Welcome

Selamat datang, di blog Zachor. Di sini saya menyambut orang yang mau membaca dan mau memberi pendapat pada cerita yang sedang saya buat untuk dijadikan komik. Mohon kerja samanya.

Senin, 08 Februari 2010

Bagian 3

THE COURT

Seminggu kemudian, di dalam ruang kelas kampus ilmu budaya. Eric berada dalam keadaan mata tertutup saputangan dan dikelilingi oleh para mahasiswa, termasuk Juki, Lisa, dan Santi.

Eric: “Juki, aku tak tahu apa yang kau rencanakan, tapi sepertinya ini akan sedikit menyenangkan. Benar?”
Juki: “Nanti lu juga bakal tau.”
Eric: “You know? I don’t like this kind of surprise.” (kau tahu? Aku tak suka kejutan semacam ini)
Lisa: “Sabar ajalah.”
Eric: “Kalau mataku ditutup seperti ini, biasanya saat itu pasti ada barang untuk diberikan padaku atau mungkin aku akan diserang dengan sesuatu.”
Lisa: “Jangan berprasangka buruk begitu, kan sekarang si Beni sedang nggak ada.”
Eric: (suara hati) “You don’t need to give me any surprise, because I know what you will want to give for me.” (kau tak perlu memberiku kejutan, karena aku tahu apa yang akan kau berikan padaku)
Lisa: “Nah siap ya? Satu… dua… tiga!” (melepas penutup mata)

Eric melihat di depan matanya sudah ada belasan mangkuk bakso, mulai dari bakso urat, bakso kikil, bakso tulang, sampai bakso bakar. Dia menggerakkan kedua alisnya ke atas, melipat kedua lengannya, lalu bersandar di kursinya.

Eric: “Wow!” (suara pelan)
Juki: “Ya, maaf deh kalau nggak mewah.” (nada jengkel)
Lisa: “Apa masih kurang?”
Eric: “Tidak, aku sungguh menghargainya, tapi lain kali kalian berikan saja dengan satu wadah. Di sini terlalu banyak wadah, jika nanti dicuci akan menjadi merepotkan.”
Juki: “Iya, lain kali kita bawain satu ember penuh.”
Eric: “Baiklah! Aku akan mulai menyantapnya.” (menangkupkan tangannya selama sepuluh detik)

Santi menatap Eric dengan wajah sedih, dia menggigit mulutnya dan tangannya gemetaran. Eric lalu menepuk tangannya dan segera makan dengan lahapnya.

***

Sepuluh menit kemudian, semua yang ada di meja habis tak bersisa. Eric lalu meminum sebotol Coca-Cola ukuran sedang sampai isinya tinggal setengah. Semuanya terbelalak saat melihat, Eric menyantapnya dengan sangat cepat. Di sebelah tempat Eric duduk, ada banyak ember yang berisi tumpukan mangkok. Dia langsung berdiri, mengangkat dan membawa keluar ember itu. Semua yang ada di kelas mengikutinya, dia langsung pergi ke kamar mandi. Dia berhenti di depan, mengeluarkan sebuah sabun cuci dari dalam kantongnya. Ember itu kemudian diisi air, dan dia mulai mencucinya dengan cara biasa. Juki langsung menghampirinya.

Juki: “Perlu dibantu?”
Eric: (mengangguk) “Sure.” (tentu)

Melihat hal itu, Santi dan Juki juga turut serta, diikuti dengan beberapa murid yang lain. Mereka saling membantu satu sama lain, setelah beberapa menit kemudian, mereka langsung membawa tumpukan mangkok itu ke kantin dalam keadaan bersih. Eric langsung meninggalkan kantin setelah berterima kasih pada pemilik kantin, dalam perjalanan kembali ke kelas, Eric berbalik menghadapi semua murid.

Eric: “Hari ini aku sangat berterimakasih, tapi sejujurnya aku tak pantas mendapatkan ini.”
Lisa: “Jangan merendah begitu, kita emang gak rela kalau direpotin ama Beni. Tapi sekarang, kita rela kok direpotin ama lu.”
Eric: “Yeah, if you say so, then you will get the retribution later or soon enough.” (yah, jika kau berkata begitu, maka kau akan mendapat balasannya nanti atau sesegera mungkin)
Lisa: “…iya…” (bengong)
Eric: “Maksudku, jika kau berkata begitu, maka balasannya akan kau dapat nanti atau sesegera mungkin. Baiklah, aku pergi dulu, apa ada yang mau minta sesuatu?”

Semuanya menggeleng, dia langsung mengangguk dan pergi. Tapi belum sempat dia pergi, Eric melihat Santi yang berwajah pucat, dan tangannya gemetaran. Dia langsung berjalan pergi bersama Juki.

Eric: “Sepertinya teman pertamaku di kampus ini punya masalah, apa perlu aku tanyai?”
Juki: “Tanya saja dia, kamu harus tahu siapa dia itu.”

###

Beberapa saat kemudian, di sebuah rumah makan Padang, Eric duduk bersebelahan dengan Juki yang sedang makan udang dan cumi. Di depan mereka ada Santi yang berwajah pucat, meremas-remas tangannya, dan menggigit bibir sedari tadi.

Eric: “Jadi maksudmu dia adalah majikanmu?”
Santi: “I… iya, orang tua gue itu pembantu di rumahnya. Bokapnya itu seorang koruptor, tapi sampai sekarang dia tak terbukti bersalah.”
Eric: “Pernah coba lapor polisi?”
Santi: “Percuma, kalau sampai begitu, orang tua gua bakal dibunuh. Sampai-sampai…” (menangis)
Juki: “Sebenarnya, ada teman kita yang mergokin Beni lagi jualan sama pakai narkoba, tapi dia dibunuh dan seolah-olah dibuat kecelakaan.”
Eric: “…”
Juki: “Bapaknya itu kabarnya suka menyuap orang untuk bisa lepas dari permasalahan, jika ditolak… kau tau sendirilah. Sejauh ini, korbannya udah sampai belasan.”
Santi: “Makannya… kenapa lu ngelawan dia? Nanti kamu bisa mati, sekuat apapun lu.”
Eric: “Hmph, you think I will die because being killed by them? There’s only one that have right to kill me, the God itself.” (hmph, kau pikir aku akan mati karena dibunuh oleh mereka? Hanya ada satu yang punya hak untuk membunuhku, Tuhan itu sendiri)
Juki: “Tul itu, dalam segala situasi, dia biasanya… santai.” (lirik lagu Rhoma Irama)
Santi: “Ini bukan main-main, hari ini dia ada rencana buat ngebunuh lu! Dia ngebawa anak buah bokapnya buat…!”
Eric: (membungkam mulut Santi) “Shut the hell up.” (diamlah)

Dalam sekejap Santi tak bergerak, saat melihat sorot mata Eric menjadi serius. Juki melanjutkan makannya dengan tenang, terdengar suara kereta lewat.

Eric: “You’ve already become my friend, don’t think after I involved with this I will let you do whatever you like. Maybe you have a sin, that’s why I’m exist in this world. My existence is to erase and forgive the sin that somebody commit; I won’t die because being killed by humans or demons.” (kau sudah menjadi temanku, jangan kira setelah aku terlibat dengan hal ini aku akan membiarkanmu melakukan apa yang kau suka. Mungkin kau mempunyai dosa, karena itulah aku ada di dunia ini. Keberadaanku adalah untuk menghapus dan mengampuni dosa yang seseorang lakukan, aku takkan mati karena dibunuh oleh manusia atau iblis.)

Juki sudah menyelesaikan makannya, dia langsung membayar dan keluar dari tempat. Eric menurunkan tangannya dan pergi meninggalkan Santi, dia sendiri terduduk lemas dan berkeringat setelah sedikit ceramah dari Eric.

###

Sementara itu, Juki yang sedang sendirian tanpa Eric, pulang berjalan kaki. Mendadak sebuah mobil sedan hitam melintas dan menghadangnya, tiga orang bertampang preman dan bertubuh besar keluar dari dalam. Mereka memasukkan Juki dengan paksa ke dalam, setelah itu mobil tersebut pergi meninggalkan tempat. Di dalam, Juki sendiri berwajah tenang dan hanya bisa lirik kanan kiri. Sambil diapit dua orang, ia sadar begitu melihat siapa orang yang berada di sebelah supir.

Beni: “Jadi di mana si bule temen lu itu?”
Juki: “…ooh, Beni to? Tak kira sapa.” (…ooh, ternyata Beni? Kukira siapa.)
Beni: “Nama gua Beni, bukan Benito.”
Juki: “Lantas kenapa, Mussolini? Kan cocok, dasar fasis.”
Beni: “Lu ini suka bercanda ya? Tarik tengahnya.”

Orang di sebelah kiri Juki mengeluarkan sebuah tang dan menjepitkannya ke hidungnya. Juki berteriak kesakitan, hidungnya kemudian ditarik sampai mengeluarkan darah. Beni langsung mengangkat tangannya, tang tersebut dilepas dari hidungnya.

Juki: “AAAAUUUCH!! ADAAOW!!”
Beni: “Lain kali jaga bicara lu, keliatannya lu deket banget ama dia. Kalau dia tau, lu kayak begini apa jadinya ya?”
Juki: “Aduuh, sialan lu. Ngemeng-ngemeng ke mana lutung ama babon yang biasanya sama kamu?”
Beni: “Rudi dan Roni masih di rumah sakit, gua merasa berterimakasih karena lu berdua cuman matahin hidung ama dua gigi gue.”

Beni menoleh ke belakang dan menyeringai, hidungnya dipasang plester dan kapas, terlihat dua gigi depannya sudah diganti dengan gigi emas.

Juki: (tertawa) “Puh, sekarang lu tambah ganteng ya? AAARGH!” (hidungnya ditarik dengan tang)
Beni: “Silahkan tertawa sepuasnya, itu sebagai ganti lu matahin hidung gua, gua masih ingat itu tangan lu yang mukul ke sini.” (menunjuk hidung)
Juki: (memegang hidung) “Aaaah, terus… lu mau matahin giginya Eric juga?”
Beni: “Hahaha, tidak, dia sudah kelewatan ama gua. Lu masih ingat waktu gue disiram air kobokan? Gua bakal beri lebih, dia bakalan gua tenggelamin di sungai ampe kehabisan nafas!”
Juki: “Terserah lu deh, tapi jangan salahkan gue kalau nanti yang terjadi sebaliknya.”
Beni: “Lu pikir begitu? Turunin dia!”

Saat sedang berjalan, pintu mobil dibuka dan Juki dikeluarkan secara paksa dan mendarat di sawah yang masih basah. Mobil itu melesat begitu saja, meninggalkan Juki yang hidungnya berdarah dan tubuhnya berlumuran lumpur. Juki berdiri perlahan-lahan sambil memegangi hidungnya yang berdarah, saat itulah sebuah ambulance melewati tempat tersebut dan berhenti. Beberapa petugas medis keluar, dari dalamnya ada Eric sedang duduk sambil tersenyum melihat Juki. Sambil dipapah masuk mobil, Juki yang merasa jengkel kemudian mendesah.

Juki: “Mbok ya sing cepet kek, irungku dadi pesek iki.” (harusnya yang cepat gitu, hidungku jadi pesek nih)
Eric: “Aja ngomong Jawa, kula mboten ngertos.” (jangan bicara bahasa Jawa, aku tak mengerti)
Juki: (duduk sambil diobati) “Padha ae karo kon, goblok.” (sama saja dengan kau, goblok)
Eric: “Yang penting, kau ingin kebiadaban ini lenyap dari kampus kan?”
Juki: “Memangnya buat apa… aduh! Buat apa lagi gue minta tolong kamu, tapi setelah masalah ini selesai, lu gak bakal ninggalin Indonesia lagi kan?”
Eric: “Yes, I promise. Honestly I don’t have a job to done lately, but if there is any order from the office… maybe I will leave this country.” (ya, aku janji. Sejujurnya aku tak punya pekerjaan untuk dikerjakan belakangan ini, tapi jika ada perintah dari kantor… mungkin aku akan meninggalkan negeri ini)
Juki: “Apa setelah itu lu bakal pensiun?”
Eric: “Pensiunku hanya saat aku mati saja.”

Juki terdiam ketika mendengar kata-kata Eric, pintu mobil ditutup. Ambulance mulai berangkat meninggalkan tempat, membawa Juki dan Eric ke rumah sakit terdekat.

###

Seminggu lebih tiga hari di sebuah gedung pengadilan, Juki dan para pelajar dari kampus berkumpul. Tidak hanya mereka, tapi juga ada sang rektor dan para dosen. Di sana juga terlihat Beni sedang duduk di kursi roda, diapit oleh dua orang. Di belakangnya, duduk Roni dan Rudi, kepala mereka diperban. Orang yang berada di sebelah kanan Beni, memakai jas, berkumis tebal, berkacamata, dan berambut klimis. Di sebelah kiri, pria usia tiga puluhan, berambut ikal, hidungnya pesek. Hakim dan jaksa baru saja datang, saat itulah seluruh orang berdiri. Beberapa saat kemudian, Eric sudah berada di depan hakim. Dia duduk dengan santainya, kaki kanannya ditaruh di atas lutut.

Hakim: “Saudara-saudara sekalian, kita berada di sini untuk menuntaskan kasus penganiayaan terhadap saudara Beni Handoyo. Dan sang tersangka dalam kasus tersebut tak lain dan tak bukan… (melihat Eric mengunyah permen karet) saudara Eric Pietersburgh.”
Lisa: “Kok dia nyantai amat?”
Juki: “Dia udah biasa kalau soal gituan, toh, dia pernah masuk pengadilan lima kali.”
Lisa: “Hah?! Tau dari mana?”
Juki: “Yah, aku sering diajak chatting ama dia. Kadang saat dia sedang bekerja ada sedikit kerusakan parah, terus kalau dia kesal sama orang, langsung saja dia hajar.”
Lisa: “Pe… pernah sampai ngebunuh orang nggak?”
Juki: “Dia takkan pernah membunuh.”
Santi: “Hidungmu sudah sembuh?”
Juki: “Yang begituan mah, tinggal dipijit beres.”
Lisa: “Dia emang gila ya, perkaranya sampai begini.”
Santi: “Tenang saja, dia nggak bakal mati tahun ini kok.”
Juki: (heran) “…yah, pokoknya semuanya lancar.”
Hakim: “Sekarang, kami minta saudara Beni untuk maju ke depan untuk menerangkan situasinya.”

Beni maju dengan bantuan dari sang pria berambut ikal, dia diletakkan jauh dari Eric. Dia menatap dengan senyum jahat dan pandangan yang menyeramkan, lalu menatap ke depan setelah hakim mengetukkan palunya.

Hakim: “Baiklah, di ruangan ini sudah hadir korban dari penganiayaan yang dilakukan oleh saudara Eric pada tanggal 25 Maret 2008. Saudara Beni, apa benar orang ini yang sudah menyiksa anda?”
Beni: (wajah tak bersalah) “Benar pak, dia yang melakukan.”
Hakim: “Apa yang dia lakukan kepada anda, dan bagaimana kelakuannya saat itu?”
Beni: “Saat itu dia datang ke universitas sebagai mahasiswa baru, dia bertingkah seenaknya tanpa diketahui orang lain. Dia juga sempat menghajar saya dan bersikap seolah dia yang berkuasa. Teman saya yang ada di belakang juga termasuk korban.”
Hakim: “Saudara Beni, lantas apa yang dia lakukan sampai anda dan teman anda sampai seperti ini?”
Beni: “Teman saya dipukul dengan pipa sampai babak belur, saya jadi korban pelampiasan karena dia kesal, dan seperti inilah jadinya.”
Eric: “That’s awful.” (itu menyeramkan)
Hakim: “Saudara Eric diharap diam, mungkin ada sedikit pembelaan dari saudara Beni? Oh, (melihat pria berambut ikal mengangkat tangan) silahkan bapak pengacara.”
Pengacara: “Sebenarnya pak hakim, saudara Beni sebenarnya tak hanya dipukuli tapi juga ditusuk dengan sebuah pisau, dan barang buktinya sekarang saya bawa.”

Sang pengacara meletakkan sebuah tas koper dan membukanya, dia mengeluarkan kantong plastik berisikan pisau lipat. Benda tersebut kemudian ditunjukkan kepada semua orang.

Pengacara: “Dengan benda ini, saudara Eric telah menusuk-nusuk saudara Beni sampai tak bisa berjalan. Menurut dokter, urat syaraf tubuh bagian bawahnya putus sehingga dia takkan bisa berjalan seumur hidupnya. Saya juga membawa hasil foto ronsennya, (mengeluarkan foto) perhatikan baik-baik.”
Eric: “Oh, Andra and the Backbone?” (peserta sidang tertawa terbahak-bahak)
Hakim: (mengetukkan palu) “Semuanya diharap tenang! Saudara Eric, saya mohon jangan melawak di sini! Silahkan dilanjutkan.”
Pengacara: “Baik, jadi di sini terlihat jelas tulang belakangnya terkena tusukan di bagian ini.”

Para jaksa dan peserta sidang saling berdebat satu sama lain begitu melihat foto ronsen tersebut, tak terkecuali Juki, Santi, dan Lisa.

Lisa: “Itu pasti foto palsu.”
Juki: “Jangan sok, itu foto x-ray, tak mungkin bisa dipalsukan.
Lisa: “Gua gak ngerti ilmu kedokteran, tapi apa bener tuh?”
Juki: “Jangan nanya gue juga, kita kan fakultas ilmu budaya, bapak gua juga bukan dokter.”
Santi: “Foto ronsen itu sungguhan, tapi mungkin tulang belakangnya itu tulang orang lain.”
Juki: “Kemungkinan itu juga ada.”
Hakim: “Baik saudara Eric, apa anda mengakui bahwa anda telah mencederai saudara Beni hingga seperti ini?”
Eric: “Terus terang mencederai mungkin kurang tepat, saya hanya menghajarnya, yah mungkin juga dia tidak mandi saat dalam keadaan seperti itu.” (peserta sidang tertawa terbahak-bahak)
Hakim: (mengetukkan palu keras-keras) “Semuanya tenang! Saudara Eric, saya mohon jawab dengan serius. Sekali lagi seperti itu, anda akan dikeluarkan dari sidang dan dinyatakan bersalah!”
Eric: “Ok, I will serious now. (baik, saya akan serius sekarang) Tapi saya juga ingin mengajukan pembelaan.”
Hakim: “Diterima.”
Eric: “Yang akan disampaikan oleh pengacara saya, jika diperkenankan.”
Hakim: “Tentu saja.”

Eric melihat ke belakang dan berdiri, dia berjalan menuju seseorang yang tidur sambil memegang sebuah tempat minum di sebuah meja. Eric menepuk bahunya, dan memanggilnya Kumamoto. kemudian pria itu terbangun dan berdiri, dia terlihat sempoyongan. Badannya tinggi besar, dia memakai jas hitam, syal putih, dasi merah, dan topi ala Indiana Jones.

Kumamoto: “Sudah… hik… giliranku ya?” (bahasa Jepang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar