Welcome

Selamat datang, di blog Zachor. Di sini saya menyambut orang yang mau membaca dan mau memberi pendapat pada cerita yang sedang saya buat untuk dijadikan komik. Mohon kerja samanya.

Senin, 08 Februari 2010

Bagian 4

THE RIOT

Pria bertubuh besar itu bangkit, dia berjalan sempoyongan sambil ditemani Eric. Dia mengangkat topinya sedikit dan memperlihatkan wajahnya, hidung besar, wajah mabuk, mata sipit, dan mulut tipis. Eric duduk kembali ke kursinya dengan santai, setelah itu sang pria membungkuk.

Kumamoto: “Sudah sampai… hik… mana?”
Eric: “Lakukan saja yang harus kau lakukan.”
Kumamoto: “Wakarimasta.” (aku mengerti)
Hakim: “Anda pengacara saudara Eric?”
Kumamoto: “Ah, benar… hik… nama saya Ku… hik… Kumamoto Isaragi, salam.”
Hakim: “Apa anda mabuk?”
Kumamoto: “Tidak… hik… hanya cegukan dan sedikit… hik… pusing saja.”
Juki: “Aduh, kenapa orang itu yang jadi pengacara?”
Lisa: “Iya, mabuk kok bilang pusing?”
Santi: “Kamu kenal dia siapa?”
Juki: “Pak Kumamoto, salah satu dari kenalannya Juki di Jepang. Dia juga yang sering mengurus kasus-kasus yang Eric pernah terlibat.”
Lisa: “Apa dia bisa memenangkan kasus yang diusut?”
Juki: “Yah, memang. Kebanyakan menang, tapi yang sering membayar ganti ruginya pak Kumamoto juga.”
Santi: “Jadi, dengan kata lain dia itu juga petugas asuransinya Eric?”
Juki: (melihat Santi) “…semacam itulah, tapi walau begitu, dia juga cukup ditakuti di luar sana.”
Lisa: “Emang dia kerjaannya apaan saja?”
Juki: “Aku tak mau membicarakannya, mengingatnya saja sudah membuatku takut.” (berkeringat deras)
Santi & Lisa: “O… ooh…”
Hakim: “Baik, mungkin tadi anda sudah mendengar sedikit dari permasalahannya. Jadi terdakwa Eric Pietersburgh berada di sini karena tuduhan menganiaya saudara Beni dan teman-temannya. Ditambah lagi dia telah membuat saudara Beni mengalami kelumpuhan di kakinya…”
Kumamoto: (mengangkat tangan) “Maaf menyela, tuan… hik… hakim yang terhormat. Jika tak salah, bahwa… hik… bagian tulang belakangnya telah ditusuk oleh… hik… pisau yang tadi ditunjukkan oleh… hik… orang tersebut. (menunjuk pengacara) Apa anda… hik… yakin?”
Pengacara: “Te… tentu saja, sebab… ada sidik jari dari saudara Eric.”
Kumamoto: “Hik… boleh saya… hik… lihat?” (menjulurkan tangan)

Si pengacara menurut saja, dia menyerahkan pisau itu kepada Kumamoto. Dia langsung menjauhi sang pengacara, duduk di meja, dan mengamati pisau itu dengan cara mendekatkannya ke wajahnya. Setelah itu dia menaruhnya di meja, dia langsung mengeluarkan sebuah tempat minum kecil berbentuk kotak dari jasnya dan meneguknya. Dia menjilat mulutnya sedikit-sedikit, kemudian memasukkan tempat minum itu di balik jasnya.

Hakim: “Pak Kumamoto, tolong jaga sikap anda di sini, ini pengadilan.”
Kumamoto: “Yang mengatakan… hik… ini pegadaian siapa?” (peserta sidang tertawa terbahak-bahak)
Hakim: (mengetukkan palu sangat keras) “Semuanya tenang! Diharap tenang! Anda akan dikeluarkan dari sini jika begitu lagi!”
Kumamoto: “Baiklah, tapi ijinkan… hik… saya untuk melakukan pembelaan terakhir.”
Hakim: “Baik, ini yang terakhir, jangan bercanda lagi.”
Kumamoto: (menurunkan topi) “Yang mulia, mungkin benar jika…hik… Eric itu sudah menghajar dia habis-habisan. Tapi… hik… mengenai menusuk orang dia tak pernah melakukan itu. Jika dilihat, pisau seperti… hik… ini bisa saja sengaja untuk disentuh Eric oleh sang pelaku sebenarnya.”
Pengacara: “Keberatan!”
Hakim: “Ditolak, seseorang harus memberikan penjelasan dengan jelas sampai selesai, silahkan lanjutkan.”
Kumamoto: “Sidik jari… hik… milik Eric mungkin memang menempel di situ, tapi... hik… jika diizinkan, saya ingin memeriksanya langsung. Keberatan jika saya… hik… mengeluarkan ini dari tempatnya?”
Hakim: “Bagaimana?”
Pengacara: “Keberatan, bagaimana jika dia malah merusak barang bukti?”
Hakim: “Diterima, jika ingin memeriksa…”
Kumamoto: (mengacungkan jari) “Karena itulah... hik... saya sudah membawa peralatan khusus.”

Dari dalam jasnya, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dia juga mengeluarkan minumannya dan langsung meneguknya, kemudian ia menggoyang tempat minum itu di atas mulutnya. Tapi yang keluar hanya setetes, dia memandangi sesaat tempat minum itu dan memasukkannya kembali ke dalam jas.

Kumamoto: “Lalu bagaimana? Hik... Apakah saya bisa... hik... menggunakan peralatan ini?”
Hakim: “Ijinkan polisi yang memeriksa alat tersebut.”

Dua orang polisi maju ke depan untuk memeriksa kotak yang dibawa Kumamoto, dengan ikhlas dia menyerahkannya. Polisi-polisi itu membukanya, setelah mereka memeriksa, mereka menganggukkan kepala.

Kumamoto: “Kuanggap… hik… itu sebagai “ya”.
Hakim: “Baik, silahkan diperiksa.”

Kumamoto membuka kotak itu dan mengeluarkan sepasang sarung tangan karet dan luv, dia segera memakainya. Sekarang dia mengeluarkan pisau lipat itu dari kantong plastiknya, dia mengamati dengan luvnya. Mata pisau dari pisau lipat itu dikeluarkan, dia menggosok-gosok bagian yang tajam dengan kedua tangannya.

Kumamoto: “Tuan hakim yang terhormat… hik… saya baru mengetahui satu hal. Ternyata pisau ini milik saudara Beni.”
Hakim: “Darimana anda tahu?”
Kumamoto: “Bagaimana tidak tahu? Tulisan ini tertera di punggung pisau.” (menunujuk dengan telunjuk)

Di punggung pisau, tertulis ‘milik Beni Herlambang, hubungi 081-333173000’. Hal tersebut ditunjukkan pada hakim dan para peserta sidang, sang pengacara dan Beni merasa agak terdesak.

Hakim: “Saudara Beni, apa benar ini milik anda?”
Beni: “I… iya pak, se… sebenarnya ada penjelasan untuk itu.”
Kumamoto: “Kenapa seorang… hik… mahasiswa seperti anda bisa memiliki senjata tajam?” (menaruh pisau di meja hakim)
Beni: “Itu… sebenarnya pisau yang biasa saya pakai untuk berkemah, untuk memotong tali dan mengasah kayu.”
Pengacara: “Benar, saudara Beni memang punya hobi berkemah dan pisau tersebut dipakai untuk kepentingan berkemah. Jika tidak percaya, saya ingin memanggil dua orang saksi ke depan.”
Hakim: “Dipersilahkan.”

Beberapa saat kemudian, dua orang sudah berada di depan hakim, mereka adalah Roni dan Rudi. Hakim mengetukkan palunya berkali-kali, seluruh orang diam. Kumamoto lalu berdiri di depan mereka berdua, wajahnya sudah tak mabuk lagi, ia melirik ke kiri dan kanan. Setelah itu dia menoleh kepada Eric, dia lalu bicara tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya.

Kumamoto: (kau harus tepati janjimu nanti untuk membelikanku satu sake madu)
Eric: “Ok.” (mengacungkan tiga jari dan membuat lingkaran dengan telunjuk dan jempol)
Kumamoto: (menatap Roni dan Rudi) “Baiklah, jadi kalian adalah otomo (teman) dari saudara Beni?”
Roni dan Rudi: (bingung) “Hah?”
Kumamoto: “Bukan ‘hah’, apa itu benar?”
Roni: “Bukan begitu, maksudnya tadi apaan?”
Rudi: “Otomo itu maksudnya apa?”
Kumamoto: “Ah, maaf. Maksud saya teman, saya kurang terbiasa dengan kata itu.”
Roni: “Benar pak.”
Kumamoto: “Apa benar dia punya hobi berkemah?”
Rudi: “Tentu pak, kami ini teman kempingnya dia. Kami naik gunung juga sama-sama.”
Kumamoto: “Apa yang biasa dia lakukan dengan pisau itu?”
Roni: “Buat nusuk… aduh!” (kakinya diinjak Rudi)
Kumamoto: “Ya?”
Rudi: “Nusuk sate!”
Kumamoto: “Kalau begitu, saya akan memperlihatkan pisau ini pada kalian untuk meyakinkan apa benar itu adalah pisau miliknya.”

Kumamoto mengambil kembali pisau tersebut dari meja hakim, dengan perlahan dia berjalan menuju Roni dan Rudi. Mendadak, dia terpeleset dan jatuh. Pisau itu terlempar ke atas dan berputar-putar, kemudian terjatuh dan menancap di kursi roda yang diduduki Beni. Pisau tersebut hampir mengenai alat vitalnya, Beni kaget dan terjatuh, tiba-tiba dia langsung berdiri. Seluruh orang di dalam ruangan sidang menatap tak percaya, kecuali Juki, Eric, dan Kumamoto.

Hakim: “A… apa maksud dari semua ini?”
Beni: “A… a… anu, saya baru tahu kalau saya sekarang bisa berjalan.”
Hakim: “Anda jangan mencoba untuk mempermainkan hakim!”
Kumamoto: “Tuan hakim yang terhormat, untuk menyelesaikan masalah ini, saya ingin menghadirkan saksi dari pihak kami.”
Hakim: “…diterima.”
Kumamoto: “Tapi sebelum itu bolehkah saya…” (membisiki hakim)

Hakim mengangguk saja mendengar hal tersebut, dan beberapa saat kemudian di ruang hakim sudah ada sebuah televisi dan woofer yang cukup besar. Kumamoto memegang remote dan berdiri menghadap semua orang.

Kumamoto: “Saudara-saudara dalam ruangan ini, saya akan memperlihatkan sebuah rekaman. Adegan di dalam sini cukup kejam untuk dipertontonkan, jadi bagi yang membawa anak kecil harap menutup mata mereka.”
Juki: “Emangnya mau nonton bioskop?”
Santi: “Apa sih yang mau dipertontonkan?”
Juki: “Asal tau aja, waktu gue di rumah sakit, ada sedikit kejadian yang merepotkan.”
Lisa: “Apa dia… ngerekam saat dia ngehajar begundal-begundal itu?”
Juki: “RHS, alias rahasia.”
Kumamoto: “Yak, mulai.” (menekan tombol)

Televisi menyala dan muncul gambar, ada seorang pria sedang berdiri di sebuah gang sepi sambil memegang segelas minuman. Sebuah mobil lewat dan berhenti di depan pria tersebut, dari dalam seorang pria berjas keluar bersama dua orang bertampang preman yang sepertinya adalah pengawalnya. Mereka sedang membicarakan sesuatu, di tengah pembicaraan, mendadak pria itu terkaget-kaget setengah mati. Gelas plastik yang dia pegang, tak sengaja dia lempar dan mengenai sang pria berjas. Pria tersebut akhirnya dipukuli oleh kedua pengawalnya, pria berjas itu kemudian berbalik. Semua peserta sidang serentak melihat ke arah seseorang, melihat kepada orang yang mirip dengan yang ada di rekaman. Ayah dari Beni, dilihat seperti itu sang ayah langsung berkelit.

Ayah Beni: “Itu bohong! Pasti itu hanyalah orang yang mirip dengan saya!”
Kumamoto: “Oro? Kenapa anda malah keberatan?”
Ayah Beni: “I… itu sudah jelas, karena… saya sama sekali tak pernah melakukan itu.”
Kumamoto: “Yah, terserah. Bukankah anda bermaksud menyuap orang tersebut untuk membunuh korban yang masih belum sembuh di rumah sakit?”
Hakim: “Tunggu sebentar, siapa korban yang anda maksud?”
Kumamoto: “Orang yang ada di sana.” (menunjuk Juki)

Kumamoto langsung memencet tombol remote lagi, kali ini yang muncul adalah gambar wajah seseorang yang sudah babak belur sehingga wajahnya tak bisa dikenali lagi beserta wajah seseorang yang wajahnya masih mulus belum diapa-apakan. Mendadak ekspresi wajah beberapa orang yang duduk di belakang Juki berubah.

Kumamoto: “Anda mungkin belum pernah melihat orang di sebelah kanan, tapi anda pasti tahu siapa orang yang ada di sebelah kiri.”
Ayah Beni: “Saya tidak merasa mengenal orang itu.”
Kumamoto: “Bukankah ini adalah perawat yang anda pernah suruh untuk membunuh teman dari Eric?”
Ayah Beni: “Biar saya…” (dipotong oleh teriakan peserta sidang di belakang Juki)
Peserta sidang 1: “Masya Allah, bukankah itu pak Bambang?”
Peserta sidang 2: “Pak… pak Bambang?! Bagaimana dia bisa sampai begitu?!”
Hakim: (mengetukkan palu) “Tenang, tenang! Siapa kalian?”
Peserta sidang 1: “Kami pegawai rumah sakit yang merawat orang yang ada di depan kami.”
Peserta sidang 2: “Orang yang babak belur itu adalah pak Bambang, kepala perawat. Sudah seminggu ini dia tak masuk kerja, kami kira terjadi sesuatu pada beliau. Lalu…”

Mendadak orang di sebelah peserta sidang melemparkan sepatu kepada ayah Beni, diikuti orang-orang yang ada di belakangnya, hal yang sama dilakukan oleh mereka. Tapi yang melayang berikutnya bukan lagi sepatu, tetapi sebuah kursi. Dalam semenit, ruang menjadi kacau. Beni dan ayahnya diamankan oleh polisi dan dibawa keluar ruangan, sementara Eric dan Kumamoto sudah hilang dari ruangan sidang, pergi entah ke mana.

###

Dua minggu setelah kerusuhan di ruang sidang, Eric sedang makan dengan santainya bersama beberapa wajah yang masih belum dikenal. Tentu saja Juki, Lisa, dan Santi juga ada di sana.

Eric: (sedang makan) “Lalu… kalian siapa?”
Santi: “Anu, ini semua teman gue. Mereka mau kenalan sama kamu, ini Yosi.”

Yosi, pemuda berkulit sawo matang, bertubuh sedang, berwajah bulat, dan memiliki tahi lalat di bawah mata kanannya.

Yosi: “Nama gua Yosi, pertama gue ingin berterima kasih karena sudah ngebebasin kita semua, para mahasiswa dari si Beni.”
Eric: “That’s not a problem.” (itu bukanlah masalah)
Yosi: “Sebenarnya kita semua ingin lebih kenal dekat dengan lu, dan juga ingin mengajak lu untuk bergabung dengan kelompok kami.”
Eric: “What kind of group?” (kelompok macam apa?)
Santi: “Sebenarnya Yosi, gue dan yang lain adalah kelompok pecinta alam.”
Yosi: “Betul, Santi itu salah satu dari anak buah… aduh! (disikut Lisa) anggota kami, dia itu wakil ketuanya. Karena itulah, gua ingin…”
Eric: “How much you will pay?” (berapa banyak kau akan membayar?)

Saat dikatai begitu, keadaan menjadi hening, sunyi senyap. Setelah lima detik, Yosi tertawa bersama yang lainnya tertawa terbahak-bahak. Beberapa sampai menggebrak-gebrak meja, Eric sendiri pergi untuk minta tambah bakso yang dia makan lalu kembali ke tempatnya.

Yosi: “Kamu itu lucu sekali ya? Oh ya, pasti kamu sudah kenal Budi.” (menepuk bahu orang di sebelah kanan)
Eric: “Budi?”
Santi: “Itu lho, yang kamu tolong dari Beni.”
Eric: “Seingatku, aku hanya menyelamatkan seorang gadis.” (wajah Santi sedikit merah)
Juki: (suara hati) “Dasar playboy.”
Lisa: “Emang, ada gadis sama lu waktu itu. Tapi ada laki-laki juga kok, ini orangnya, nggak ingat?”

Lisa menarik seseorang dari sebelah kanan Yosi, pemuda berpenampilan seperti Jojon tapi tak berkumis, berkacamata bulat, pipinya tembem, dan rambutnya acak-acakan. Sebentar-sebentar dia melihat ke bawah, sepertinya dia gugup.

Eric: “Ternyata kau, tapi jangan salah, kau tak perlu berterimakasih padaku.”
Lisa: “Jangan gitu dong, dia itu yang paling penakut di antara kita. Jadi pantas dong kalau dia ngucapin terima kasih pada orang yang nyelametin dia.”
Yosi: “Bener, Bud, ngomong dong! Jangan diam terus.”
Budi: “I… iya, saya mau ngucapin terima kasih soal kemarin, dan…” (menelan ludah)
Eric: (pandangan seram) “……”
Budi: “…dan… ingin menyampaikan…” (berkeringat)
Eric: (mengernyit) “Hmm?”
Budi: “…yang sebesar-besarnya pada kamu…” (jatuh terduduk)
Santi: “Maaf, harap maklum, dia belum biasa sama anak baru.”
Eric: (mendesah) “He’s pretty funny, you know?” (dia sangat lucu, kau tahu?)
Yosi: “Budi ini adalah yang jadi tukang masak di kelompok kami, masakannya enak lho.”
Eric: (baru selesai makan) “Really? Then I’ll look forward for that.” (sungguh? Maka akan kunantikan itu)
Yosi: “Biar gua kenalin lu ama sisanya, si Lisa adalah petugas P3K. Nah, dia ini (menunjuk orang yang duduk paling kiri) adalah Deni, urusan transportasi. Dan gue adalah…”
Deni: (logat batak) “Kak ketua.”

Deni berjenggot tebal, memiliki tompel di pipi kanannya, dan berkepala botak. Dia sedang minum jus melon, sambil mengirim sms dari hpnya.

Yosi: “Benar, ketuanya gue. Tapi lain kali tolong, jangan panggil kak ya.”
Deni: “Lah, macam mana pula aku tak boleh memanggil seperti itu? Kau kan seniorku.”
Yosi: “Iya, tapi kedengarannya nggak enak, itu kan nama burung.”
Deni: “Itu sih kakatua.”
Lisa: “Eric, ngomong-ngomong apa agamamu?”
Eric: “Christian, maybe.” (Kristen, mungkin)
Lisa: “Yah, sayang dong.”
Yosi: “Emang kenapa?”
Lisa: “Kalau lu Islam, gua kira lu bisa jadi pacar gue.”
Yosi, Santi, Budi, Deni, dan Juki: “Yeee, ganjen!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar