Welcome

Selamat datang, di blog Zachor. Di sini saya menyambut orang yang mau membaca dan mau memberi pendapat pada cerita yang sedang saya buat untuk dijadikan komik. Mohon kerja samanya.

Kamis, 04 Februari 2010

Bagian 1

Halo, sebagai awalnya saya akan beri bagian satu sari cerita. Selamat membaca!

THE INTRODUCTION


Indonesia, Negara kepulauan yang terletak di Asia Tenggara, merupakan salah satu Negara makmur (untuk saat ini). Rakyatnya hidup dengan damai (sering demonstrasi dan tawuran), lalu lintasnya lancar (macet total), penduduknya hidup berkecukupan (sebagian mlarat), dan kaya dengan artis dan band papan atas yang banyak penggemarnya (kenyataan). Mari kita pergi ke Jakarta, di bandara Soekarno-Hatta, 12:00 PM, cuaca mendung. Sebuah pesawat baru saja mendarat, para penumpang turun satu-persatu. Seorang pemuda bule baru turun dan memandang ke sekeliling, wajahnya tak kelihatan jelas karena sinar matahari, yang terlihat hanyalah mulutnya. Dia memakai jaket kulit, bertudung, berkacamata hitam, celana jeans, dan sepatu boot tentara.

?: “Nothing’s changed here, a bit.” (tak ada yang berubah di sini, sedikit)

Di pintu masuk bandara, dia keluar sambil menjinjing tas ransel dengan satu tangan. Banyak orang yang menunggu di luar, dia melirik ke arah kanan, kepada seorang pemuda berpotongan rambut tentara, berwajah bundar, memiliki tahi lalat di bawah mata kanannya, dan berhidung lebar. Sang pemuda bule tersenyum, dan berjalan menuju pemuda yang sedang memegang potongan karton bertuliskan white bull.

?: “Apa kau tak punya kata yang lebih bagus, Juki?”
Juki: “Ini kan sudah bagus, white bull, kebo bule, hehe.”
?: “Whatever, where is the transport? (terserah, mana kendaraanya?)
Juki: “Di sana noh.” (menunjuk mobil pick up hitam)
?: “Humble-lievable. Ayahmu masih memakai itu?”
Juki: “Jangan ngehina lu, keluarga gue sudah sedikit berubah kehidupannya, ini perkecualian. Liat aja nanti sampai di rumah gua.”
?: “Ok.”

Mobil pick up itu kini dalam perjalanan, saat itu hujan mendadak turun. Sekarang mobil itu berhenti di lampu merah, sang pengemudi, bapak-bapak berbadan gendut dan berkumis, sedang menghela nafas.

??: “Aduh, hujan. Padahal ini mobil baru gua cuci.”
Juki: “Sabar aja pak, lagipula ini kan termasuk ujian hidup.”
??: “Jangan sok lu, lu kan bukan ulama.”
Juki: “Inggih, pak.” (iya pak)
??: “Aduh, Juk. Lu jangan ngomong pake bahasa mak lu dong, gua jadi bingung.”
Juki: “Lha nek aku iki dudu putranipun ibu, aku ora isa ngomong Jawa, pak.” (kalau aku bukan putranya ibu, aku tak bisa bahasa Jawa, pak)
??: (menatap Juki) “…iya juga sih.”
Juki: “Lampunya udah ijo tuh pak.”
?: “Tidak banyak yang berubah dari negeri ini ya, pengamen, gelandangan, pengemis, dan anak terlantar masih berkeliaran.”
Juki: “Jangan gitu dong, ini juga Negara gue, sebagian dari masyarakat kita juga berusaha untuk menghilangkan hal seperti ini, seberapa lama pun itu.”
?: “Yah, aku masih salut padamu karena masih bisa bertahan dalam situasi apapun. Lalu perubahan seperti apa yang terjadi dalam hidupmu sekarang?”
Juki: “Bapak sekarang sudah buka usaha bengkel, hasilnya lumayan. Rumah langsung direnovasi jadi lebih bagus, kamar gue jadi tambah luas.”
?: “Kalau begitu ruangan di rumahmu bertambah sekarang?”
Juki: “Begitu deh, lagian… buat apa kamu nanya gitu?”
?: “That’s my line.” (itu terserah aku)
Juki: “Jangan bilang lu mau nginap di rumah gue.”
?: “Why not, because I am one of your friend right?” (kenapa tidak, karena aku ini satu dari temanmu kan?)
Juki: “Aduh, kamu ini kan dah punya rumah, apalagi letaknya di sebe…”
?: “…” (menunduk)
Juki: “Oh, maaf, jadi ngingetin kenangan buruk.”
??: “Tenang aja, untuk sementara ini kite pade bakal tinggal serumah bareng ama lu.”
?: “Terima kasih, pak Marzuki.”
Pak Marzuki: “Bukan apa-apa kok.

###

Pagi hari di sebuah universitas, di kantor rektorat, duduk dua orang yang berhadapan langsung dengan seorang rektor, dia sudah tua, kepalanya botak, dan berkacamata. Dua mahasiswa itu adalah Juki dan sang pemuda bule.

Rektor: “Jadi ini temanmu yang kau bilang akan mulai belajar di sini?”
Juki: “Iya pak, dia baru datang dari luar negeri.”
Rektor: “Ooh, dari daerah mana?”
Juki: “Itu…”
?: “Saya lahir di sini, (hening sebentar) sudah lama saya tinggal di Negara luar, tapi dulunya saya sudah tinggal di sini selama sepuluh tahun.”
Rektor: “Sekolah di luar negeri?”
?: “Bisa dibilang begitu, tapi saya sudah mendapat cukup dari sana. Lalu saya memutuskan untuk kembali ke sini, lebih menyenangkan saya kira. Selain itu…, saya juga perlu mengawasi teman saya, heheh.”
Rektor: “Kalau boleh tahu, siapa namamu?”
Eric: “Pietersburgh, Eric Pietersburgh, panggil saja saya Eric.”

###

Di dalam sebuah kelas, sekumpulan mahasiswa sedang ujian. Mereka semua duduk di kursi meja sementara sang dosen berjalan berkeliling mengamati mereka. Sang dosen tak menyadari saat membelakangi seorang mahasiswi, bahwa dia memanggil temannya di sebelah dan saling bertukar jawaban. Saat itu terdengar bunyi pintu diketok, sang dosen langsung berjalan menuju pintu dan keluar. Sementara itu sang mahasiswi yang bernama Santi ini melanjutkan saling tukar jawaban.

Santi: “Untung pak Roni keluar. Ayo cepet, soal nomor 10 ampe 13.”
?: “Ampun, sabaran dikit napa kek? Ini soal juga masih gue kerjain.”
Santi: “Lagian waktunya kan tinggal dikit, kalo nunggu lu ampe kelar, berabe dong.”
?: “Liat aja dulu yang nomor 11 sampai 12, gua masih agak sulit nih.”
Santi: “Aduh, Lis, lagian soal gue tinggal dikit lagi nih. Gak bisa semuanya tuh?”
Lisa: “Ya elah, kamu soal kosong dikit aja gak apa kan? Lagian nilai lu juga masih bagus.”
Santi: “…iya juga ya, waduh gawat pak Roni masuk!”
Pak Roni: “Anak-anak, semua yang sudah selesai mengerjakan soal harap langsung mengumpulkan di meja. Dan satu hal lagi, tolong jangan keluar dulu, akan ada murid baru yang akan bergabung di sini dan mau diperkenalkan.”
Santi: “Murid baru? Wah lu tadi denger?”
Lisa: “Iya, moga aja ini laki, soalnya di kelas kita lakinya banyak tapi gak romantis.”
Santi: “Lis, Lis, kamu aja pacaran gak pernah, tau dari mana kalo mereka kagak romantis?”
Lisa: “Eh asal tau aja, gua ini banyak yang naksir tau.”
Santi: “Eh, lagian… entar dulu ngapain kita ngomong gituan, soalnya belum selesai kan?!”
Lisa: “Waduh! Iya! Ayo cepet kerjain!”
Santi: “Gue nyontek dong!”
Lisa: “Enak aja, lu kerjain sendiri!”

***

Lima menit kemudian, setelah ujian selesai, Lisa dan Santi terperangah saat Eric sudah berdiri di hadapan seluruh mahasiswa. Rambutnya pirang dan bergaya British, wajahnya tampan, hidungnya mancung, dan matanya biru.

Pak Roni: “Nah, silahkan perkenalkan dirimu kepada teman-temanmu.”
Eric: “Teman ya? Baiklah, selamat siang, nama saya Eric Pietersburgh. Baru pindah di sini, saya senang bertemu dengan kalian.”
Lisa: “Gila bule, bo! Ganteng lagi.”
Santi: “Iya, ngomong bahasa Indonesia-nya fasih juga. Aduh, mirip Justin Timberlake lagi.”
Lisa: “Pasti dia baru pindah dari luar negri.”
Santi: “Jangan sok lu, tau darimana lu? Dari cara dia ngomong, dia pasti udah lama tinggal di sini.”
Lisa: “Bisa saja kan kalo dia sering berkunjung ke Indonesia, makanya jadi lancar gitu bicaranya.”
Santi: “Kalo gitu taruhan ya? Nanti kita tanyain, kalo gue bener lu traktir gue soto ayam. Tapi kalo lu yang bener, gua traktir burger.”
Lisa: “Ogah! Kurang kenyang, gak ada yang lebih enakan dikit ape? Kita kan udah makan burger kemaren pas kita pulang dari bioskop! Makan kaya gitu lagi, eneg gue.”
Santi: “Ya udah, gimana kalo nasi goreng.”
Lisa: “Deal, sepakat.” (bersalaman)

Mereka tak tahu bahwa sedari tadi Juki mendengarkan percakapan mereka dari belakang.

***

Eric dan Juki sekarang berada sendirian di dalam kelas. Juki duduk di meja guru, sedangkan Eric duduk di kursi dan meletakkan kedua kakinya di atas meja. Sambil berpangku tangan, Juki menggerutu.

Juki: “Kenapa sih lu kuliah di tempat ini? Apa lu gak kepikiran tempat yang lain?”
Eric: “Kalau di sini lebih menyenangkan, karena ada yang masih kukenal.”
Juki: “Alah, lu kan bisa kuliah sendiri dan lebih mengenal orang di sekitar lu, bersosialisasi. Jangan lu anggap gua ini babysitter lu.”
Eric: “Aku tak pernah menganggapmu begitu.”
Juki: “Iya sih, kita ini teman, tapi masalahnya…”
Eric: “Kalau masalah biaya, tak usah dipikirkan. Aku biasa membayar sendiri, jangan mengira bahwa aku ini bukan pria yang mandiri.”
Juki: “Betul? Berarti lu banyak duit dong? Bisa gak gue minta duit ke lu?”
Eric: “Don’t expect that.” (jangan mengharapkan itu)
Juki: “Sontoloyo, pelit amat lu… ntar, kok jadi ngomongin gitu. Gini ya, bukan masalah uang atau biaya. Masalahnya adalah cewek-cewek di kampus ini.”
Eric: “Kenapa mereka tak suka?”
Juki: “Sebaliknya, ngelihat wajah yang kayak lu aja, udah banyak cewek kesengsem ama lu.”
Eric: “…sudahlah, antarkan aku melihat-lihat, lagipula aku masih baru di sini. Ah, tapi… mungkin tak usah.”
Juki: “Ya, lu sendiri kan bisa.”
Eric: “Look, the tour-guide has arrived.” (lihat, pemandu wisatanya sudah datang)

Eric melihat di pintu sudah berada Santi dan Lisa berdiri di ambang pintu. Terperanjat, mereka berdua menjatuhkan buku yang mereka bawa. Eric langsung menurunkan kakinya dari meja dan langsung mengambil buku yang mereka jatuhkan, Juki juga ikut membantu.

Eric: “Are you alright?” (kalian tak apa?)
Santi: “I… iyes.”
Juki: “Perasaan gua gak enak nih.” (suara hati)
Eric: “Tak perlu takut, memang apa yang kalian lihat?”
Lisa: “Bu… bukan, tadi ada lalat, makannya jatuh. Ini temanmu, Juk?”
Eric: “Old friend.” (teman lama)
Juki: “Ya, sejak jaman Majapahit.”
Santi: “Gila lu, ketuaan! Emangnya dia setan?”
Eric: “I am, yes, I am a devil.” (benar, ya aku memang iblis)
Lisa dan Santi: “Hahaha.”
Juki: “Terus ngapain kalian ke sini?”
Lisa: “Sebenarnya… kita berdua penasaran, Eric ini asli dari mana.”
Santi: “Iya, soalnya bicara Indonesianya lancar banget.”
Eric: “Is that so? Then would you mind if you ask me in the form of quiz? In this paper of course.” (begitukah? Jika begitu maukah kalian menanyaiku dalam bentuk kuis? Di kertas ini tentu saja)
Lisa dan Santi: “…” (bingung)
Juki: “Maksudnya dia minta kalian kalau nanya tulis aja di kertas.”
Lisa: “Iya gua udah tahu artinya, jangan kira gue ini kagak tau maksudnya.”
Santi: “Emang buat apa sih?”
Eric: “Just do it and I want the answer in multiple choices.” (lakukan saja, dan aku ingin jawabannya dalam pilihan ganda)

***

Beberapa menit kemudian, kertas berisi pertanyaan diberikan pada Eric. Isi pertanyaan itu adalah:

Kenapa kamu bisa berbahasa Indonesia? Karena
A.Tinggal di Amerika
B.Tinggal di Indonesia
C.Tinggal di luar negeri, tapi lebih sering berkunjung ke Indonesia

Eric: “B, obviously.” (B, tentu saja)
Lisa: “Hah? Kenapa?”
Eric: “Sebenarnya, aku memang pernah berada di Indonesia, tapi aku berpindah tempat dari satu Negara ke Negara lain. Tapi… aku tak sering berkunjung ke sini. Ngomong-ngomong, aku ini keturunan Inggris.”
Santi: “Yah, gagal deh aku ditraktir.”
Juki: “Tunggu sebentar, jangan bilang kalian taruhan ya. Ingatlah judi itu dosa, dan itu sungguh terlalu.” (meniru Rhoma Irama)
Lisa dan Santi: “Iya pak haji.”
Eric: “Kalau tak keberatan, apakah kalian bisa ajak aku berkeliling?”
Santi: “Eh kita? Bukannya dia bisa?” (melihat Juki)
Eric: “Aku sudah biasa ditemani olehnya, aku perlu orang yang lain.”
Juki: “Benar, dia perlu sosialisasi.”
Eric: “Ya, lagipula begitu seringnya dia menemaniku sampai akhirnya dia jadi pemalas.”
Juki: “Hoi!”
Eric: “Sorry, but I’m just telling the fact.” (maaf, tapi aku mengatakan kenyataanya)

###

Siang hari di kampus, di sebuah kantin yang ramai, banyak pelajar mengantri untuk membeli makanan. Di antara banyak meja yang berjajar, terlihat Eric, Juki, Santi, dan Lisa sedang duduk dan menyantap makanan. Eric sedang menyantap bakso dengan lahapnya, dia menusuk bakso dengan garpu dan mengoleskannya ke saos tomat di wadah merah kecil. Ketika sudah selesai makan, Eric langsung meneguk habis kuahnya dari mangkuknya. Lisa dan Santi menatap dengan pandangan tak percaya, Juki yang dari tadi duduk di sebelahnya hanya diam sambil makan rujak cingur.

Eric: “This country is still better with their meatball. No, it’s truly the best.” (negeri ini masih yang lebih baik dengan bakso mereka. Tidak, ini sungguh yang terbaik.)
Juki: “Bagaimana bisa lu bilang gitu, sementara lu sendiri sudah makan lima mangkok.”
Eric: “Sudahlah, lagipula aku juga sudah lama tak pulang ke sini. Dan berpikirlah memakai kepalamu, mana mungkin aku makan mangkok.”
Juki: (jengkel) “…goblok! Maksud gua, kamu nambah sampai lima mangkok!”
Eric: “Ternyata bahasa Indonesiamu masih payah, aku hanya pakai satu mangkok, lihat baik-baik.”
Juki: “Uuugh, lu ini… maksud gua… lu nambah sampai lima porsi! Bukan sama mangkoknya!”
Eric: “Itu baru bahasa Indonesia yang benar.”
Juki: “Lama-lama gua bisa stroke nih!”
Lisa: “Seneng bakso ya?”
Eric: “Off course, this is my favorite when I five years old.” (tentu saja, ini kesukaanku sejak umur lima tahun)
Santi: “Apa saja makanan kesukaanmu selain bakso.”
Eric: “Yah, aku punya satu makanan favorit untuk satu Negara. Di Indonesia ini, aku lebih menyukai bakso.”
Lisa: “Sekarang kamu tinggal di mana?”
Eric: “Aku tinggal dengan dia untuk saat ini.” (menunjuk Juki)
Santi: “Untuk saat ini? Emangnya kamu mau tinggal di mana?”
Eric: “Sebenarnya, aku sudah meninggalkan negeri ini selama sepuluh tahun. Selama aku tak ada di sini, aku selalu berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain.”
Lisa: “Emang kamu kerjaannya ngapain aja?”
Eric: “Hmm, tidak tentu, waktu aku ada di Amerika aku bekerja dengan berlari di tengah baku tembak.”

Lisa dan Santi membayangkan Eric dikejar polisi sambil ditembaki karena merampok bank.

Eric: “Hei, jangan salah sangka dulu.”
Santi: “Kamu di sana sekolah nggak?”
Eric: “Tentu saja, tapi jika dibilang sekolah kurang tepat. Aku berguru di sana, kurang lebih.”
Lisa: “Terus ngapain kamu ke Indonesia?”
Eric: “Aku sudah terlalu banyak mempelajari hal yang sudah kutahu di luar sana, jadi menurutku pelajaran di Indonesia lebih menarik.”
Juki: “Dan sialnya dia satu kampus dengan gue. Aduh!!”
Eric: (menjitak Juki) “Sampai lupa, siapa nama kalian? Ladies?”
Lisa dan Santi (wajah merah): “Nona dia bilang!!”
Juki: “Tuh kan, gua bilang juga apa.”
Lisa: “Nama gue Lisa, ini teman gue Santi, nice to meet you.”
Eric: “Same for you… what’s happening there?” (sama denganmu… ada apa itu?)

Eric melihat ada keributan di pojok kantin, sekelompok pemuda berpakaian preman mengganggu seorang mahasiswa bertampang culun. Semua yang di sekitar mereka hanya bisa diam saja menyaksikan, wajah mahasiswa itu babak belur. Lisa dan Santi yang melihatnya, langsung berdiri dan berlari ke tempat kejadian.

Juki: “Aduh, itu Beni CS.”
Eric: “Kau kenal dia?”
Juki: “Dia begundal di kampus ini, makannya gua udah bilang kan? Jangan kuliah di sini.”
Eric: “Jadi alasan kau melarangku untuk kuliah di sini adalah mereka? Justru karena itulah… aku memutuskan untuk menyenangkan diri di tempat ini.”
Juki: “Lu serius?”
Eric: “I am the devil who walks in the God path after all.” (lagipula aku adalah iblis yang melangkah di jalan Tuhan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar