HORROR CAMP
Setelah tumbangnya pemerintahan tangan besi yang dipimpin oleh Beni, seluruh isi kampus bersorak sorai merayakan kemerdekaan mereka. Para mahasiswa dan mahasiswi melakukan pawai keliling universitas, beberapa mobil pick up mengangkut mahasiswa yang menembak dengan pistol air ke atas. Di baris terakhir pawai, sebuah mobil sport yang disetir oleh Juki, dan mengangkut Eric beserta Yosi dan yang lain. (kalian tahu siapa) Mereka melambaikan tangan pada para pelajar, Eric sendiri terlihat sedang menyuapi Juki. Ternyata dia menyetir sambil makan, dia lalu menjitak Eric. Otomatis dia mengambilkan Juki sebuah botol minuman. Eric mencoba membukanya, mendadak botol itu mengeluarkan air dan menyiram wajah Juki. Mendadak Juki sadar bahwa dia sedang bermimpi, dia terbangun dalam kamarnya yang penuh dengan poster pemain bola. Di sebelahnya sudah berdiri Pak Marzuki, sedang memegang ember. Ternyata dia baru disiram oleh ayahnya.
Juki: “Bapak! Bisa bangunin pakai cara normal nggak sih?!”
Pak Marzuki: “Gimana gua nggak mau nyiram lu? Dibangunin biasa, kepala gua malah lu jitak!”
Juki: “Tapi paling nggak biarin aku tidur lagi, mimpi indahnya jadi keputus nih.” (tidur lagi)
Pak Marzuki: “Kagak bisa, lu lupa kalau lu mau kemping sama temen lu? Tuh teman lu nungguin di depan.”
Juki: (diam sebentar) “…waduh…”
Juki keluar dari kamarnya secepat kilat sambil membawa pakaian lengkap dan handuk, dia langsung masuk kamar mandi begitu saja, Pak Marzuki hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Beberapa menit kemudian, Juki keluar terburu-buru sambil membawa tas ransel besar. Dia langsung meloncat ke dalam sebuah mobil pick up, dan duduk sambil terengah-engah.
Juki: “Untung sempat.”
Deni: “Ngapain kau?” (kepalanya keluar dari jendela)
Juki: “Kok ngapain, ya mau pergi kemping.”
Deni: “Turun, turun, yang lain belum datang kok.”
Juki: “Eh? Lho kok?”
Deni: “Kau kan bilang sendiri, kalau ngumpulnya di rumah kau kan?”
Juki melihat sekitar, memang yang ada hanya mobil pick up yang dikendarai oleh Deni. Tak terlihat siapapun di mobil tersebut kecuali Deni.
Juki: “Jadi cuman lu yang baru datang?”
Deni: “Ya iyalah.”
Juki: “Bapak! Bilang dari tadi dong kalau yang datang si Nagabonar saja, sia-sia deh aku mimpi indah!”
Deni: “Nagabonar dia bilang.” (bicara pelan)
Pak Marzuki: (keluar dari rumah) “Salah lu sendiri, main langsung mandi aja. Paling nggak lu sarapan dulu, lu belum sarapan kan?”
Juki: (perut keroncongan) “Iya juga sih.”
Pak Marzuki: “Sekalian ajak temen lu.”
Deni: “Tidak usah pak, saya sudah makan di rumah tadi.”
Juki: “Kalau begitu tunggu sebentar di sini, nanti kalau mereka datang klakson saja.” (masuk ke dalam rumah)
Deni: “Beres.”
###
Dua jam kemudian, Juki bersama Yosi dan yang lain sudah berada dalam pick up yang dikemudikan oleh Deni, Yosi duduk di sebelah Deni. Sedangkan Juki bersama Santi dan yang lain, duduk bersila sambil main kartu. Juki mengambil tempat minum dan langsung meneguk isinya sampai habis. Dia langsung meletakkan kartunya, memakai tudung, kemudian tidur.Santi: “Kenapa Juk?”
Juki: “Gua udahan deh, capek.”
Lisa: “Baru main lima belas menit kok capek? Olahraga aja nggak.”
Juki: “Bukan capek begituan, tapi panasnya nih.”
Budi: “Iya, panas banget. Mataharinya terik lagi.”
Lisa: “Ya ampun, Juk, yang santai gitu dong. Gua aja nggak papa.”
Juki: (bangun) “Lu enak ngomong gitu, bawa kipas angin sendiri. Lebih enak tuh yang di depan, pakai ac.” (menunjuk ke bangku supir)
Yosi: (menyembulkan kepala) “Jangan ngeluh dong, gue kan ketua jadi wajar kalau di depan, yang tau arahnya kan cuman gua.”
Juki: (menggumam) “Gombal.”
Yosi: “Tapi sayang sekali, Eric nggak ikut.”
Juki teringat pada kejadian lima hari yang lalu, di sebuah taman kota. Eric, Juki, Yosi dan kawan-kawan berkumpul, mereka berkumpul untuk membicarakan sesuatu.
Eric: “Going camp?” (pergi kemping?)
Yosi: “Iya, kita bakal pergi berkemah ke tempat biasanya kita berkemah.”
Eric: “Dalam rangka apa? Bukankah perayaan kemenangan itu sudah dirayakan?”
Lisa: “Kita mau ngajak lu liat-liat, pemandangan, mancing, dan out bond.”
Eric: “Kalian jujur saja, sebenarnya ada apa?”
Yosi: “Eh?”
Eric: “Dari tadi kulihat, Budi gemetaran. Sedangkan kamu, matamu selalu bergerak ke kanan atas. Pasti ada apa-apa kan?”
Budi: “Yos, kita jujur aja deh. Kita nggak bisa bohong ama dia.”
Yosi: “Sebenarnya…”
Santi: “Kami mau minta tolong sama lu.”
Deni: “Iya, soalnya yang bisa dimintai tolong cuma kamu.”
Eric: “Then tell me.” (maka beritahu aku)
Lisa: “Sebenarnya kami ingin melakukan pencarian terhadap teman kami yang hilang saat berkemah.”
Santi: “Kejadiannya sekitar tiga semester yang lalu, teman kami sesama kelompok pecinta alam hilang.”
Yosi: “Mereka hilang di hutan tempat kami berkemah, yang kami temukan dari mereka cuman ransel mereka doang.”
Deni: “Nah, ada kemungkinan mereka dimakan ama binatang buas.”
Budi: “Mungkin juga mereka diculik setan penunggu hutan itu.”
Yosi: “Jangan ngaco ah, mana ada setan.”
Budi: “A… ada kok.”
Juki: “Sudah, sudah, jangan pada ngeributin ada apa nggak itu setan.”
Eric: “I refuse.” (kutolak)
Semua: “Eh?”
Yosi: “Kenapa?”
Eric: “I still have a job that I must do this month.” (aku masih ada pekerjaan yang harus dilakukan bulan ini)
Deni: “Alah lupakan aja, pekerjaan itu.”
Eric: “I must babysit someone this month, if I’m not there, he will cry.” (aku harus menjaga seseorang bulan ini, jika aku tak di sana, dia akan menangis.)
Juki: “Berarti kalau anak yang dijaga itu dibiarkan, dia bakal nangis, nanti dia juga bakal mati kelaparan. Kalian tega ya?”
Eric: “He is alone, without his parents, I can’t imagine what happen if I wasn’t there.” (dia sendirian, tanpa orang tuanya, aku tak bisa bayangkan apa yang terjadi jika aku tak di sana)
Juki: “Tuh kan.”
Eric: “Karena itu Juki akan mewakiliku.”
Juki: “Bet… tul? Bentar. (berbisik pada Eric) Entar dulu nih, mase gue?”
Eric: “Kenapa tidak? Kau kan yang sudah kenal mereka lebih lama.”
Juki: “Yang bener aja, gua gak punya pengalaman kemah.”
Eric: “Kau mau bilang kau takut pada hantu itu?”
Juki: “Gue bukan takut hantu, tapi pada… yang melata itu…”
Eric: “Heh, so you still afraid with reptiles?” (heh, jadi kau masih takut dengan reptil)
Juki: “Pokoknya nggak deh.”
Eric: “Ikut saja, atau kau mau aku melakukan ‘itu’?” (mengepalkan tangan dan menjilatnya)
Juki: (manyun) “Iya… iya, iya! Gua ngerti!”
Eric: “Then it’s been decided.” (maka ini sudah diputuskan)
Juki: “Heh, gua bakal ngegantiin dia, kapan berangkat?”
Lisa: “Juki sendiri tuh yang bilang.”
Santi: “Ikhlasin aja deh Yos.”
Lisa: “Emang umur anak yang lu jaga berapa sih?”
Eric: “Ten.” (sepuluh)
Yosi: (melihat kanan kiri, kemudian mendesah) “Ya sudah deh, gua lepasin lu. Tapi lain kali lu mesti bantuin gue.”
Eric: “Off course, if you really want help, I’ll give it for you anytime.” (aku bisa memberimu nasihat, jika kau sungguh mau bantuan, akan kuberikan pada kalian kapanpun)
Lisa: “Pasti anaknya besar ya?”
Eric: “Yeah, a big baby.” (ya, bayi yang besar)
###
Sementara itu di sebuah lapas, Eric diantar ke sebuah sel bersama seorang sipir. Di dalam sel itu ada Beni yang sedang sholat, sang sipir meninggalkan Eric sendirian bersama Beni. Beni yang baru selesai sholat, melihat Eric dan langsung diam.Eric: “Yo.”
Beni: “Kamu…”
Eric: “Bagaimana keadaanmu?”
Beni: “Alhamdulillah, baik. Bagaimana dengan teman-teman?”
Eric: “‘Teman-teman’ yang mana yang kau maksud?”
Beni: “Mereka… yang pernah kusakiti.”
Eric: “They’re same like me, they’re fine.” (mereka sama sepertiku, mereka juga baik saja)
Beni: “Alhamdulillah, syukur, kalau begitu. Aku baru menyesali perbuatanku saat itu, sudah lama aku menyakiti mereka.”
Eric: “All humans have regret, but don’t expect that they will forgive you.” (seluruh manusia punya penyesalan, tapi jangan kira bahwa mereka akan memaafkanmu)
Beni: “Kalau begitu aku akan mulai berubah.”
Eric: (membelakangi Beni) “Itu bagus, semoga di lingkungan baru nanti kau mendapat teman baik.”
Beni: “Kau mau ke mana?”
Eric: “Just escorting my friends.” (hanya mengawal temanku)
###
Di sebuah desa terpencil di Jawa Barat, Deni memarkirkan mobilnya di depan sebuah gubuk. Yosi dan kawan-kawan turun dari mobil, Juki beserta anak lelaki lainnya menurunkan barang-barang. Seorang kakek berpenampilan seperti dukun keluar dari gubuk, jenggotnya yang putih panjang bergerak melambai-lambai.Lisa: “Assalamualaikum, kakek.”
Aki Ujang: (logat Sunda) “Walaikumsalam, kumahak kabarnya orang tua kamu?”
Lisa: “Alhamdulillah baik, kakek sendiri gimana? Sehat?”
Aki Ujang: “Seperti yang kamu lihat, kakek teh masih bisa jalan, masih bisa bernafas atuh.”
Juki: “Siapa kakek itu?”
Santi: “Kakeknya Lisa, dia orang yang tahu seluk beluk hutan ini, biasanya kami panggil aki Ujang.”
Juki: “Bilang aja juru kunci, mbak.”
Yosi: “Katanya dia dulu dukun, tapi sekarang udah tobat.”
Lisa: “Kakek masih pakai baju beginian? Baju yang dikasih ama papi mami dikemanain?”
Aki Ujang: “Aki teh belum biasa pakai baju begitu atuh, lagipula sudah berapa kaos yang ibu ayahmu berikan? Coba lihat ke dalam.”
Aki Ujang membawa Santi ke dalam rumah, dia diantar ke sebuah lemari kecil. Aki Ujang membuka pintu lemari tersbut, Lisa terkejut ketika melihat banyak kaos oblong menumpuk di dalam lemari.
Aki Ujang: “Kalau setiap orang tuamu ke sini selalu bawa kaos, lama-lama kan bosan. Coba yang lain, kamu nggak bawa kaos lagi kan hari ini?”
Lisa: “Ya, nggak lah, kakek teratur nggak makannya? Sekarang Lisa bawa kakap asam manis buatannya mami.”
Aki Ujang: “Itu baru cucu aki. Aki teh tiap hari bisanya cuma makan ubi atuh.”
Lisa: “Kalau emang nggak suka sama itu kaos, kasihin aja ama warga kampung tempat kakek tinggal.”
Aki Ujang: “Tapi… itu tak mugkin...”
Lisa: (diam sebentar) “Apa kakek… sedang dijauhi warga lagi?”
Aki Ujang: “…”
Lisa: “Sabar aja kek, pasti ada kan beberapa orang yang mengunjungi kakek?”
Juki sendiri masih berada di luar sambil mendengarkan pembicaraan tersebut, Yosi dan yang lain meletakkan tas ransel mereka di tempat duduk anyaman.
Juki: (berbisik) “Apa kakeknya Lisa seperti itu? Dijauhi orang…”
Yosi: “Waktu kami berkemah sebelum ini, aki Ujang pernah menunjukkan kami tempat berkemah yang bagus di dekat danau. Tapi kek Ujang pernah ngingatin agar kami nggak masuk ke dalam rumah tua yang ada di hutan, tapi…”
Juki: “…tapi beberapa temanmu tak peduli dan masuk begitu saja kan?”
Yosi: “Iya… dan ketika kami masuk, yang ditemukan cuman tas ransel mereka doang. Walau sudah bukan dukun lagi, sampai sekarang warga masih menuduh aki Ujang sebagai dukun setan, soalnya aki Ujang dulu pernah jadi murid penunggu rumah tersebut.”
Juki: “Memang dulu siapa penghuni rumah itu?”
Yosi: “Katanya sih dukun ilmu hitam, dia pernah ngeresahin warga dulu sekali.”
Lisa: “Itu sudah cerita jaman dulu.”
Juki: “Lisa! Baru keluar?”
Lisa: “Udah dari tadi, jangan ngegosipin kakek gua Yos. Kakek sudah jadi muslim puluhan tahun lalu, dia bukan lagi penganut ilmu hitam.”
Yosi: “Maaf Lis, habis gue ditanya Juki.”
Juki: “Lha wong sing ngomong mbahmu dukun iku Yosi kok, dudu aku.” (yang bilang kakekmu itu dukun Yosi, bukan aku)
Aki Ujang: “Ada apa Lis?”
Lisa: “Nggak kek, teman Lisa ini.”
Juki: “Perkenalkan saya Juki.”
Aki Ujang: “Temannya Lisa ya?”
Juki: “Dari dulu, saya kenal cucu aki pas masuk universitas, teman satu kampus. Saya baru datang ke daerah ini, ngegantiin teman saya buat investigasi.”
Aki Ujang: “Investigasi? Apa maksudnya atuh?”
Juki: “Kata lainnya memeriksa.”
Aki Ujang: “Memeriksa apa?”
Juki: “Tentu saja fenomena di balik hilangnya beberapa teman dari Lisa.”
Aki Ujang: “Pulang.”
Juki: “Eh? Tapi…”
Aki Ujang: “Ini bukan permainan anak-anak, cepat pulang!”
Lisa: “Kek, kakek, sabar dulu. Kami cuman mau nyelidikin kenapa mereka bisa hilang.”
Aki Ujang: “Tapi itu tetap saja berbahaya, kalian tak menyayangi nyawa kalian sendiri?”
Santi: “Biarpun begitu kami hanya ingin memeriksanya sebentar, sebelum malam datang.”
Deni: “Ayolah, hanya satu hari ini saja.”
Aki Ujang: “…kalian yakin?”
Juki: “Kek, mungkin saya baru kenal kakek, tapi kami akan memeriksanya. Walau dilarang atau tidak, hidup mati kami hanya ada pada Tuhan.”
Deni: (tepuk tangan) “Bisa juga kau bicara begitu.”
Juki: “Itu memang kenyataannya kok.”
Aki Ujang: “…baiklah, hanya satu hari ini kemudian kalian pergi dari sini.”
Mendadak datang lemparan batu, disusul suara orang-orang yang marah. Sekitar belasan warga desa mengerumuni gubuk aki Ujang dengan membawa cangkul dan sabit, beberapa ibu-ibu melemparkan batu kerikil ke gubuk. Mereka berteriak-teriak agar aki Ujang bertanggung jawab dan pergi dari kampung. Sampai akhirnya beberapa orang keluar dari tengah kerumunan, menenangkan warga yang sedang marah. Satu di antara mereka sepertinya adalah kepala desa, dengan baju batik dan peci hitam.
Kades: “Tenang, tenang! Saudara-saudara sekalian, semuanya tolong tenang! Tenang semuanya! Ada masalah apa ini?!”
Warga pria 1: “Aki Ujang harus keluar dari desa ini!”
Warga pria 2: “Benar dia sudah membuat keresahan bagi warga!”
Kades: “Apa maksud kalian?”
Warga wanita 1: “Kemarin seorang anak hilang lagi, dia pasti sudah menjadikannya tumbal buat gurunya!”
Warga pria 1: “Betul! Guru dan murid sama saja!”
Warga pria 2: “Usir dia! Bakar rumahnya!”
Lisa: “Diaaam!! Kakek saya bukan lagi penganut ilmu hitam!”
Warga wanta 2: “Bohong! Lihat dia! Dari penampilan itu sudah jelas dia adalah dukun setan!”
Kades: “Nak Lisa, lebih baik serahkan ini pada saya. Mundurlah dulu.”
Lisa: “Tapi…”
Warga pria 2: “Pasti mereka juga memihak dukun setan itu, lebih baik kita seret mereka!” (warga ricuh)
Juki: “MENENG KABEH, WONG EDAN!!” (diam semua, orang gila!)
Terdengar suara sangat keras dari belakang Yosi dan kawan-kawan yang membuat semua orang menutup telinga, ternyata Juki berteriak menggunakan pengeras suara, terdengar dengingan keras dari pengeras suara setelah Juki berteriak.
Juki: “Maaf, sodara-sodara karena telah mengganggu hak bicara kalian, tapi maaf, kami juga punya hak untuk bicara.”
Deni: (menghampiri Juki) “Sejak kapan kau bawa begituan?”
Juki: “Dari tadi, sekarang biarin aku ngomong. Sodara-sodara sekalian, saya ingin bertanya. Sejak kapan peristiwa anak hilang ini terjadi?”
Pak Kades: “Sejak hilangnya anak-anak dari universitas itu, satu setengah tahun lalu.”
Juki: “Lalu sudah berapa anak yang hilang?”
Warga pria 3: “Sekitar enam anak, salah satunya anak saya.”
Warga wanita 2: “Anak saya juga.”
Juki: “Lantas kalian langsung menyalahkan orang ini?”
Warga pria 2: “Habisnya, yang ada hubungannya sama setan hanya aki Ujang saja.”
Juki: “Satu pertanyaan penting bagi kalian, apakah kalian semua Islam?”
Seluruh warga: “Ya.”
Juki: “Pernah kenal istilah su’udzon atau tidak? (semua warga diam) Kalian sungguh memalukan! Padahal orang Islam, tapi sudah menuduh seenaknya tanpa bukti otentik! Kalian itu pasti rajin sholat bukan? Rajin mengaji? Bisa baca Al-Qur’an? (seluruh warga menundukkan kepala) Kalau begitu begini saja, kami akan menyelesaikan masalah ini.”
Warga pria 1: “Bagaimana caranya?”
Juki: “Kami akan pergi ke rumah di mana rekan-rekan kami hilang, Insya Allah kami akan berusaha untuk menemukan mereka.”
Warga wanita 3: “Lantas bagaimana jika kalian tak menemukan mereka?”
Juki: “Kalian bebas melakukan apa saja pada kami, silahkan, mau dibakar, disate, digantung, dipenggal sekalipun terserah kalian. Pastikan saja kalian semua ikut mendoakan kami dalam pencarian ini, setuju?”
Seluruh warga: (berdebat beberapa detik) “Setuju!”
Juki: “Bagus, jadi kalian silahkan meninggalkan tempat ini dengan tenang. Wasalamualaikum.”
Akhirnya seluruh warga meninggalkan tempat, terkecuali pak Kades. Juki mematikan pengeras suara itu dengan dikelilingi oleh Yosi dan kawan-kawan. Juki langsung bingung sambil lihat kanan kiri.
Juki: “Kenapa?”
Yosi: “Lu kok bisa kayak gitu?”
Deni: “Darimana kau belajar bicara seperti itu?”
Juki: “Sudah pengalaman, saat demo di depan KPU, DPR, MPR.”
Budi: “Ta… tapi masalahnya jadi tambah runyam nih. Kalau nggak berhasil kita bakalan dicincang!”
Juki: “Tenang aja, kita serahin aja pada nasib kita dan pencipta kita, betul?” (logat Rhoma Irama)
Yosi dan kawan-kawan: “Iya pak haji.”
Kades: “Terima kasih sudah menenangkan amarah warga, nak…”
Juki: “Juki.”
Kades: “Nak Juki. Apa nak Juki serius mau pergi ke sana?”
Juki: “Yah pak, apa boleh buat. Saya terpaksa ngikut, habisnya ini permintaan teman saya.”
Yosi: “Jadi lu nggak ikhlas nih?”
Juki: “Bukan gitu, gua nolongin kalian sukarela kok.”
Kades: “Lantas apa yang nanti nak Juki akan lakukan?”
Juki: “Cuman mau periksa dulu, kalau nanti keadaan jadi tambah buruk saya mungkin akan panggil bantuan. Tapi… yang saya tahu sekarang adalah, hari ini tak ada yang akan mati.”
***
Akhirnya Yosi cs berangkat ke pedalaman, sudah tiga jam mereka berjalan kaki. Waktu menunjukkan jam 4.30, langit yang tadinya berwarna biru sudah menjadi kuning kemerahan. Juki terlihat terengah-engah, wajahnya terlihat kecapekan dan mengeluarkan banyak keringat.Juki: “Entar, entar dulu. Istirahat dulu ya?” (jongkok)
Budi: “Lagi?”
Yosi: “Baru berapa menit kamu istirahat tadi? Sudah tiga puluh menit, baru minta lagi?”
Juki: “Jangan samain gue kayak kalian, aku masih mending kalau jalan di trotoar. Masalahnya kalau di hutan kan jalannya nggak lurus, mesti ngelewatin semak-semak.”
Deni: “Lalu apa masalah kau?”
Juki: “Setiap kita lewat semak-semak, selalu saja ada serangga masuk ke sepatu.”
Santi: “Ayolah Juki, sebentar lagi kita sampai kok. Gitu aja dipermasalahin.”
Juki: “Bentar lagi mulut lu sowek? Dari tadi bilang bentar, tapi nggak nyampai sampai sekarang. Gua ini baru pertama kemping di hutan, jadi belum biasa. Lagipula… sepatu gua sampai terengah-engah gara-gara kebanyakan jalan.”
Lisa: “Maksud lo?”
Juki menunjukkan sepatunya kepada Yosi cs, mereka melihat sepatu yang Juki pakai sekarang berlubang sehingga memperlihatkan kaos kakinya yang berwarna merah. Sepatunya mirip dengan mulut yang terbuka, dan kaos kakinya mirip dengan lidah. Yosi dan yang lain tertawa terbahak-bahak melihat hal tersebut.
Lisa: “Ya ampun, Juki. Kalau begitu kasih aja sepatu lu minum.”
Yosi: “Iya lebih mirip anjing lagi kepanasan!”
Juki: “Sialan lu.”
Deni: “Kau perlu lem? Hahaha.”
Juki: “Terima kasih, lu nawarin apa nyindir sih?” (tak sadar ada tokek masuk ke dalam sepatunya)
Budi: “Kamu ganti aja sepatunya, kebetulan aku bawa sepatu boot.” (menyerahkan sepatu)
Juki: “Oh, betapa baiknya. (melepaskan sepatu) Kalau begini gue mesti ngucapin terima… (saat menerima sepatu boot, kepala tokek muncul) kasih?”
Dalam waktu beberapa detik, terdengar suara teriakan disertai terbangnya burung yang ketakutan dari pepohonan.
***
Jam 6.00, mereka sampai di tempat yang dimaksud. Sebuah rumah tua terbuat dari kayu, beberapa pilarnya patah, engsel jendelanya hampir lepas, di depannya ada dua patung singa yang sedang mengaum. Yosi cs menurunkan barang bawaannya, sepertinya barang bawaan mereka bertambah. Sebuah tandu yang dibawa Budi dan Deni diturunkan, ternyata Juki tergeletak pingsan di atas tandu tersebut. Sambil geleng-geleng kepala, mereka menurunkan Juki pelan-pelan.Yosi: “Terus kita apain dia?”
Deni: “Dasar, baru ngelihat tokek saja sudah begini. Kalau komodo bagaimana?”
Santi: “Udah Den, mendingan kita tunggu aja sampai dia bangun.”
Lisa: “Oh iya, sembari kita nungguin dia bangun, gimana kalau kita makan dulu?”
Budi: “Wah, kebetulan. Sekarang aku bawa bekal nasi uduk.”
Juki: “Nasi goreng ada nggak?” (mendadak bangun)
Seluruh anak menoleh ke belakang dan diam, beberapa saat kemudian. Saking kesalnya mereka melemparkan tas ransel mereka ke arah Juki, seluruh tubuhnya tertimbun tas ransel sehingga hanya terlihat tangannya saja.
Yosi: “Yeee, bangun kalau ada makanan.”
Juki: “Maaf, maklum lapar.”
Deni: “Maklum, kepalamu itu. Bayangkan betapa capek aku ngangkat kau.”
Juki: “Tadi gue pingsan ya?”
Lisa: “Ya iyalah, lu mau gua kasih tokek barusan?”
Juki: (berdiri) “Ogah, ogah, kalau gini aku pulang aja.”
Santi: “Jangan ngambek dong Juk, kamu makan aja dulu, terus kita ke dalam rumah setelah ini.”
Juki: “…asal gua dapat jatah ½ piring lagi nanti.”
Budi: “Nggak papa, kamu nanti boleh nambah lagi, masih banyak kok.”
Lisa: “Dasar babi.”
Sementara mereka bersenda gurau, sesosok makhluk mengintai mereka di kegelapan pepohonan dengan mata yang menyeramkan dan memiliki corak yang aneh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar