Welcome

Selamat datang, di blog Zachor. Di sini saya menyambut orang yang mau membaca dan mau memberi pendapat pada cerita yang sedang saya buat untuk dijadikan komik. Mohon kerja samanya.

Senin, 08 Februari 2010

Bagian 7

THE INVESTIGATION

Jam 6.30, Juki dan yang lain sedang makan nasi uduk bersama-sama, ditemani dengan secangkir teh. Mereka makan di depan rumah tua tersebut, Juki melihat rumah itu dengan seksama sambil makan. Dia berdiri kemudian berjalan mendekati sebuah patung singa, masih membawa sepiring nasi uduk dan secangkir teh. Yosi cs melihat Juki dengan heran.

Yosi: “Juki, ngapain lu?”
Juki: “Diam dulu.”
Deni: (berbisik pada Budi) “Pasti dia lagi meriksa ada apa nggaknya setan di sini.”
Juki: “Bukan, aku cuman mau tau apa ini patung bisa gua bawa buat pajangan di rumah.”
Yosi: “Ye, kirain apa.”
Deni: “Kok dia bisa dengar ya?”
Juki: “Jadi ini rumah yang katanya milik seorang dukun setan sekaligus gurunya kakek Ujang?”
Lisa: “Iya, katanya dulu dia sering mencari korban buat dijadikan tumbal, makannya dia menculik anak yang masih muda, yang masih remaja juga.”
Juki: “Oooh.”
Santi: “Konon belum ada yang bisa mengalahkan dukun itu, sampai suatu ketika seorang ulama datang untuk menghentikannya, dan dia menang.”
Budi: “Kemudian kakek Ujang menjadi penganut agama Islam setelah kekalahan gurunya.”
Juki: “Lantas, sejak kamu pertama ke sini sampai sekarang apa kakekmu masih suka pakai baju dukun itu?”
Lisa: “Dia pakai baju koko dan peci pada saat bulan puasa sampai Idul Fitri, pada saat Idul Adha, dan hari besar Islam lainnya dia begitu.”
Juki: (logat Rhoma Irama) “Itu sungguh ter-la-lu… baju seperti itu jangan hanya dikenakan pada saat seperti itu saja. Mestinya, baju itu juga dipakai untuk beribadah.”
Yosi cs: “Iya pak Haji.”
Juki: (sudah selesai makan) “Bicara soal ibadah, gua belum sholat sejak tadi, wah sepuluh menit lagi adzan. Nggak ada sumber air ya di dekat sini?”
Yosi: “Ada sungai di belakang rumah ini, tapi juga dipakai sebagai jamban di situ.”
Juki: “Mendingan gua tayamum saja deh.”

***

Beberapa saat kemudian mereka sholat di depan rumah tersebut, tetapi saat sedang sholat, angin kencang berhembus disertai suara barang berjatuhan di dalam rumah. Budi dan Yosi tak bisa berkonsentrasi dalam sholat, sementara Juki dan yang lain tenang-tenang saja. Setelah sholat Maghrib dan Ishak, akhirnya pencarian mereka dimulai.

Yosi: “Semuanya sudah siap?”
Deni: “Siap, aku bawa salib ama bawang putih.”
Juki: “Lu kate Drakula? Ini hantu tau.”
Deni: “Yee, siapa tahu ini ampuh.”
Juki: “Terserah lu deh, terus yang lain bawa apa?”
Yang lain: “Senter.”
Juki: “Baguslah, soalnya ini tempat kan gelap.”
Yosi: “Den, buka pintunya.”
Deni: “Lho, kenapa aku?”
Yosi: “Terserah gue dong, gua kan atasan.”
Deni: “Atasan sih atasan, kalau nanti ada yang nyerang terus aku mati gimana?”
Juki: “Aaaah, udah deh, daripada ribut mendingan aku yang buka.”
Lisa: “Wah hebat, lu berani juga.”
Juki: “Gitu aja kok takut, emang lu pernah lihat ada hewan buas apa sih di hutan ini?”
Santi: “Yah ada kayak ular, luak, kalong, juga tokek.”
Juki: (menjatuhkan senter) “Tolong jangan sebut kata itu.” (mengambil senter)

Melihat tingkah Juki, Yosi dan kawan-kawan saling pandang dan tersenyum, mereka memikirkan sesuatu yang buruk untuk Juki. Yosi mulai menghitung satu sampai tiga, dan bersama-sama mereka meneriakkan kata ‘tokek’. Juki terkejut setengah mati sehingga dia melempar senternya, kemudian jatuh terjerembab sehingga membuat pintu terbuka. Yosi cs tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Juki. Sadar bahwa dia diusili, Juki berdiri dengan wajah kesal dan mengambil kembali senter yang dia lempar.

Juki: “Ya, bagus, bagus. Sekalian saja kalian bunuh aku.”
Deni: “Coba lihat ternyata dia takut sama tokek!”
Yosi: “Nggak nyangka ya, setan lu nggak takut, tapi sama anak komodo aja takut.”
Juki: “Bukannya takut… cuman jijik.”
Lisa: “Sama aja kali. Emang kenapa sih takut sama gituan?”
Juki: “Aku nggak mau cerita, mengingatnya saja sudah membuatku trauma.”
Santi: “Ya sudah deh, maaf.”
Juki: “Tapi awas ya, lain kali tunggu pembalasan gua.” (wajah seram)
Yosi: “Ooh serem, ya udah kita berpencar. Gua bareng Lisa dan Santi, Juki bareng Deni dan Budi.”
Juki: “Entar dulu, entar dulu, kita ini mau investigasi atau apaan sih?”
Yosi: “Emang kenapa?”
Juki: “Masa lu bareng sama cewek, dua orang lagi. Emangnya lu mau bikin prostitusi?”
Yosi: “Enak aja, gua kan yang paling berani di sini. Cewek kan biasanya lemah, jadi gua wajib ngelindungin mereka.”
Juki: “Ngelindungin sih ngelindungin, tapi jangan bawa dua dong. Paling nggak harus ada satu cewek dan dua cowok dalam kelompok. Semua itu harus seimbang.”
Yosi: (bingung) “…banyak omong lu, gua pusing…”
Juki: “Ya udah, aku aja yang nentuin. Santi sini, Budi ke sono. (logat Rhoma Irama) Oh ya, Yos, nggak semua cewek itu lemah. Mereka itu juga setara dengan kita, mereka mungkin kelihatan lemah, tapi kekuatannya sebagai manusialah yang menjadikan hal itu setara.”
Semua (kecuali para gadis): “Iya pak Haji.”
Lisa dan Santi: (bertepuk tangan) “Setuju, salut, salut!”
Juki: “Jadi mulai dari mana kita mencarinya?”

***

Juki, Santi, dan Budi melakukan penyisiran di sebuah tempat yang sepertinya adalah dapur, di dalamnya terdapat kompor dengan bahan bakar kayu, sebuah kuali, uleg-uleg, dan sebuah kendi.

Juki: “Nggak nyangka ya, ternyata masih ada orang yang katrok begini.”
Santi: “Sudah tentu, bukankah gurunya kek Ujang itu dukun yang tinggal di pedesaan? Ngomong-ngomong kamu suka nonton Empat Mata ya?”
Juki: “Jelas, aku seneng nonton Tukul, dia itu binatang film favoritku.”
Budi: “Hahaha, bisa saja Juk.”
Juki: “Ngemeng-ngemeng nih, aku baru ingat ada sebuah rumah yang isinya lagu dangdut semua.”
Santi: “Rumah apaan tuh?”
Budi: “Pasti rumah karaoke ya?”
Juki: “Bukan.”
Santi: “Rumah yang isinya orang sedang ngerayain ultah?”
Juki: “Kagak.”
Budi: “Rumah penyanyi dangdut?”
Juki: “Dudu, tapi jawabanmu iku meh bener.” (bukan, tapi jawabanmu itu hampir benar.)
Santi: “Nyerah deh, rumah apaan sih?”
Juki: “Gitu aja nggak ngerti, denger ya dari jaman dulu sampai sekarang, rumah ini cukup terkenal. Bahkan rumah ini punya anak dan istri, berambut keriting dan berjenggot.”
Budi (bingung): “Emang ada rumah kayak begitu?”
Juki: “Kata kuncinya adalah ‘santai’ dan ‘terlalu’.”
Santi & Budi: “Rumah Irama!!”
Juki: “Bener!! Kalau begitu kalian mendapat satu kompor tradisionil bersama dengan sebuah kuali cantik!”

Mereka tertawa terbahak-bahak, Budi menahan perutnya yang kesakitan karena tertawa berlebihan. Santi sendiri sampai membungkuk dan menutup mulut untuk menahan tawanya, tapi apa daya, dari mulutnya tawa itu sudah tak bisa ditahan lagi.

Juki: “He, ternyata kau bisa tertawa juga?”
Budi: “Oh ma… maaf.”
Juki: “Nggak papa, lagian manusia juga punya hak buat ketawa. Kamu masih manusia kan?”
Budi: “I… iya.”
Juki: “Hanya saja, ada satu hal yang harus kamu ingat, jangan pernah tertawakan orang baik yang punya impian dan merendahkannya walau impian itu mustahil.” (melihat ke dalam kendi)
Budi: (tersentuh) “Kamu bisa juga bicara keren begitu.”
Juki: “Apa ini?”
Santi: “Kenapa? Lu nemuin sesuatu?”
Juki: (mengangkat kendi) “Ada sesuatu di dalam sini, (memasukkan tangan) hmm, keras. Ada sedikit basah, ada bulunya juga.”

Juki membalikkan kendi dan mengeluarkan isinya, isi kendi tersebut jatuh ke lantai. Ternyata isinya adalah bangkai tikus beserta kecoa hidup, Budi dan Santi kaget dan berteriak sambil meloncat-loncat. Beberapa saat kemudian, suara gaduh yang dibuat Budi dan Santi berhenti. Sekarang mereka berada di luar rumah, Juki sendiri sedang menggali tanah dan mengubur bangkai-bangkai tersebut.

Juki: “Hahahah, kalian ini baru melihat mayat hewan saja sudah takut, bagaimana dengan mayat manusia?”
Santi: “Jangan gitu ah, gua ngelihat aja jijik.”
Budi: “Gua sendiri mau muntah.”
Juki: “Itu tadi balasan lu nertawain gue, sekarang giliran gue yang nertawain lu. Impas, hahahah.”

###

Sementara itu, Lisa, Deni, dan Yosi berada dalam sebuah lorong yang di dindingnya berderet lukisan kuno. Di salah satu lukisan tersebut ada gambar seorang pria paruh baya yang memakai baju adat Jawa Tengah, hanya lukisan itu saja yang memiliki bingkai besar. Gambar lainnya hanyalah pemandangan alam, desa, dan kota kecil.

Deni: “Jadi ini gurunya kakek Ujang? Nggak nyangka, kau tahu tidak namanya siapa?”
Lisa: “Raden Cahyapraga.”
Yosi: “Raden? Berarti dia bukan dari daerah sini?”
Lisa: “Dia orang asli Jawa Tengah, kakek bilang dia pindah ke sini saat kakek umur enam belas tahun.”
Deni: “Memangnya sekarang umur kakekmu berapa?”
Lisa: “Tujuh puluh dua kurang tiga bulan, kalau dihitung…”
Yosi: “Ah nggak usah dihitung, ribet tau nggak?”

Mendadak terdengar suara seperti ada yang beterbangan dari atas, Yosi, Deni dan Lisa melihat ke atas. Di sebuah langit-langit yang berlubang, dari situlah suara tersebut berasal. Deni menyorot lubang tersebut dengan senternya, terlihat sesuatu yang kecil bergerak-gerak dengan cepat, bahkan terdengar suara mencicit dari dalamnya. Yosi baru menyadari sesuatu, mendadak dia tiarap dan menjatuhkan Deni dan Lisa. Lisa jatuh menimpa Deni, senter yang dipegang Deni jatuh ke bawah, mendadak muncul kelelawar yang beterbangan keluar dari atap. Yosi memerintahkan mereka untuk tetap tiarap dengan isyarat tangan. Setelah seluruh kelelawar itu pergi, mereka kemudian berada di dalam kegelapan tanpa bisa melihat apapun.

Yosi: “Den, senternya kamu jatuhkan ya?!”
Deni: “Maaf! Terima kasih untuk yang tadi.”
Yosi: “Ke mana Lisa?”
Deni: “Macam mana pula kau? Mana aku tahu di tengah kegelapan seperti ini, kau jangan jatuh di tubuhku, berat ini.”
Yosi: “Gua sekarang berdiri, mana mungkin gua nindihin lu!” (meraba-raba)
Deni: “Lantas yang menindihku ini…?”
Yosi: “Ini dia senternya. (menyalakan senter) Terus di mana… lu?” (melotot)
Deni: “Oooh.” (tersenyum kecil)
Lisa: “G… GYAAAAH!!”

Suara teriakan Lisa bergaung di lorong. Saat ini Juki, Santi, dan Budi sedang berada di depan rumah, Juki sedang mencangkul tanah, di sebelahnya terdapat kendi yang berisi bangkai tikus, Santi dan Budi duduk di depan tenda sambil mendengarkan radio.

Santi: “Kenapa lu nguburin gituan?”
Juki: “Temenku pernah ngomong, setiap makhluk itu punya nyawa dan makhluk hidup itu adalah sesuatu yang layak untuk dikasihani. Tikus-tikus ini dibiarkan membusuk di tempat itu setelah dibuat entah apa itu, jadi lebih baik kalau mereka hidup tenang juga di akhirat.”
Budi: “Memangnya hewan bisa tinggal di surga?”
Juki: “Aku sampai sekarang nggak tau, tapi begitulah.”
Santi: “Kalau tokek?”
Juki: (menjatuhkan cangkul) “Bisa jangan bicarakan itu? Pokoknya begini deh, aku ini berani megang mayat apapun bentuknya, walau itu hewan yang kutakuti.”
Budi: “Hebat juga Eric ngajarin begitu sama lu.”
Juki: “Siapa bilang Eric yang ngomong?”
Budi: “Eh, bukan ya?”
Juki: “Kau pikir temanku hanya ada satu? Memangnya kalian ini bukan temanku?”
Santi: “Ah maaf deh, kami nggak bakal ngomong lagi.”
Juki: “Budi yang ngomong masa kamu yang minta maaf?”
Budi & Santi: “Oh maaf!”
Juki: “Kalian sungguh aneh.”

Dia teringat kembali saat Eric sedang mengubur tikus yang diletakkan di meja saat kasus Beni. Kembali ke tempat Yosi, sekarang di pipi Deni membekas telapak tangan warna merah. Yosi sendiri sedang menyenteri lukisan yang tadi mereka lihat, sedangkan Lisa hanya bisa melipat tangan di dadanya sambil menggembungkan pipinya.

Deni: “Kan itu tadi kecelakaan.”
Lisa: “Emangnya pakai meluk-meluk itu kecelakaan?”
Deni: “Itu tadi refleks, tak sengaja aku memeluk kau.”
Lisa: “Tak sengaja apanya, kenapa malah senyum-senyum pas tau gue nibanin lu?! Ini pasti sudah dari tadi kamu tau, tapi nggak bilang-bilang!”
Deni: “Lah, macam mana pula kau?! Kalau gelap mana bisa aku melihat tolol!”
Yosi: “Udah-udah, Deni bantuin gue!”
Deni: “Ada apa?”
Yosi: “Coba lihat.”

Di hadapan Yosi dan Deni, lukisan Raden Cahyapraga sedikit miring dan menampakkan sebuah celah. Yosi mencoba mengangkat lukisan tersebut bersama Deni, tetapi karena tidak kuat, akhirnya lukisan tersebut jatuh dan memecahkan jendela, beberapa kelelawar terbang dari dalam dan keluar dari jendela. Pada saat itu Juki, Santi, dan Budi sedang berada di belakang rumah, di sebuah sungai yang terdapat sebuah jamban. Budi jatuh terduduk, Santi sedang berdiri di depan sungai, dan kepala Juki menyembul dari dalam jamban.

Budi: “Itu dia! Itu setannya!”
Santi: “Bego! Itu kan cuman kaca pecah!”
Budi: “Iya kaca pecah itu gara-gara setannya!”
Santi: “Bego, lihat baik-baik itu bukan setan! Cuman kalong!”
Juki: “Ah berisik! Aduh mana perutku sakit lagi, biarin aja! Ada yang bawa tisu nggak?!”

Kembali kepada Yosi dan Deni, ternyata di balik lukisan yang bertengger sudah ada sebuah jalan rahasia yang diterangi dengan obor menuju ke bawah. Yosi, Deni dan Lisa, tampak sedikit ragu untuk memasukinya.

Yosi: “Buset, nggak nyangka gue bisa nemuin jalan ini, rasanya kita harus berterima kasih pada kelelawar tadi.”
Deni & Lisa: “Bener.”
Lisa: “Yang tadi itu perkecualian lho.” (menatap Deni)
Deni: “Sudah kubilang itu nggak sengaja.” (menutup muka)
Yosi: “Kita masuk aja ya? Gue penasaran di ujungnya ada apaan.”
Lisa: “Jangan, siapa tau ada perangkapnya.”
Yosi: “Kebanyakan nonton film lu, ayo masuk!” (langsung masuk)
Lisa: “Dibilangin kagak percaya.” (mengikuti Yosi)
Deni: “Tunggu!”

Mereka berjalan menyusuri lorong tersebut sehingga sampai di sebuah pintu kayu dengan hiasan tengkorak kambing, Yosi ingin membuka pintu tersebut tapi dicegah oleh Lisa dan Deni.

Yosi: “Kenapa lu?”
Lisa: “Jangan masuk dulu, kalau nanti ada yang nyerang gimana?”
Deni: “Iya, barangkali setan itu sudah menunggu di dalam.”
Yosi: (berkacak pinggang) “Lu kebanyakan nonton film, setan itu nggak ada di dunia ini, setan cuman ada di neraka.”
Lisa: “Lu aja kagak pernah lihat.”
Yosi: “Emangnya lu pernah lihat?”
Lisa: “Nggak sih.”
Yosi: “Nggak pernah liat setan aja udah takut, lu ini kebanyakan nonton film horror. Ini pintu jadi dibuka nggak?”
Deni: “Ya udah deh dibuka aja.”
Yosi: “Serius nih? Kalo gitu gua mulai buka ya?”
Lisa: “Kalo lu dilahap ama itu setan, gue nggak tanggung jawab lho.”

Akhirnya pintu itu dibuka oleh Yosi, secercah cahaya merah muncul dari balik pintu. Begitu pintu dibuka, mereka terperangah karena melihat sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar