SURVIVOR
Juki dan Santi melihat pemandangan di mana Cahyapraga dan makhluk berwajah putih akan bertempur, mereka menyaksikan dari dalam tenda. Makhluk tersebut memasang kuda-kuda dengan memegang pedang dengan satu tangan, tangan kirinya memegang gagang pedang, bilahan pedangnya dia letakkan di ketiak. Tangan kanannya digerakkan ke depan, telapak tangannya terbuka lebar. Kedua kakinya membentuk sudut 45 derajat, kaki kanan diletakkan di belakang, lututnya menekuk, sedangkan kaki kiri di depan lurus. Pada saat bulan tertutup awan, seekor dari singa itu menyerang langsung, singa itu hampir menyentuh dia. Makhluk itu membungkuk dan memutar kakinya 360 derajat, dia menjegal singa tersebut hingga terjungkal. Saat singa itu berada di udara, makhluk itu menebas kepalanya hingga lepas. Pada saat bersamaan, seekor lagi menerkamnya. Mulutnya ditahan dengan pedang, mereka berguling-guling di tanah. Ketika makhluk tersebut menindih singa itu, dia menarik pedang itu. Singa itu tak mau melepas gigitannya, tetapi makhluk tersebut mengangkatnya bersama dengan pedangnya. Tiba-tiba pedang itu berubah menjadi selentur karet, makhluk itu menarik ujung pedang dan melilitkannya di sekitar leher singa tersebut.
?: “I think it’s time for rodeo.”
Singa tanpa kepala yang ditebas makhluk itu masih bisa bergerak, dia mulai mencoba menerjangnya. Makhluk itu menarik kepala singa yang dia tunggangi, membuatnya berlari kemanapun makhluk itu mau. Dia mulai berlari menuju pepohonan, diikuti singa tanpa kepala. Sementara itu, Cahyapraga yang kehilangan dua tangannya, menumbuhkan lagi tangannya dalam bentuk tulang. Dia juga turut serta dengan membuat kepalanya lepas dan mengikuti makhluk itu, kejar-kejaran seru terjadi. Singa tanpa kepala itu berada di belakang sang makhluk, sementara kepala Cahyapraga terbang di atasnya. Kepala itu menyemburkan api pada makhluk itu, dia berlindung di balik sebuah pohon yang tumbuh miring dan memanjatnya. Pohon itu mulai terbakar dari bawah dan naik ke atas dengan cepatnya, makhluk itu melompati pohon. Dia meloncat dari singa yang dia tunggangi, menarik pedang yang masih digigit dan membuat badan singa itu menubruk singa tanpa kepala yang berada di belakangnya sampai hancur berkeping-keping. Pedang milik makhluk itu kembali menjadi keras, kali ini di depannya sudah ada kepala Cahyapraga yang terbang berputar melesat untuk menusuknya. Dia mencegahnya dengan tebasan pedang, sehingga membuat wajahnya terluka. Makhluk itu mendarat mulus dengan kakinya di tanah, kepala Cahyapraga terbang terhuyung-huyung menuju tubuhnya sambil berteriak kesakitan. Dia menutupi wajahnya saking sakitnya, luka sabetan vertikal itu terlihat jelas di wajahnya.
Cahyapraga: “AAARRRGGH, BERANINYA KAU BERBUAT SEPERTI INI PADAKU! AKU ADALAH ORANG YANG AKAN MENJADI ABADI!”
?: “Immortal? But you’re already expired.” (abadi? Tapi kau sudah kadaluwarsa.)
Cahyapraga: “KURANG AJAR KAU!”
Cahyapraga masuk ke dalam tanah dengan cepatnya, dari tanah yang makhluk itu injak muncul benda putih yang panjang dan tajam. Tapi makhluk itu berhasil menghindar, benda itu masuk kembali ke dalam tanah. Benda itu terus muncul dan menyerangnya berturut-turut, makhluk itu melompat ke udara.
?: “It’s fishing time.”
Dia menekan bagian bawah gagang pedang, bersamaan dengan itu, huruf hieroglif di pedang bersinar. Bilah pedang itu mulai berubah bentuk, warnanya berubah merah dan muncul beberapa kaki. Bilah pedang itu berubah menjadi seekor kelabang, dia menyabet dan menusukkannya ke tanah. Suara gemuruh terdengar dari dalam tanah, diikuti dengan ledakan. Dari dalamnya, darah menyembur keluar. Makhluk itu menarik pedangnya, bersamaan dengan ditariknya pedang, muncul Cahyapraga yang terbelit oleh pedang kelabang. Lehernya digigit, kelabang itu telah menusuk menembus dadanya. Cahyapraga ditarik oleh makhluk tersebut, makhluk itu lalu memasang kuda-kuda dengan menarik tangan ke belakang, bersiap-siap untuk mencengkeram. Dalam sekejap, makhluk itu menusuk perut Cahyapraga. Tapi yang keluar dari perutnya bukan darah, tetapi cahaya berwarna hijau.
Cahyapraga: “Uhuk… siapa kau… sesungguh… uhuk… nya?”
?: (menyeringai)“The demon who walk in God path.” (iblis yang melangkah di jalan Tuhan)
Makhluk itu menarik keluar sesuatu dari dalam perut Cahyapraga, sebuah bola berwarna hijau yang bersinar. Kemudian dia membanting Cahyapraga ke tanah dengan pedangnya, dia mendarat tepat di depan rumahnya. Makhluk itu menyarungkan kembali pedangnya, dia lalu melompat ke sebuah puncak pohon. Pada saat itu, dia berdiri menutup bulan sabit yang bersinar terang. Cahyapraga berdiri kembali, dia membuka mulutnya, bersiap untuk menyerang. Tetapi hal tersebut dicegah oleh makhluk itu, dia melempar sepatu ke mulutnya dengan kakinya untuk membungkam mulutnya. Makhluk yang seharusnya tak bermulut itu kini mempunyai mulut, dia menyeringai sambil memperlihatkan gigi taringnya, asap hitam keluar dari mulutnya. Makhluk itu melakukan kuda-kuda, bersiap untuk meloncat. Bersamaan dengan itu, di kaki makhluk tersebut muncul beberapa huruf hieroglif bersinar, huruf itu perlahan bergerak dan meresap ke dalam telapak kakinya. Cahyapraga sendiri melihat makhluk itu dengan mulut terbungkam oleh sepatu, kepalanya menggembung seakan mau meledak. Makhluk itu mulai meloncat, dia melakukan tendangan terbang menuju Cahyapraga. Dia meluncur dengan kecepatan penuh, tendangan itu mengenai kepalanya. Kepala itu langsung lepas dari tubuhnya dan masuk ke dalam rumah, Cahyapraga yang hanya kepala itu berguling-guling dan berhenti. Di kepalanya ada lambang yang membekas, dia mengatakan sesuatu dengan mulut terbungkam.
Cahyapraga: “Agh… klh.” (aku… kalah)
Dalam sekejap, rumah itu langsung meledak disertai dengan semburan api biru. Makhluk itu berdiri membelakangi rumah, tubuh Cahyapraga sendiri jatuh dan meleleh.
?: “Your sin has been erased.” (dosamu telah dihapus)
Santi tidak percaya dengan apa yang dia lihat, matanya terbelalak dan mulutnya menganga. Juki berdiri dan melangkah maju, begitu juga makhluk tersebut. Kakinya yang tidak memakai sepatu meninggalkan jejak dengan sebuah lambang, Juki sendiri sudah berdiri berhadapan dengan makhluk tersebut.
Juki: “Kenapa kamu mesti datang pada saat yang begitu?”
?: “Jauh lebih baik jika sebuah pesta dengan teriakan, daripada sebuah pesta tanpa teriakan.”
Juki: “Er, Er, kamu ini…”
?: “Yang penting adalah melepaskan mereka dari sini dulu, pegang.”
Juki: (merasa jijik) “Yeeek, nggilani!” (menjijikkan!)
?: “Jangan dijatuhkan, kau bisa membunuh mereka.”
Makhluk itu mulai memasang kuda-kuda, kedua telapak tangannya saling ditepukkan. Kemudian masing-masing diputar berlawanan, jari telunjuk diacungkan, kemudian dijauhkan. Bola hijau itu sekarang berada di tengah kedua jari telunjuk makhluk tersebut, di tangannya terjadi fenomena yang sama dengan saat dia akan melakukan tendangan. Huruf-huruf yang bersinar bergerak dan meresap ke dalam jarinya, kedua jari tersebut menusuk bola tersebut secara bersamaan. Sekarang cahaya yang ada di jari itu meresap masuk ke dalam bola, warna cahaya pada bola berubah menjadi kuning. Makhluk itu kemudian mengambil bola itu dan melempar ke atas, bola itu terbang ke atas hingga tak terlihat. Di langit yang gelap muncul kembang api, bersamaan itu pula, ada beberapa cahaya putih seperti kunang-kunang turun dari langit. Cahaya itu perlahan mendarat di tanah, perlahan cahaya itu mulai menampakkan wujud sebenarnya. Ternyata itu adalah beberapa anak dari desa bersama dengan Yosi dan yang lain, mereka semua pingsan.
?: “Nah, kita tinggal memasukkan mereka ke tenda.”
Juki: “Entar dulu, entar dulu. Mana muat segini banyak, lagian ini cuman cukup sama Yosi cs.”
?: “Mengenai hal itu sudah aku antisipasi, aku akan kembalikan mereka dulu.” (menunjuk anak-anak desa)
Juki: “Gimana caranya? Digendong terus terbang? Gila lu Er!”
?: “Aku tak sebodoh itu Juki!” (menjitak kepala Juki)
Juki: “ADDAAW!”
Santi: “E… er…? Eric?”
?: “What?”
Santi: “I… ini Eric?”
Juki & Eric: “Lha pikirmu apa?” (Kau kira apa?)
Eric: “Ah benar, kau tak mengenaliku jika aku seperti ini.”
Eric menutup matanya sejenak, perlahan-lahan kulit yang hitam dan wajah yang putih itu memudar dan berubah menjadi putih bersih. Rambut pirang tumbuh di kepalanya, kuping lancipnya menjadi normal, tanduknya masuk ke dalam kepalanya. Eric mendongak lalu menarik nafas dan membuka matanya yang sudah berubah menjadi biru pada saat bersamaan, dia menunduk dengan cepat dan menghembuskan asap putih dari mulutnya. Santi yang kaget dengan perubahannya langsung pingsan.
Eric: “Oops. Looks like I overdid it.” (sepertinya aku terlalu berlebihan)
Juki: “Bagus, terus gimana gue bisa bawa mereka semua ke dalam?”
Eric: “Easy.”
Dia mengeluarkan pedangnya lagi dan mengubahnya lagi menjadi kelabang, kali ini pedang kelabang itu membelit Yosi dan yang lain menjadi satu dan memasukkan mereka semua ke dalam tenda. Tenda tersebut menjadi penuh sesak, Eric mengembalikan pedang itu kembali seperti semula.
Juki: “Lu kira mereka karung?! Kok ditumpuk?!”
Eric: “Kau lebih baik juga cepat masuk, hujan akan turun, biar kubawa anak-anak ini secepatnya ke desa.”
Dia mengeluarkan selembar kertas dan melemparkannya ke atas, kertas itu berubah menjadi sebuah lingkaran transformasi. Lingkaran itu mengitari Eric dan anak-anak, mereka lenyap bersamaan dengan lingkaran tersebut dalam hitungan detik.
Juki: “Dasar, apa maksudnya? Cuacanya kelihatan ce… rah?”
Juki baru sadar maksud perkataan Eric, dia segera lari ke tenda, tetapi tendanya penuh. Kemudian dia lari ke pepohonan, setetes darah turun mengenai daun. Bersamaan dengan itu, beberapa tulang manusia juga jatuh di sekeliling Juki disertai dengan cipratan besar darah. Setelah hujan tulang dan darah itu berhenti, Juki nampak berwajah jengkel. Ternyata darah yang menetes dari udara mengenai sekujur tubuh dan bajunya, kemudian dia berjalan keluar dari pepohonan. Tak disangka sebuah tengkorak jatuh mengenai kepalanya, dia menahan sakit sambil jongkok dan memegang kepalanya.
Juki: (berdiri) “Bau lagi nih, sialan! Masa aku ganti baju lagi?!”
Dia tak sadar bahwa aki Ujang mengawasi dari pepohonan, dia berbalik dengan tubuh bergetar. Dia lari tergesa-gesa, wajahnya terlihat berkeringat.
Yosi: “Gue senang kalian bisa selamat, tapi main begituan itu idenya siapa?”
Oni: “Maaf, yang ngajakin waktu itu si Diana. Kamu tahu kan dia itu gimana?”
Yosi: “Ini juga, lagian lu kok nekat amat sih?”
Diana: “Aku cuman penasaran aja apa gue bisa bicara ama itu setan, siapa tau gua bisa ngehajar itu setan.”
Deni: “Heh, emang bisa? Terus kenapa kau bisa dimakan ama itu setan?”
Diana: “Cuman sedikit kecelakaan.”
Oni: “Yang segitu dibilang kecelakaan? Jelas itu disengaja, aku tidak terima!”
Piyu: “On, udah deh. Sudah beruntung kita masih hidup, berapa lama kita ada dalam perut itu setan?”
Lisa: “Sekitar satu setengah tahun.”
Dinda: “Wah lama banget! Terus gimana kita bisa selamat?”
Santi: “Anu… tadi kakek Ujang yang nyelametin kita tadi.”
Lisa: “Kakek? Beneran?”
Santi: “I… iya, waktu itu dia datang sambil bawa botol air sama tasbih. Dia siramin airnya ke itu setan, terus kalian keluar deh.”
Diana: “Ah, masa. Kalau cuman disiram doang, kenapa rumahnya bisa sampai hancur lebur?”
Santi: “Eh… i… itu…”
Juki: “Karena rumah itu dibakar oleh aki Ujang beserta dengan setan itu. Hal itu dilakuin buat ngecegah supaya itu setan nggak bisa ngeganggu penduduk lagi.”
Diana: “Siapa lo?”
Juki: “…jadi dari tadi aku tak dianggap sama sekali?!”
Yosi: “Sabar, Juk, sabar. Maaf, dia baru pertama kali ini ikut.”
Deni: “Masa kalian lupa, ini si Juki. Teman kuliah kita.”
Diana: “Teman kuliah yang mana?”
Lisa: “Juki yang kadang ngomong bahasa Jawa itu lho.”
Diana: “Orang Jawa mana?”
Juki: (jengkel) “HEH, WONG EDAN!! MASA LALI KARO KANCAMU DHEWE?!”
Diana: “Oh lu, ngomong dari tadi.”
Juki: “DARI TADI GUA NGOMONG!”
Budi: “Ng… teman-teman…”
Yosi: “Ada apa?”
Budi: “Aku… mau minta maaf.”
Deni: “Soal apa?”
Budi: “Karena aku… kalian yang ikut menyelidiki hilangnya teman kita sampai kena musibah.”
Lisa: “Tak usah dipermasalahkan, kita semua kan baik-baik saja.”
Budi: “Tapi aku yang ngusulin buat nyari teman kita! Lagian itu atas perintah setan itu! Terus… ADUUH!!” (dijitak Juki)
Santi: “Juki!”
Juki: “Bisa diam nggak?! Lu ini udah culun, rada bego, jelek lagi! Bisanya cuman nyalahin diri sendiri, manusia macam apa lu?!”
Budi: “Maaf…”
Juki: “Maaf, maaf, bisanya minta maaf saja.”
Budi: (menangis) “……”
Juki: “Tapi ada satu yang gue paling seneng dari lu. (memegang pundak Budi) Lu mau ngorbanin apa saja buat nyelametin temen lu, nggak pernah ngekhianatin temen, terus ketawamu itu… hal yang paling bagus yang pingin gua liat.”
Budi: “Be… bener?”
Juki: “Dari lubuk hati gua yang paling dalam, sebego-begonya lu, gua salut karena lu mau ngelakuin apa aja buat temen.”
Budi: “Hik… te… terima kasih!” (memeluk Juki)
Juki: “Ya, ya, cup, cup. Hoi lepas, lepasin, udah. Hoi!”
Deni, Dinda, Santi, dan Lisa menangis tersedu-sedu melihat peristiwa itu. Semua anak bertepuk tangan dan berpelukan bersama-sama dengan Juki, dia sendiri merasa tidak enak.
Juki: “Oi… aduh, sesak, se… sak. Lepas…” (pingsan)
Yosi: “Juk, beneran Eric di sana?”
Juki: “Nggak salah lagi, soalnya setiap dia ke hutan, mobil itu selalu ada.”
Deni: “Tapi kenapa dia pakai truk ya?”
Juki: “Ngawur, iku jenenge caravan. (ngawur, itu namanya caravan) Dasar Nagabonar katrok.”
Lisa: “Itu kan mobil yang biasa dipakai buat bepergian jauh, di dalamnya ada kamar mandi, tempat tidur, sama dapur. Di film aku liat yang kayak begituan.”
Yosi: “Wah, komplit dong. Mungkin nggak ya kalau ada tv di dalam?”
Juki: “Jangan harap, yang punya mobil itu bukan Eric.”
Budi: “Te… terus siapa?”
Juki: “Waktu di pengadilan, kalian ingat sama pengacaranya Eric? Nah itu pemiliknya.”
Yosi: “Oh, pak Kumamoto?”
Diana: “Entar dulu, sebenarnya ada apa sih? Pengadilan? Terus siapa pak Kumamoto sama Eric itu?”
Santi: “Anu, sebenarnya saat kalian nggak ada di kampus, kalian masih ingat Beni kan?”
Diana: “Siapa yang gak ingat? Dia kan yang suka pinjam I-podku tapi nggak dikembaliin.”
Piyu: “Dia sama begundalnya sering ngutang di kantin.”
Oni: “Tambah lagi, dia suka banget bolos kuliah.”
Dinda: “Gimana nggak, mereka sering ngelemparin gue pakai kodok.”
Lisa: “Waktu Eric masuk ke kampus, dia ngehajar mereka lho.”
Yosi: “Coba aja bayangin… (berbisik) ‘itu’nya diancurin ama dia.”
Diana, Dinda, Oni, dan Piyu: “Haaah?!” (menutup mulut)
Oni: “Pasti sakit ya? Uuh.”
Piyu: “Ngebayangin aja sudah bikin gue sakit.” (menutupi alat vital)
Juki: “Ah, perasaan nggak begitu-begitu amat deh.”
Deni: “Terus dia juga membuat pak Hutomo itu jadi gila.”
Piyu: “Haaah?! Masa sih?”
Diana: “Gimana ceritanya?”
Juki: “Udah, udah, mendingan kita cepat ketemu dia. Di sini juga ada yang terluka kan? Bisa infeksi lho.”
Dinda: “Kalau begitu gue duluan ya, gua kebelet pipis dari tadi.” (lari meninggalkan rombongan)
Juki: “Hoi, hoi! Hoooi!”
Dinda lari dengan kencangnya menuju karavan dan langsung menggedor pintunya, tapi sama sekali tak ada jawaban. Dia lalu masuk ke dalam tenda besar di sebelahnya, mendadak suara jeritan Dinda terdengar dari dalam. Mereka segera berlari begitu mendengar jeritan tersebut, tetapi begitu masuk ke dalam, sebuah pemandangan yang tak biasa membuat para gadis menutup mata dan para pria terbelalak tak percaya. Dinda pingsan dan sekarang dipegang oleh Eric yang saat ini tak memakai baju, kecuali selembar handuk. Tubuhnya yang terlihat atletis membuat wajah para gadis memerah, ngiler, dan seolah-olah mimisan.
Eric: “Are you just standing there and watching or wanna help me take her to bedroom?” (apa kalian hanya bisa berdiri di sana dan melihat atau menolongku membawanya ke kamar tidur?)
?: “I think it’s time for rodeo.”
Singa tanpa kepala yang ditebas makhluk itu masih bisa bergerak, dia mulai mencoba menerjangnya. Makhluk itu menarik kepala singa yang dia tunggangi, membuatnya berlari kemanapun makhluk itu mau. Dia mulai berlari menuju pepohonan, diikuti singa tanpa kepala. Sementara itu, Cahyapraga yang kehilangan dua tangannya, menumbuhkan lagi tangannya dalam bentuk tulang. Dia juga turut serta dengan membuat kepalanya lepas dan mengikuti makhluk itu, kejar-kejaran seru terjadi. Singa tanpa kepala itu berada di belakang sang makhluk, sementara kepala Cahyapraga terbang di atasnya. Kepala itu menyemburkan api pada makhluk itu, dia berlindung di balik sebuah pohon yang tumbuh miring dan memanjatnya. Pohon itu mulai terbakar dari bawah dan naik ke atas dengan cepatnya, makhluk itu melompati pohon. Dia meloncat dari singa yang dia tunggangi, menarik pedang yang masih digigit dan membuat badan singa itu menubruk singa tanpa kepala yang berada di belakangnya sampai hancur berkeping-keping. Pedang milik makhluk itu kembali menjadi keras, kali ini di depannya sudah ada kepala Cahyapraga yang terbang berputar melesat untuk menusuknya. Dia mencegahnya dengan tebasan pedang, sehingga membuat wajahnya terluka. Makhluk itu mendarat mulus dengan kakinya di tanah, kepala Cahyapraga terbang terhuyung-huyung menuju tubuhnya sambil berteriak kesakitan. Dia menutupi wajahnya saking sakitnya, luka sabetan vertikal itu terlihat jelas di wajahnya.
Cahyapraga: “AAARRRGGH, BERANINYA KAU BERBUAT SEPERTI INI PADAKU! AKU ADALAH ORANG YANG AKAN MENJADI ABADI!”
?: “Immortal? But you’re already expired.” (abadi? Tapi kau sudah kadaluwarsa.)
Cahyapraga: “KURANG AJAR KAU!”
Cahyapraga masuk ke dalam tanah dengan cepatnya, dari tanah yang makhluk itu injak muncul benda putih yang panjang dan tajam. Tapi makhluk itu berhasil menghindar, benda itu masuk kembali ke dalam tanah. Benda itu terus muncul dan menyerangnya berturut-turut, makhluk itu melompat ke udara.
?: “It’s fishing time.”
Dia menekan bagian bawah gagang pedang, bersamaan dengan itu, huruf hieroglif di pedang bersinar. Bilah pedang itu mulai berubah bentuk, warnanya berubah merah dan muncul beberapa kaki. Bilah pedang itu berubah menjadi seekor kelabang, dia menyabet dan menusukkannya ke tanah. Suara gemuruh terdengar dari dalam tanah, diikuti dengan ledakan. Dari dalamnya, darah menyembur keluar. Makhluk itu menarik pedangnya, bersamaan dengan ditariknya pedang, muncul Cahyapraga yang terbelit oleh pedang kelabang. Lehernya digigit, kelabang itu telah menusuk menembus dadanya. Cahyapraga ditarik oleh makhluk tersebut, makhluk itu lalu memasang kuda-kuda dengan menarik tangan ke belakang, bersiap-siap untuk mencengkeram. Dalam sekejap, makhluk itu menusuk perut Cahyapraga. Tapi yang keluar dari perutnya bukan darah, tetapi cahaya berwarna hijau.
Cahyapraga: “Uhuk… siapa kau… sesungguh… uhuk… nya?”
?: (menyeringai)“The demon who walk in God path.” (iblis yang melangkah di jalan Tuhan)
Makhluk itu menarik keluar sesuatu dari dalam perut Cahyapraga, sebuah bola berwarna hijau yang bersinar. Kemudian dia membanting Cahyapraga ke tanah dengan pedangnya, dia mendarat tepat di depan rumahnya. Makhluk itu menyarungkan kembali pedangnya, dia lalu melompat ke sebuah puncak pohon. Pada saat itu, dia berdiri menutup bulan sabit yang bersinar terang. Cahyapraga berdiri kembali, dia membuka mulutnya, bersiap untuk menyerang. Tetapi hal tersebut dicegah oleh makhluk itu, dia melempar sepatu ke mulutnya dengan kakinya untuk membungkam mulutnya. Makhluk yang seharusnya tak bermulut itu kini mempunyai mulut, dia menyeringai sambil memperlihatkan gigi taringnya, asap hitam keluar dari mulutnya. Makhluk itu melakukan kuda-kuda, bersiap untuk meloncat. Bersamaan dengan itu, di kaki makhluk tersebut muncul beberapa huruf hieroglif bersinar, huruf itu perlahan bergerak dan meresap ke dalam telapak kakinya. Cahyapraga sendiri melihat makhluk itu dengan mulut terbungkam oleh sepatu, kepalanya menggembung seakan mau meledak. Makhluk itu mulai meloncat, dia melakukan tendangan terbang menuju Cahyapraga. Dia meluncur dengan kecepatan penuh, tendangan itu mengenai kepalanya. Kepala itu langsung lepas dari tubuhnya dan masuk ke dalam rumah, Cahyapraga yang hanya kepala itu berguling-guling dan berhenti. Di kepalanya ada lambang yang membekas, dia mengatakan sesuatu dengan mulut terbungkam.
Cahyapraga: “Agh… klh.” (aku… kalah)
Dalam sekejap, rumah itu langsung meledak disertai dengan semburan api biru. Makhluk itu berdiri membelakangi rumah, tubuh Cahyapraga sendiri jatuh dan meleleh.
?: “Your sin has been erased.” (dosamu telah dihapus)
Santi tidak percaya dengan apa yang dia lihat, matanya terbelalak dan mulutnya menganga. Juki berdiri dan melangkah maju, begitu juga makhluk tersebut. Kakinya yang tidak memakai sepatu meninggalkan jejak dengan sebuah lambang, Juki sendiri sudah berdiri berhadapan dengan makhluk tersebut.
Juki: “Kenapa kamu mesti datang pada saat yang begitu?”
?: “Jauh lebih baik jika sebuah pesta dengan teriakan, daripada sebuah pesta tanpa teriakan.”
Juki: “Er, Er, kamu ini…”
?: “Yang penting adalah melepaskan mereka dari sini dulu, pegang.”
Juki: (merasa jijik) “Yeeek, nggilani!” (menjijikkan!)
?: “Jangan dijatuhkan, kau bisa membunuh mereka.”
Makhluk itu mulai memasang kuda-kuda, kedua telapak tangannya saling ditepukkan. Kemudian masing-masing diputar berlawanan, jari telunjuk diacungkan, kemudian dijauhkan. Bola hijau itu sekarang berada di tengah kedua jari telunjuk makhluk tersebut, di tangannya terjadi fenomena yang sama dengan saat dia akan melakukan tendangan. Huruf-huruf yang bersinar bergerak dan meresap ke dalam jarinya, kedua jari tersebut menusuk bola tersebut secara bersamaan. Sekarang cahaya yang ada di jari itu meresap masuk ke dalam bola, warna cahaya pada bola berubah menjadi kuning. Makhluk itu kemudian mengambil bola itu dan melempar ke atas, bola itu terbang ke atas hingga tak terlihat. Di langit yang gelap muncul kembang api, bersamaan itu pula, ada beberapa cahaya putih seperti kunang-kunang turun dari langit. Cahaya itu perlahan mendarat di tanah, perlahan cahaya itu mulai menampakkan wujud sebenarnya. Ternyata itu adalah beberapa anak dari desa bersama dengan Yosi dan yang lain, mereka semua pingsan.
?: “Nah, kita tinggal memasukkan mereka ke tenda.”
Juki: “Entar dulu, entar dulu. Mana muat segini banyak, lagian ini cuman cukup sama Yosi cs.”
?: “Mengenai hal itu sudah aku antisipasi, aku akan kembalikan mereka dulu.” (menunjuk anak-anak desa)
Juki: “Gimana caranya? Digendong terus terbang? Gila lu Er!”
?: “Aku tak sebodoh itu Juki!” (menjitak kepala Juki)
Juki: “ADDAAW!”
Santi: “E… er…? Eric?”
?: “What?”
Santi: “I… ini Eric?”
Juki & Eric: “Lha pikirmu apa?” (Kau kira apa?)
Eric: “Ah benar, kau tak mengenaliku jika aku seperti ini.”
Eric menutup matanya sejenak, perlahan-lahan kulit yang hitam dan wajah yang putih itu memudar dan berubah menjadi putih bersih. Rambut pirang tumbuh di kepalanya, kuping lancipnya menjadi normal, tanduknya masuk ke dalam kepalanya. Eric mendongak lalu menarik nafas dan membuka matanya yang sudah berubah menjadi biru pada saat bersamaan, dia menunduk dengan cepat dan menghembuskan asap putih dari mulutnya. Santi yang kaget dengan perubahannya langsung pingsan.
Eric: “Oops. Looks like I overdid it.” (sepertinya aku terlalu berlebihan)
Juki: “Bagus, terus gimana gue bisa bawa mereka semua ke dalam?”
Eric: “Easy.”
Dia mengeluarkan pedangnya lagi dan mengubahnya lagi menjadi kelabang, kali ini pedang kelabang itu membelit Yosi dan yang lain menjadi satu dan memasukkan mereka semua ke dalam tenda. Tenda tersebut menjadi penuh sesak, Eric mengembalikan pedang itu kembali seperti semula.
Juki: “Lu kira mereka karung?! Kok ditumpuk?!”
Eric: “Kau lebih baik juga cepat masuk, hujan akan turun, biar kubawa anak-anak ini secepatnya ke desa.”
Dia mengeluarkan selembar kertas dan melemparkannya ke atas, kertas itu berubah menjadi sebuah lingkaran transformasi. Lingkaran itu mengitari Eric dan anak-anak, mereka lenyap bersamaan dengan lingkaran tersebut dalam hitungan detik.
Juki: “Dasar, apa maksudnya? Cuacanya kelihatan ce… rah?”
Juki baru sadar maksud perkataan Eric, dia segera lari ke tenda, tetapi tendanya penuh. Kemudian dia lari ke pepohonan, setetes darah turun mengenai daun. Bersamaan dengan itu, beberapa tulang manusia juga jatuh di sekeliling Juki disertai dengan cipratan besar darah. Setelah hujan tulang dan darah itu berhenti, Juki nampak berwajah jengkel. Ternyata darah yang menetes dari udara mengenai sekujur tubuh dan bajunya, kemudian dia berjalan keluar dari pepohonan. Tak disangka sebuah tengkorak jatuh mengenai kepalanya, dia menahan sakit sambil jongkok dan memegang kepalanya.
Juki: (berdiri) “Bau lagi nih, sialan! Masa aku ganti baju lagi?!”
Dia tak sadar bahwa aki Ujang mengawasi dari pepohonan, dia berbalik dengan tubuh bergetar. Dia lari tergesa-gesa, wajahnya terlihat berkeringat.
###
Pagi hari, jam 07:30. Di hutan, terlihat sekumpulan anak remaja berjalan menyusuri sungai. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Juki beserta Yosi cs, beserta orang-orang baru. Dua gadis dan dua orang pemuda, penampilan mereka terlihat kumuh. Piyu, pemuda berambut gondrong ala rocker, berkulit hitam, bermata sipit, dan hidung pesek. Oni, berkepala botak, berkumis tipis dan agak gendut. Diana, gadis berambut pendek sampai ke leher, dengan sebelah mata yang tertutup rambut, memakai tindik di hidungnya, dan punya tato mawar di lengan kirinya. Dinda, gadis dengan rambut dikepang dua di kiri dan kanan, giginya memakai behel, ada sedikit jerawat di pipinya, dan berkacamata.Yosi: “Gue senang kalian bisa selamat, tapi main begituan itu idenya siapa?”
Oni: “Maaf, yang ngajakin waktu itu si Diana. Kamu tahu kan dia itu gimana?”
Yosi: “Ini juga, lagian lu kok nekat amat sih?”
Diana: “Aku cuman penasaran aja apa gue bisa bicara ama itu setan, siapa tau gua bisa ngehajar itu setan.”
Deni: “Heh, emang bisa? Terus kenapa kau bisa dimakan ama itu setan?”
Diana: “Cuman sedikit kecelakaan.”
Oni: “Yang segitu dibilang kecelakaan? Jelas itu disengaja, aku tidak terima!”
Piyu: “On, udah deh. Sudah beruntung kita masih hidup, berapa lama kita ada dalam perut itu setan?”
Lisa: “Sekitar satu setengah tahun.”
Dinda: “Wah lama banget! Terus gimana kita bisa selamat?”
Santi: “Anu… tadi kakek Ujang yang nyelametin kita tadi.”
Lisa: “Kakek? Beneran?”
Santi: “I… iya, waktu itu dia datang sambil bawa botol air sama tasbih. Dia siramin airnya ke itu setan, terus kalian keluar deh.”
Diana: “Ah, masa. Kalau cuman disiram doang, kenapa rumahnya bisa sampai hancur lebur?”
Santi: “Eh… i… itu…”
Juki: “Karena rumah itu dibakar oleh aki Ujang beserta dengan setan itu. Hal itu dilakuin buat ngecegah supaya itu setan nggak bisa ngeganggu penduduk lagi.”
Diana: “Siapa lo?”
Juki: “…jadi dari tadi aku tak dianggap sama sekali?!”
Yosi: “Sabar, Juk, sabar. Maaf, dia baru pertama kali ini ikut.”
Deni: “Masa kalian lupa, ini si Juki. Teman kuliah kita.”
Diana: “Teman kuliah yang mana?”
Lisa: “Juki yang kadang ngomong bahasa Jawa itu lho.”
Diana: “Orang Jawa mana?”
Juki: (jengkel) “HEH, WONG EDAN!! MASA LALI KARO KANCAMU DHEWE?!”
Diana: “Oh lu, ngomong dari tadi.”
Juki: “DARI TADI GUA NGOMONG!”
Budi: “Ng… teman-teman…”
Yosi: “Ada apa?”
Budi: “Aku… mau minta maaf.”
Deni: “Soal apa?”
Budi: “Karena aku… kalian yang ikut menyelidiki hilangnya teman kita sampai kena musibah.”
Lisa: “Tak usah dipermasalahkan, kita semua kan baik-baik saja.”
Budi: “Tapi aku yang ngusulin buat nyari teman kita! Lagian itu atas perintah setan itu! Terus… ADUUH!!” (dijitak Juki)
Santi: “Juki!”
Juki: “Bisa diam nggak?! Lu ini udah culun, rada bego, jelek lagi! Bisanya cuman nyalahin diri sendiri, manusia macam apa lu?!”
Budi: “Maaf…”
Juki: “Maaf, maaf, bisanya minta maaf saja.”
Budi: (menangis) “……”
Juki: “Tapi ada satu yang gue paling seneng dari lu. (memegang pundak Budi) Lu mau ngorbanin apa saja buat nyelametin temen lu, nggak pernah ngekhianatin temen, terus ketawamu itu… hal yang paling bagus yang pingin gua liat.”
Budi: “Be… bener?”
Juki: “Dari lubuk hati gua yang paling dalam, sebego-begonya lu, gua salut karena lu mau ngelakuin apa aja buat temen.”
Budi: “Hik… te… terima kasih!” (memeluk Juki)
Juki: “Ya, ya, cup, cup. Hoi lepas, lepasin, udah. Hoi!”
Deni, Dinda, Santi, dan Lisa menangis tersedu-sedu melihat peristiwa itu. Semua anak bertepuk tangan dan berpelukan bersama-sama dengan Juki, dia sendiri merasa tidak enak.
Juki: “Oi… aduh, sesak, se… sak. Lepas…” (pingsan)
###
Akhirnya rombongan tersebut sampai di sebuah danau, airnya bersih dan pemandangannya sangat indah. Di pinggir danau tersbut, mereka melihat sebuah tenda yang cukup besar, dan mobil caravan diparkir di sebelahnya.Yosi: “Juk, beneran Eric di sana?”
Juki: “Nggak salah lagi, soalnya setiap dia ke hutan, mobil itu selalu ada.”
Deni: “Tapi kenapa dia pakai truk ya?”
Juki: “Ngawur, iku jenenge caravan. (ngawur, itu namanya caravan) Dasar Nagabonar katrok.”
Lisa: “Itu kan mobil yang biasa dipakai buat bepergian jauh, di dalamnya ada kamar mandi, tempat tidur, sama dapur. Di film aku liat yang kayak begituan.”
Yosi: “Wah, komplit dong. Mungkin nggak ya kalau ada tv di dalam?”
Juki: “Jangan harap, yang punya mobil itu bukan Eric.”
Budi: “Te… terus siapa?”
Juki: “Waktu di pengadilan, kalian ingat sama pengacaranya Eric? Nah itu pemiliknya.”
Yosi: “Oh, pak Kumamoto?”
Diana: “Entar dulu, sebenarnya ada apa sih? Pengadilan? Terus siapa pak Kumamoto sama Eric itu?”
Santi: “Anu, sebenarnya saat kalian nggak ada di kampus, kalian masih ingat Beni kan?”
Diana: “Siapa yang gak ingat? Dia kan yang suka pinjam I-podku tapi nggak dikembaliin.”
Piyu: “Dia sama begundalnya sering ngutang di kantin.”
Oni: “Tambah lagi, dia suka banget bolos kuliah.”
Dinda: “Gimana nggak, mereka sering ngelemparin gue pakai kodok.”
Lisa: “Waktu Eric masuk ke kampus, dia ngehajar mereka lho.”
Yosi: “Coba aja bayangin… (berbisik) ‘itu’nya diancurin ama dia.”
Diana, Dinda, Oni, dan Piyu: “Haaah?!” (menutup mulut)
Oni: “Pasti sakit ya? Uuh.”
Piyu: “Ngebayangin aja sudah bikin gue sakit.” (menutupi alat vital)
Juki: “Ah, perasaan nggak begitu-begitu amat deh.”
Deni: “Terus dia juga membuat pak Hutomo itu jadi gila.”
Piyu: “Haaah?! Masa sih?”
Diana: “Gimana ceritanya?”
Juki: “Udah, udah, mendingan kita cepat ketemu dia. Di sini juga ada yang terluka kan? Bisa infeksi lho.”
Dinda: “Kalau begitu gue duluan ya, gua kebelet pipis dari tadi.” (lari meninggalkan rombongan)
Juki: “Hoi, hoi! Hoooi!”
Dinda lari dengan kencangnya menuju karavan dan langsung menggedor pintunya, tapi sama sekali tak ada jawaban. Dia lalu masuk ke dalam tenda besar di sebelahnya, mendadak suara jeritan Dinda terdengar dari dalam. Mereka segera berlari begitu mendengar jeritan tersebut, tetapi begitu masuk ke dalam, sebuah pemandangan yang tak biasa membuat para gadis menutup mata dan para pria terbelalak tak percaya. Dinda pingsan dan sekarang dipegang oleh Eric yang saat ini tak memakai baju, kecuali selembar handuk. Tubuhnya yang terlihat atletis membuat wajah para gadis memerah, ngiler, dan seolah-olah mimisan.
Eric: “Are you just standing there and watching or wanna help me take her to bedroom?” (apa kalian hanya bisa berdiri di sana dan melihat atau menolongku membawanya ke kamar tidur?)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar