THE ANALYSIS
Sebuah mobil karavan sudah diparkir di depan rumah kakek Ujang, di dalam rumah, ada seseorang sedang berbicara dengannya. Mereka duduk berdua, ditemani dengan dua gelas kopi di meja.
? : “Jadi mereka sudah berangkat ke tempat itu?”
Aki Ujang: (tanpa logat) “Betul, mereka pergi ke tempat di mana kawan-kawan Lisa lenyap. Sebenarnya saya sudah berusaha untuk melarang mereka ke sana, tapi seorang dari teman Lisa yang kalau tak salah bernama…”
? : “Juki?”
Aki Ujang: “Betul, mengatakan pada saya untuk tetap di rumah. Tapi saya tetap khawatir dengan keadaan mereka.”
? : “Apakah memang benar, anda dulunya adalah murid dari paranormal itu?”
Aki Ujang: “Tiga puluh lima tahun yang lalu, saya adalah murid dari Cahyapraga, sebelumnya saya bekerja menjadi pelayan untuknya. Tetapi setelah saya kehilangan istri saya…”
? : “Memang kenapa dengan istri anda?”
Kakek Ujang: “Dia meninggal, saat melahirkan anak saya, ibu dari Lisa. Kemudian saya baru mengetahui rahasia sang Raden, dia menganut ilmu hitam. Saat melihat dia bisa menghidupkan orang mati, saya menjadi terpengaruh untuk menjadi pengikutnya.”
? : (bicara pelan) “Bullshit.” (omong kosong)
Aki Ujang: “Setelah istri saya dihidupkan kembali, kami pun hidup bersama dengan anak kami. Setelah itu kami mendapatkan tempat tinggal dari guru saya, lalu kekayaan. Tetapi itu tak berlangsung lama, sejak seorang ulama datang kemari.”
? : “Ulama?”
Aki Ujang: “Sebelumnya desa kami adalah desa yang penduduknya hanya sedikit mengenal agama, sebagian besar warga desa bergabung dengan Raden Cahyapraga karena kekuatannya tersebut. Kemudian beberapa warga menjadi resah, karena beberapa remaja dan dan anak-anak menghilang. Akhirnya saya mengetahui… bahwa mereka semua dijadikan makanan untuk Raden Cahyapraga. Warga pernah mendatangi kediamannya dan menuntut atas anak-anak mereka, tapi percuma…, tidak sedikit dari mereka menjadi korban kesaktiannya. Saya juga saat itu ingin berhenti menjadi pengikutnya, setelah mengetahui…”
? : “Mengetahui?”
Aki Ujang: “…mengetahui saat istri saya sebenarnya bukanlah istri saya. Ternyata istri saya sebenarnya adalah setan yang dimasukkan ke dalam tubuh istri saya. Meski begitu, saya tetap tak bisa keluar, karena terbelenggu oleh ilmu darinya. Akhirnya ada seorang warga yang belum terpengaruh ajaran Cahyapraga memanggil seorang ulama untuk menyelesaikan masalah tersebut, dialah kemudian yang mengajarkan agama Islam pada kami. Akhirnya Raden Cahyapraga berhasil disingkirkan dan kalah oleh sang ulama, setelah kekalahannya, dia mengurung dirinya di kediamannya. Akhirnya dia dibiarkan tinggal di dalam sana, entah sekarang dia sudah mati atau masih hidup, rumahnya sekarang terbengkalai.”
? : “Aku mengerti… berarti kemungkinan dia masih hidup di dalam rumah itu, walaupun tak sepenuhnya disebut ‘hidup’. (berdiri dari tempat duduk) Mungkin sekarang sudah saatnya saya pergi menjemput mereka.” (berjalan keluar pintu)
Aki Ujang: “Kalau begitu bawalah saya, sebab saya tahu cara untuk melawannya.”
? : (berhenti) “Cara seperti apa yang anda maksud?”
Aki Ujang: “Dengan ini.”
Dari dalam bajunya, kakek Ujang mengeluarkan sebuah botol yang berisi semacam serbuk. Botol itu diikat dengan tali yang diuntai menjadi sebuah kalung.
Aki Ujang: “Ini adalah abu telunjuk dari guru saya yang diberikan oleh dia, saya biasa menggunakannya untuk mengobati orang sakit. Saya yakin pasti dia takkan pernah mengganggu warga desa lagi, setelah saya mengembalikan ini padanya.”
?: (berbalik) “Apa anda beragama?”
Aki Ujang: “Ya, saya Islam.”
?: “Maka anda tak memerlukannya.” (merebut botol)
Aki Ujang: “Tunggu! Mau diapakan botol itu?!”
?: “Anda mengatakan bahwa anda sudah beragama, tapi tetap saja memakai benda yang menyesatkan. Manusia itu berusaha dengan usaha sendiri, bukan dengan kekuatan kegelapan, apakah anda ingin dibenci oleh Tuhan?”
Aki Ujang: “Tapi… bagaimana jika dia tak bisa dihentikan?”
?: “Maka serahkan urusan itu kepadaku.”
Botol kecil itu diremas dengan tangan kosong sampai hancur, mendadak asap hitam muncul dari tangannya. Botol yang digenggamnya sudah menghilang tanpa bekas, matanya mulai berubah menjadi bercorak dan berpendar. Kakek Ujang mundur selangkah karena kaget melihat perubahan di matanya, orang tersebut ternyata Eric.
Aki Ujang: “Matamu… apa kau setan?”
Eric: “Mungkin bisa dibilang begitu, tapi jangan samakan aku dengan mereka. Aku masih percaya pada Tuhan.”
Aki Ujang: “Siapa sebenarnya dirimu?”
Eric: “The demon who walk in God path. (iblis yang melangkah di jalan Tuhan) Tapi tak perlu anda ingat.”
###
Kembali ke rumah tua tempat di mana Yosi dan kawan-kawan berkumpul, Yosi, Lisa, dan Deni masih berada di depan pintu yang mereka buka dengan wajah yang masih terperangah. Ternyata di dalam ruangan itu menyala sebuah api unggun yang berwarna kemerahan, tengkorak-tengkorak sapi dan kambing digantung di langit-langit. Di dinding terdapat gambaran dan tulisan yang ditulis dengan darah, juga sebuah meja di depan api unggun yang di atasnya terletak baskom batu. Yosi memberanikan diri untuk masuk, diikuti oleh Lisa dan Deni.Yosi: “Jadi ini tempat di mana dukun ilmu hitam itu ngadain ritual?”
Deni: “Kok sama nyereminnya kayak di film ya?”
Lisa: “Coba lihat, isi baskomnya.”
Deni: (mendekati baskom) “Warnanya merah, ini jelas bukan saus tomat.”
Yosi: (mengendus) “Hoeek! Hoeek!”
Lisa: (tubuh bergetar) “Ya ampun, ini kan darah.”
Yosi: “Hoeek! Aduh, mendingan… kita keluar saja! Aku nggak… kuat! Ng…? Lis, Den, apa ini?”
Yosi merasa memegang sesuatu di bawah meja, karena penasaran dia menariknya. Ternyata kerangka manusia, tapi kepalanya tidak ada. Mendadak Lisa berteriak sangat keras sampai terdengar dari luar rumah. Juki, Budi, dan Santi masih berada di belakang sungai.
Budi: “I… itu suaranya Lisa, se… setannya udah keluar!”
Santi: (HP berdering) “Ah, ini Yosi. Halo?”
Yosi: “Halo Santi! Gawat nih, Lisa pingsan! Cepetan ke sini!”
Santi: “Kamu di mana sekarang?!”
Yosi: “Di tempat ritualnya dukun setan itu, kamu cari lorong yang penuh lukisan, nanti kamu lihat ada pintu masuk ke sini!”
Santi: “Ya udah, gua ke sana. Juk, Bud, cepetan! Kita ke tempatnya Yosi sekarang!”
Budi: “I… iya.”
Juki: (menjulurkan kepala) “Hoi! Tunggu! Belum kelar nih! Kalian duluan aja! Nanti gua nyusul!”
Santi: “Cepetan makannya!”
Juki: “Gak sabaran amat sih, masih pakai celana nih!”
Saat Juki hendak berdiri, mendadak lantai jamban itu jebol sehingga kaki kiri Juki terperosok ke dalam sungai. Tapi sialnya, saat Juki mencoba mengeluarkan kakinya, seluruh lantai jamban ikut rusak dan membuat Juki tercebur ke sungai.
***
Beberapa saat kemudian, semua anak terkecuali Juki sudah berada di ruangan ritual di mana ditemukannya sebuah kerangka manusia. Lisa masih pingsan dan sekarang duduk bersandar di dinding, Santi berusaha untuk menyadarkannya dengan membuat dia mencium aroma minyak kayu putih. Sementara itu, Yosi, Budi, dan Deni mengamati mayat yang sudah menjadi kerangka. Kerangka itu berpakaian serba hitam, jari-jarinya menggunakan cincin opal. Tubuh Budi bergetar, mulutnya tak bisa berkata apapun ketika melihatnya.Yosi: “Nggak nyangka… gua… ugh!”
Deni: “Kalau kau nggak kuat lebih baik jangan dilihat.”
Yosi: “Gua bukan… hoek…”
Deni: “Aduh, kau muntahkan saja di sini.” (memberikan kantung plastik)
Yosi: “Gua cuman nggak kuat ama bau darahnya.”
Deni: “Kalau tau begini, mending kau tak usah ikut. Santi, bagaimana Lisa?”
Santi: “Dia masih belum bangun.”
Terdengar suara tetes air dari balik pintu, pintu menjeblak terbuka. Ternyata Juki yang sekarang seluruh badannya basah kuyup, wajahnya kesal bukan main. Dia melangkah menuju Yosi, Budi, dan Deni.
Yosi: “Dari mana aja… ng? (mengendus) HOOOEEK! Bau amat lu! Lebih parah dari bau darah!”
Deni: “Ah, bau sekali kau, kau habis ngapain?!”
Juki: (melihat semua anak menutup hidung) “Haaah, dasar, gara-gara aku disuruh cepat, begini deh jadinya. Coba bayangin, gua baru selesai berak, mendadak lu telpon sambil teriak-teriak. Akibatnya Santi ama Budi pergi ninggalin gue, gue baru mau pakai celana terus mau lari keluar. Coba tebak, gua jatuh ke sungai yang baunya minta ampun itu.”
Budi: “Pft… hahaha… maaf, kok bisa sih?”
Juki: “Bisa aja lagi, masa aku harus jelasin sedetilnya?”
Lisa: (mendadak sadar) “Hooek! Bau apa nih?!”
Deni: “Yah, tapi paling tidak, baumu cukup berguna juga.”
Juki: “Sialan lu.”
Santi: “Ya sudah, maafin gue. Mending lu ganti baju dulu deh, terus lu ambil terus pakai parfum di tas gue.”
Juki: “Kalau lain kali pergi seperti ini lagi, mendingan gua bawa toilet sendiri.”
***
Lima belas menit kemudian, Juki sudah berganti pakaian dan sudah berkumpul kembali bersama Yosi dan yang lain. Juki sekarang duduk berlutut di hadapan kerangka manusia tersebut, dia memeriksa kerangka tersebut dengan seksama. Dia meraba-raba seluruh tubuhnya, menggeledah bajunya, tapi yang ditemukan hanyalah beberapa kecoa yang sudah mati. Dia mengeluarkan meteran dari dalam tasnya dan mengukur tinggi kerangka tersebut, meteran itu diletakkan di sebelahnya.Juki: “Dia jelas nggak bunuh diri, dia mati kehabisan darah.”
Budi: “Ta… tau dari mana?”
Juki: “Tadi ini ditemukan di bawah meja kan? Coba lihat, ada sedikit bercak darah dari baskom ke tempat dia duduk. Kayaknya dia nusuk perutnya sendiri terus darahnya…” (melihat ke baskom)
Yosi: “Hooek!”
Juki: “Nggak usah dibayangin kalau nggak kuat! Tapi yang aneh adalah kepala ama jarinya.”
Santi: “Emangnya kenapa?”
Juki: “Coba liat, kepala sama satu jarinya nggak ada. Menurut kalian apa mungkin dia bisa motong kepala ama jarinya sendiri? Alat pemotongnya juga nggak ada sama sekali.”
Lisa: “Iya juga sih.”
Juki: “Ngapain kau?”
Lisa: “Ngelihat.”
Juki: “Kenapa saat melihat mayat tadi kau teriak-teriak? Setelah kamu bangun kok nggak teriak lagi?”
Lisa: “Soalnya… ini baru pertama kali gue lihat mayat… jadi…”
Santi: “Lisa itu sampai sekarang belum pernah lihat mayat betulan, jadi wajar kalau dia kaget dan pingsan.”
Juki: “Ngemeng-ngemeng nih, ini kayaknya beneran gurunya kakek lu Lis. Kalau dilihat dari tulang panggulnya, dia itu laki-laki.”
Deni: “Emangnya dia sudah tak punya ‘terong’?”
Juki: “Ya nggak lah! Coba lihat! Kalau udah jadi tulang mana punya yang begituan.”
Juki membuka celana mayat, para gadis serentak menutup matanya. Sedangkan para lelaki memperhatikan ‘bagian’ yang diperlihatkan Juki.
Juki: “Nah, sekarang ada yang bisa bantuin aku nggak?”
Yosi: “Mau minta tolong apa?”
Juki: “Bisa nggak kau berdirikan ini?” (menunjuk kerangka)
Yosi: “Eh… tapi…”
Juki: “Aku agak susah ngukur tingginya, kalau ini nggak berdiri.”
Deni: “Biar aku saja.”
Juki: “Terima kasih.”
Deni mencengkeram bagian ketiak kerangka, begitu diberdirikan, Juki memperhatikan lalu menggeleng. Ternyata kerangka tak berkepala itu sedikit tinggi dari Deni, kemudian Juki merogoh kembali tasnya dan mengeluarkan bola basket.
Juki: “Yos, ke sini sebentar. Tolong pegang ini.”
Yosi: “Ini buat apa?”
Juki: “Kamu berdiri di sini, pegang ini dengan kedua tangan di atas, seperti ini.” (mengatur posisi Yosi)
Yosi: “Sebenarnya buat… waaa!” (tangan kerangka menjulur di sebelah wajah Yosi)
Deni: “Hahahaha! Katanya nggak kuat darah, tapi kok sama yang seperti ini takut?”
Yosi: “Bukannya takut, gue jijik! Jangan begitu-begitu ah! Parno gua!”
Juki: “Hoi, Nagabonar! Ini lagi serius, jangan bercanda gitu! Yos, kembali ke tempat semula!”
Yosi: “Tapi buat apa sih ini?”
Juki: “Buat ganti kepalanya yang hilang, kepala manusia kira-kira ukurannya kan segitu.”
Yosi: “I… iya, (bicara pada Deni) awas lho jangan begitu lagi.”
Deni: “Iya.”
Juki mulai mengukur dengan meterannya mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala, dia lalu mencatatnya di hp yang dia bawa. Juki memberikan isyarat pada Deni untuk meletakkan kembali kerangka tersebut, dan menyuruh Yosi mengembalikan bola basket ke tempatnya.
Juki: “Hmm, 194 cm.”
Deni: “Perlu diukur beratnya juga nggak?”
Juki: “Kalau sudah jadi tulang gini, gimana tahu beratnya geblek? Yang jadi pertanyaan untuk ini adalah ke mana kepalanya? Lebih aneh lagi, ternyata lehernya tak dipotong, tapi dicabut secara paksa.”
Santi: “Dicabut?”
Juki: “Ngemeng-ngemeng nih, siapa yang pertama kali nemukan tas teman kalian yang hilang?”
Yosi: “Waktu itu aku sama Budi yang nemuin.”
Juki: “Ada barang yang waktu itu ada di luar tas nggak, atau mungkin ada sedikit noda di sekitar tempat kalian nemuin?”
Yosi: “Yah, ada sih. Sedikit bercak darah di tengah ruangan, posisi tasnya saat itu melingkar.”
Juki: “Hmm, ini baru kemungkinan. Tapi sepertinya teman kalian ini baru melakukan hal yang buruk.”
Deni: “Hal buruk macam apa itu?”
Lisa: “Emang mereka ngapain di sini?”
Juki: “Ini tak salah lagi… Jelangkung.”
Angin bertiup dari pintu keluar, beberapa anak memeluk tubuhnya sendiri untuk menghangatkan diri. Juki kemudian memegang dahinya, dan bersandar di dinding.
Yosi: “Sebentar, sebentar. Jelangkung?”
Juki: “Ya, permainan untuk berkomunikasi dengan roh. Cara memainkannya dengan menggunakan objek yang menjadi perantara, kadang harus menggunakan selembar kertas.”
Lisa: “Itu sudah tahu.”
Juki: “Dengan kata lain, teman kalian pasti menggunakan tengkorak dari mayat ini sebagai perantara untuk bermain Jelangkung. Untuk memulai permainan, biasanya selalu dimulai dengan sebuah mantra. Tapi karena perantaranya adalah tubuh manusia, kita harus persembahkan sedikit dari bagian tubuh kita juga. Dalam kasus ini, teman-teman kalian memakai darah mereka untuk memulai permainan tersebut.”
Yosi: “Bentar, itu kayaknya gak masuk akal deh. Jelangkung? Memanggil roh? Mana ada yang begituan.”
Juki: “Yos, (menepuk bahu) kalau kau tak percaya pada hantu dan semacamnya, berarti kau sudah tak percaya lagi kepada Tuhan.”
Santi dll: “Setuju, setuju.” (bertepuk tangan)
Juki: “Tapi anehnya, tengkorak itu tak ditemukan di ruangan ini. Mungkin dimasukkan ke tas oleh teman kalian yang menghilang saat itu, atau mungkin juga ada hewan yang mengambil kepalanya. Tadi kamu bilang kalau lorong yang tadi tertutup oleh lukisan?”
Yosi: “Waktu kita lihat bertiga, mulanya kita nggak sadar. Tapi begitu kelelawar itu muncul, lukisannya jadi bergeser dan memperlihatkan celah.”
Juki: “Kalau begitu mustahil untuk kemungkinan kedua.”
Lisa: “Kenapa?”
Juki: “Soalnya tengkorak itu sudah keluar dari ruangan ini saat teman kalian hilang, apa ada hewan yang bisa mengambil tengkorak dan mengangkat lukisan yang besar itu? Kecuali itu seekor gorila yang bisa mengangkatnya dengan dua tangan, hewan juga nggak mungkin nutup lubang yang dia sudah buka. Kemungkinan besar ini adalah perbuatan manusia, atau paling tidak arwah.”
Santi: “Kok kamu bisa pinter kayak gitu?”
Juki: “Cuman niru perkataan setan yang gua temui, ya sudah, bagaimana kalau kita semua cari kepala orang ini di seluruh rumah?”
Budi: “Ng… nggak perlu, (semua melihat Budi) sebenarnya…”
Budi mengambil tas ransel miliknya, membawanya ke hadapan mereka, kemudian mengambil sesuatu dari dalamnya. Perlahan-lahan, Budi mengeluarkan sesuatu, semua anak terkejut begitu melihat apa yang dia keluarkan. Sebuah tengkorak yang diikat dengan kain pada sebuah kayu yang berujung runcing, di ujung kayu tersebut terdapat noda darah yang sudah mengering. Juki menggaruk kepalanya, sedangkan Yosi jatuh terduduk dan menutup wajahnya.
Deni: “Sejak kapan kau bawa itu?”
Budi: “Se… sejak hari temen kita menghilang, mulanya gua lihat ini tertutup sama ransel.”
Yosi: “Kenapa lu ambil dan bawa pulang?!”
Budi: “Soalnya waktu kita nyari mereka, mereka tak ditemukan sama sekali. Jadi gua pikir…”
Juki: “Kau kira mereka ditangkap sama dia bukan?”
Budi: “I… iya, terus gua bawa ini pulang buat ngedapat informasi lebih dalam lagi. Te… terus…, dia bilang ke gua ka… kalau mau tahu soal mereka… gue harus kembaliin dia.”
Yosi: “Baru kali ini gue tahu kalau teman kita pecinta hal mistis.”
Budi: “Jadi begini… teman-teman, bisa nggak kalau… kita ngelakuin hal yang sama seperti teman kita dulu.”
Lisa: “Jelas tak bisa, kita memang nyari teman kita ke sini, tapi bukan dengan cara begini! Kamu tahu kan dia siapa?! Dia nggak mungkin bakal ngasih tahu kita!”
Budi: “Ta… tapi…”
Lisa: “Letakkan itu kembali ke tempatnya! Kita nggak mau kehilangan teman lagi!”
Santi: “Lis, sabar Lis. Jangan begitu, coba lihat, Budi sampai nangis.”
Juki: (mendesah) “Aduh, kalau begini jadinya. Iya deh, aku mau ngikut kamu.”
Lisa: “Juki!”
Juki: “Ini hanya untuk percobaan, kalau memang jelangkung ini tidak sesuai dengan yang diperkirakan alias tak berhasil, mari kita pulang dan hentikan pencarian.”
Santi: “Gue… gue juga ngikut.”
Deni: “Aduh, mau nggak mau aku juga ikut. Kalo kau Yos?”
Yosi: “Jujur ya, gua belum pernah lihat setan, tapi cuman kali ini aja gua mau ikut. Kalau nanti setannya nggak ada, harus ada yang ngegantiin pekerjaan buat beres-beres tenda.”
Juki: “Setuju, sekarang, bagaimana dengan lu, Lisa?”
Lisa: “Aku nggak…”
Juki: “Hanya untuk hari ini saja, kalo nanti pergi ke suatu tempat yang ada hal seperti ini lagi, kita nggak bakal ngelakuin.”
Lisa: “…ya sudah, cuman buat hari ini, usahakan jangan sampai mati.”
Juki: “Insya Allah, nggak bakal. Sebelum itu, mari kita minta ijin dan mohon ampun pada Allah karena telah melakukan hal ini. Berdoa, mulai.”
***
Beberapa saat kemudian, tetap di ruangan yang sama. Para remaja duduk melingkar, tengkorak itu diletakkan di tengah ruangan. Satu persatu dari mereka menusuk ujung jari telunjuk masing-masing, kemudian meletakkan kembali tengkorak itu di tengah. Budi meringis kesakitan sambil mengisap telunjuknya.Juki: “Kenapa lu?”
Yosi: “Dia itu nggak tahan kalau ditusuk sedikit saja, dia pernah trauma sama jarum suntik.”
Deni: “Dasar, kenapa cuman ditusuk sedikit saja kau merasa tanganmu seperti habis ditusuk pisau?”
Budi: “Ini sakit banget deh, beneran!”
Juki: “Sudah, mendingan kita cepat mulai saja ritualnya terus langsung tidur.”
Akhirnya mereka mulai merapalkan mantra untuk memanggil sang arwah yang berbunyi sebagai berikut, ‘Jelangkung, datang tak dijemput, pulang tak diantar’ sebanyak tiga kali. Satu menit setelah mantra itu digumamkan dari mulut mereka, tak ada yang terjadi sama sekali. Yosi merasa telah dipermainkan, dia langsung berdiri dan pergi menuju pintu. Mendadak pintu menutup dengan kerasnya di hadapan Yosi, dia jatuh terduduk. Suasana di dalam ruangan mendadak dingin, cahaya dalam ruangan mulai redup dan membuat bayangan seolah-olah sedang menari. Api unggun itu padam perlahan-lahan, beberapa anak menyalakan senter. Semua berteriak saat melihat wajah Juki yang disinari lampu dari bawah.
Juki: “Ini aku, aku Juki! Yang diteriaki itu setannya, bukannya aku!”
Deni: “Kau ini ngaget-ngagetin saja, Yosi di mana?”
Yosi: “Di sini!” (berteriak dalam gelap)
Deni: (menyenteri dinding) “Di mana kau?”
Yosi: “Di depan lu!”
Santi: (menyenteri dinding yang lain) “Di mana? Kok nggak kelihatan?”
Juki: “Itu apa?” (menyenteri lantai)
Yosi: (posisi tiarap) “……”
Juki: “Kamu kira ini perang apa? Pakai tiarap segala.”
Lisa: “San… Santi…”
Santi: “Ada apa?”
Lisa: “Tolongin gua.”
Santi: “Kenapa sih?” (menyinari Santi)
Lisa: (dipeluk Budi) “Tolong lepasin gue dari pelukannya!”
Sekarang cahaya merah menyala dari dalam baskom yang berisi darah, darah di dalamnya mengeluarkan uap dan mendidih. Terdengar suara bergetar di tengah ruangan, Juki, Santi, dan Deni menyinari sumber suara tersebut. Mereka terbelalak, tengkorak itu berguling-guling dan berputar-putar, kemudian meloncat ke atas. Tengkorak itu sekarang terbang di langit, darah yang ada dalam baskom terbang seolah-olah disedot dan masuk ke dalam lubang mulut dan matanya. Sekarang tengkorak itu mengeluarkan cahaya merah dari mata dan mulutnya, mendadak dia berbicara.
?: “Siapa yang memanggil Raden Cahyapraga ini?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar