HANDICAP
Keributan terjadi di sebuah kantin, sekelompok pemuda bertampang preman menghajar seorang pemuda bertampang culun, para pelajar hanya terdiam ketakutan saat melihatnya. Mendadak Santi dan Lisa muncul dari kerumunan pelajar.
Santi: “BENI, HENTIKAN!!”
Seorang pemuda yang memakai ikat kepala menoleh ke arah Santi, ada codet di pipi kirinya. Hidungnya mancung, rambutnya jabrik. Di kanannya ada pemuda gendut besar yang sedang makan es krim, berambut cepak. Sebelah kirinya pemuda kurus kering dan tinggi, rambutnya gondrong.
Beni: “Wah, Santi, ada urusan apa lu?”
Santi: “Lepasin Budi!”
Beni: “Waduh, kagak bisa. Hari ini dia sudah bikin kesel gue, makannya dia musti tanggung jawab.”
Lisa: “Emangnya dia ngapain lu?!”
Beni: “Coba liat, (menunjuk ke bawah) makanan gue dia jatuhin.”
Lisa: “Cuman gitu aja kan bisa lu beli lagi!”
Beni: “Emang bener, tapi itu nggak cukup, makannya… Ron!”
Pemuda gendut itu menjatuhkan Budi dan memaksanya berlutut, Beni duduk di atas punggungnya. Wajah Budi hampir menyentuh makanan yang jatuh di lantai.
Beni: “Sekarang kamu makan tuh, ayo!” (memukul kepala Budi)
Santi: “Jangan!”
Beni: (tertawa) “Tuh lihat, ada anjing makan sampah! Bener gak, Roni, Rudi?”
Rudi: “Iya bos, anjingnya bulldog lagi! Hahahaha!”
Roni: “Enak aja bulldog, dasar herder.”
Tidak tahan melihat hal itu, Santi langsung menampar Beni dan menyiram air ke wajahnya. Budi langsung diberdirikan dan dijauhkan dari mereka.
Beni: “Santi, apa maksudnya ini?”
Santi: “SUDAH CUKUP!”
Roni: “Waduh berani-beraninya lu.”
Rudi: “Mau mampus lu?”
Beni: “Santi, apa lu sudah lupa lu ini siapa? Dan siapakah gue ini?”
Lisa: “Iya, lu bajingan tengik.”
Beni: “Apa lu mau ngalamin hal yang sama kayak temen lu yang dulu?”
Lisa: “!!!”
Beni: “Kalo lu ngelawan, lu tau kan akibatnya?”
Sebuah ember kecil berisi air cucian dan sebuah gayung melayang menuju arah Beni, Roni, dan Rudi. Airnya mengguyur mereka semua, embernya mengenai kepala Roni, sedangkan gayungnya mengenai kepala Rudi. Mereka semua berteriak kaget.
Rudi: “Walah! Kita disiram air comberan coy!”
Beni: “SIAPA YANG NYIRAM GUE BARUSAN!!”
Roni: “Adauw, pale gue!! Pecah nih!”
Beni: “SIAPA YANG SIRAM GUA BARUSAN!! CEPAT…”
Ember air cucian melayang sekali lagi di atas kepala Beni, kali ini seluruh kepalanya tertutup oleh ember. Dia berjalan sempoyongan dan menabrak tembok, sekarang dia sedang berusaha untuk melepaskan ember dari kepalanya. Rudi dan Roni ikut membantu melepaskannya, pelajar di sekitar mereka mundur perlahan-lahan dari mereka. Akhirnya Beni terlepas dari ember yang menutupi kepalanya, Roni dan Rudi membantunya berdiri. Kemudian mereka mendengar tepuk tangan dari belakang para pelajar, mereka langsung menyingkir, terlihat Eric yang sedang duduk dengan santainya sambil bertepuk tangan. Di sebelahnya berdiri Juki.
Eric: “Bravo, bravo.”
Beni: “Lu yang nyiram gue barusan?”
Eric: “That’s obvious, the rain occurs above the head of a scum. Nice job.(sudah jelas, hujan terjadi di atas kepala seorang keparat. Kerja bagus)
Roni dan Rudi: (melihat Juki) “Lu yang nyiram barusan!?”
Juki kaget dan langsung dikejar oleh mereka, ketika mereka mengejar Juki. Mereka terpeleset oleh sabun yang terjatuh di lantai dan jatuh terlentang, Eric langsung berdiri dan maju mendekati Beni perlahan-lahan.
Beni: “Yang nyiram barusan lu?”
Eric: (tersenyum) “Off course not. My comrade did.” (tentu saja tidak. Temanku yang lakukan)
Beni: “Kamu siapa?”
Eric: “Who are you first?” (pertama kau siapa dulu?)
Beni: “Kayaknya lu gak bisa bahasa Indonesia ya, lu murid baru di sini?”
Eric: “Jelas saja, lagipula kau baru melihatku.”
Beni: “…ternyata lu bisa bahasa Indonesia, begini ya, lu baru saja nyiram orang yang paling ditakuti di sini.”
Eric: “Then now you’re talking with the devil that walks in the God path.” (maka kau sekarang sedang bicara dengan iblis yang berjalan di jalan Tuhan)
Beni: “Dengar, lu udah bikin gua marah, lu mau muka lu jadi ancur?”
Eric: “Hancur-hancurkan saja agar lebih menyenangkan.”
Beni: “Lu yang minta ya, nih rasain!!” (melayangkan tinju)
Kepala Eric miring ke kiri, tinju dari Beni mengenai wajah Rudi. Ternyata Rudi sedang berusaha menangkap Eric dari belakang. Beni melayangkan tinju lagi, kepala Eric miring ke kanan, dan tinjunya mengenai hidung Rudi sampai mimisan. Sekarang Beni menendang ke perutnya, tapi Eric berputar ke belakang Rudi. Alhasil tendangan itu mengenai kemaluan Rudi, dia langsung duduk berlutut.
Rudi: “Kok aku terus…, atit nih.” (wajah memelas)
Beni: “Salah lu sendiri sih! Berdiri di belakangnya dia! Roni, sergap!”
Roni: “Beres!”
Roni mencoba menyeruduk Eric, dia melompat ke kanan dan menjegal kaki Roni. Roni pun terjatuh menindih Rudi, Beni bersiap melancarkan serangan balasan. Mendadak seorang satpam datang dan menghentikan perkelahian tersebut.
***
Di ruang dosen, Eric, Beni, Rudi, dan Roni duduk bersebelahan di depan meja dosen. Seorang dosen wanita duduk di depan mereka, menunggu penjelasan dari mereka.Dosen: “Kalian ini sungguh memalukan, mencemarkan nama baik kampus ini. Saya heran kenapa kalian bertiga masih ada di sini? Lalu kamu anak baru, kenapa baru masuk malah membuat onar?”
Eric: “Keberatan.”
Dosen: “Jadi kamu menyangkal kalau kamu telah mengacau?”
Eric: “Saya mungkin baru pindah di sini, lagipula saya hanya ingn menolong orang. Apa itu salah?”
Dosen: “Dengan jotos-jotosan? Hal seperti itu bisa membuat kamu dkeluarkan!”
Eric: “Dua hal. Pertama, saya tidak ke sini untuk mencari gara-gara. Kedua, saya sama sekali tak pernah memukul salah satu dari mereka.”
Dosen: “Apa yang membuat kamu bisa berkata seperti itu?”
Eric: “Karena saya punya bukti.”
Dosen: “Begitu? Kalau begitu, bisa kamu tunjukkan?”
Eric: “Tentu, jika anda mengizinkan saya memanggil seseorang.”
***
Sekarang sang dosen dan keempat orang itu ada di ruangan presentasi, di sana sedang diputar sebuah video. Setelah selesai melihatnya, sang dosen berdiri dan memandangi tiga berandalan tersebut.
Dosen: “Nak Eric, kamu tunggu di kantor, nanti saya menyusul.” (melihat tiga berandalan)
***
Kembali ke kantor dosen, Eric sedang berbincang dengan sang dosen. Mereka tampak kelihatan senang.Dosen: “Jadi kamu anak dari bu Farah? Waduh maaf ya kalau saya kasar tadi.”
Eric: “Tidak apa, justru saya lebih sering diperlakukan begitu.”
Dosen: “Sudah lama kamu tidak terdengar kabarnya, Juki juga pernah minta bantuan saya untuk mencarimu. Sebenarnya kamu dari mana saja?”
Eric: “Yah, maklum sejak orang tua saya tidak ada akhirnya saya diajak oleh teman ayah untuk tinggal dengannya.”
Dosen: “Tapi paling tidak kamu harus memberi kabar. Terus apa nanti rencanamu di sini?”
Eric: “Mungkin saya akan sedikit bereksplorasi, lagipula sudah lama saya tidak ada di sini.”
Dosen: “Kalau begitu sekali-kali kamu kunjungilah rumah saya.”
Eric: “Terima kasih, saya sangat menghargainya, bu…”
Bu Fatimah: “Fatimah Wulandari, panggil bu Fatimah.”
Eric: “Ah ya, bu Fatimah.”
###
Pagi hari, Eric masuk ke dalam kelas, beberapa orang sudah ada di dalam. Eric duduk di kursi tempat dia biasa duduk. Di baris terdepan, ada bangkai tikus yang tergeletak di depan mejanya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, kemudian dia mengambil sebuah wadah plastik dari dalam tas. Bangkai itu langsung dimasukkan dalam wadah, wadah itu dia masukkan lagi ke dalam tas. Mereka yang di dalam ruangan, terkecuali Eric, langsung pasang wajah jijik begitu melihat hal tersebut. Juki langsung masuk ke dalam bersama dengan Lisa.Eric: “Yo.”
Juki: “Lu bener-bener gila, edan tau gak? Lain kali jangan suruh gua buat gituan.”
Eric: “Yah, sekali-sekali aku ingin melihat ekspresi ketakutanmu. Tapi paling tidak kau selamat kan?”
Juki: “Ya, terima kasih.”
Lisa: “Lu hebat juga sih, tapi jangan kira ini udah selesai. Lu bakal dibunuh ama dia.”
Eric: “Lalu kenapa? Kalau dia mau silahkan saja.”
Lisa: (berbisik) “Dia emang bener-bener gila.”
Juki: “Benul tuh.”
Eric: “Lagipula kekerasan tak pernah hilang dari dunia ini, kau sempat berpikir bahwa percuma aku bicara baik-baik dengan mereka bukan?”
Lisa: “Iya.”
Eric: “Maka sudah diputuskan, dan sebelum itu… (mengambil walkman dari tas) mari bersantai dulu.”
Juki: “Terserah lu, deh.”
Eric melihat sekeliling mencari seseorang, kursi tempat Santi biasanya duduk kosong. Dia lalu memasang walkman itu di telinganya, memakai kacamata hitam, dan duduk bersandar sambil menikmati lagu “Smoke on the Water”
###
Sepulang kuliah, Eric berjalan menuju gerbang besar. Mendadak muncul Roni dan Rudi yang sedari tadi menunggunya. Terlihat Rudi dipasangi perban di hidungnya, Roni sedang makan gorengan. Eric berjalan perlahan, dan langsung berhenti di hadapan mereka.Eric: “Jadi aku mau dibawa ke mana?”
***
Di dalam sebuah gudang tua di belakang kampus, Eric berhadapan dengan Beni. Dia duduk diapit dengan dua anak buahnya, Eric sendiri diam sambil mengantongi tangannya. Beni pun berdiri dan mendekat Eric perlahan-lahan.Beni: “Kamu tadi beruntung karena ada bu Fatimah, tapi sekarang lu sendirian di sini, nggak bakal ada siapa-siapa yang nolongin lu.”
Eric: “Memangnya aku ada pekerjaan apa sampai harus ditolong?”
Roni: “Heh, bule, kita ini mau ngehajar lu tau!”
Rudi: “Cakep-cakep geblek ya?”
Eric: “Oh, come on. Maybe we can finish this problem quickly.” (oh, ayolah. Mungkin kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat)
Beni: “Lu mau cepet? Gue beri yang cepet, nih!” (mengeluarkan pisau lipat)
Melihat pisau lipat ditodongkan di depan wajahnya, Eric langsung mengela nafas dan mengusap matanya.
Eric: “Memangnya kau sudah ahli, sampai menodongkan pisau dapur seperti itu padaku?”
Beni: (agak bingung) “…mata lu buta? Ini pisau lipat, tajam nih!”
Eric: “Dari dulu semua orang tahu kalau pisau itu tajam, kau itu bodoh atau tolol?”
Beni: (garuk-garuk kepala) “Lu mau main-mainin gue?!”
Eric: “No, I don’t, but I feel I was surrounded by a bunch of clown.” (tidak, tak begitu, tapi aku merasa dikelilingi oleh sekumpulan badut)
Beni: “AAAH, MATI AJA LU SEKARANG!”
Beni mencoba menusukkan pisau ke perut Eric, tapi dengan sigap dia memegang tangan Beni, lalu merebut dan melemparkan pisau itu sampai menancap di langit-langit. Roni dan Rudi langsung bertindak, mereka berusaha memukulnya. Tapi sebanyak apapun mereka berusaha memukul, tak ada satupun yang mengenai tubuhnya sedkitpun. Beni langsung mengambil pipa besi dan mengayunkannya ke kepala Eric, tapi dia jongkok sehingga Roni dan Rudi terkena sabetan dari Beni. Mereka berdua terjatuh, Eric berdiri dan melihat mereka berdua sambil bersiul.
Eric: “Boleh saja, kalau kalian mau mengeroyokku, tapi perhatikan jangan sampai membuat teman jadi korban.”
Beni menyabet dia sekali lagi, Eric menjatuhkan diri ke belakang dan menyikut dada Roni dan Rudi yang akan berdiri. Beni memukul ke bawah, Eric bersalto ke belakang dan mendarat dalam posisi jongkok. Eric langsung mengangkat dan memberdirikan Roni, Beni menyerang, tapi Eric menggunakan Roni sebagai tameng. Sambil berdansa dia menggerakkan Roni untuk menangkis serangan Beni, Roni sudah babak belur. Eric kemudian memutarnya dan membuatnya terlempar ke tumpukan kardus.
Eric: “Ole.”
Eric melihat Rudi sudah bangkit berdiri, Rudi langsung menerjangnya. Eric mencegah dengan menangkap tubuhnya, mengangkatnya dan menyerang alat vitalnya dengan lutut. Rudi tersungkur sambil memegangi alat vitalnya dengan wajah tak keruan.
Rudi: “Adu… uuu… uh, ancur dah… perkutut gua.”
Eric menangkap tangan Beni yang mencoba menyerangnya dari belakang, dia langsung dibanting menimpa Rudi. Eric lalu melemparkan sepatunya ke atas dengan kaki, dan membuat pisau yang menancap jatuh di atas mendarat di hadapan wajah Beni.
Eric: “Sorry, but in this handicap, I won.” (maaf, tapi dalam handicap ini, aku menang)
Juki: “Udah selesai?”
Juki berdiri sambil berkacak pinggang, melihat Beni dan anteknya yang baru dihajar. Eric mengambil pisau yang menancap di hadapan wajah Beni, dipegang dengan tangan kanan lalu dilemparkan ke tangan kiri dan lenyap.
Juki: “Waduh, tambah bengkak aja nih gajah. (melihat Roni) Yang satu ini kok gak begitu parah? (melihat Beni) Si blekok itu ke mana?”
Eric: “Down there.” (di bawah sana)
Juki: “Kenape tuh?”
Eric: “Just a little accident.” (hanya sedikit kecelakaan)
Juki: “Aduuh, tapi urusannya bakal tambah parah nih. Paling nggak masalah sebenarnya baru dimulai.”
Eric: “Tidak apa, lagipula setiap masalah pasti ada akarnya. Seperti halnya korupsi, hal seperti ini juga harus diberantas.”
Juki: “…gua ngehargain lu karena lu mau ngebantuin gua, ngeberantas kebusukan ini.”
Eric: “Ah, it’s time. Do you mind if I dining in your house?” (ah, sudah waktunya. Kau keberatan kalau aku makan malam di rumahmu?)
Juki: “Kon iki kok senengane gratisan.” (kamu ini kok sukanya gratisan)
Eric: “Iku sakarepku.”(itu terserah aku)
Beni sudah bangkit kembali dan mencoba menyerang lagi. Sebelum sabetan itu sampat mengenai Eric dan Juki, di wajah Beni sudah mendarat dua pukulan dari mereka. Beni jatuh pingsan, giginya tanggal, dan matanya berputar-putar.
Juki: “Yo wis, kowe oleh mangan, tapi saiki lawuhe rawon.” (ya sudah, kamu boleh makan, tapi sekarang lauknya rawon)
Eric: “Ora papa, lha wong aku ing Indonesia.” (tidak apa, aku berada di Indonesia)
Juki: (mendesah) “Urus dulu tuh jenazah, baru kita pulang makan.”
Dari balik pintu, Santi yang bercucuran keringat karena baru melihat apa yang terjadi langsung berlari kabur. Dia sempat menangis.
Santi: “Kenapa…, kenapa…? Kalau begini mereka bakal mati!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar