PARTY OF MADNESS
Kumamoto masih memanggul batang kayu yang dinaiki oleh Eric, Juki, Santi, dan Lisa. Seiring dengan berjalannya irama musik, Kumamoto mulai memutar ke kanan dengan sudut 360 derajat sebanyak dua kali dengan kedua tangannya. Setelah itu dia memutar berlawanan arah sebesar 90 derajat, kemudian diputar kembali ke kanan dengan sudut 360 derajat. Lalu 90 derajat ke kiri, 360 ke kanan dua kali. Hal itu dilakukan berulang-ulang, pada saat itu Eric sedang break dance dengan posisi berdiri dengan kedua tangannya. Kemudian dia bersalto ke depan, dan mendarat dengan kaki tepat di belakang Santi dan melakukan moon walk. Dia melangkah ke belakang dan sampai ke ujung, kemudian dia berhenti.
“Guys, sorry, but I really need your shoulders.” (sobat, maaf, tapi aku sungguh butuh bahu kalian)
Santi & Lisa: “Hah?”
Eric: “Be quiet and watch carefully.” (diamlah dan lihat baik-baik)
Eric bersalto ke depan, dia mendarat dengan kedua tangan mencengkeram bahu Juki dan Lisa. Dia meloncat dan bersalto ke atas, lalu mendarat di bahu Santi dengan satu tangan. Santi menatap ke atas dan saling bertatap muka dengan Eric.
Eric: “Are you hurt?” (apa kau kesakitan?)
Santi: “Nggak, cuman kaget aja…”
Eric: “Okay, next is…”
Eric meloncat, badannya berputar ke samping, dia mendarat di depan Juki dengan kedua kakinya. Sekarang dia melakukan tap dance kemudian berputar ke samping, mendadak Kumamoto berhenti memutar dan melempar batang kayu ke atas. Teriakan histeris terdengar dari mulut Lisa, Juki, dan Santi; Eric menjatuhkan dirinya ke bawah. Sekarang kedua tangannya memegang batang kayu, posisi batang kayu itu sekarang berada dalam kondisi vertikal. Juki, Santi, dan Lisa membungkukkan badan dan memeluk batang kayu erat-erat, Eric yang berada di sisi lain dari batang kayu melepas kedua tangannya dan mengangkat ke atas tubuhnya dengan kedua kakinya. Sekarang kedua tangan dan kakinya dalam posisi mencengkeram batang kayu, dia memanjat sampai ke puncak. Saat batang kayu itu hampir menyentuh tanah, Kumamoto menangkap bagian bawah dengan satu tangannya. Dia melemparnya lagi ke atas, Eric melompat turun ke bawah. Batang kayu itu sekarang jungkir balik, Kumamoto yang berada di bawah menggunakan kedua tangannya sebagai pijakan mendarat untuk Eric.
Eric: “Average Booster.”
Kumamoto melempar Eric ke atas, dia terbang menuju batang kayu dan memijaknya sehingga putarannya berhenti. Posisinya Juki, Santi, Lisa dan Eric sekarang terbalik, kepala mereka berada di bawah dan kakinya di atas. Kumamoto berhasil menangkapnya kembali, dia lalu memutar batang kayu ke samping. Posisi badan mereka sudah kembali normal, yaitu kepala di atas dan kaki di bawah. Kumamoto menurunkan batang kayu ke tanah, tak terasa lagu yang terdengar dari dalam akan habis. Sebagai penutup, Eric meloncat, berputar ke samping, dan melakukan sebuah pose. Telapak tangannya diletakkan di depan wajahnya, seakan sedang hormat. Tangan satunya memegang pinggang, dan punggungnya mundur ke belakang, kedua kakinya menyilang. Aplaus terdengar dari penonton yang menyaksikan, mereka menghampiri Eric dan melempar tubuhnya ke atas berkali-kali. Sedangkan Juki, Santi, dan Lisa baru saja turun, kaki mereka bergetar. Lisa sampai jatuh berlutut dan tak bisa berdiri, Santi hampir muntah, dan Juki sendiri pusing dan telungkup.
Diana: “Wah, hebat! Gua juga mau dong!”
Yosi: “Kok kamu bisa break dance kayak gitu?! Belajar di mana?”
Juki: “Er… Er…” (berdiri dengan tubuh gemetar)
Deni: “Ulangi lagi dong!”
Budi: “Wah, fantastis!”
Piyu: “Ulang yang tadi dong!”
Yosi dan yang lain: “Ulang, ulang, ulang!”
Eric yang berada di udara saat dilempar, mengubah posisi tubuhnya. Dia bersiap-siap mendarat dengan kakinya, kakinya berpijak ke bahu Oni dan Piyu, lalu dia melompat dan mendarat di tanah. Eric memegang bahu saking pegalnya, dia berjalan menuju karavan.
Yosi: “Lho, mau ke mana?”
Eric: “Sorry, but I must take a rest for a bit.” (maaf, tapi aku harus istirahat sebentar)
Oni: “Yaaah, kita kan mau lihat lagi atraksi tadi.”
Eric: “Dengar, kalian boleh menikmati permainan ini sepuasnya. Tetapi jangan meniru apa yang kulakukan barusan, Kuma-san, yoroshiku.” (kuserahkan padamu)
Kumamoto: “Yokai… hik.”
Eric: “Don’t overdo it.” (jangan berlebihan)
Eric masuk ke dalam karavan, disaksikan oleh Juki yang baru pulih dari pusingnya. Dia, Lisa, dan Santi dibantu berdiri oleh teman-teman, mereka dipapah ke kursi kosong dan duduk di sana.
Lisa: “Gila, gimana bisa dia ngelakuin gituan? Terus gimana mungkin pak Kumamoto, bisa ngangkat kayu segede gitu.”
Juki: “Mungkin aja, lu pernah lihat Ripley nggak? Bukannya ada orang yang bisa narik kereta pake giginya? Terus ada juga orang yang bisa narik truk pakai ‘+$%*@#’ nya.”
Santi: “Hoek! Hoek!” (muntah)
Lisa: “Juk! Jangan ngomong jorok gitu dong!”
Juki: “Sori, sori! Masih pusing nih.”
Santi: “Ngomong-ngomong nih, Eric mana?”
Juki: “Mene ketehek, dodol. Paling dia lagi istirahat sebentar, paling nanti juga balik lagi. Hoi! Jangan minum gituan!” (berteriak pada Dinda)
Dinda: (menjatuhkan gelas) “Ma… maaf!”
Juki: “Itu miras tau kagak, jangan diminum! Itu minumnya Kumamoto-san, aduuh, terlalu.”
Santi dan Lisa: “Iya pak Haji.”
Kumamoto: (memegang kendi) “Hei, Kani-kun. Hik… apa salahnya jika dia minum segelas saja? Mereka kan… hik… sudah besar.”
Juki: “Wis gedhe gundulmu iku, (sudah besar kepalamu itu) menurut aturan Negaraku tetap aja nggak boleh!”
Kumamoto: “Kani-kun, jangan bicara… hik… menggunakan bahasa yang tak kumengerti. Sake ini adalah sumber… hik… tenagaku untuk melakukan hal seperti ini, semakin kuminum, semakin hebat diriku.”
Juki: “Semakin parah lebih tepatnya, udahlah, mendingan Kumamoto-san layanin mereka, jangan berlebihan!”
Kumamoto: “Hai, hai.” (ya, ya)
Lisa: “Tapi sumpah deh, tadi itu bener-bener… gila! Lain kali kita naik lagi ya?”
Santi & Juki: “Ogah!”
Yang berikutnya akan naik adalah Diana, Dinda dan Oni; tetapi sebenarnya Dinda dipaksa naik oleh Diana. Diana memeluk tubuh Dinda dari belakang, sedangkan Oni memegang kakinya. Dinda meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Sementara itu Eric sedang mengawasi mereka dari jendela karavan, dia sedang membuat secangkir kopi dan menghidangkannya di meja. Eric duduk di kursi, di depannya sudah ada Aki Ujang, kakek dari Lisa.
Eric: “Maaf atas segala kekacauan yang terjadi kemarin malam, tidur anda kemarin tak terganggu kan?”
Aki Ujang: (tanpa logat) “Kemarin saya tidak tidur, tapi saya sungguh terkejut nak Eric berhasil mengalahkan mantan guru saya.”
Eric: “Itu bukan apa-apa, lagipula dibandingkan dengan yang saya hadapi selama ini, kekuatannya itu masih rata-rata. Hanya sedikit dari mereka yang pernah saya hadapi.”
Aki Ujang: “Nak Eric pernah menghadapi yang sejenis dengan dia? Memangnya apa yang biasa dilakukan nak Eric selama ini?”
Eric: “Exorcist, semacam pengusiran roh dan setan. Itu sebelum saya pindah ke negeri ini.”
Aki Ujang: “Tapi bagaimana saya bisa berterima kasih?”
Eric: “Ucapkan saja itu setelah kami kembali ke desa, anak-anak itu sudah kembali dengan selamat kan?”
Aki Ujang: “Benar, awalnya saya takut mereka akan menyalahkan saya lagi. Tapi entah kenapa, mereka malah berterima kasih kepada saya.”
Eric: “Anda seharusnya bersyukur karena sudah kembali mendapat kepercayaan dari mereka kembali, kemudian ada satu hal yang ingin saya tanyakan. Jika anda sudah tahu bahwa dia pelakunya, kenapa anda tidak segera bertindak?”
Aki Ujang: “Saya takut… setiap saya mengingatnya, saya dihantui oleh bayangan istri saya… bukan, setan yang telah menjadi istri saya.”
Eric: “Tapi paling tidak, sekarang anda sudah mendapat keberanian bukan?”
Aki Ujang: “Benar, berkat perkataan nak Juki.”
Eric: “Baguslah, jika ini sudah berakhir dengan baik. Kami semua bisa pulang dan beristirahat dengan tenang, jelaskan saja pada penduduk desa apa yang terjadi kemarin, tapi buatlah seakan-akan anda yang menolong kami.”
Aki Ujang: “Tapi bagaimana dengan nak Eric? Bukankah…”
Eric: “Saya tak memerlukan apapun, saya sudah memiliki orang yang dipercaya dan mau percaya saja itu sudah cukup. Cucu anda takkan senang jika kakeknya dijauhi warga lagi bukan? Hiduplah demi kebahagiaan mereka yang mempercayai anda, itu sudah cukup untuk membahagiakan anda.”
Aki Ujang: “Sebenarnya… nak Eric siapa?”
Eric: “Just devil who walks in the God path, better remember it.” (hanya iblis yang melangkahi jalan Tuhan, lebih baik diingat)
Mendadak sebuah getaran yang keras disertai dengan sebuah suara benda jatuh terdengar dari luar, Eric melihat dari jendela dengan tenangnya. Dia mendesah, dan mengeluarkan kertas bergambar lingkaran transformasi. Diletakkannya kertas itu di atas lantai, kemudian dia mengangkat telapak tangannya tinggi-tinggi. Huruf hieroglif bersinar muncul dari seluruh ujung jarinya, kemudian dia menepuk kertas itu dengan keras. Lingkaran itu membesar dan menjadi sebuah lubang yang bercahaya, kemudian dia bersalaman dengan aki Ujang.
Eric: “Rasanya sudah cukup pembicaraan kita untuk hari ini, kita akan bertemu lagi di desa.”
Aki Ujang: “Apa tadi… nak Eric ke rumah saya dengan cara begini?”
Eric: “That’s not important, now get in,” (itu tak penting, sekarang masuk)
Eric mendorong jatuh Aki Ujang ke dalam lingkaran, kemudian lingkaran itu lenyap. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu digedor bersama suara teriakan, Eric hanya garuk-garuk kepala dan berjalan perlahan menuju pintu.
Juki: “Er! Er! Setan, cepet metu!” (cepat keluar!)
Eric: (membuka pintu) “What do you want?” (kau mau apa?)
Juki: “What do you want, what do you want, gundulmu iku!
Eric: “Is there some problem?” (apa ada masalah?)
Lisa: “Lu kok bisa tenang gitu sih? Lu nggak ngerasain atau ngedengerin suara barusan?!”
Santi: “Ada masalah nih! Mendingan lu liat sendiri deh!”
Eric berjalan keluar, dia menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat matanya melotot. Kumamoto, Yosi, Dinda, dan Budi terbaring di tanah, Oni dan Piyu tersangkut di dahan pohon, sedangkan Diana dan Deni mengapung di tengah danau bersama dengan sebuah batang kayu yang besar. Eric menghampiri Kumamoto yang kelihatannya sedang teler, dia melihat ada sebuah kendi pecah di sebelah tubuhnya.
Eric: “It’s not like what I think, right?” (ini tak seperti yang kupikirkan, benar?)
Juki: “Bayangin aja tadi semua yang ada di sini kecuali kami minta naik, kapasitasnya kan cuman bisa empat orang. Nah, mereka tadi berebutan, Kumamoto-san bilang ‘naik saja semuanya, dijamin aman dan menyenangkan’. Terus dia minum abis nih, (memegang pecahan kendi) setelah itu dia muternya nggak karuan, hasilnya seperti yang kamu liat.”
Eric: “What a mess, I think we should clean this up.” (kacau sekali, kurasa kita harus membersihkannya.)
###
Siang hari, jam 11:20. Karavan milik Kumamoto diparkir di depan sebuah rumah, banyak kerumunan warga yang berkumpul di rumah tersebut. Di teras rumah itu, duduk Eric, Juki, Yosi dan yang lain. Di sana juga duduk kepala desa serta Aki Ujang yang sudah memakai peci, kaos dan celana panjang.Juki: “Jadi dengan kata lainnya, kami dislametin sama Aki Ujang kemarin malam. Dia juga sudah ngebasmi itu setan, sama ngebebasin anak-anak.”
Santi: “Iya, kemarin dia juga bakar rumah itu sampai jadi abu. Biar setan itu nggak lagi ngeganggu kita.”
Warga pria 1: “Oh, jadi ledakan yang waktu itu aki Ujang yang…”
Warga pria 2: “Tapi bagaimana kalau itu adalah ulahnya aki Ujang buat nyiapin tumbal?”
Juki: (memakai pengeras suara) “Su’udzon lagi?”
Semua warga: (menutup telinga) “Tidak, tidak.”
Warga wanita 1: “Tapi syukurlah anak-anak kembali selamat.”
Warga Wanita 2: “Iya, Acil sama Neneng sudah pulang ke rumah saya dalam keadaan sehat wal afiat.”
Warga pria 1: “Kita semua bersyukur kalau mereka sudah kembali. Anak-anak bilang sendiri kalau mereka diculik sama setan yang nggak punya kepala, waktu sudah sadar mereka semua ditolong sama diantar aki Ujang pulang.”
Warga pria 2: “Terus gimana dengan rumahnya itu setan?”
Aki Ujang: (logat Sunda) “Jangan khawatir saudara-saudara, rumah tersebut sudah tidak ada lagi, terbakar habis. Tapi kita bisa bersyukur saudara-saudara, sebab sebagai gantinya, di sana sudah disediakan lahan kosong untuk pemakaman. Di sana juga sudah ada beberapa yang dikuburkan.”
Pak Kades: “Sebentar, memang ada yang meninggal?”
Aki Ujang: “Bukan, mereka korban dari Cahyapraga berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mungkin sebagian dari kita yang tahu tentang kejadian itu, sekarang mereka semua tinggal tulang dan sudah dikuburkan.”
Warga berdebat setelah mendengar penjelasan dari Aki Ujang, beberapa ada yang menangis histeris, sebagian juga pingsan. Mereka mulai mempertanyakan keadaan korban yang tidak selamat dari Cahyapraga.
Warga pria 2: “Aki Ujang nguburin mereka sendirian?”
Aki Ujang: “Nggak juga, ada yang ngebantuin.”
Warga pria 1: “Dimandiin nggak?”
Aki Ujang: “Waduh lupa.”
Pak Kades: (warga ribut dan mencemooh) “Tenang saudara-saudara, nanti kita bisa bongkar lagi dan mandikan mereka.”
Warga wanita 2: “Tapi kita kan jadi repot kalau bawa air buat mandiinnya ke sana.”
Aki Ujang: “Kalian lupa ya? Bukankah ada sungai di belakang rumah tersebut? Airnya bersih, saya yang akan bertanggung jawab untuk semua itu.”
Pak Kades: “Wah, hebat juga. Saudara-saudara sekalian dengar sendiri kan? Ternyata Aki Ujang sama sekali nggak ada hubungannya dengan hilangnya anak-anak di kampung kita.”
Juki: “Itu benar, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, maka dari itulah kita tak berhak untuk menuduh orang lain tanpa bukti tertentu. Su’udzon adalah salah satu sifat orang yang munafik, tak disukai Allah, dan juga ke-ter-la-lu-an.” (logat Rhoma Irama)
Semua warga: “Iya pak Haji.”
Seluruh warga tertawa terbahak-bahak, dengan disaksikan oleh Eric beserta Kumamoto yang masih pusing dan baru saja bangun dari tidurnya dari dalam karavan.
###
Keesokan harinya, di rumah aki Ujang, Juki dan yang lain sudah bersiap-siap untuk pulang. Tapi ada sedikit masalah, kebanyakan berebut untuk naik karavan. Deni yang sudah duduk di kursi pengemudi, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat mereka.Dinda: “Aku ikut sama Eric naik karavan, pokoknya aku nggak mau naik truk.”
Piyu: “Iya, nggak ada ac-nya.”
Deni: “Hoi, kalau cuman ac ada di depan sini kok.”
Oni: “Tapi kan lebih sejuk di sini.”
Deni: “Tapi paling tidak ada radionya.”
Budi: “Itu sih sudah ketinggalan jaman, yang di sini lebih canggih!”
Yosi: “Iya ada TV-nya lagi.”
Lisa: “Lagian kalau kita naik gituan paling juga cepat bobrok.”
Deni: (keluar dengan kesal) “Hoi, jangan kurang ajar kau. Ini mobil sudah aku rawat baik-baik sebelum kalian lahir.”
Juki: “Memang umurmu berapa sebelum kita lahir?”
Deni: “Eh… maksudku ayahku yang merawatnya.”
Kumamoto: “Anu… sebentar lagi kita berangkat, sudah diputuskan siapa yang mau naik?”
Semua (kecuali Deni): “Saya!” (mengangkat tangan)
Kumamamoto: “Ah, mendo se.” (merepotkan)
Aki Ujang: “Lho, sudah mau pulang?”
Lisa: “Iya kek, kemarin malam kan udah dibilangin.”
Aki Ujang: “Wah, kakek jadi kesepian nih.”
Lisa: “Ngomong apa sih kek? Kakek kan sekarang sudah ada yang nemenin.”
Aki Ujang: “Iya, tapi kalau cucu kakek yang manis ini di sini kan jadi nggak sepi.”
Lisa: “Ah, kakek bisa aja deh. Kalau gitu kita semua pulang dulu ya kek.”
Aki Ujang: “Tunggu dulu, sebelum itu mana temanmu yang bule itu?”
Lisa: “Eric? Ada apa sama dia?”
Aki Ujang: “Kakek ada urusan sebentar.”
Eric: “I’m here.”
Eric berada di atap karavan, dia meloncat ke bawah dan mendarat tepat di hadapan Aki Ujang. Hal itu membuat Dinda dan Budi kaget setengah mati, ternyata mereka latah, mereka mengucapkan kalimat yang sama berkali-kali.
Dinda & Budi: “Eh copot, copot!”
Eric: “Ada perlu apa?”
***
Aki Ujang sedang berjalan bersama Eric di puing-puing rumah milik Cahyapraga, di sana berkumpul warga yang sedang menggali kuburan dan memandikan mayat, ada juga yang membersihkan puing-puing.Aki Ujang: “Saya merasa sangat berterima kasih karena semuanya sudah kembali dengan selamat.”
Eric: “Jangan hanya kepada saya, anda seharusnya juga berterima kasih kepada -‘Nya’.” (menunjuk ke atas)
Aki Ujang: “Tentu saja saya sudah melakukannya, saya juga merasa bersyukur karena sekarang kampung ini sudah memiliki kuburan baru.”
Eric: “Dan terlebih lagi anda juga mendapat pekerjaan sebagai penjaganya.”
Warga pria: “Eh, Aki Ujang, mau ngebantuin?”
Aki Ujang: “Nanti saja, kalau udah siang. Terus nak Eric mau ngapain setelah ini?”
Eric: “Mungkin saya akan berkeliling sekitar negeri ini, lagipula masih banyak yang harus dikerjakan.”
Aki Ujang: “Emang nggak bosan kerja gituan?”
Eric: “Yah, sebut saja hobi. By the way…”
Aki Ujang: “Maaf, maksudnya apa?”
Eric: “Oh, maaf. Itu artinya ngomong-ngomong, saya punya pemberian untuk anda di rumah. Mungkin saya akan berkunjung lagi ke sini, saya harap gaya hidup anda juga berubah.”
Aki Ujang: “Insya Allah, kalau Allah menghendaki. Silahkan saja kapan-kapan mampir ke sini.”
Warga pria: “Aki Ujang, ke sini sebentar.”
Aki Ujang: (melangkah menuju warga) “Ada apa?”
Warga pria: “Aki kan yang ngebuat makam buat mereka, tapi aki kok bisa tahu siapa nama mereka? Padahal kan sudah jadi tulang.”
Aki Ujang: “Eh, itu…”
Bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh warga, aki Ujang menoleh ke tempat Eric. Tapi dia sudah tak ada di tempatnya, lenyap dari pandangan mata.
###
Di tengah jalan pada siang hari, sebuah truk melaju bersama dengan sebuah karavan di belakangnya. Di belakang truk ada Juki, Santi, Yosi, dan Oni yang sedang tidur, di bangku pengemudi ada Deni dan Diana.Yosi: “Sialan, kenapa gua yang naik di belakang?”
Diana: “Soalnya lu udah kalah taruhan, jangan protes, mau gua jitak?”
Yosi: “Nggak, nggak usah.” (takut)
Juki: “Aduh panas banget, coba ada kipas angin. Ngapain juga kamu ngikut aku?”
Santi: “Masih ada yang mau gua tanyain, katanya lu bakal jelasin sisanya. Terus kenapa dia tinggal sama lu sekarang? Orang tuanya di mana?”
Juki: “Ada di sana.” (Menunjuk ke atas)
Santi: “Hah?!” (Menutup mulut dengan tangan)
Juki: “Hah, heh, hah, heh aja dari tadi.”
Santi: “Kenapa…”
Juki: “Mereka dibunuh… tepat saat ultahnya yang ke-10.”
Santi: “Kasihan banget, gua turut berduka cita.”
Juki: “Ngomong gituan sama dia aja.”
Sementara itu Dinda, Budi, dan Piyu sedang berkaraoke di karavan, Eric dan Kumamoto duduk di bangku depan. Mereka menyanyikan lagu ‘American Idiot’ dari ‘Green Day’.
Dinda: “Wah, nggak nyangka ya kita bisa nikmatin fasilitas begini? Lain kali kta kemping, naik ini aja ya?
Budi: “Iya, setuju!”
Eric: “Hey, it’s limited, you know?” (Hei, ini terbatas, mengerti)
Kumamoto: “Hahaha, ternyata orang Indonesia itu sungguh enerjik ya?”
Eric: “Yah, kau belum melihat semuanya, Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa. Walau mereka berbeda kulit, agama, dan bahasa, tapi mereka tak pernah membedakan satu sama lain.”
Kumamoto: “Apa tidak apa-apa kau memberikannya kepada kakek itu?”
Eric: “Why not? At least, he can change his lifestyle from now on.” (kenapa tidak? Paling tidak, dia bisa mengubah gaya hidupnya mulai sekarang.)
Kumamoto: “Jadi apa yang mau kau lakukan setelah ini, lain kali berkunjunglah ke rumahku. Istri dan anakku penasaran kapan kau akan kembali.”
Eric: “Di negara ini masih banyak Jin, iblis, maupun siluman yang lebih kuat dariku. Aku datang ke Negara ini untuk mengetahui sejauh mana kemampuanku, juga sebagai latihan untuk menghadapi ‘dia’. Ini baru 0,2% dari yang aku hadapi sampai sekarang, mana mungkin aku meninggalkan negeri yang belum ‘bersih’ sepebuhnya ini.”
Kumamoto: “Hmm, kalau begitu sampai kau menyelesaikan 100% latihanmu di negeri ini, mungkin aku akan membawakan oleh-oleh. Ah, mungkin tidak jika aku mengajak beberapa keluargaku?”
Eric: (wajah kaget) “Are you kidding?” (Kau bercanda?)
###
Sementara itu di rumah Aki Ujang, dia baru saja pulang dan masuk ke dalam. Saking capeknya, dia berbaring di atas kursi. Pada saat itulah dia menyadari sebuah koper di atas meja.Aki Ujang: “Eleh-eleh, temannya Lisa sampai kelupaan barang. Ng? Ada kertasnya pisan?”
Mohon diterima, semoga anda menggunakannya untuk hal yang baik. Jangan dihamburkan untuk yang tak perlu, bersyukurlah, mungkin ini hari baik anda.
Aki Ujang: “Hari baik? Memang isinya apa?”
Aki Ujang membuka koper perlahan-lahan, saat sudah terbuka sepenuhnya, dia kaget sampai jatuh terduduk. Isi koper itu adalah uang tunai, mungkin bernilai sekitar sepuluh juta, dalam pecahan seratus ribuan. Saking tidak percaya pada apa yang dia lihat, banyak keringat menetes dari tubuhnya. Dia melihat tulisan lagi di balik koper yang dia buka.
Lebih baik pakailah untuk renovasi rumah dulu, anda pasti tak ingin tamu yang datang ke rumah anda tak merasakan kenyamanan bukan?
Aki Ujang berusaha untuk menenangkan dirinya, dia duduk di kursinya kembali. Sambil mengusap keringat di wajahnya, dia tertawa kecil.
Aki Ujang: “Dasar… nak Eric ini… penuh kejutan juga.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar