END OF THE RAT
Sore hari, di sebuah restoran cepat saji, terlihat Eric sedang duduk bersama Juki dan kawan-kawan. Pandangan mereka tertuju ke bawah, beberapa melihat dengan terbelalak, terkecuali Juki. Di meja mereka sudah terdapat banyak makanan, semua menu komplit, termasuk dengan penutupnya.
Yosi: “Se… semuanya buat kita?”
Lisa: “Ngomong-ngomong… siapa yang bayarin?”
Juki: “Si kebo bule…” (melirik Eric)
Santi: “Kamu yang…”
Deni: “Emang duit kau cukup buat bayar ini semua?”
Eric: (menggebrak meja) “……”
Deni: “Kau… kau tak perlu marah lah.”
Eric: “Semua yang ada di sini hanyalah balasan untuk mereka yang sudah merencanakan perayaanku saat itu… dan setelah kuselidiki lebih lanjut… kalian… kecuali kau tentu saja (melihat Juki) Yang merencanakan itu semua.”
Yosi dan yang lain: “……” (terdiam dalam sepuluh detik)
Eric: “Apa aku salah?”
Santi: “Ng…” (disela Yosi)
Yosi: “Itu… betul, kami yang merencanakan.”
Eric: “Dan dari yang kudengar, bahwa biayanya dari kalian semua. Kalian patungan.”
Santi: “Iya.”
Eric: “Kalian tahu berapa yang kalian keluarkan untuk semua itu?”
Yosi: “Iya, tapi…”
Eric: (mengeluarkan kertas dari saku celana) “Kalian sudah menghabiskan sekitar 200, mungkin sedikit mahal bagi kalian.”
Yosi: “Tapi… sebenarnya…”
Budi: “Kami nggak pantas dapat yang begini.”
Eric: (berdiri perlahan-lahan) “Jangan seenaknya memutuskan, aku yang membelinya, jadi kalian harus makan.”
Juki: (berbisik) “Nurut aja lah.”
Eric: “Aku… punya prinsip, jika seseorang sudah berbuat sesuatu padaku… maka balaslah dengan yang sesuai dengan apa yang dia berikan. Yang kalian berikan padaku adalah makanan, jadi aku juga memberi makanan pada kalian.”
Deni: “Wah, aku setuju dengan pendapat kau.”
Budi: “Tapi…”
Eric: “Enough talking, this is a food. If you waste it, that is a sin, I don’t like sin.” (cukup bicara, ini adalah makanan. Jika kau membuangnya, itu adalah dosa, aku tak suka dosa)
Semuanya terdiam, Yosi langsung mengambil kentang goreng dan mulai memakannya, diikuti Deni mengambil satu piring spaghetti; Lisa, fried chicken; Budi, burger; Santi, fillet; dan Juki minum Pepsi. Eric duduk kembali di tempatnya, sekarang dia mengambil steak, mengatupkan kedua tangan, dan mulai makan tanpa bicara.
###
Pada malam hari sekitar jam sepuluh, sebuah motor Harley dengan dua orang penumpang berhenti di depan sebuah rumah mewah, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Yang laki-laki, memakai helm yang menutupi wajahnya, berpenampilan seperti bikers, dengan jaket hitam bermotif api berwarna putih di kedua pergelangan tangan, lambang yang aneh di belakang punggungnya. Helmnya berwarna hitam, ada lambang panah dan tengkorak di tengahnya. Sang perempuan yang ternyata Santi, segera turun dari motor. Sang lelaki langsung melepas helmnya, ternyata Eric.Santi: “Terima kasih untuk tumpangannya.”
Eric: “Tak perlu berterimakasih. Jadi… apa kau sudah terbiasa dengan rumah barumu?”
Santi: “Bukan begitu…, tapi… kami tak bisa menerimanya.”
Eric: “Bukankah dia sudah tak ada di rumah?”
Santi: “Kita bicarain aja di dalam, biar lu ngerti.”
Eric: “…no problem.”
Di dalam rumah yang luas tersebut, Eric duduk di sofa sambil minum teh, dia merasa heran ketika melihat ada sebuah tenda didirikan di halaman belakang rumah tersebut. Beberapa saat kemudian, muncullah sepasang orang tua. Yang satu lelaki berambut gondrong, berbaju putih polos, dan memakai sarung. Yang satu lagi seorang perempuan berjilbab dan memakai daster. Eric langsung berdiri dan bersalaman pada mereka berdua, kemudian duduk kembali saat dipersilahkan.
Ayah Santi: “Terima kasih karena sudah mengantarkan anak kami pulang. Kalau boleh tahu, siapa namanya mister?”
Eric: “Eric Pietersburgh, senang berkenalan dengan anda.”
Ibu Santi: “Oh, nak Eric yang itu? Wah, jadi nak Eric yang waktu itu ngelindungin anak kami? Terima kasih banyak.”
Ayah Santi: “Saya juga lebih merasa berterima kasih saat anda membebaskan kami dari cengkeraman pak Hutomo, sekarang kami jadi orang bebas.”
Ibu Santi: “Santi, sini nak. Ikut ngomong sama-sama.”
Santi: “Iya bu.” (datang mendadak)
Eric: “You really funny, you know?” (kau sungguh lucu, kau tahu?)
Ibu Santi: “Jadi sudah berapa lama sama Santi di universitas?”
Eric: “Mungkin satu bulan kurang, entah, mungkin juga lebih. Tapi saya cukup senang bisa bertemu orang Indonesia yang baik, beberapa dari mereka.”
Ayah Santi: “Yah, tidak semua orang itu baik nak. Kami cukup berterimakasih atas kebaikan hati nak Eric, tapi kami tak bisa menerima semua ini.”
Eric: “Kenapa tidak dinikmati saja? Lagipula dia sudah tak tinggal lagi di sini.”
Ibu Santi: “Memang tapi… semua ini adalah hasil dari pekerjaan kotor pak Hutomo, kami semua tak berdaya di sini saat bekerja bersama beliau. Kami tak bisa menikmati hasil kotor dari pekerjaan seseorang.”
Eric: “Kotor ya? Benar juga, apa istilahnya dalam agamamu Santi?”
Santi: “Haram.”
Eric: “Benar, lalu apakah kalian semua tidur di sana sebagai gantinya?”
Ibu Santi: “Betul, sekarang yang kami miliki dari hasil keringat kami sendiri adalah tenda dan minuman yang nak Eric minum.”
Eric: “Saya hargai itu. Baiklah, jika anda memang tak bisa menerimanya, mungkin saya akan mencarikan yang layak bagi kalian.”
Ayah Santi: “Terima kasih banyak atas bantuannya.”
Eric: “Tak perlu berterima kasih, saya ada pertanyaan bagi anda. Apa pekerjaan anda sekarang, setelah lepas dari mereka?”
Ayah Santi: “Oh, saya sekarang sementara jadi tukang parkir, gajinya tak seberapa tapi lumayan. Kalau ibu belum dapat kerjaan sama sekali.”
Eric: “Betulkah? Kalau begitu, mungkin anda mau menerima tawaran saya.”
Santi dan orang tuanya: “?”
Eric: “Kebetulan di sebuah kantor ada yang membutuhkan office boy ataupun satpam, di dekat kantor tersebut ada rumah yang bisa ditinggali oleh empat orang. Ini brosurnya, silahkan dilihat dulu, tak apa kalau anda menolak.
Orang tua Santi melihat gambar di brosur tersebut, setelah melihatnya, ekspresi wajah mereka berubah drastis. Ayah Santi mengusap wajahnya berkali-kali juga berkali-kali melihat brosur tersebut, Ibu Santi mengusap-usap bahu suaminya, berusaha menenangkan. Akhirnya brosur itu diletakkan di meja, mereka bersiap untuk memberikan jawaban. Santi merasa heran dan mengambil brosur tersebut.
Ayah Santi: “Ah, bagaimana saya harus mengatakan? Ini terlalu…”
Ibu Santi: “…apakah ini tak berlebihan?”
Eric: “Kenapa tidak? Saya yang menawarkannya.”
Ayah Santi: “Tapi tetap saja…”
Eric: “Terimalah, anggap saja Tuhan telah mengabulkan keinginan anda.”
Orang tua Santi: “Terima kasih banyak!!”
Mendadak Santi menarik lengan Eric dan membawanya ke sebuah kamar, dia langsung menguncinya rapat. Eric jatuh terlentang di kasur, Santi langsung menutup tirai di jendela. Dia menyalakan lampu kamar sampai terengah-engah, dia duduk di samping Eric yang terlentang, perlahan-lahan dia bangun dan menoleh kepada Santi.
Eric: “What the heck you’re doing to me? I am not a suitcase that you can pull so easily.” (apa yang telah kau lakukan padaku? Aku bukan koper yang bisa kau tarik dengan mudahnya)
Santi: “Maaf, tapi… kamu sudah berikan hal yang terlalu…”
Eric: “Memangnya salah? Lebih baik daripada kau dan orang tuamu tinggal di tempat sampah ini.”
Santi: “Lu tau nggak? Lu gila, ini kan… rumah kita dekat studio Trans TV!”
Santi memperlihatkan brosur sebuah rumah yang ternyata adalah hadiah dari studio Trans TV, dan letaknya berdekatan dengan studio.
Santi: “Lu habis menangin hadiah ini?”
Eric: “Yah, lagipula yang menang hadiah ini adalah Juki, tapi ayahnya tak suka, jadi kuberikan saja padamu. Kau pasti sudah cukup menderita bukan? Sekarang nikmatilah hidupmu setelah ini.”
Santi: (berjalan perlahan ke saklar lampu) “Eric… sebenarnya, gue sangat berterimakasih… begitu berterimakasihnya aku ingin ngelakuin sesuatu pada lu.”
Eric: “Oh yeah? What kind?” (Oh ya? Seperti apa?)
Mendadak lampu kamar dimatikan, dan bersamaan pada saat itu, sesuatu baru saja menempel di pipi Eric. Begitu tersadar apa yang terjadi, lampu sudah menyala kembali. Santi membelakangi Eric, dia lalu jatuh terduduk.
Eric: “What are you…?” (apa yang kau…?)
Santi: “Maaf, jujur saja gue suka ama lu. Gue juga pingin lebih dari itu, gue baru ngelakuin suatu dosa… yaitu mencium lelaki yang kusukai.”
Eric: “What’s wrong with that?” (apa yang salah dengan itu?)
Santi: “Dalam agama gue… jika wanita dan pria yang belum jodohnya melakukan hal tersebut adalah suatu dosa. Tapi yang baru gue lakuin cuman dosa kecil, gue cuman bisa sampai situ saja, kalo gue sampai ke mulut… (wajah merah) itu keterlaluan.”
Eric: “You really weird aren’t you?” (kau sungguh aneh bukan?)
Dari luar rumah terdengar bunyi klakson mobil, Santi sangat kaget dan takut saat mendengar suara tersebut. Di luar rumah orang tua Santi sudah berada di luar, di hadapan mereka, sebuah mobil sedan sudah berada di depan rumah. Dari dalam keluar dua orang preman yang pernah menyiksa Juki, Eric yang melihatnya dari jendela hanya menyeringai kecil.
Santi: “Apa… apa itu mereka?”
Eric: “Yes, it is.” (tentu saja)
Santi: “Kalau begitu kamu cepat kabur lewat pintu belakang, biar gue yang urus mereka.”
Eric: “I refuse.” (kutolak)
Santi: “Tapi…”
Eric: “Have you forgotten who I am?” (apa kau telah lupa siapa diriku?)
Santi: “Iya… tapi… mereka itu pengawalnya pak Hutomo! Lu bisa mati, kali ini situasinya sudah serius!”
Eric: “Then that’s my job; I exist in this world to erase the sin. In this case… (mencium kening Santi) I have erase your sin.” (Maka itu pekerjaanku; aku ada di dunia ini untuk menghapus dosa. Dalam masalah ini… aku sudah menghapus dosamu.)
Eric meninggalkan Santi dan segera beranjak keluar dari ruangan, Santi sendiri, wajahnya memerah dan mengeluarkan sedikit air mata. Dia langsung ke jendela dan mengintip kepergian Eric yang dimasukkan ke dalam mobil, setelah itu dia berlari keluar rumah.
Santi: “ERIC!!”
Juki: “Nggak usah teriak-teriak begitu.”
Santi: (menoleh) “Juki?! Ngapain lu di sini?”
Juki: “Cuman buat pengamanan, jaga-jaga kalo dia ninggalin salah satu dari orangnya, mendingan kamu masuk ke dalam.”
Santi: “Daripada gue, mendingan tolongin dia! Kali ini dia bakal…”
Juki: “DIAAAAM!”
Teriakan Juki membuat Santi terdiam, terdengar suara kucing yang sepertinya lari ketakutan, anjing menggonggong, dan tetangga di beberapa rumah terbangun marah.
Warga: “Lu yang diam!”
Juki: “Maaf, maaf! Kita masuk aja dulu, nanti gua ceritain di dalam.”
Mereka masuk ke dalam rumah, Juki membawa masuk motor yang dibawa Eric. Setelah masuk, Juki langsung menutup dan mengunci pintu, kemudian melihat dari jendela apakah situasi aman atau tidak.
###
Di sebuah pabrik yang ditelantarkan, mobil yang berisi Eric dan anak buah dari Beni masuk ke dalam. Mobil itu berhenti, Eric dikeluarkan secara paksa dari dalam, wajahnya babak belur.Eric: (melihat sekeliling dan bersiul) “Nice place for live.” (tempat yang bagus untuk tinggal)
Dia dibawa masuk lebih dalam lagi, begitu melewati sebuah pintu, kumpulan mobil balap yang masih mengkilat berjejer menjadi satu baris. Sebagian sedang diperbaiki, yang sebagian tak ada mesinnya. Sepertinya ruangan ini adalah sebuah bengkel, begitu sadar, Eric tiba di sebuah pintu kecil. Begitu dibuka, di dalamnya adalah sebuah ruang santai, dan ada lima atau enam orang berkumpul. Di antara mereka ada Beni dan pak Hutomo, yang dilindungi oleh pengawalnya.
Eric: “You sure have good sense to pick a place.” (kau pastilah punya selera bagus untuk memilih tempat)
Beni: “Terima kasih. (memukul kepala Eric dengan pipa besi) Bisa-bisanya lu bilang begitu sama gue.”
Eric: (mendongak, kepala mengeluarkan darah) “How’s your nose condition? I think I make it smaller three mm.” (bagaimana keadaan hidungmu? Kupikir aku membuatnya lebih kecil tiga mm)
Beni: “Lu pikir itu lucu hah? Coba lihat apa jadinya kalau gue las wajah lu sampai lu menjerit kesakitan.”
Eric: “Benarkah? Berarti kau memang pantas jadi tukang las.”
Beni: “Kurang ajar lu!”
Pak Hutomo: “Beni cukup.”
Beni: “Tapi…”
Pak Hutomo: “Jadi kamu yang bernama Eric? Kamu sudah berhasil membuat saya terkena jebakanmu, sudah berapa lama kamu merencanakan ini?”
Eric: “Sejak Juki diculik dan dianiaya, yah aku juga berterima kasih pada anda karena membuat hidungnya lebih maju satu senti.”
Pak Hutomo: “Yang melakukannya bukanlah saya, tapi anak buah saya. Mestinya kamu takut setelah hal seperti itu terjadi, sebagai peringatan untukmu juga.”
Eric: “For what reason I must afraid of a scum like you?” (untuk alasan apa aku harus takut pada keparat sepertimu)
Pak Hutomo: “Kamu boleh memanggil saya apapun, apapun yang kamu lakukan, saya bisa bebas kembali.”
Beni: “Papa, tolong pinjamkan pistolnya.”
Pak Hutomo: (memberikan pistol) “Cepat selesaikan, sebentar lagi kita akan makan malam.”
Beni: “Sekarang mati aja lu.” (menodongkan pistol)
Eric: “Kau pasti anak yang kasihan sekali ya, yang memberi kasih sayang adalah ayahmu. Bahkan ibumupun tak pernah memberikan kasih sayang.”
Beni: (memukul Eric) “DIAAM! Tahu apa lu soal ibu gue?!”
Eric: “Kau memukul seperti waria.”
Beni: “Lu tau? Dulu gue pernah punya ibu, dia selalu saja nasihatin gue biar ngejauhin papa. Sampai pada saat itu, ibu gua marah. Dia lagi megang pisau, dan lu lihat hasilnya di muka gue. Akhirnya, papa ngebunuh mama supaya gua bisa bebas buat ngapain aja.”
Eric: “How poor are you.” (kasihan sekali kau)
Beni: “Dan sekarang…. gue bakal ngebunuh lu, pistol inilah yang dipakai ngebunuh mama. Hal yang sama bakalan terjadi sama lu.”
Eric: “Let me tell you… God won’t allow that.” (biar kukatakan padamu… Tuhan takkan mengizinkan itu)
###
Sementara itu di rumah Santi (sementara), Yosi dan yang lain berkumpul di ruang tamu membicarakan apa yang terjadi pada Eric.Yosi: “Kenapa kita nggak boleh lapor polisi sih?”
Deni: “Iya, sudah jelas yang ngelakuin ini semua si Beni.”
Budi: “Tapi… kalau kita lapor, nanti dia bakal…”
Lisa: “Lapor nggak lapor, dia juga bakalan dibunuh tau! Kita lapor aja!”
Santi: “Dia itu memang kuat, tapi…”
Juki: “Tenang, memang kalau kamu mengkhawatirkan seseorang itu bagus. Kamu sudah lihat kemampuannya saat menghajar Beni bukan?”
Santi: “Kok… kamu…”
Juki: “Kayak gak kenal gue aja, jangan remehin hearing sense gue ye. Lu kan lari sambil nangis di depan gudang.”
Deni: “Wah, apa betul?”
Juki: “Pokoknya lu tenang aja lah, gua tau kalo dia minta bantuan bokapnya.”
Yosi: “Iya, tapi… kali ini mereka bawa senjata api.”
Juki: “Ya, ya, ya. Kamu cukup berdoa aja minta dia selamat, lagian kamu udah jadi temannya Eric. Kancanipun kancaku iku kancaku pisan, wis cup, cup, aja nangis.” (temannya temanku itu temanku juga, sudah, jangan nangis)
Semua merasa tersentuh dengan perkataan Juki, Juki sendiri langsung mengambil satu-satunya cangkir minum yang ada di meja dan meneguk isinya
Santi: “Eh, eh, eh, itu bekasnya Eric!”
Juki: (menyemburkannya ke Deni dan Yosi) “Puah! Gila lu! Kenapa tadi nggak dibawa ke bak cuci?! Waduh, mana kamar mandinya?! Mesti dicuci nih!” (mengusap mulut)
###
Kembali ke pabrik tempat Eric disandera, terdengar derap langkah kaki yang sangat cepat dari seseorang. Beni keluar dari kantor dengan tergopoh-gopoh, membawa pistol yang dipakainya untuk membunuh Eric dan bersembunyi di dalam sebuah mobil. Suara ribut terdengar dari dalam, kaca-kaca pecah karena terkena rentetan peluru. Menyusul kemudian terdengar sebuah suara teriakan, pintu kantor tersebut menjeblak terbuka dan terbang mengenai kaca mobil bagian depan. Beni sangat kaget, dia berkeringat banyak, di pintu dia melihat seseorang atau mungkin sesuatu sedang mencengkeram kepala pak Hutomo. Tangannya hitam, memiliki simbol aneh, dan bercakar. Wajah dan tubuhnya terlihat samar karena cahaya yang remang-remang, hanya matanya yang terlihat menakutkan yang kelihatan. Mendadak tangannya mengeluarkan cahaya, simbol tersebut bergerak dari tangannya menuju seluruh ujung jarinya dan masuk ke dalam kepala pak Hutomo. Dia berteriak sangat keras, bersamaan dengan itu, asap hitam keluar dari kepalanya. Cengkeramannya dilepas, dia langsung berjalan maju. Sosoknya perlahan terlihat, ternyata Eric yang berkeadaan normal, hanya saja bajunya sudah sobek-sobek dan memperlihatkan setengah dari tubuhnya yang atletis, wajahnya sudah tak babak belur lagi. Perlahan dia berjalan menuju mobil tempat Beni bersembunyi, dia membuka pintunya, bunyi letusan pistol terdengar dari dalam mobil. Beni telah menembaknya, kepala Eric menengadah ke atas. Eric kemudian menunduk, Beni kaget sampai dia menjatuhkan pistolnya, Eric menangkap peluru itu dengan kelopak mata kirinya. Dia membuka mata kirinya, menjatuhkan peluru itu ke lantai.Eric: “That’s dangerous, you know?” (itu bahaya, kau tahu?)
Beni langsung membuka pintu di sebelahnya, tapi dia lebih kaget, saat Eric sudah berada di depannya, Eric menarik Beni keluar dari dalam. Dia menarik kerah bajunya, sampai dia terangkat satu centimeter dari tanah.
Eric: “Kau tahu sudah berapa banyak dosa yang kauperbuat? Pernahkah kau berpikir untuk bertobat?”
Beni: “A… ampun! Gua bakal minta ampun. T… tapi tolong jangan bunuh gua… tolong…”
Eric: “Kau pikir hanya aku saja yang sudah kau bebani dengan dosamu?”
Beni: “I… iya! Gua bakal minta maaf… sama mereka yang gua kerjain!”
Eric: “You know, the Dutch invade Indonesia almost 350 year, three and half century. But, you invade the university only three and half year, your invasion will end now.” (kau tahu, Belanda menjajah Indonesia hampir 350 tahun, tiga setengah abad. Tapi, kau menjajah universitas hanya tiga setengah tahun, penjajahanmu akan berakhir sekarang
Eric melepas cengkeramannya sehingga membuat Beni jatuh berlutut. Eric menusuk kepala Beni dengan jari telunjuknya, teriakan keras disertai asap hitam keluar dari kepalanya. Hal yang sama yang dilakukan kepada pak Hutomo terulang kembali pada Beni, tanda di tangan hitam itu masuk ke dalam kepala Beni. Eric mencabut tusukannya, tangannya berubah kembali jadi normal, sementara Beni jatuh pingsan dan ngiler.
Eric: “Your sin has been erased.” (dosamu telah dihapus)
***
Beberapa saat kemudian, Eric keluar dan disambut dengan suara sirine mobil polisi yang baru saja datang. Beberapa petugas bersenjata keluar dari mobil patroli, seluruh petugas bersenjatakan pentungan dan tameng keluar dari mobil pick up. Seorang polisi yang sepertinya pemimpin keluar dari mobil dengan membawa pengeras suara, dia berdiri dan mulai bicara.Inspektur: “Kepada bapak Hutomo Mansyur dan semua yang ada di dalam sana, segera keluar dan serahkan diri kalian! Lepaskan juga sandera yang kalian bawa, jika tidak…”
Sang inspektur melihat Eric yang compang-camping melambaikan tangan pada para polisi, para polisi menodongkan pistol, seorang polisi lalu melaporkan pada inspektur.
Polisi: “Lapor pak, sepertinya itu sandera yang dimaksud.”
Inspektur: “Segera amankan.”
Beberapa petugas membawakan selimut, dan menutupi tubuh Eric. Dia segera dibawa ke mobil ambulans dan diberi minum teh panas, sambil diobati oleh petugas medis. Para polisi menyerbu masuk ke dalam dipimpin oleh sang inspektur. Satu jam kemudian, tempat tersebut sudah dipasangi pita kuning. Eric sendiri sedang ditanyai oleh sang inspektur.
Inspektur: “Bisa bicara bahasa Indonesia?”
Eric: “Ya, tentu saja.”
Inspektur: “Bagaimana anda bisa keluar dari sana dengan selamat?”
Eric: “Sedikit rencana dan keberuntungan kurasa.”
Inspektur: “Apakah anda yang membereskan mereka semua?”
Eric: “Mungkin, tapi jika tak keberatan bolehkah saya pulang? Saya ingin bertemu dengan kawan saya.”
Inspektur: “Baiklah, kalau begitu apakah anda besok bisa memberikan kesaksian di kantor?”
Eric: “Tentu. Ah, tunggu, sebelum pergi aku ada pesan. Tolong Beni diperlakukan dengan baik, mungkin dia bisa menjadi orang yang lebih baik, lagipula dia masih muda.”
###
Dua hari setelah kejadian, di sebuah liputan berita, muncul mengenai kasus penyanderaan Eric. Berita tersebut dibawakan oleh seorang perempuan.Pembaca berita: “Selamat siang, para pemirsa. Kita bertemu lagi dalam Redaksi Siang, berita utama hari ini: Hutomo Mansyur yang dikenal sebagai pemilik perusahaan Techno Husada, hari ini ditangkap di sebuah pabrik tua. Pria yang pernah menjadi tersangka dalam kasus korupsi 500 juta ini ditangkap karena telah menyandera seorang mahasiswa, beliau ditangkap bersama dengan bawahannya. Untuk lebih jelasnya kami akan menuju langsung ke TKP, tempat reporter kami Firmansyah.”
Reporter: “Terima kasih, pemirsa, sekarang saya berada di depan tempat di mana sang mahasiswa yang tadinya disandera. Sekarang ini para polisi sedang memindahkan para tersangka yang kondisinya bisa anda lihat sendiri, beberapa tersangka menderita luka parah dan sedang dibawa ke mobil ambulans. Sedangkan…” (menoleh ke belakang)
Pak Hutomo: “DIA BUKAN MANUSIAA! DIA BUKAN MANUSIAA!”
Pembawa berita: “Sebenarnya apa yang terjadi di sana, rekan Firmansyah?”
Reporter: “Menurut kabar, mereka semua dihajar oleh mahasiswa yang jadi sandera tersebut. Polisi masih merahasiakan identitasnya sampai sekarang, kami hanya tahu bahwa sang mahasiswa adalah mantan prajurit di sekolah militer.”
Pembawa Berita: “Jadi mereka seperti itu karena mahasiswa tersebut?”
Reporter: “Benar sekali.”
Pembawa berita: “Baik, terima kasih Firmansyah. Kita beralih ke berita selanjutnya.”
Televisi dimatikan dengan remote oleh Juki, dia menonton bersama dengan Yosi dan yang lain. Kemudian dia makan kacang kulit dan minum secangkir teh.
Juki: “Gua bilang juga apa, jangan khawatir deh sama dia.”
Semua: (mengangguk) “Iya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar