, dia bakal nangis, nanti dia juga bakal mati kelaparan. Kalian tega ya?”
Eric: “He is alone, without his parents, I can’t imagine what happen if I wasn’t there.” (dia sendirian, tanpa orang tuanya, aku tak bisa bayangkan apa yang terjadi jika aku tak di sana)
Juki: “Tuh kan.”
Eric: “Karena itu Juki akan mewakiliku.”
Juki: “Bet… tul? Bentar. (berbisik pada Eric) Entar dulu nih, mase gue?”
Eric: “Kenapa tidak? Kau kan yang sudah kenal mereka lebih lama.”
Juki: “Yang bener aja, gua gak punya pengalaman kemah.”
Eric: “Kau mau bilang kau takut pada hantu itu?”
Juki: “Gue bukan takut hantu, tapi pada… yang melata itu…”
Eric: “Heh, so you still afraid with reptiles?” (heh, jadi kau masih takut dengan reptil)
Juki: “Pokoknya nggak deh.”
Eric: “Ikut saja, atau kau mau aku melakukan ‘itu’?” (mengepalkan tangan dan menjilatnya)
Juki: (manyun) “Iya… iya, iya! Gua ngerti!”
Eric: “Then it’s been decided.” (maka ini sudah diputuskan)
Juki: “Heh, gua bakal ngegantiin dia, kapan berangkat?”
Lisa: “Juki sendiri tuh yang bilang.”
Santi: “Ikhlasin aja deh Yos.”
Lisa: “Emang umur anak yang lu jaga berapa sih?”
Eric: “Ten.” (sepuluh)
Yosi: (melihat kanan kiri, kemudian mendesah) “Ya sudah deh, gua lepasin lu. Tapi lain kali lu mesti bantuin gue.”
Eric: “Off course, if you really want help, I’ll give it for you anytime.” (aku bisa memberimu nasihat, jika kau sungguh mau bantuan, akan kuberikan pada kalian kapanpun)
Lisa: “Pasti anaknya besar ya?”
Eric: “Yeah, a big baby.” (ya, bayi yang besar)

###

Sementara itu di sebuah lapas, Eric diantar ke sebuah sel bersama seorang sipir. Di dalam sel itu ada Beni yang sedang sholat, sang sipir meninggalkan Eric sendirian bersama Beni. Beni yang baru selesai sholat, melihat Eric dan langsung diam.

Eric: “Yo.”
Beni: “Kamu…”
Eric: “Bagaimana keadaanmu?”
Beni: “Alhamdulillah, baik. Bagaimana dengan teman-teman?”
Eric: “‘Teman-teman’ yang mana yang kau maksud?”
Beni: “Mereka… yang pernah kusakiti.”
Eric: “They’re same like me, they’re fine.” (mereka sama sepertiku, mereka juga baik saja)
Beni: “Alhamdulillah, syukur, kalau begitu. Aku baru menyesali perbuatanku saat itu, sudah lama aku menyakiti mereka.”
Eric: “All humans have regret, but don’t expect that they will forgive you.” (seluruh manusia punya penyesalan, tapi jangan kira bahwa mereka akan memaafkanmu)
Beni: “Kalau begitu aku akan mulai berubah.”
Eric: (membelakangi Beni) “Itu bagus, semoga di lingkungan baru nanti kau mendapat teman baik.”
Beni: “Kau mau ke mana?”
Eric: “Just escorting my friends.” (hanya mengawal temanku)

###

Di sebuah desa terpencil di Jawa Barat, Deni memarkirkan mobilnya di depan sebuah gubuk. Yosi dan kawan-kawan turun dari mobil, Juki beserta anak lelaki lainnya menurunkan barang-barang. Seorang kakek berpenampilan seperti dukun keluar dari gubuk, jenggotnya yang putih panjang bergerak melambai-lambai.

Lisa: “Assalamualaikum, kakek.”
Aki Ujang: (logat Sunda) “Walaikumsalam, kumahak kabarnya orang tua kamu?”
Lisa: “Alhamdulillah baik, kakek sendiri gimana? Sehat?”
Aki Ujang: “Seperti yang kamu lihat, kakek teh masih bisa jalan, masih bisa bernafas atuh.”
Juki: “Siapa kakek itu?”
Santi: “Kakeknya Lisa, dia orang yang tahu seluk beluk hutan ini, biasanya kami panggil aki Ujang.”
Juki: “Bilang aja juru kunci, mbak.”
Yosi: “Katanya dia dulu dukun, tapi sekarang udah tobat.”
Lisa: “Kakek masih pakai baju beginian? Baju yang dikasih ama papi mami dikemanain?”
Aki Ujang: “Aki teh belum biasa pakai baju begitu atuh, lagipula sudah berapa kaos yang ibu ayahmu berikan? Coba lihat ke dalam.”

Aki Ujang membawa Santi ke dalam rumah, dia diantar ke sebuah lemari kecil. Aki Ujang membuka pintu lemari tersbut, Lisa terkejut ketika melihat banyak kaos oblong menumpuk di dalam lemari.

Aki Ujang: “Kalau setiap orang tuamu ke sini selalu bawa kaos, lama-lama kan bosan. Coba yang lain, kamu nggak bawa kaos lagi kan hari ini?”
Lisa: “Ya, nggak lah, kakek teratur nggak makannya? Sekarang Lisa bawa kakap asam manis buatannya mami.”
Aki Ujang: “Itu baru cucu aki. Aki teh tiap hari bisanya cuma makan ubi atuh.”
Lisa: “Kalau emang nggak suka sama itu kaos, kasihin aja ama warga kampung tempat kakek tinggal.”
Aki Ujang: “Tapi… itu tak mugkin...”
Lisa: (diam sebentar) “Apa kakek… sedang dijauhi warga lagi?”
Aki Ujang: “…”
Lisa: “Sabar aja kek, pasti ada kan beberapa orang yang mengunjungi kakek?”

Juki sendiri masih berada di luar sambil mendengarkan pembicaraan tersebut, Yosi dan yang lain meletakkan tas ransel mereka di tempat duduk anyaman.

Juki: (berbisik) “Apa kakeknya Lisa seperti itu? Dijauhi orang…”
Yosi: “Waktu kami berkemah sebelum ini, aki Ujang pernah menunjukkan kami tempat berkemah yang bagus di dekat danau. Tapi kek Ujang pernah ngingatin agar kami nggak masuk ke dalam rumah tua yang ada di hutan, tapi…”
Juki: “…tapi beberapa temanmu tak peduli dan masuk begitu saja kan?”
Yosi: “Iya… dan ketika kami masuk, yang ditemukan cuman tas ransel mereka doang. Walau sudah bukan dukun lagi, sampai sekarang warga masih menuduh aki Ujang sebagai dukun setan, soalnya aki Ujang dulu pernah jadi murid penunggu rumah tersebut.”
Juki: “Memang dulu siapa penghuni rumah itu?”
Yosi: “Katanya sih dukun ilmu hitam, dia pernah ngeresahin warga dulu sekali.”
Lisa: “Itu sudah cerita jaman dulu.”
Juki: “Lisa! Baru keluar?”
Lisa: “Udah dari tadi, jangan ngegosipin kakek gua Yos. Kakek sudah jadi muslim puluhan tahun lalu, dia bukan lagi penganut ilmu hitam.”
Yosi: “Maaf Lis, habis gue ditanya Juki.”
Juki: “Lha wong sing ngomong mbahmu dukun iku Yosi kok, dudu aku.” (yang bilang kakekmu itu dukun Yosi, bukan aku)
Aki Ujang: “Ada apa Lis?”
Lisa: “Nggak kek, teman Lisa ini.”
Juki: “Perkenalkan saya Juki.”
Aki Ujang: “Temannya Lisa ya?”
Juki: “Dari dulu, saya kenal cucu aki pas masuk universitas, teman satu kampus. Saya baru datang ke daerah ini, ngegantiin teman saya buat investigasi.”
Aki Ujang: “Investigasi? Apa maksudnya atuh?”
Juki: “Kata lainnya memeriksa.”
Aki Ujang: “Memeriksa apa?”
Juki: “Tentu saja fenomena di balik hilangnya beberapa teman dari Lisa.”
Aki Ujang: “Pulang.”
Juki: “Eh? Tapi…”
Aki Ujang: “Ini bukan permainan anak-anak, cepat pulang!”
Lisa: “Kek, kakek, sabar dulu. Kami cuman mau nyelidikin kenapa mereka bisa hilang.”
Aki Ujang: “Tapi itu tetap saja berbahaya, kalian tak menyayangi nyawa kalian sendiri?”
Santi: “Biarpun begitu kami hanya ingin memeriksanya sebentar, sebelum malam datang.”
Deni: “Ayolah, hanya satu hari ini saja.”
Aki Ujang: “…kalian yakin?”
Juki: “Kek, mungkin saya baru kenal kakek, tapi kami akan memeriksanya. Walau dilarang atau tidak, hidup mati kami hanya ada pada Tuhan.”
Deni: (tepuk tangan) “Bisa juga kau bicara begitu.”
Juki: “Itu memang kenyataannya kok.”
Aki Ujang: “…baiklah, hanya satu hari ini kemudian kalian pergi dari sini.”

Mendadak datang lemparan batu, disusul suara orang-orang yang marah. Sekitar belasan warga desa mengerumuni gubuk aki Ujang dengan membawa cangkul dan sabit, beberapa ibu-ibu melemparkan batu kerikil ke gubuk. Mereka berteriak-teriak agar aki Ujang bertanggung jawab dan pergi dari kampung. Sampai akhirnya beberapa orang keluar dari tengah kerumunan, menenangkan warga yang sedang marah. Satu di antara mereka sepertinya adalah kepala desa, dengan baju batik dan peci hitam.

Kades: “Tenang, tenang! Saudara-saudara sekalian, semuanya tolong tenang! Tenang semuanya! Ada masalah apa ini?!”
Warga pria 1: “Aki Ujang harus keluar dari desa ini!”
Warga pria 2: “Benar dia sudah membuat keresahan bagi warga!”
Kades: “Apa maksud kalian?”
Warga wanita 1: “Kemarin seorang anak hilang lagi, dia pasti sudah menjadikannya tumbal buat gurunya!”
Warga pria 1: “Betul! Guru dan murid sama saja!”
Warga pria 2: “Usir dia! Bakar rumahnya!”
Lisa: “Diaaam!! Kakek saya bukan lagi penganut ilmu hitam!”
Warga wanta 2: “Bohong! Lihat dia! Dari penampilan itu sudah jelas dia adalah dukun setan!”
Kades: “Nak Lisa, lebih baik serahkan ini pada saya. Mundurlah dulu.”
Lisa: “Tapi…”
Warga pria 2: “Pasti mereka juga memihak dukun setan itu, lebih baik kita seret mereka!” (warga ricuh)
Juki: “MENENG KABEH, WONG EDAN!!” (diam semua, orang gila!)

Terdengar suara sangat keras dari belakang Yosi dan kawan-kawan yang membuat semua orang menutup telinga, ternyata Juki berteriak menggunakan pengeras suara, terdengar dengingan keras dari pengeras suara setelah Juki berteriak.

Juki: “Maaf, sodara-sodara karena telah mengganggu hak bicara kalian, tapi maaf, kami juga punya hak untuk bicara.”
Deni: (menghampiri Juki) “Sejak kapan kau bawa begituan?”
Juki: “Dari tadi, sekarang biarin aku ngomong. Sodara-sodara sekalian, saya ingin bertanya. Sejak kapan peristiwa anak hilang ini terjadi?”
Pak Kades: “Sejak hilangnya anak-anak dari universitas itu, satu setengah tahun lalu.”
Juki: “Lalu sudah berapa anak yang hilang?”
Warga pria 3: “Sekitar enam anak, salah satunya anak saya.”
Warga wanita 2: “Anak saya juga.”
Juki: “Lantas kalian langsung menyalahkan orang ini?”
Warga pria 2: “Habisnya, yang ada hubungannya sama setan hanya aki Ujang saja.”
Juki: “Satu pertanyaan penting bagi kalian, apakah kalian semua Islam?”
Seluruh warga: “Ya.”
Juki: “Pernah kenal istilah su’udzon atau tidak? (semua warga diam) Kalian sungguh memalukan! Padahal orang Islam, tapi sudah menuduh seenaknya tanpa bukti otentik! Kalian itu pasti rajin sholat bukan? Rajin mengaji? Bisa baca Al-Qur’an? (seluruh warga menundukkan kepala) Kalau begitu begini saja, kami akan menyelesaikan masalah ini.”
Warga pria 1: “Bagaimana caranya?”
Juki: “Kami akan pergi ke rumah di mana rekan-rekan kami hilang, Insya Allah kami akan berusaha untuk menemukan mereka.”
Warga wanita 3: “Lantas bagaimana jika kalian tak menemukan mereka?”
Juki: “Kalian bebas melakukan apa saja pada kami, silahkan, mau dibakar, disate, digantung, dipenggal sekalipun terserah kalian. Pastikan saja kalian semua ikut mendoakan kami dalam pencarian ini, setuju?”
Seluruh warga: (berdebat beberapa detik) “Setuju!”
Juki: “Bagus, jadi kalian silahkan meninggalkan tempat ini dengan tenang. Wasalamualaikum.”

Akhirnya seluruh warga meninggalkan tempat, terkecuali pak Kades. Juki mematikan pengeras suara itu dengan dikelilingi oleh Yosi dan kawan-kawan. Juki langsung bingung sambil lihat kanan kiri.

Juki: “Kenapa?”
Yosi: “Lu kok bisa kayak gitu?”
Deni: “Darimana kau belajar bicara seperti itu?”
Juki: “Sudah pengalaman, saat demo di depan KPU, DPR, MPR.”
Budi: “Ta… tapi masalahnya jadi tambah runyam nih. Kalau nggak berhasil kita bakalan dicincang!”
Juki: “Tenang aja, kita serahin aja pada nasib kita dan pencipta kita, betul?” (logat Rhoma Irama)
Yosi dan kawan-kawan: “Iya pak haji.”
Kades: “Terima kasih sudah menenangkan amarah warga, nak…”
Juki: “Juki.”
Kades: “Nak Juki. Apa nak Juki serius mau pergi ke sana?”
Juki: “Yah pak, apa boleh buat. Saya terpaksa ngikut, habisnya ini permintaan teman saya.”
Yosi: “Jadi lu nggak ikhlas nih?”
Juki: “Bukan gitu, gua nolongin kalian sukarela kok.”
Kades: “Lantas apa yang nanti nak Juki akan lakukan?”
Juki: “Cuman mau periksa dulu, kalau nanti keadaan jadi tambah buruk saya mungkin akan panggil bantuan. Tapi… yang saya tahu sekarang adalah, hari ini tak ada yang akan mati.”

***

Akhirnya Yosi cs berangkat ke pedalaman, sudah tiga jam mereka berjalan kaki. Waktu menunjukkan jam 4.30, langit yang tadinya berwarna biru sudah menjadi kuning kemerahan. Juki terlihat terengah-engah, wajahnya terlihat kecapekan dan mengeluarkan banyak keringat.

Juki: “Entar, entar dulu. Istirahat dulu ya?” (jongkok)
Budi: “Lagi?”
Yosi: “Baru berapa menit kamu istirahat tadi? Sudah tiga puluh menit, baru minta lagi?”
Juki: “Jangan samain gue kayak kalian, aku masih mending kalau jalan di trotoar. Masalahnya kalau di hutan kan jalannya nggak lurus, mesti ngelewatin semak-semak.”
Deni: “Lalu apa masalah kau?”
Juki: “Setiap kita lewat semak-semak, selalu saja ada serangga masuk ke sepatu.”
Santi: “Ayolah Juki, sebentar lagi kita sampai kok. Gitu aja dipermasalahin.”
Juki: “Bentar lagi mulut lu sowek? Dari tadi bilang bentar, tapi nggak nyampai sampai sekarang. Gua ini baru pertama kemping di hutan, jadi belum biasa. Lagipula… sepatu gua sampai terengah-engah gara-gara kebanyakan jalan.”
Lisa: “Maksud lo?”

Juki menunjukkan sepatunya kepada Yosi cs, mereka melihat sepatu yang Juki pakai sekarang berlubang sehingga memperlihatkan kaos kakinya yang berwarna merah. Sepatunya mirip dengan mulut yang terbuka, dan kaos kakinya mirip dengan lidah. Yosi dan yang lain tertawa terbahak-bahak melihat hal tersebut.

Lisa: “Ya ampun, Juki. Kalau begitu kasih aja sepatu lu minum.”
Yosi: “Iya lebih mirip anjing lagi kepanasan!”
Juki: “Sialan lu.”
Deni: “Kau perlu lem? Hahaha.”
Juki: “Terima kasih, lu nawarin apa nyindir sih?” (tak sadar ada tokek masuk ke dalam sepatunya)
Budi: “Kamu ganti aja sepatunya, kebetulan aku bawa sepatu boot.” (menyerahkan sepatu)
Juki: “Oh, betapa baiknya. (melepaskan sepatu) Kalau begini gue mesti ngucapin terima… (saat menerima sepatu boot, kepala tokek muncul) kasih?”

Dalam waktu beberapa detik, terdengar suara teriakan disertai terbangnya burung yang ketakutan dari pepohonan.

***

Jam 6.00, mereka sampai di tempat yang dimaksud. Sebuah rumah tua terbuat dari kayu, beberapa pilarnya patah, engsel jendelanya hampir lepas, di depannya ada dua patung singa yang sedang mengaum. Yosi cs menurunkan barang bawaannya, sepertinya barang bawaan mereka bertambah. Sebuah tandu yang dibawa Budi dan Deni diturunkan, ternyata Juki tergeletak pingsan di atas tandu tersebut. Sambil geleng-geleng kepala, mereka menurunkan Juki pelan-pelan.

Yosi: “Terus kita apain dia?”
Deni: “Dasar, baru ngelihat tokek saja sudah begini. Kalau komodo bagaimana?”
Santi: “Udah Den, mendingan kita tunggu aja sampai dia bangun.”
Lisa: “Oh iya, sembari kita nungguin dia bangun, gimana kalau kita makan dulu?”
Budi: “Wah, kebetulan. Sekarang aku bawa bekal nasi uduk.”
Juki: “Nasi goreng ada nggak?” (mendadak bangun)

Seluruh anak menoleh ke belakang dan diam, beberapa saat kemudian. Saking kesalnya mereka melemparkan tas ransel mereka ke arah Juki, seluruh tubuhnya tertimbun tas ransel sehingga hanya terlihat tangannya saja.

Yosi: “Yeee, bangun kalau ada makanan.”
Juki: “Maaf, maklum lapar.”
Deni: “Maklum, kepalamu itu. Bayangkan betapa capek aku ngangkat kau.”
Juki: “Tadi gue pingsan ya?”
Lisa: “Ya iyalah, lu mau gua kasih tokek barusan?”
Juki: (berdiri) “Ogah, ogah, kalau gini aku pulang aja.”
Santi: “Jangan ngambek dong Juk, kamu makan aja dulu, terus kita ke dalam rumah setelah ini.”
Juki: “…asal gua dapat jatah ½ piring lagi nanti.”
Budi: “Nggak papa, kamu nanti boleh nambah lagi, masih banyak kok.”
Lisa: “Dasar babi.”

Sementara mereka bersenda gurau, sesosok makhluk mengintai mereka di kegelapan pepohonan dengan mata yang menyeramkan dan memiliki corak yang aneh.

Bagian 5

END OF THE RAT

Sore hari, di sebuah restoran cepat saji, terlihat Eric sedang duduk bersama Juki dan kawan-kawan. Pandangan mereka tertuju ke bawah, beberapa melihat dengan terbelalak, terkecuali Juki. Di meja mereka sudah terdapat banyak makanan, semua menu komplit, termasuk dengan penutupnya.

Yosi: “Se… semuanya buat kita?”
Lisa: “Ngomong-ngomong… siapa yang bayarin?”
Juki: “Si kebo bule…” (melirik Eric)
Santi: “Kamu yang…”
Deni: “Emang duit kau cukup buat bayar ini semua?”
Eric: (menggebrak meja) “……”
Deni: “Kau… kau tak perlu marah lah.”
Eric: “Semua yang ada di sini hanyalah balasan untuk mereka yang sudah merencanakan perayaanku saat itu… dan setelah kuselidiki lebih lanjut… kalian… kecuali kau tentu saja (melihat Juki) Yang merencanakan itu semua.”
Yosi dan yang lain: “……” (terdiam dalam sepuluh detik)
Eric: “Apa aku salah?”
Santi: “Ng…” (disela Yosi)
Yosi: “Itu… betul, kami yang merencanakan.”
Eric: “Dan dari yang kudengar, bahwa biayanya dari kalian semua. Kalian patungan.”
Santi: “Iya.”
Eric: “Kalian tahu berapa yang kalian keluarkan untuk semua itu?”
Yosi: “Iya, tapi…”
Eric: (mengeluarkan kertas dari saku celana) “Kalian sudah menghabiskan sekitar 200, mungkin sedikit mahal bagi kalian.”
Yosi: “Tapi… sebenarnya…”
Budi: “Kami nggak pantas dapat yang begini.”
Eric: (berdiri perlahan-lahan) “Jangan seenaknya memutuskan, aku yang membelinya, jadi kalian harus makan.”
Juki: (berbisik) “Nurut aja lah.”
Eric: “Aku… punya prinsip, jika seseorang sudah berbuat sesuatu padaku… maka balaslah dengan yang sesuai dengan apa yang dia berikan. Yang kalian berikan padaku adalah makanan, jadi aku juga memberi makanan pada kalian.”
Deni: “Wah, aku setuju dengan pendapat kau.”
Budi: “Tapi…”
Eric: “Enough talking, this is a food. If you waste it, that is a sin, I don’t like sin.” (cukup bicara, ini adalah makanan. Jika kau membuangnya, itu adalah dosa, aku tak suka dosa)

Semuanya terdiam, Yosi langsung mengambil kentang goreng dan mulai memakannya, diikuti Deni mengambil satu piring spaghetti; Lisa, fried chicken; Budi, burger; Santi, fillet; dan Juki minum Pepsi. Eric duduk kembali di tempatnya, sekarang dia mengambil steak, mengatupkan kedua tangan, dan mulai makan tanpa bicara.

###
Pada malam hari sekitar jam sepuluh, sebuah motor Harley dengan dua orang penumpang berhenti di depan sebuah rumah mewah, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Yang laki-laki, memakai helm yang menutupi wajahnya, berpenampilan seperti bikers, dengan jaket hitam bermotif api berwarna putih di kedua pergelangan tangan, lambang yang aneh di belakang punggungnya. Helmnya berwarna hitam, ada lambang panah dan tengkorak di tengahnya. Sang perempuan yang ternyata Santi, segera turun dari motor. Sang lelaki langsung melepas helmnya, ternyata Eric.

Santi: “Terima kasih untuk tumpangannya.”
Eric: “Tak perlu berterimakasih. Jadi… apa kau sudah terbiasa dengan rumah barumu?”
Santi: “Bukan begitu…, tapi… kami tak bisa menerimanya.”
Eric: “Bukankah dia sudah tak ada di rumah?”
Santi: “Kita bicarain aja di dalam, biar lu ngerti.”
Eric: “…no problem.”

Di dalam rumah yang luas tersebut, Eric duduk di sofa sambil minum teh, dia merasa heran ketika melihat ada sebuah tenda didirikan di halaman belakang rumah tersebut. Beberapa saat kemudian, muncullah sepasang orang tua. Yang satu lelaki berambut gondrong, berbaju putih polos, dan memakai sarung. Yang satu lagi seorang perempuan berjilbab dan memakai daster. Eric langsung berdiri dan bersalaman pada mereka berdua, kemudian duduk kembali saat dipersilahkan.

Ayah Santi: “Terima kasih karena sudah mengantarkan anak kami pulang. Kalau boleh tahu, siapa namanya mister?”
Eric: “Eric Pietersburgh, senang berkenalan dengan anda.”
Ibu Santi: “Oh, nak Eric yang itu? Wah, jadi nak Eric yang waktu itu ngelindungin anak kami? Terima kasih banyak.”
Ayah Santi: “Saya juga lebih merasa berterima kasih saat anda membebaskan kami dari cengkeraman pak Hutomo, sekarang kami jadi orang bebas.”
Ibu Santi: “Santi, sini nak. Ikut ngomong sama-sama.”
Santi: “Iya bu.” (datang mendadak)
Eric: “You really funny, you know?” (kau sungguh lucu, kau tahu?)
Ibu Santi: “Jadi sudah berapa lama sama Santi di universitas?”
Eric: “Mungkin satu bulan kurang, entah, mungkin juga lebih. Tapi saya cukup senang bisa bertemu orang Indonesia yang baik, beberapa dari mereka.”
Ayah Santi: “Yah, tidak semua orang itu baik nak. Kami cukup berterimakasih atas kebaikan hati nak Eric, tapi kami tak bisa menerima semua ini.”
Eric: “Kenapa tidak dinikmati saja? Lagipula dia sudah tak tinggal lagi di sini.”
Ibu Santi: “Memang tapi… semua ini adalah hasil dari pekerjaan kotor pak Hutomo, kami semua tak berdaya di sini saat bekerja bersama beliau. Kami tak bisa menikmati hasil kotor dari pekerjaan seseorang.”
Eric: “Kotor ya? Benar juga, apa istilahnya dalam agamamu Santi?”
Santi: “Haram.”
Eric: “Benar, lalu apakah kalian semua tidur di sana sebagai gantinya?”
Ibu Santi: “Betul, sekarang yang kami miliki dari hasil keringat kami sendiri adalah tenda dan minuman yang nak Eric minum.”
Eric: “Saya hargai itu. Baiklah, jika anda memang tak bisa menerimanya, mungkin saya akan mencarikan yang layak bagi kalian.”
Ayah Santi: “Terima kasih banyak atas bantuannya.”
Eric: “Tak perlu berterima kasih, saya ada pertanyaan bagi anda. Apa pekerjaan anda sekarang, setelah lepas dari mereka?”
Ayah Santi: “Oh, saya sekarang sementara jadi tukang parkir, gajinya tak seberapa tapi lumayan. Kalau ibu belum dapat kerjaan sama sekali.”
Eric: “Betulkah? Kalau begitu, mungkin anda mau menerima tawaran saya.”
Santi dan orang tuanya: “?”
Eric: “Kebetulan di sebuah kantor ada yang membutuhkan office boy ataupun satpam, di dekat kantor tersebut ada rumah yang bisa ditinggali oleh empat orang. Ini brosurnya, silahkan dilihat dulu, tak apa kalau anda menolak.

Orang tua Santi melihat gambar di brosur tersebut, setelah melihatnya, ekspresi wajah mereka berubah drastis. Ayah Santi mengusap wajahnya berkali-kali juga berkali-kali melihat brosur tersebut, Ibu Santi mengusap-usap bahu suaminya, berusaha menenangkan. Akhirnya brosur itu diletakkan di meja, mereka bersiap untuk memberikan jawaban. Santi merasa heran dan mengambil brosur tersebut.

Ayah Santi: “Ah, bagaimana saya harus mengatakan? Ini terlalu…”
Ibu Santi: “…apakah ini tak berlebihan?”
Eric: “Kenapa tidak? Saya yang menawarkannya.”
Ayah Santi: “Tapi tetap saja…”
Eric: “Terimalah, anggap saja Tuhan telah mengabulkan keinginan anda.”
Orang tua Santi: “Terima kasih banyak!!”

Mendadak Santi menarik lengan Eric dan membawanya ke sebuah kamar, dia langsung menguncinya rapat. Eric jatuh terlentang di kasur, Santi langsung menutup tirai di jendela. Dia menyalakan lampu kamar sampai terengah-engah, dia duduk di samping Eric yang terlentang, perlahan-lahan dia bangun dan menoleh kepada Santi.

Eric: “What the heck you’re doing to me? I am not a suitcase that you can pull so easily.” (apa yang telah kau lakukan padaku? Aku bukan koper yang bisa kau tarik dengan mudahnya)
Santi: “Maaf, tapi… kamu sudah berikan hal yang terlalu…”
Eric: “Memangnya salah? Lebih baik daripada kau dan orang tuamu tinggal di tempat sampah ini.”
Santi: “Lu tau nggak? Lu gila, ini kan… rumah kita dekat studio Trans TV!”

Santi memperlihatkan brosur sebuah rumah yang ternyata adalah hadiah dari studio Trans TV, dan letaknya berdekatan dengan studio.

Santi: “Lu habis menangin hadiah ini?”
Eric: “Yah, lagipula yang menang hadiah ini adalah Juki, tapi ayahnya tak suka, jadi kuberikan saja padamu. Kau pasti sudah cukup menderita bukan? Sekarang nikmatilah hidupmu setelah ini.”
Santi: (berjalan perlahan ke saklar lampu) “Eric… sebenarnya, gue sangat berterimakasih… begitu berterimakasihnya aku ingin ngelakuin sesuatu pada lu.”
Eric: “Oh yeah? What kind?” (Oh ya? Seperti apa?)

Mendadak lampu kamar dimatikan, dan bersamaan pada saat itu, sesuatu baru saja menempel di pipi Eric. Begitu tersadar apa yang terjadi, lampu sudah menyala kembali. Santi membelakangi Eric, dia lalu jatuh terduduk.

Eric: “What are you…?” (apa yang kau…?)
Santi: “Maaf, jujur saja gue suka ama lu. Gue juga pingin lebih dari itu, gue baru ngelakuin suatu dosa… yaitu mencium lelaki yang kusukai.”
Eric: “What’s wrong with that?” (apa yang salah dengan itu?)
Santi: “Dalam agama gue… jika wanita dan pria yang belum jodohnya melakukan hal tersebut adalah suatu dosa. Tapi yang baru gue lakuin cuman dosa kecil, gue cuman bisa sampai situ saja, kalo gue sampai ke mulut… (wajah merah) itu keterlaluan.”
Eric: “You really weird aren’t you?” (kau sungguh aneh bukan?)

Dari luar rumah terdengar bunyi klakson mobil, Santi sangat kaget dan takut saat mendengar suara tersebut. Di luar rumah orang tua Santi sudah berada di luar, di hadapan mereka, sebuah mobil sedan sudah berada di depan rumah. Dari dalam keluar dua orang preman yang pernah menyiksa Juki, Eric yang melihatnya dari jendela hanya menyeringai kecil.

Santi: “Apa… apa itu mereka?”
Eric: “Yes, it is.” (tentu saja)
Santi: “Kalau begitu kamu cepat kabur lewat pintu belakang, biar gue yang urus mereka.”
Eric: “I refuse.” (kutolak)
Santi: “Tapi…”
Eric: “Have you forgotten who I am?” (apa kau telah lupa siapa diriku?)
Santi: “Iya… tapi… mereka itu pengawalnya pak Hutomo! Lu bisa mati, kali ini situasinya sudah serius!”
Eric: “Then that’s my job; I exist in this world to erase the sin. In this case… (mencium kening Santi) I have erase your sin.” (Maka itu pekerjaanku; aku ada di dunia ini untuk menghapus dosa. Dalam masalah ini… aku sudah menghapus dosamu.)

Eric meninggalkan Santi dan segera beranjak keluar dari ruangan, Santi sendiri, wajahnya memerah dan mengeluarkan sedikit air mata. Dia langsung ke jendela dan mengintip kepergian Eric yang dimasukkan ke dalam mobil, setelah itu dia berlari keluar rumah.

Santi: “ERIC!!”
Juki: “Nggak usah teriak-teriak begitu.”
Santi: (menoleh) “Juki?! Ngapain lu di sini?”
Juki: “Cuman buat pengamanan, jaga-jaga kalo dia ninggalin salah satu dari orangnya, mendingan kamu masuk ke dalam.”
Santi: “Daripada gue, mendingan tolongin dia! Kali ini dia bakal…”
Juki: “DIAAAAM!”

Teriakan Juki membuat Santi terdiam, terdengar suara kucing yang sepertinya lari ketakutan, anjing menggonggong, dan tetangga di beberapa rumah terbangun marah.

Warga: “Lu yang diam!”
Juki: “Maaf, maaf! Kita masuk aja dulu, nanti gua ceritain di dalam.”

Mereka masuk ke dalam rumah, Juki membawa masuk motor yang dibawa Eric. Setelah masuk, Juki langsung menutup dan mengunci pintu, kemudian melihat dari jendela apakah situasi aman atau tidak.

###

Di sebuah pabrik yang ditelantarkan, mobil yang berisi Eric dan anak buah dari Beni masuk ke dalam. Mobil itu berhenti, Eric dikeluarkan secara paksa dari dalam, wajahnya babak belur.

Eric: (melihat sekeliling dan bersiul) “Nice place for live.” (tempat yang bagus untuk tinggal)

Dia dibawa masuk lebih dalam lagi, begitu melewati sebuah pintu, kumpulan mobil balap yang masih mengkilat berjejer menjadi satu baris. Sebagian sedang diperbaiki, yang sebagian tak ada mesinnya. Sepertinya ruangan ini adalah sebuah bengkel, begitu sadar, Eric tiba di sebuah pintu kecil. Begitu dibuka, di dalamnya adalah sebuah ruang santai, dan ada lima atau enam orang berkumpul. Di antara mereka ada Beni dan pak Hutomo, yang dilindungi oleh pengawalnya.

Eric: “You sure have good sense to pick a place.” (kau pastilah punya selera bagus untuk memilih tempat)
Beni: “Terima kasih. (memukul kepala Eric dengan pipa besi) Bisa-bisanya lu bilang begitu sama gue.”
Eric: (mendongak, kepala mengeluarkan darah) “How’s your nose condition? I think I make it smaller three mm.” (bagaimana keadaan hidungmu? Kupikir aku membuatnya lebih kecil tiga mm)
Beni: “Lu pikir itu lucu hah? Coba lihat apa jadinya kalau gue las wajah lu sampai lu menjerit kesakitan.”
Eric: “Benarkah? Berarti kau memang pantas jadi tukang las.”
Beni: “Kurang ajar lu!”
Pak Hutomo: “Beni cukup.”
Beni: “Tapi…”
Pak Hutomo: “Jadi kamu yang bernama Eric? Kamu sudah berhasil membuat saya terkena jebakanmu, sudah berapa lama kamu merencanakan ini?”
Eric: “Sejak Juki diculik dan dianiaya, yah aku juga berterima kasih pada anda karena membuat hidungnya lebih maju satu senti.”
Pak Hutomo: “Yang melakukannya bukanlah saya, tapi anak buah saya. Mestinya kamu takut setelah hal seperti itu terjadi, sebagai peringatan untukmu juga.”
Eric: “For what reason I must afraid of a scum like you?” (untuk alasan apa aku harus takut pada keparat sepertimu)
Pak Hutomo: “Kamu boleh memanggil saya apapun, apapun yang kamu lakukan, saya bisa bebas kembali.”
Beni: “Papa, tolong pinjamkan pistolnya.”
Pak Hutomo: (memberikan pistol) “Cepat selesaikan, sebentar lagi kita akan makan malam.”
Beni: “Sekarang mati aja lu.” (menodongkan pistol)
Eric: “Kau pasti anak yang kasihan sekali ya, yang memberi kasih sayang adalah ayahmu. Bahkan ibumupun tak pernah memberikan kasih sayang.”
Beni: (memukul Eric) “DIAAM! Tahu apa lu soal ibu gue?!”
Eric: “Kau memukul seperti waria.”
Beni: “Lu tau? Dulu gue pernah punya ibu, dia selalu saja nasihatin gue biar ngejauhin papa. Sampai pada saat itu, ibu gua marah. Dia lagi megang pisau, dan lu lihat hasilnya di muka gue. Akhirnya, papa ngebunuh mama supaya gua bisa bebas buat ngapain aja.”
Eric: “How poor are you.” (kasihan sekali kau)
Beni: “Dan sekarang…. gue bakal ngebunuh lu, pistol inilah yang dipakai ngebunuh mama. Hal yang sama bakalan terjadi sama lu.”
Eric: “Let me tell you… God won’t allow that.” (biar kukatakan padamu… Tuhan takkan mengizinkan itu)

###

Sementara itu di rumah Santi (sementara), Yosi dan yang lain berkumpul di ruang tamu membicarakan apa yang terjadi pada Eric.

Yosi: “Kenapa kita nggak boleh lapor polisi sih?”
Deni: “Iya, sudah jelas yang ngelakuin ini semua si Beni.”
Budi: “Tapi… kalau kita lapor, nanti dia bakal…”
Lisa: “Lapor nggak lapor, dia juga bakalan dibunuh tau! Kita lapor aja!”
Santi: “Dia itu memang kuat, tapi…”
Juki: “Tenang, memang kalau kamu mengkhawatirkan seseorang itu bagus. Kamu sudah lihat kemampuannya saat menghajar Beni bukan?”
Santi: “Kok… kamu…”
Juki: “Kayak gak kenal gue aja, jangan remehin hearing sense gue ye. Lu kan lari sambil nangis di depan gudang.”
Deni: “Wah, apa betul?”
Juki: “Pokoknya lu tenang aja lah, gua tau kalo dia minta bantuan bokapnya.”
Yosi: “Iya, tapi… kali ini mereka bawa senjata api.”
Juki: “Ya, ya, ya. Kamu cukup berdoa aja minta dia selamat, lagian kamu udah jadi temannya Eric. Kancanipun kancaku iku kancaku pisan, wis cup, cup, aja nangis.” (temannya temanku itu temanku juga, sudah, jangan nangis)

Semua merasa tersentuh dengan perkataan Juki, Juki sendiri langsung mengambil satu-satunya cangkir minum yang ada di meja dan meneguk isinya
Santi: “Eh, eh, eh, itu bekasnya Eric!”
Juki: (menyemburkannya ke Deni dan Yosi) “Puah! Gila lu! Kenapa tadi nggak dibawa ke bak cuci?! Waduh, mana kamar mandinya?! Mesti dicuci nih!” (mengusap mulut)

###

Kembali ke pabrik tempat Eric disandera, terdengar derap langkah kaki yang sangat cepat dari seseorang. Beni keluar dari kantor dengan tergopoh-gopoh, membawa pistol yang dipakainya untuk membunuh Eric dan bersembunyi di dalam sebuah mobil. Suara ribut terdengar dari dalam, kaca-kaca pecah karena terkena rentetan peluru. Menyusul kemudian terdengar sebuah suara teriakan, pintu kantor tersebut menjeblak terbuka dan terbang mengenai kaca mobil bagian depan. Beni sangat kaget, dia berkeringat banyak, di pintu dia melihat seseorang atau mungkin sesuatu sedang mencengkeram kepala pak Hutomo. Tangannya hitam, memiliki simbol aneh, dan bercakar. Wajah dan tubuhnya terlihat samar karena cahaya yang remang-remang, hanya matanya yang terlihat menakutkan yang kelihatan. Mendadak tangannya mengeluarkan cahaya, simbol tersebut bergerak dari tangannya menuju seluruh ujung jarinya dan masuk ke dalam kepala pak Hutomo. Dia berteriak sangat keras, bersamaan dengan itu, asap hitam keluar dari kepalanya. Cengkeramannya dilepas, dia langsung berjalan maju. Sosoknya perlahan terlihat, ternyata Eric yang berkeadaan normal, hanya saja bajunya sudah sobek-sobek dan memperlihatkan setengah dari tubuhnya yang atletis, wajahnya sudah tak babak belur lagi. Perlahan dia berjalan menuju mobil tempat Beni bersembunyi, dia membuka pintunya, bunyi letusan pistol terdengar dari dalam mobil. Beni telah menembaknya, kepala Eric menengadah ke atas. Eric kemudian menunduk, Beni kaget sampai dia menjatuhkan pistolnya, Eric menangkap peluru itu dengan kelopak mata kirinya. Dia membuka mata kirinya, menjatuhkan peluru itu ke lantai.

Eric: “That’s dangerous, you know?” (itu bahaya, kau tahu?)

Beni langsung membuka pintu di sebelahnya, tapi dia lebih kaget, saat Eric sudah berada di depannya, Eric menarik Beni keluar dari dalam. Dia menarik kerah bajunya, sampai dia terangkat satu centimeter dari tanah.

Eric: “Kau tahu sudah berapa banyak dosa yang kauperbuat? Pernahkah kau berpikir untuk bertobat?”
Beni: “A… ampun! Gua bakal minta ampun. T… tapi tolong jangan bunuh gua… tolong…”
Eric: “Kau pikir hanya aku saja yang sudah kau bebani dengan dosamu?”
Beni: “I… iya! Gua bakal minta maaf… sama mereka yang gua kerjain!”
Eric: “You know, the Dutch invade Indonesia almost 350 year, three and half century. But, you invade the university only three and half year, your invasion will end now.” (kau tahu, Belanda menjajah Indonesia hampir 350 tahun, tiga setengah abad. Tapi, kau menjajah universitas hanya tiga setengah tahun, penjajahanmu akan berakhir sekarang

Eric melepas cengkeramannya sehingga membuat Beni jatuh berlutut. Eric menusuk kepala Beni dengan jari telunjuknya, teriakan keras disertai asap hitam keluar dari kepalanya. Hal yang sama yang dilakukan kepada pak Hutomo terulang kembali pada Beni, tanda di tangan hitam itu masuk ke dalam kepala Beni. Eric mencabut tusukannya, tangannya berubah kembali jadi normal, sementara Beni jatuh pingsan dan ngiler.

Eric: “Your sin has been erased.” (dosamu telah dihapus)

***

Beberapa saat kemudian, Eric keluar dan disambut dengan suara sirine mobil polisi yang baru saja datang. Beberapa petugas bersenjata keluar dari mobil patroli, seluruh petugas bersenjatakan pentungan dan tameng keluar dari mobil pick up. Seorang polisi yang sepertinya pemimpin keluar dari mobil dengan membawa pengeras suara, dia berdiri dan mulai bicara.

Inspektur: “Kepada bapak Hutomo Mansyur dan semua yang ada di dalam sana, segera keluar dan serahkan diri kalian! Lepaskan juga sandera yang kalian bawa, jika tidak…”

Sang inspektur melihat Eric yang compang-camping melambaikan tangan pada para polisi, para polisi menodongkan pistol, seorang polisi lalu melaporkan pada inspektur.

Polisi: “Lapor pak, sepertinya itu sandera yang dimaksud.”
Inspektur: “Segera amankan.”

Beberapa petugas membawakan selimut, dan menutupi tubuh Eric. Dia segera dibawa ke mobil ambulans dan diberi minum teh panas, sambil diobati oleh petugas medis. Para polisi menyerbu masuk ke dalam dipimpin oleh sang inspektur. Satu jam kemudian, tempat tersebut sudah dipasangi pita kuning. Eric sendiri sedang ditanyai oleh sang inspektur.

Inspektur: “Bisa bicara bahasa Indonesia?”
Eric: “Ya, tentu saja.”
Inspektur: “Bagaimana anda bisa keluar dari sana dengan selamat?”
Eric: “Sedikit rencana dan keberuntungan kurasa.”
Inspektur: “Apakah anda yang membereskan mereka semua?”
Eric: “Mungkin, tapi jika tak keberatan bolehkah saya pulang? Saya ingin bertemu dengan kawan saya.”
Inspektur: “Baiklah, kalau begitu apakah anda besok bisa memberikan kesaksian di kantor?”
Eric: “Tentu. Ah, tunggu, sebelum pergi aku ada pesan. Tolong Beni diperlakukan dengan baik, mungkin dia bisa menjadi orang yang lebih baik, lagipula dia masih muda.”

###

Dua hari setelah kejadian, di sebuah liputan berita, muncul mengenai kasus penyanderaan Eric. Berita tersebut dibawakan oleh seorang perempuan.

Pembaca berita: “Selamat siang, para pemirsa. Kita bertemu lagi dalam Redaksi Siang, berita utama hari ini: Hutomo Mansyur yang dikenal sebagai pemilik perusahaan Techno Husada, hari ini ditangkap di sebuah pabrik tua. Pria yang pernah menjadi tersangka dalam kasus korupsi 500 juta ini ditangkap karena telah menyandera seorang mahasiswa, beliau ditangkap bersama dengan bawahannya. Untuk lebih jelasnya kami akan menuju langsung ke TKP, tempat reporter kami Firmansyah.”
Reporter: “Terima kasih, pemirsa, sekarang saya berada di depan tempat di mana sang mahasiswa yang tadinya disandera. Sekarang ini para polisi sedang memindahkan para tersangka yang kondisinya bisa anda lihat sendiri, beberapa tersangka menderita luka parah dan sedang dibawa ke mobil ambulans. Sedangkan…” (menoleh ke belakang)
Pak Hutomo: “DIA BUKAN MANUSIAA! DIA BUKAN MANUSIAA!”
Pembawa berita: “Sebenarnya apa yang terjadi di sana, rekan Firmansyah?”
Reporter: “Menurut kabar, mereka semua dihajar oleh mahasiswa yang jadi sandera tersebut. Polisi masih merahasiakan identitasnya sampai sekarang, kami hanya tahu bahwa sang mahasiswa adalah mantan prajurit di sekolah militer.”
Pembawa Berita: “Jadi mereka seperti itu karena mahasiswa tersebut?”
Reporter: “Benar sekali.”
Pembawa berita: “Baik, terima kasih Firmansyah. Kita beralih ke berita selanjutnya.”

Televisi dimatikan dengan remote oleh Juki, dia menonton bersama dengan Yosi dan yang lain. Kemudian dia makan kacang kulit dan minum secangkir teh.

Juki: “Gua bilang juga apa, jangan khawatir deh sama dia.”
Semua: (mengangguk) “Iya.”