Welcome

Selamat datang, di blog Zachor. Di sini saya menyambut orang yang mau membaca dan mau memberi pendapat pada cerita yang sedang saya buat untuk dijadikan komik. Mohon kerja samanya.

Rabu, 10 Februari 2010

Bagian 9

THE APPEARANCE

Di sebuah rumah tua di pedalaman di daerah Jawa Barat, pernah tinggal seorang kaya yang bernama Cahyapraga, tapi siapa yang menyangka jika bagian dalam dari dirinya adalah seorang dukun. Awalnya dia membantu penduduk desa dengan kekayaan yang dia miliki, tetapi tujuan sebenarnya adalah membuat seluruh penduduk desa tunduk padanya dan menjadi penganut ilmu hitam. Karena desa yang ditinggali penduduk tersebut sedikit kurang paham agama, maka sebagian besar dari mereka menjadi orang-orang musyrik. Cahyapraga sendiri tertarik pada anak kecil dan remaja, sehingga meminta para penduduk untuk menyediakan mereka sebagai tumbal. Beberapa penduduk yang tak terpengaruh dan sudah beragama mencoba untuk menyadarkan mereka, tetapi kesesatan yang menular sudah terlampau jauh. Meski mereka mencoba untuk menjatuhkan Cahyapraga, mereka menjadi tak berdaya di hadapan seseorang yang memiliki ilmu hitam yang sangat kuat. Akhirnya datanglah seorang ulama yang mendatangi desa tersebut, dia menyadarkan beberapa penduduk yang sudah terkena hasutan sang juragan. Sedikit demi sedikit, para penduduk mulai bertobat dan mulai melakukan perlawanan terhadap Cahyapraga. Pada akhirnya, terjadilah pertempuran di dalam desa antara pihak Cahyapraga dengan para muslim. Cahyapraga berusaha untuk mengembalikan penduduk kembali sesat dengan ilmunya, dengan mengguna-guna mereka. Korban mulai banyak berjatuhan, tetapi saat dia berusaha membunuh sang ulama, usahanya gagal. Akhirnya pada saat Cahyapraga dan pengikutnya terdesak, dia berhasil dijatuhkan. Sang juragan yang terluka parah dan merasa dipermalukan, memutuskan untuk mengurung diri di dalam rumahnya. Saat masuk ke dalam rumah, mendadak pohon-pohon besar mulai tumbuh di sekitar rumahnya. Sejak kejadian itu, mereka mulai menjauhi rumah tersebut dan membangun desa yang baru jauh dari kediamannya. Pengikut Cahyapraga akhirnya kembali lagi ke jalan yang benar, tapi penduduk desa meragukan orang yang bernama Ujang. Ujang sekarang adalah kakek dari seorang mahasiswi bernama Lisa, sekarang cucunya bersama kawan Lisa sedang menyelidiki keberadaan temannya yang hilang di kediaman Cahyapraga. Pada saat ini mereka telah melakukan ritual jelangkung di sebuah ruangan untuk mengetahui keberadaan mereka, sekarang ruangan tersebut disinari cahaya merah menyala. Lisa dan kawan-kawannya melihat ke atas dengan pandangan tak percaya, sebuah tengkorak yang mata dan mulutnya mengeluarkan cahaya merah terbang di atas mereka.

Cahyapraga: “Siapa yang memanggil diriku ini?”
Yosi: (mengucek-ngucek matanya) “Be… beneran nih? Gua nggak mimpi kan?”
Juki: “Aku ngelihat dengan jelas juga kok, ini bukan mimpi.”
Yosi: “Ma… masa sih, coba cubit pipi gue. (dijewer Deni) ADDDAAAW! SAKIT!”
Deni: “Katanya kau minta dicubit?”
Yosi: “TAPI JANGAN KERAS-KERAS NARIKNYA! Aduh, gua jadi sariawan nih.”
Cahyapraga: “Siapa yang memanggilku?”
Budi: “Ka… kami yang memanggil.”
Cahyapraga: “Siapa kalian?”
Lisa: (sedikit gemetar) “Kami… kami ke sini untuk mencari teman kami yang hilang.”
Santi: “Usianya sebaya dengan kami, mereka waktu itu ke sini.”
Cahyapraga: “Mereka? Maksud kalian siapa?”
Budi: “Mereka… yang mencabut kepala anda.”
Cahyapraga: “Mereka? Kepala? …benar, sekarang ini aku hanyalah sebuah kepala. Jika mereka yang kalian bicarakan, mereka memang ke tempat ini.”
Lisa: “Lalu bagaimana keadaan mereka? Di mana…”
Juki: “Maaf mbah, apa baru-baru ini ada anak kecil yang datang ke sini?”
Cahyapraga: “Memangnya siapa dirimu sehingga berani memanggil diriku mbah? Aku adalah orang yang hidup abadi.”
Juki: “Maaf mbah, bukannya saya mencela, tetapi mbah sendiri sudah mati dulu sekali.”
Cahyapraga: “BERANI SEKALI KALAU KAU MENGATAKAN AKU INI SUDAH MATI! KALAU AKU SUDAH MATI, BAGAIMANA MUNGKIN AKU MASIH BISA BICARA SEPERT INI?!”
Budi: “Ju… Juki… jangan buat marah dia dong!”
Cahyapraga: “Baiklah, aku memang sudah sangat tua. Kau langsung bicara pada hal yang penting, memang benar, bahwa aku mengundang anak-anak itu ke kediamanku ini sampai sekarang.”
Juki: “Benarkah kalau kau mengumpulkan anak-anak dan remaja untuk tumbal?”
Yosi: “Juk, coba gua yang bicara.”
Deni: “Jangan, biarkan saja dia yang bicara, kelihatannya dia ahli.”
Cahyapraga: “Bukan tumbal, lebih tepatnya bisa kusebut makanan.”
Juki: “Makanan?”
Cahyapraga: “Mereka semua kutelan hidup-hidup ke dalam tubuhku, yang kutelan sampai sekarang ini berjumlah dua puluh.”
Lisa: “Berarti teman-teman…”
Juki: “Mereka sudah mati ya?”
Cahyapraga: “Tidak, beberapa dari mereka masih hidup karena aku baru menelan mereka.”
Yosi: “Kenapa… kenapa lu telan mereka!”
Deni: “Yos, tenang!”
Cahypraga: “Agar aku bisa hidup abadi, sebenarnya untuk hal seperti itu, aku harus menelan dua puluh lima anak. Tapi… aku sangat berterima kasih pada kau (melihat Budi) karena telah membawakan makanan untukku.”
Budi: (gemetar) “A… apa… tapi kamu janji bakal memberitahu di mana teman aku.”
Cahyapraga: “Memang benar, aku sudah memberitahukan di mana mereka. Karena kau sudah melaksanakan tugas, maka… biarkan aku menelanmu.”

Mendadak tubuh Budi dipeluk dari belakang oleh sesuatu, dia berteriak dan meronta-ronta. Juki dan yang lain kaget begitu melihat apa yang memegang Budi, yaitu tubuh Cahyapraga yang tak berkepala. Kepala Cahyapraga meluncur menuju tubuhnya, sehingga tubuhnya utuh kembali. Mendadak darah dalam kepala Cahyapraga turun ke dalam dan memenuhi tubuhnya, sehingga seluruh badannya bersinar kemerahan, kemudian tubuh tersebut menyedot Budi masuk ke dalam. Isi perut Cahyapraga terlihat sangat jelas, ada Budi yang baru saja masuk, beberapa kerangka manusia yang masih bayi dan yang sudah besar, juga beberapa anak kecil dan remaja yang belum menjadi kerangka.

Yosi: “BUDI!”
Juki: “Memang bener mereka ditelan, beberapa dari mereka masih hidup. Lisa, bener itu temanmu?”
Lisa: “Bener, itu Desi, Diana, Piyu dan Oni.”
Deni: “Coba lihat yang lain, pasti mereka anak-anak dari desa itu!”
Cahyapraga: “Sekarang aku akan menelan kalian semua sekaligus.”
Juki: “Lalu kalau sudah abadi, mau apa kau?”
Cahyapraga: “Pertama, aku akan membuat para penduduk desa kembali menjadi pengikutku, akan kuhabisi mereka yang melawan, begitu juga dia yang telah mengalahkan dan mempermalukanku!”
Santi: “Para penduduk desa… termasuk kek Ujang?!”
Cahyapraga: “Siapa kau? Kenapa kau mengenalnya?”
Lisa: “Gue cucunya, Ujang itu nama kakek gue!”
Cahyapraga: “Oh, jadi kau putri dari anaknya yang dia akan berikan padaku dulu?”
Lisa: “Mami… maksud lu mami gue?!”
Cahyapraga: “Jadi Ujang masih hidup dengan anaknya, waktu sudah berlalu cukup lama. Kalau begitu, aku takkan lagi bisa menelannya. Baiklah, kau yang akan kutelan sebagai gantinya.”

Seluruh tubuh Cahyapraga mulai berisi dengan daging, mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tetapi tubuhnya sama sekali tak berkulit, hanya memperlihatkan urat nadinya saja. Yosi dan yang lain berusaha untuk membuka pintu yang tertutup rapat, tapi sia-sia. Cahyapraga mulai berjalan maju, selangkah demi selangkah, dia hampir mendekati Lisa. Santi berusaha untuk mengusirnya dengan menyemprotkan obat nyamuk ke wajahnya, taktik itu berhasil.

Santi: “Pergi sana! Pintunya sudah bisa dibuka belum Yos?!”
Yosi: “Nggak bisa! Percuma, nggak mau kebuka!”
Juki: “Kalau begini, gua cuman bisa pakai ini. Semuanya menyingkir dari pintu!”

Mereka semua menyingkir, Juki mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan dari dalam tasnya, lalu membuka botolnya. Dia mengambil sedikit dengan cotton buds, menutup kembali botolnya, kemudian dia meneteskan setetes ke gagang pintu. Pintu itu meledak, serpihannya tercecer keluar, Juki terlempar ke belakang menubruk Cahyapraga. Cahyapraga langsung terlempar ke dinding, semuanya hanya bisa diam dan menatap dengan pandangan tak percaya setelah Juki meledakkan pintu tersebut.

Juki: “Ngapain kalian!! Pintunya udah terbuka, cepet keluar!”
Santi: “Hah! Iya bener, cepet kita keluar!”
Deni: “Bagaimana bisa dia melakukan itu?”
Yosi: “Den! Cepetan keluar!” (menarik tangan Deni)

Juki segera beranjak keluar, Cahyapraga bangkit dan mulai berteriak. Kepala dan badannya sekarang terpisah, dia menggandakan kepalanya sampai berjumlah empat buah. Kepala-kepala itu mulai terbang keluar pintu dengan cepatnya, sementara Juki dan yang lain berlari terpencar-pencar di dalam rumah. Yosi yang berlari menuju dapur tersandung sebuah kuali, dia merangkak dengan cepat, tetapi dia keburu diserang salah satu kepala tersebut. Kepala itu meluncur dan menusuk punggung Yosi, dia berteriak kesakitan. Teriakan itu terdengar oleh semua anak, kini kepala itu mulai menyedot seluruh tubuh Yosi sampai tak tersisa. Lisa dan Deni berlari bersama-sama, mereka hampir keluar dari rumah. Tapi mereka begitu kaget saat membuka pintu, dua kepala terbang sudah menyambut mereka. Kepala itu mencoba untuk menusuk Lisa, Deni mencoba untuk melindunginya, akhirnya dia tertusuk dan terhisap ke dalam kepala itu. Kepala itu sekarang mulai berisi lagi dengan otot dan sepasang mata, Lisa mulai berjalan mundur, dia sudah terkepung di antara dua buah kepala.

Cahyapraga: “Aku sudah menghisap tiga orang, sekarang giliranmu untuk aku telan.”
Lisa: “Aku nggak rela ditelan lu! Lagipula kakek nggak bakal ngebiarin hal ini!”
Cahyapraga: “Katakan apa saja yang kau mau sebelum kau mati, lagipula dia akan kembali menjadi pengikutku lagi, dan akan kukabulkan kembali keinginannya untuk membangkitkan istrinya kembali.”

Kepala di depan Lisa meluncur menuju dirinya, dia bertindak cepat dengan mengayunkan tas ranselnya dan membuat kepala tersebut terpental. Kepala di belakang Lisa mulai menyerang, tapi serangan tersebut berhasil dipatahkan dengan ayunan ransel. Lisa mulai berlari keluar, tapi bahunya tertusuk oleh kepala dari belakang. Dia tersedot ke dalam kepala, kepala itu mulai tumbuh rambut, disertai dengan kulit di wajahnya. Keadaan kepala itu sekarang tidak memiliki hidung, pipi kanannya belum memiliki daging dan kulit sehingga hanya memperlihatkan giginya.

Cahyapraga: “Tinggal dua orang lagi.”

###

Juki dan Santi berada di lorong yang penuh lukisan, mereka sangat kecapaian dan bernafas terengah-engah. Mereka pun berhenti sejenak, dan duduk bersandar ke dinding.

Juki: “Kita istirahat dulu, capek nih.”
Santi: “Juk, pintu tadi lu apain sih? Kok bisa meledak begitu?”
Juki: “Cuman sedikit bom.”
Santi: “Entar dulu, lu bilang bom? Dapat dari mana bahannya?! Kok lu punya yang kayak begitu?!”
Juki: “Ini pinjam dari si kebo bule, sebenarnya bahannya cuman atu aja.” (mengeluarkan botol berisi cairan)
Santi: “Apaan tuh?”
Juki: “Kamu tau nitroglycerin? Setetes ini saja, ledakannya bisa melebihi petasan.” (menunjukkan pada Santi)
Santi: “Kok dia bisa dapat yang beginian?”
Juki: “Ceritanya panjang, dia dapat beginian waktu dapat tugas dari sekolah militer. (Santi mencoba memegang)Hati-hati, kalau kamu jatuhkan, rumah ini bisa hancur seisinya.”
Santi: (menjauhkan tangan) “Tapi gimana nih, Budi sudah dimakan ama itu setan, bagaimana dengan yang lain ya?”
Juki: “Nggak usah khawatirkan mereka dulu, yang penting sekarang cepat keluar dari sini dan minta bantuan!”
Santi: “Tapi butuh waktu lama buat lari ke desa.”
Juki: “Tenang aja, bantuan pasti datang cepat atau lambat., yang penting jangan lupa berdoa pada Tuhan.”

###

Sesosok makhluk berbentuk manusia berdiri di puncak pohon yang tinggi, menutupi bulan sabit, ia adalah pemilik mata yang bercorak yang tadi mengawasi Juki dan yang lain. Sambil melipat tangan di dadanya, dia menengadah ke atas dan memutar kepalanya. Sosoknya tak terlalu kelihatan karena tertutup bayangan, dia melihat jam tangan yang dia pakai menunjukkan sudah hampir jam 00:00.

?: “Looks like the party has begun.” (sepertinya pestanya sudah dimulai)
Kumamoto (dalam bayangan): “Kau yakin tak perlu bantuan?”
?: “Tentu saja, lagipula ini pertama kali… tidak… yang ketiga kali sejak aku menghajar Hantu, Siluman, Setan dan Arwah. Aku banyak menghajar Oni, Yure, Ghost dan Devil di luar sana, tapi aku ke Negara ini karena aku jarang menghajar mereka.”
Kumamoto: “Kau tak cukup puas dengan kekuatanmu sekarang?”
?: “Bukan tak puas, aku anggap ini sebagai latihan untuk menghadapi ‘dia’.”

###

Juki dan Santi sekarang terpojok di ruang tamu, dikelilingi tiga kepala Cahyapraga. Juki mengeluarkan sebuah kain putih dan melilitkannya di kedua telapak tangannya, satu kepala mulai menyerang. Sambil berteriak Allahuakbar, Juki menangkisnya dengan telapak tangannya. Kepala itu langsung jatuh dan menguap menjadi asap, ternyata kain putih itu bertuliskan ayat suci dari Al-Qur’an. Satu kepala menyusul menyerangnya dan ditangkis kembali oleh Juki, yang tersisa hanyalah satu kepala dari Cahyapraga.

Juki: “Jangan harap bakal nelan kami berdua sekaligus.”
Cahyapraga: “Kau memakai sesuatu yang sungguh mengganggu, sama dengan dia.”
Juki: “Maksudmu ulama yang mengalahkan lu? Jangan kira kamu bisa membunuhnya pada saat ini.”
Cahyapraga: “Diam! Jika aku menelan kalian berdua, aku akan lebih kuat dari dirinya!”
Juki: “Dengar ya, lu nggak bakal bisa membunuhnya, karena dia sudah tidak ada di desa ini lagi.”
Cahyapraga: “Apa?”
Juki: “Orang yang lu maksud sudah meninggal, tidak ada lagi di dunia ini.”
Cahyapraga: “Jika begitu… baguslah, maka aku akan bisa mendapatkan lagi pengikutku yang setia tanpa gangguan.”

Mendadak ada yang menyergap Juki dari depan dan memegang kedua tangannya, tubuh Cahyapraga yang tidak berkepala sudah berada di depan Juki dan membuatnya tak berkutik.

Cahyapraga: “Sekarang kau tak bisa apa-apa lagi, agar kau tak menghalangi, kau akan kutelan lebih dulu.”
Juki: “Asal tau aja, mereka nggak bakal lagi terpengaruh sama ilmu hitam, karena mereka semua sudah percaya kepada Tuhan.”
Cahyapraga: “Tuhan... jika begitu aku akan menggantikannya!”
Juki: “...kagak bakalan bisa.”

Kepala Cahyapraga bersiap untuk menusuk Juki, Santi berusaha melepaskan cengkeraman tangan tubuh Cahyapraga dengan kaki meja yang sudah rusak. Dia memukulkan kayu itu ke sekujur tubuh dan tangannya, tapi tak ada hasilnya. Kepala Cahyapraga langsung meluncur menuju Juki, pada saat bersamaan Santi melangkah melindungi Juki, sehingga kepala itu akan menusuk Santi. Tiba-tiba sebuah tempat lilin melayang menghantam kepala itu, Santi selamat dari tusukan Cahyapraga.

Cahyapraga: “Siapa itu?”

Dari sebuah ruangan yang gelap, terdengar suara langkah kaki. Santi, Juki, dan Cahyapraga melihat ke ruangan tersebut; muncullah sepasang mata bercorak dalam kegelapan, Santi kaget saat melihatnya.

Santi: “Se… setannya ada dua?!”
Juki: “Lu telat, bego.”
?: “What do you expect? I break this house wall for a cool entrance?” (apa yang kau harap? Aku menjebol tembok rumah ini sebagai cara masuk yang keren?)
Juki: “Yang penting sekarang, bisa cepat lepasin gue?”
?: “Sure.” (Tentu)

Dari dalam kegelapan, muncul sesuatu yang panjang dan langsung memotong kedua tangan yang mencengkeram Juki. Juki jatuh terduduk, dia langsung mengambil tasnya dan menarik tangan Santi, membawanya keluar rumah secepatnya. Kepala Cahyapraga kembali bersatu dengan tubuhnya, sementara makhluk dalam kegelapan itu mulai menampakkan dirinya sedikit demi sedikit. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup bayangan, dia memakai sepatu sneakers biru, celana jeans dan sebuah rompi warna hitam. Dia membawa sebuah pedang di punggungnya, kedua tangannya hitam dan bercakar, di kedua lengannya ada garis putih sampai ke ujung jari-jari tangannya.

Cahyapraga: “Siapa kau?”
?: “Who am I? Then who are you?” (siapa aku? Maka siapa dirimu?)
Cahyapraga: “Apa yang kau bicarakan?”
?: “Then what are you doing here? Having party?” (lalu kau sedang apa di sini? Mengadakan pesta?)
Cahyapraga: “Aku tak begitu paham, tapi sepertinya engkau mengejekku. Sepertinya kau semacam genderuwo, jika begitu akan kubuat kau tunduk padaku.”
? : “I don’t think so.” (kurasa tidak)

Mulut Cahyapraga mengeluarkan api dan membakar makhluk itu, makhluk itu tak bergeming sedikitpun. Dia malah maju menerobos api itu, dan melocat menendangnya. Sementara itu Juki dan Santi berhasil keluar dengan selamat, mereka berada di depan tenda. Juki minum air sebotol penuh, Santi sendiri berusaha menelpon.

Santi: “Percuma, nggak ada sinyalnya!”
Juki: “Kalau begitu kita nunggu aja di sini, daripada capek-capek lari ke desa.”
Santi: “Tapi setannya bakal nyantap kita semua!”
Juki: “Tenang ajalah, kalau setan yang satu ini nggak bakal makan kita.”

Mendadak dinding rumah tersebut jebol, Cahyapraga yang berbadan utuh terpental keluar dan terguling-guling. Sepertinya dia merintih kesakitan, di sekujur tubuhnya ada beberapa simbol bersinar. Dari dalam rumah, makhluk tersebut muncul. Kali ini wajahnya terlihat jelas, wajah rata berwarna putih, tanpa mulut dan hidung, hanya ada sepasang mata, bertelinga lancip, dan dia bertanduk, dua pendek, satu panjang di tengah.

?: “My, my, my. I think you must change your menu today.” (wah, wah, wah. Rasanya kau harus mengganti menumu hari ini.)
Cahyapraga: “Apa… apa yang baru saja kau lakukan?!”
?: “That’s my greetings when I met someone… no, something that have some bad behavior and have unforgiven sins.” (itu sambutanku saat aku bertemu seseorang… bukan, sesuatu yang punya kelakuan buruk dan punya dosa yang tak termaafkan.)
Cahyapraga: “Kurang ajar, beraninya genderuwo seperti kau melawanku!”
?: “Hey, I’m not like that thing… I have a name, and in afterlife, you must remember it.” (Hei, aku bukan makhluk seperti itu... aku punya nama, dan setelah mati, kau harus mengingatnya)

Cahyapraga mengeluarkan asap hijau dari mulutnya, dan menghembuskannya ke patung singa di depan rumah. Asap itu meresap masuk ke dalam patung, mendadak patung-patung itu hidup dan mengaum seperti aslinya, mereka berjalan dan berdiri membelakangi Cahyapraga.

Santi: “Ke… kenapa setan itu nolongin kita? Dia ngomong pakai bahasa Inggris juga.”
Juki: “Emang dia sudah dari dulu begitu.”
Santi: “Eh? Kamu kenal sama dia?”
Juki: “Dari dulu. Dia itu suka manasin lawan pakai bahasa Inggris.”
Santi: “Emang… dia siapa sih?”
Juki: “Setan, tapi dia juga punya sisi manusia.”
?: “I see, so you wanna play circus? Then…” (aku mengerti, jadi kau ingin main sirkus? Maka…)

Dia mengeluarkan pedang di punggungya dari sarungnya, pedang itu memiliki ukiran hieroglif di bagian punggung pedangnya, gagangnya bertahtakan emas, berbentuk sayap kelelawar dan di tengahnya ada sebuah lambang. Dia memutar-mutar dan menyabetkan ke kanan dan kiri, kemudian dia memasang kuda-kuda.

?: “…I will crash this party A.S.A.P.” (akan kuhancurkan pesta ini sesegera mungkin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar